Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setalah Salah Paham - BAB 35


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Zergan mengangguk yakin. Ternyata sesakit itu akibat dari semua yang dia lakukan hanya untuk membongkar kebusukan Adam dan Rea.


"Boleh Papa tanya sesuatu, Nak?" tanya Zergan pelan.


Zayn mengangguk.


"Apa ada sesuatu yang Zayn ketahui?" tanya Zergan menatap Zayn yang juga menatapnya.


Zayn terdiam mendengar pertanyaan Zergan. Tidak lama setelahnya anak itu menggeleng. "Zayn tidak tahu apa-apa, Papa," jawab anak itu pelan.


"Anak Papa bukan anak yang suka bohong," ucap Zergan lagi melihat mata Zayn yang bergerak gelisah ketika menjawab pertanyaannya.


Zayn menengadah menatap Zergan. "Zayn cuma tahu kalau Papa suka malah sama Mama," jawabnya pelan.


"Papa minta maaf untuk itu, Nak. Ada alasan dalam setiap yang Papa lakukan," lanjut Zergan dalam hati yang tak bisa menyampaikan langsung pada Zayn.


"Papa," panggil Zayn lembut.


"Iya Nak," jawab Zergan.


"Memang ada alasan dalam setiap apa yang kita lakukan. Tapi tidak pelnah benal alasan itu jika yang kita lakukan menyakiti olang yang kita sayang," ucap anak itu yang mampu membungkam mulut Zergan menjadi diam-sediamnya.


"Zayn," panggil Zergan sedikit gugup pada anaknya itu.


"Iya Papa," jawab anak itu pelan.


"Bilang sama Papa apa yang Zayn ketahui. Jangan buat Papa bodoh di depan anak sendiri, Nak," ucap Zergan menatap lembut Zayn.


"Bodoh?" beo Zayn.


Zergan mengangguk. "Zayn tahu sesuatu, tapi Papa bersikap seolah apa yang Papa lakukan adalah benar. Padahal ada yang lebih benar dari Papa," ucap Zergan.


Zayn menggeleng. "Tidak ada ukulan usia untuk menilai olang bodoh atau pintal, Papa," ucap anak itu lembut.


"Zayn," panggil Zergan lagi seolah bertanya darimana anaknya itu pintar dalam berkata-kata yang penuh akan banyak makna.

__ADS_1


Zayn tertawa pelan. "Kakek buyut yang ajalin Zayn," ucap anak itu tersenyum lebar.


Zergan menghela nafas pelan. Dia begitu sangat takut dengan pikiran anaknya yang kelewat dewasa seperti barusan. Rasanya masih belum pantas jika anak seusia Zayn berbicara seperti itu.


Zergan menatap anaknya itu dengan lekat. Meskipun Zayn berusaha untuk terus menghindar, tapi Zergan yakin bisa memancing anaknya itu bicara. Perkataan Fatih yang mengatakan bahwa Zayn tahu sesuatu membuat pikirannya tak tenang.


"Zayn," panggil Zergan lagi.


"Iya Papa," jawab Zayn lagi.


"Mama selalu bilang kalau kita gak boleh bohong. Terutama pada orang tua. Apalagi menyembunyikan sesuatu yang sangat penting. Itu tidak baik, Nak," ucap Zergan lembut yang tetap berusaha membujuk agar anaknya itu bicara.


Zayn menatap Zergan. "Apa semuanya baik-baik saja jika Zayn bilang, Papa?" tanya Zayn menatap takut Zergan.


Zergan cukup terkejut melihat perubahan raut wajah Zayn yang tadinya tenang, kini seperti sangat takut akan sesuatu.


"Semuanya akan baik-baik saja, Nak," ucap Zergan meyakinkan Zayn.


Zayn nampak terdiam. Anak itu memandang kosong ke depan. Seolah dia sedang menimbang-nimbang apa yang akan dia katakan pada Zergan.


Zayn takut jika bicara. Tapi jika tidak, dada Zayn sesak kalau selalu menahan. Batin Zayn mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Zayn," panggil Zergan lagi.


Zayn hanya diam. Tapi kepalanya menoleh menatap Zergan.


"Apa yang Zayn lakukan adalah hal yang benar jika terbuka sama Papa. Tidak ada yang akan baik-baik saja jika Zayn diam, Nak," ucap Zergan meyakinkan anaknya.


"Tentu, Nak. Kalian berdua adalah orang penting dalam hidup Papa. Zayn dan Mama adalah kesayangan Papa. Jadi tidak mungkin jika Papa melukai kalian, Nak," jawab Zergan lembut.


"Janji?" ucap Zayn menyodorkan jari kelingkingnya pada Zergan.


Zergan menyambar jari kelingking Zayn dan menautkan dengan jari kelingkingnya. "Janji, Nak," ucap Zayn yakin.


"Jadi?" ucap Zergan.


"Aunty Lea..." ucap Zayn sedikit takut melanjutkan perkataanya. Tubuh anak itu sedikit bergetar akibat bicara.


"Aunty Lea kenapa, Nak?" tanya Zergan lagi sedikit memaksa Zayn.


"A-Aunty Lea..."


"Jangan dipaksa jika Zayn memang tak bisa mengatakannya, ya," ucap Zergan lembut melihat ketakutan anaknya.


Zergan hendak berdiri. Tapi suara Zayn menghentikan langkahnya.


"Aunty Lea dan Kakek Adam," ucap Zayn menatap Zergan.

__ADS_1


"Mereka kenapa, Nak?" tanya Zergan lagi.


Zayn menggeleng. "Zayn tidak tahu apa yang meleka lakukan. Tapi waktu kita libulan tahun balu di villa Kakek Adam, Aunty Lea dan Kakek Adam Ndak pakai baju di kolam lenang," ucap anak itu dengan keringat yang membanjiri wajahnya.


"Kakek Adam minta Zayn buat Ndak bicala. Kalau bicala, nanti Mama dimalahin," ucap Zayn lagi.


Tangan Zergan mengepal mendengar perkataan Zayn. Dua orang dewasa yang tak punya otak itu bahkan sudah mengotori pikiran anaknya.


"Apa lagi, Nak?" tanya Zergan menatap khawatir Zayn.


"Aunty Lea juga seling ancam Zayn. Kalau Zayn belani bicala apapun sama Papa, maka Mama dan Papa akan jadi kolban katanya," ucap Zayn lagi.


"Lalu kenapa Kakek buyut bisa tahu, Nak?" tanya Zergan lagi.


"Aunty Lea tidak pelnah lalang Zayn bicala sama Kakek buyut. Dia hanya lalang Zayn buat bicala sama Papa dan Mama," jawab anak itu polos.


Zergan menghela nafas pelan. Tindakan anaknya sangat tepat untuk bicara pada Fatih. Setidaknya, Kakek buyutnya adalah orang yang bijak dan selalu berpikir saat bertindak. Buktinya, sudah mengetahui kebusukan anaknya, Fatih masih bersikap santai seolah tak terjadi apa-apa.


Tapi Zergan tahu, dibalik sikap santainya, ada banyak benang yang sedang Fatih rangkai menjadi jebakan untuk Adam dan Rea.


.....


Aludra duduk di sofa bersama Wira sembari nunggu Zergan yang bicara di dalam dengan Zayn.


"Kak," panggil Aludra.


"Iya Aludra," jawab Wira sambil tetap sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dilihat oleh lelaki itu, tapi sesekali dia tersenyum yang tidak Aludra mengerti.


"Apa sudah ada kemajuan mengenai permintaanku?" tanya Aludra.


Wira menatap Aludra dan menghentikan kegiatannya melihat ponsel. Lelaki itu menghela nafas pelan dan menggeleng. "Sangat sulit, Aludra. Semua bukti tertuju padamu," jawab Wira.


Bahu Aludra merosot tak bersemangat mendengar jawaban Wira. Entah apa lagi yang harus dia lakukan saat ini. Karena semakin mencari bukti, Aludra merasa semakin tersudut.


"Kak," panggil Aludra lagi pada Wira.


"Kenapa Aludra?" jawab Wira.


"Apa tidak apa-apa jika kali ini aku menyerah?" tanya Aludra menatap Wira sendu.


"Apa maksudmu?" tanya Wira sedikit tegas.


"Pergi untuk sembuh, Kak."


......................


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Nanti berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.


__ADS_2