
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Bagaimana Tuan Adam?" tanya Zergan menatap Adam remeh.
"Bagaimana ******?" tanya Zergan beralih pada Rea yang menunduk.
Tidak kuat, Zergan segera mematikan video tersebut. Dia tersenyum penuh kepuasan menatap Adam yang juga menatapnya penuh kebencian. "Kau dapatkan apa yang kau mau," ucap Adam menatap penuh amarah pada Zergan.
Zergan yang mendengar itu tersenyum senang. Dia melepaskan headset dari telinga Mama Ana beserta penutup matanya.
Tidak tahu apa yang baru saja terjadi, Mama Ana hanya bisa diam dan menatap bingung pada Zergan.
Zergan tersenyum. "Kita mendapatkannya, Ma," ucap Zergan berbisik.
Setelah itu Mama ana ikut tersenyum senang. Wanita paruh baya itu beralih menatap Adam yang masih menatap penuh amarah pada Zergan.
"Aku tidak menyangka. Lelaki yang dulu diidolakan oleh anakku, sekarang menjadi lelaki brengsek hanya karena pengaruh seorang wanita tidak tahu diri," ucap Mama Ana lembut. Namun sangat mengena di hati Adam dan Rea.
"****** itu lebih berharga darimu!" ucap Adam tegas.
Mama Ana hanya bisa tersenyum getir. Bahkan disaat seperti ini saja, Adam lebih membela Rea daripada dirinya yang sudah menemani sejak dulu mereka masih duduk di bangku perkuliahan.
"Hanya karena dia lebih muda, kamu melupakan aku sebagai wanita yang sudah menemani dari awal. Aku yang melihat perjuanganmu. Aku yang menemanimu. Doaku yang selalu mengiringi setiap langkahmu, lantas kenapa perempuan ini yang mendapat kasih sayangmu?" tanya Mama Ana sendu menatap Adam.
Adam mengalihkan pandanganya dari Mama Ana. Sungguh, meskipun sudah mendua, tapi rasa cinta dan sayangnya masih ada untuk wanita paruh baya itu.
"Dan kamu Rea," ucap Mama Ana beralih pada Rea.
Rea mengangkat kepalanya. Mata wanita muda itu sudah berair sejak tadi video memalukan itu di putar oleh Zergan.
"Apa sekarang kamu senang sudah mendapat sepenuhnya hati suamiku?" tanya Mama Ana menatap lembut pada Rea.
Bagaimanapun marahnya, Mama Ana adalah wanita yang hati lembut yang tidak pernah bisa dendam pada keluarganya sendiri. Apalagi status Rea yang merupakan anak angkatnya.
"Aku menyayangimu sebagai anakku, Rea. Aku berikan padamu kasih sayang seorang ibu. Aku berikan padamu hak sebagai seorang anak. Tapi apa yang kau berikan? Kau menghancurkan keluarga kecilku," lanjut Mama Ana sendu.
__ADS_1
"Ma," ucap Zergan yang tak kuasa mendengar isi hati Mama Ana.
Mama Ana tidak menghiraukan panggilan Zergan. Wanita itu kini berjalan mendekati Rea.
PLAK.
Satu tamparan mendarat di pipi Rea begitu saja. Nafas Mama Ana memburu degan dada yang naik turun karena sesak di dadanya. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk mengurangi sedikit beban di hatinya. Melakukan apa yang seharusnya sudah sejak lama dia lakukan.
"Jangan berani menyentuh wanitaku, Ana!" ucap Adam tegas memperingati Mama Ana.
"Pelan kan suaramu pada Mamaku!" ucap Zergan tak kalah tajam menatap Adam.
Mama Ana tersenyum pedih. Bahkan saat sekarang ini, dengan tidak tahu malunya Adam membela Rea di depan istri dan anaknya sendiri.
Mama Ana bertepuk tangan atas hal itu. "Sungguh luar biasa cintamu untuk wanita ini, Adam," ucap Mama Ana.
Zergan hanya diam. Dia membiarkan Mama Ana melakukan apa yang seharusnya wanita itu lakukan sejak dulu.
Rea memegang pipinya yang terasa panas. Dengan berani wanita itu mengangkat kepalanya menatap Mama Ana. "Bagaimanapun kau marah, suamimu tetap memilihku!" ucap Rea berani menatap Mama Ana.
"Perempuan tak tahu malu!" tajam Zergan menatap Rea benci.
"Ayo kita pergi dari tempat terkutuk ini, Ma," ucap Zergan memegang lembut tangan Mama Ana.
Tangan Adam mengepal kuat disamping tubuhnya. aku tidak akan pernah kalah. Batin Adam menatap kepergian Zergan dan Mama Ana.
Setelah kepergian Zergan dan Mama Ana, Rea langsung berjalan mendekati Adam dan memeluk lelaki itu. "Bagaimana ini?" tanya Rea pelan memeluk Adam. Masih saja tak tahu malu.
Adam membalas pelukan Rea. Seringai jahat terbit di bibir lelaki itu ketika apa yang ada di pikirannya adalah apa yang akan dia lakukan.
"Biarkan mereka tahu semua ini. Zergan dan Ana tidak akan bisa berbuat apa-apa. Biar Zergan lepas dari perusahan ini. Kebahagiaannya itu tidak akan lama," ucap Adam.
Rea melepas pelukannya dan menatap Adam. "Maksudnya?" tanya wanita itu tak paham.
"Adam mungkin bisa leluasa lepas dari perusahaan ini. Tapi dia tidak akan bisa bahagia," ucap Adam.
Dahi Rea berkerut mendengar perkataan Adam karena merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh lelaki itu.
"Aludra," satu kata Adam yang membuat senyum terbit di wajah Rea.
"Kita lakukan sekarang?" tanya Rea tak sabaran.
Adam mengangguk. "Sepulang dari sini, Zergan mungkin akan gila," desis Adam tajam menatap lurus ke depan dengan senyum jahat diwajahnya.
Rea yang mendengar itu mengangguk senang. Karena dengan begitu memudahkan mereka untuk kembali mengancam Zergan.
__ADS_1
.....
Sedangkan di tempat lain, Aludra baru saja bangun dari tidurnya. Wanita itu menggeliat ketika merasakan sesuatu yang basah di pipinya.
Aludra membuka mata dan melihat wajah mungil yang sangat tampan berada tepat di depannya. "Zayn," panggil Aludra lembut.
"Selamat pagi, Mama," ucap Zayn senang.
Aludra tersenyum. "Selamat pagi, Nak," jawab Aludra dan bangun dari tidurnya.
"Zayn sudah mandi?" tanya Aludra bingung.
Dengan semangat anak itu mengangguk. "Zayn kan sudah besar. Jadi bisa bangun sendiri dan mandi sendiri," ucap anak itu bangga dengan sesuatu hal baru yang sudah bisa dia lakukan.
"Anak Mama memang pintar," ucap Aludra bangga.
"Zayn tunggu disini, ya. Mama mau mandi dulu," sambung Aludra yang dianggukki oleh Zayn.
Aludra masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setengah jam, wanita itu sudah selesai dan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar dan pakaian rumahan yang sudah dia ganti di dalam kamar mandi tadi.
"Kita kebawah yuk, Nak," ajak Aludra pada Zayn yan asik dengan iPad nya.
Zayn mengangguk. Dengan patuh anak itu mematikan iPad-nya dan meletakkan di kasur.
Dengan bergandengan tangan, Aludra dan Zayn berjalan keluar kamar. Namun belum sampai di pintu, ponsel Aludra berdering.
"Mama Angkat telepon dulu, ya," ucap Aludra dan mengambil ponselnya yang ada di meja sebelah ranjang.
"Kak Wira," gumam Aludra melihat Wira yang menelponnya.
"Assalamu'alaikum, Kak," ucap Aludra mengangkat penggilan Wira.
"Waalaikumsalam, Aludra. Bisakah kita bertemu?" tanya Wira tanpa basa-basi.
"Ada apa Kak?" tanya Aludra bingung karena permintaan Wira yang mendadak.
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan. Kau datanglah ke kantor. Aku menunggumu," ucap Wira dan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Aludra. Wira yakin, jika tidak langsung di tutup, maka akan banyak pertanyaan lain keluar dari Aludra.
Dahi Aludra berkerut bingung. "Ada apa, ya?"
......................
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Masih dalam suasana lebaran, aku ucapin selamat hari raya idul Fitri teman-teman. Semoga kita semua mendapatkan berkah dan kembali fitrah 😉😉. Minal aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin 🤗🙏
__ADS_1