
🌹HAPPY READING🌹
Aludra tersenyum. Tidak ada salahnya menerima ajakan Rea. Mana tahu ini bisa membuat Zergan menjadi sedikit berubah sikap padanya karena bisa akrab dengan Rea, adik kesayangan Zergan.
"Baiklah. Tapi jangan lama, ya. Kaka takut abang mu akan marah nanti. Kita hanya makan siang, kan?" jawab Aludra sambil bertanya.
"Tenang Kak. Abang akan jinak sama Rea. Dan temani Rea buat Tato ya," ucap Rea sambil menarik tangan Aludra untuk segera berjalan menuju mobil.
"Buat Tato? Kamu punya Tato?" tanya Aludra.
Rea tersenyum polos memperlihatkan gigi rapinya pada Aludra. "Belum Kak. Makanya mau buat. Kecil aja kok kak. Biar kelihatan keren gitu kalau nanti dilihat suami," ucap Rea.
Kini mereka berdua sudah duduk diatas mobil dengan Rea yang bertindak sebagai pengemudi.
"Memang kamu mau buat dimana?" tanya Aludra.
Rea tersenyum. "Bawah sini," jawab Rea menunjuk paha bagian atasnya yang tertutupi oleh rok span pendek itu.
Aludra bergidik ngeri mendengar perkataan Rea. "Apa itu tidak akan sakit, Rea?" tanya Aludra khawatir.
"Hanya sedikit, Kak. Tapi sensasinya itu loh, Kak. Enak," jawab Rea senang.
"Tapi pasti tetap akan sakit," jawab Aludra yang tak bisa membayangkan bagaimana kulitnya akan dilukis dengan besi panas dan itu pasti sangat menyakitkan.
Rea hanya terkekeh pelan menatap Aludra. Saat mereka sama-sama diam, Rea sesekali mencuri pandang pada Aludra dengan tatapan yang hanya perempuan itu sendiri mengetahui maksud dari tatapannya.
.....
Dua puluh menit, mobil yang dinaiki Rea dan Aludra sampai di basemen mall yang mereka datangi.
"Kita langsung makan?" tanya Aludra.
"Iya kak. Aku sudah sangat lapar," jawab Rea mengusap perutnya. Mereka langsung berjalan menaiki eskalator dan mencari tempat makan yang biasa Rea kunjungi.
.....
Zergan masih duduk termenung di sofa ruangannya. Saat asik dengan lamunannya, pintu ruangan terbuka dari luar.
"Anda tidak makan siang, Pak?" tanya Wira yang memasuki ruangan Zergan.
Zergan menegapkan tubuhnya dan mengangguk. "Pesan saja, Wira. Aku akan menunggu disini," jawab Zergan.
Wira mengangguk. "Baik, Pak," jawab Wira patuh.
"Wira," panggil Zergan saat Wira akan keluar dari ruangannya.
"Iya Pak," jawab Wira berbalik.
"Apa Rea sudah kembali dari meeting?" tanya Zergan.
__ADS_1
"Harusnya sudah kembali, Pak," jawab Wira.
Zergan hanya mengangguk. "Mungkin Rea langsung makan siang di luar," jawab Zergan yang hanya dianggukki oleh Wira.
Setelah itu, Wira langsung keluar dari ruangan Zergan untuk memesan makanan lelaki itu.
.....
Selesai makan siang, Rea langsung mengajak Aludra ke tempat yang menjadi tujuan utamanya. Kini mereka berdua sampai disebuah tempat yang sangat asing bagi Aludra. Seumur-umur dia hidup, ini adalah pertama kali Aludra pergi ke tempat pembuatan Tato.
Aludra bergidik ngeri melihat seorang lelaki yang sedang melakukan proses pembuatan Tato di dadanya. "Apa itu tidak sakit, Rea?" tanya Aludra berbisik.
"Mereka mencari sensasi nikmatnya, Kak. Bukan sakitnya," jawab Rea.
"Hai Rea," sapa seroang wanita dengan tubuh penuh Tato kecuali wajahnya.
"Hai Grace," jawab Rea. Kedua wanita itu bersamaan dan saling berpelukan seperti dua orang teman yang sudah sangat akrab.
"Kau membawa siapa ini?" tanya Grace menatap Aludra.
Aludra yang ditatap tersenyum canggung dan mengangguk kaku.
"Dia kakak iparku, Grace. Istrinya Bang Zergan," jawab Rea.
"Manis sekali. Senang bertemu denganmu," ucap Grace ramah.
Aludra tersenyum. Ternyata Grace tidak semenakutkan penampilannya. Wanita itu bersikap ramah dan suaranya cukup lembut bagi Aludra. Meskipun tubuhnya sangat membuat orang takut.
Rea dengan semangat mengangguk. "Tentu," jawab Rea yakin.
"Kakak mau coba tidak?" tanya Rea menawarkan Aludra.
Dengan cepat dan tanpa pikir panjang Aludra mengangguk. "Itu pasti sakit, Rea," jawab Aludra.
"Ayolah, Kak. Hanya sedikit. Kita hanya akan membuat tato kecil biar terlihat indah dan elegan," ucap Rea meyakinkan.
"Percayalah, Kak. Jika Kak Zergan mengetahui ini, dia pasti akan semakin tergoda melihat tato di bagian tubuh dalam Kakak," ucap Rea berbisik.
Aludra mengernyitkan dahinya bingung. "Bagian dalam maksudnya?" tanya Aludra.
"Disini. Akan terlihat lebih seksi dan Kak Zergan semakin sayang sama Kakak. Kaka harus kasih kejutan sama Kak Zergan. Mana tahu ini bisa membuat kesalahan Kakak sedikit termaafkan oleh Bang Zergan," ucap Rea sedikit menyindir Aludra.
Aludra menatap Rea tak suka. Dia kira wanita itu sudah bersikap baik padanya, tapi sikap sinisnya itu tetap saja tak bisa hilang. "Kakak tidak bersalah dalam hal itu, Rea!" ucap Aludra tegas.
"Mau bersalah atau tidak, yang penting sekarang adalah untuk hubungan suami istri antara Kakak dan Bang Zergan," ucap Rea.
Aludra tidak menjawab perkataan Rea. Dia beralih menatap Grace yang sejak tadi memperhatikan mereka. "Grace," panggil Aludra pada Grace.
"Ya, Aludra," jawab Grace.
__ADS_1
"Apa membuat Tato ini sakit?" tanya Aludra sebelum mengambil keputusan.
"Hanya Sedikit, Aludra," jawab Grace.
Aludra terdiam sebentar. Setelahnya wanita itu mengangguk. "Aku ingin membuat tato kecil disini," ucap Aludra menunjuk bagian bawah ketiaknya yang dekat dengan punggung.
Rea tersenyum senang mendengar perkataan Aludra. "Selera Kakak memang bagus," puji Rea senang.
"Semua ini untuk suami Kakak, Aludra," jawab Aludra lembut.
Grace menatap Rea dalam diam. Setelahnya dia beralih menatap Aludra dan mengajak wanita itu untuk segera melakukan proses pembuatan Tato.
Rea dan Aludra berada di kamar yang berbeda. Aludra bersama Grace, sedangkan Rea bersama seorang pelukis Tato lainnya yang merupakan teman dia dan Grace.
"Kamu mau buat Tato apa Aludra?" tanya Grace.
"Tato yang tadi dikatakan oleh Rea saja, Grace," jawab Aludra.
Grace terdiam. "Aludra," panggil Grace pelan.
"Kenapa Grace?" jawab Aludra.
"Kamu adalah wanita baik. Kamu yakin akan membuat Tato ini?" tanya Grace lagi.
Aludra mengangguk. "Apapun itu adalah suamiku semakin menyayangiku, Grace," jawab Aludra tenang.
"Aku memang bukan wanita baik, Aludra. Tapi yang aku tahu, tidak ada lelaki yang ingin melihat wanitanya tersakiti karena ini. Tato bukan hal yang main-main, Aludra," ucap Grace.
Aludra tersenyum. "Aku akan menahan sakitnya, Grace," jawab Aludra meyakinkan Grace.
"Tapi suamimu yang menanggung dosanya, Aludra," jawab Grace yang membuat Aludra terdiam.
Apa yang dikatakan Grace benar. Aludra memang bukan oran yang sangat taat pada agamanya, tapi dia tahu apa saja yang dilarang oleh agamanya. Setidaknya, Aludra tidak menambah beban Zergan di akhirat nanti.
"Aku bisa membuat suamimu tetap senang melihat tubuh indah mu ini, Aludra. Kita gunakan hena," ucap Grace.
"Tapi Rea-"
"Satu pesanku, Aludra. Lakukan ide yang bertentangan dengan saran Rea. Bukannya aku menjelekkan adik ipar mu, tapi aku mengenal temanku itu, Aludra."
............
......................
Kesalahpahaman akan diceritakan pada flashback nanti yaaaa 😉
Terimakasih sudah mampir di cerita baru ini, semoga kalian suka dan bermanfaat 🤗😉
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
__ADS_1
Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗