
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Saat Aludra asik dengan pemandangannya, seseorang datang menghampiri dan duduk disebelah Aludra.
Aludra yang merasakan kedatangan seseorang menoleh. "Rio," ucap Aludra pelan melihat kedatangan teman bisnis suaminya.
"Nyonya Aludra," ucap Rio membalas panggilan Aludra lembut.
Aludra tersenyum dan mengangguk. Wanita itu menggeser duduknya agar bisa memberi jarak dan ruang untuk Rio duduk di kursi itu.
"Sendiri?" tanya Rio setelah dia mendudukkan dirinya di ujung kursi.
Aludra tersenyum dan mengangguk. "Hanya mencari udara segar," jawab Aludra pelan.
Rio hanya mengangguk mendengar jawaban Aludra. Mereka berdua saling diam menatap banyaknya anak-anak yang bermain disana.
"Kau bersama Bima?" tanya Aludra.
Rio mengangguk. "Sesekali aku akan meluangkan waktu untuk Bima. Hanya aku orang tuanya saat ini," jawab Rio lancar.
"Kamu orang tua yang hebat, Rio. Ditengah sakit kehilangan, kau harus bahagia menerima kehadiran Bima, buah hatimu," ucap Aludra tersenyum lembut.
Rio terkekeh pelan dan mengangguk. "Aku sangat bersyukur atas itu," jawab Rio tersenyum.
"Kau tidak bersama Zayn, Nyonya Aludra?" tanya Rio mengedarkan pandangannya.
"Hanya sendiri. Zayn sedang bersama Papanya," jawab Aludra lembut.
Rio menatap Aludra mendengar jawaban wanita itu. "Sedang mencari ketenangan?" tanya Rio lagi.
__ADS_1
Aludra terkekeh pelan. Ternyata Rio, rekan bisnis suaminya itu tidak se kaku kelihatanya. "Terkadang itu perlu untuk diri sendiri, Tuan Rio," jawab Aludra seadanya.
Rio mengangguk setuju. "Aku sedikit terkejut melihatmu sendiri, Nyonya Aludra. Melihat bagaimana cintanya Tuan Zergan padamu, rasanya mustahil dia melepaskan mu pergi sendiri," ucap Rio memulai pembicaraan.
Aludra hanya terkekeh pelan. "Sesekali dia juga akan memberiku waktu seperti ini, Tuan Rio. Aku jadi curiga bahwa dirimu juga pasti seperti itu pada mendiang ibunya Bima," ucap Aludra bercanda.
Rio terkekeh pelan. Ada sedikit sesuatu tersembunyi di relung hatinya mengingat masa lalu bersama mendiang ibunya Rio. "Aku sangat mencintainya sampai-sampai bisa membuatnya merasakan luka," jawab Rio pelan.
Aludra menoleh. Wanita itu sedikit terkejut mendengar jawaban dari Rio. Aludra sedikit kepo. Tapi dia tidak ingin terlalu mencampuri urusan pribadi Rio yang tidak dekat dengannya.
"Kau tahu Nyonya Aludra, terlalu cinta itu juga tak baik ternyata," ucap Rio lagi.
"Maksudnya?" tanya Aludra tak paham.
"Cintalah sewajarnya saja. Jangan sampai melebihi cintamu pada pencipta. Karena jika sampai itu terjadi, maka bersiaplah jika penciptamu cemburu dan mengambil orang yang kau sayangi, atau membalikkan hatinya," ucap Rio menjelaskan.
Aludra terdiam. Mungkinkah dia seperti itu saat ini? Hingga Tuhan marah dan memberi teguran untuk kembali bergantung padanya. Apa mungkin ini memang pengingat untuknya agar tidak lalai? Atau mungkin memang ini pengingat untuknya agar tak mencintai manusia dengan sangat berlebihan.
"Kita terkadang tidak bisa mengendalikan hati, Nyonya Aludra. Tapi kita bisa mengusahakannya," tambah Rio lagi.
Aludra melihat banyak sekali tekanan dan sesuatu yang ditahan oleh lelaki yang duduk disampingnya ini. "Kau butuh teman?" tanya Aludra menatap Rio dengan tersenyum lembut.
Rio terkekeh pelan. "Maaf jika aku malah curhat konyol begini," ucap Rio terkekeh.
"Tuan Zergan sangat beruntung mendapatkanmu, Nyonya Aludra," ucap Rio memuji.
Aludra hanya tersenyum mendengar perkataan Rio. Entahlah, perasaannya hanya biasa saja saat Rio berkata begitu. Beda lagi jika memang Zergan langsung yang mengatakan jika memang dia beruntung memiliki Aludra. Mungkin wanita itu akan jingkrak kegirangan. Secinta itu Aludra pada Zergan, suaminya.
"Mendiang Ibunya Bima pasti juga sangat beruntung memiliki suami sepertimu, Tuan Rio," ucap Aludra balas memuji.
Rio hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Aku yang sangat beruntung menjadi suami mendiang istriku. Batin Rio sendu.
Setelah itu, Rio dan Aludra mengobrol ringan sambil memandangi suasana taman yang ramai dan menyejukkan.
.....
Zayn terus merengek pada Zergan sejak mereka sampai dirumah. Ralat, Zayn merengek saat dia baru bangun dan tidak menemukan keberadaan Aludra di sampingnya.
Sejak dari perjalanan pulang menuju rumah, Zayn tak hentinya bertanya mengenai keberadaan Aludra.
__ADS_1
"Mama sedang ada keperluan sebentar, Nak," ucap Zergan lembut mencoba membujuk Zayn.
"Zayn mau Mama, Pa," ucap anak itu merengek dengan menghentakkan kakinya kesal.
Zergan menghela nafas pelan. Baru beberapa jam dia bersama Zayn, Zergan sudah merasa lelah menghadapai sikap keras kepala anak itu. Bagaimana Aludra yang mengurusnya setiap saat? Zergan akui kehebatan istrinya itu. Belum lagi menghadapai sikapnya yang seperti bayi besar, Aludra memang wanita aspek surga yang dimiliki oleh Zergan.
"Sekarang mandi dulu, ya Nak. Setelah mandi nanti, Mama pasti pulang. Mama ada keperluan sebentar SMA temannya," ucap Zergan membujuk Zayn.
"Zayn mandi sama Papa dulu, ya," ucap Zergan lagi.
"Mau Mama," ucap anak itu hendak menangis dengan bibir mencebik kebawah.
Zergan menghela nafas pelan. Kenapa sangat sulit sekali untuk membujuk anaknya itu? Padahal saat dia pulang terlambat, dia tidak pernah menemui Zayn dalam keadaan menangis ataupun merengek. Aludra memang pawang ampuh untuk mereka berdua.
"Kalau begitu Zayn mandi sama Bibi dulu, ya. Biar Papa jemput Mama," ucap Zergan membujuk.
"Zayn selesai pakai baju, Mama udah ada di rumah," ucap anak itu memberi batas waktu.
Zergan tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu Zayn mandi dulu, ya. Papa akan jemput mama sebentar," ucap Zergan lagi.
Zayn mengangguk. Dengan patuh anak itu mengikuti apa yang Zergan katakan dan menurut saat Bibi mengajaknya ke kamar.
Setelah Zayn pergi dengan Bibi, Zergan segera berjalan keluar rumah dan menjalankan mobilnya untuk menjemput Aludra.
Sepuluh menit, Zergan sampai disebuah taman. Zergan memang tahu Aludra kemana. Dia selalu meminta seorang pengawal wanita untuk mengikuti istrinya diam-diam. Takut jika dalam keadaan sedang tak baik begini Aludra dalam masalah, Zergan bisa langsung tahu dan segera bertindak.
Zergan turun dari mobilnya. Lelaki itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman.
Tangannya mengepal melihat Aludra yang duduk bersama seorang lelaki. Memang hanya punggung, tapi dia tahu bahwa itu memang Aludra. Dan Zergan paling tak suka jika Aludra tertawa bersama lelaki lain selain dirinya.
"Cari masalah!" desisi Zergan tajam tak terima.
Dengan cepat lelaki itu melangkahkan kakinya mendekati Aludra.
"Ayo pulang, Aludra!"
..........
Maaf baru bisa update bestie, karena kemarin ada sedikit kerjaan 🤗😉
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Nanti berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.