
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Zergan bergerak mengambil benda tersebut.
"Kamera," ucap Zergan sedikit berbisik menunjukan pada Wira yang duduk dibelakangnya.
Wira mengangguk. Lelaki itu benar-benar menutup rapat bibirnya karena tidak mau ada yang merekam pembicaraan penting mereka.
"Ganti rencana, Wira." ucap Zergan sedikit berbisik menatap Wira.
Wira mengangguk. Kedua kepala lelaki tampan itu bergerak liar di dalam ruangan Zergan.
Zergan memeriksa setiap sudut ruangan tersebut. Begitu juga dengan Wira. Dibawah meja kerja Zergan, Dia juga menemukan sebuah alat seperti kamera. Dibalik bingkai foto, dan di vas bunga besar yang ada di sudut ruangan Zergan.
Tangan Zergan terkepal kuat. Tidak salah lagi jika memang ini adalah kerjaan orang yang selama ini dia curigai.
Zergan beralih berjalan ke kamar pribadinya. Dia mencari disetiap tempat terpencil. Zergan mengumpat kasar ketika menemukan benda yang sama di ruangan pribadinya sebanyak tiga buah.
"Kenapa?" tanya Wira yang datang dari luar ketika mendengar umpatan keras Zergan.
"Di semua tempat," ucap Zergan mengalihkan matanya agar Wira ikut melihat benda tersebut.
Wira menggeleng. "Benar-benar diluar dugaan," gumam Wira pelan tak percaya.
"Ikut aku," ucap Zergan berjalan duluan ke luar kamar pribadi itu.
Wira mengikuti langkah kaki Zergan. Ternyata laki-laki itu mengajaknya keluar ruangan juga. Sampai di depan ruangan Rea, langkah Zergan terhenti dan mengepal kuat ketika melihat adik tirinya itu sibuk dengan sebuah telepon dan posisi yang membelakangi Zergan. Jadi dia tidak sadar jika Zergan ada dibelakangnya. Begitu juga Wira yang baru datang.
"Dasar ******!" desis Zergan pelan namun terdengar sangat tajam ditelinga Wira.
Wira saja sampai bergidik ngeri mendengar ucapan tajam Zergan. Baru lelaki ini bicara, dia sudah sedikit takut, apa lagi sudah bertindak. Zergan bisa melakukan tindakan gila untuk membela keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Bang Zergan," ucap Rea kaget ketika selesai dengan teleponnya. Wanita itu sedikit terkejut melihat Zergan dan Wira yang sudah ada di depan ruangannya.
Semoga Bang Zergan dan Kak Wira nggak denger apa yang aku bilang. Dan mereka nggak tahu siapa yang aku telepon. Batin Rea sedikit cemas.
"Kamu teleponan sama siapa, Rea? Sepertinya sangat mesra sekali. Apa adik Abang ini sudah punya kekasih?" tanya Zergan berpura-pura.
Rea bernafas lega. Dia sangka Zergan akan tahu semuanya. Tapi syukurlah, lelaki itu hanya mendengar sedikit berarti apa yang dia bicarakan di telepon tadi.
Rea memandang senyum malunya mendengar jawaban Zergan "Bukan siapa-siapa, Bang. Hanya teman dekat," jawab Rea.
"Gak papa kalau memang kamu punya kekasih. Kamu udah besar, dan pasti ada perasaan suka pada lawan jenis. Tapi kamu harus tetap hati-hati dan jaga diri, ya," ucap Zergan dengan segala kelembutannya.
Wira yang melihat itu hanya tersenyum sambil geleng kepala. Cocok banget Zergan jadi aktor. Batin Wira takjub.
"Dan ingat, Rea," ucap Zergan menatap Rea dan menjeda sedikit ucapannya.
"Apa Bang?" tanya Rea.
"Boleh pacaran tapi jangan dengan lelaki yang sudah memiliki wanita lain dalam hidupnya. Paham Dek?" tanya Zergan.
Rea sedikit terdiam. Setelahnya wanita itu mengangguk dengan senyum manisnya.
"Abang sama Wira ada keperluan sebentar ke luar. Abang titip kantor, ya," ucap Zergan.
"Ada klien yang mendadak minta ketemu," jawab Zergan beralasan.
Rea mengangguk. Zergan dan Wira langsung pergi meninggalkan Rea yang menatap mereka dengan senyuman penuh arti. Para orang bodoh. Batin Rea senang. Tidak tahu saja dia siapa yang lebih hebat dalam hal ini.
Zergan menyeringai jahat ketika sudah memasuki lift bersama Wira. "Wanita tidak tahu diri," gumam Zergan terkekeh pelan.
Wira mengangguk menyetujui. "Benar-benar tikus kecil," timpal Wira.
Pintu lift terbuka. Mereka langsung sampai di basemen perusahaan. Wira berjalan kearah mobil Zergan. Tapi lelaki itu mencegahnya. "Jangan ke mobilku," ucap Zergan.
"Kenapa?" tanya Wira menghentikan langkahnya.
"Aku ini sedang dalam pengintaian. Lebih aman jika bicara dalam mobilmu," ucap Zergan.
"Iya juga. Ayo," ajak Wira setuju dengan apa yang Zergan katakan.
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Wira setelah mereka berdua berada di dalam mobil Zergan.
__ADS_1
Tidak dapat jawaban dari Zergan. Wira menolehkan kepalanya dan melihat Zergan yang sedikit melamun. "Apa kau memikirkan Rea dan Ayahmu?" tanya Wira lagi.
Zergan yang mendengar itu mengangguk pelan. "Aku menyayangi Rea tulus sebagai adik dan menganggapnya sebagai adik kandungku. Tapi kenapa pengkhianatan yang aku terima?" tanya Zergan tak terima dengan semua ini.
"Dan kenapa harus orang terdekatku yang melakukan ini?" tambah lelaki itu lagi dengan pelan.
Wira menghela nafas pelan. "Kita tidak tahu musuh datang dari mana, Gan. Tapi yang pasti, musuh ada dimana-mana," jawab Wira.
"Apa kamu juga bakal berkhianat, Wir?" tanya Zergan.
Wira terkekeh pelan. "Kau boleh tidak terlalu mempercayaiku. Karena aku hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Tapi aku bisa memastikan diriku untuk tidak melakukan hal tercela itu," jawab Wira yang tak mau membela dirinya.
"Apa tujuan Papa dan Rea melakukan semua ini? Bukankah Papa sangat menyayangi Aludra? Lalu kenapa dia memfitnah mantu kesayangannya sendiri?" tanya Zergan mencari alasan.
"Rasa sayang Tuan Adam pada Aludra, akan kalah dengan segala rayuan yang dilakukan oleh Rea, Gan," ucap Wira.
"Aku curiga mereka sudah berhubungan lama," ucap Wira.
"Maksudnya?" tanya Wira tak paham.
"Waktu Papa bawa Rea ke rumah untuk dijadikan anak, pasti mereka sudah punya hubungan," ucap Zergan ketika mengingat sesuatu.
"Kau ingatkan, kalau Rea diangkat anak umur berapa?" tanya Zergan lagi.
Wira mengangguk. "Enam belas tahun," jawab Wira pelan.
"Itu artinya, saat itu mereka sudah memiliki hubungan yang khusus. Dan untuk menutupinya, maka mereka perlu berlindung dibalik hubungan baik yang mereka sebut Ayah dan Anak. Tingkah Rea yang polos mampu mencuri kasih sayang keluarga Bailey dengan sangat. Termasuk aku yang sangat bodoh! Dan sialnya, itu hanya topeng dibalik sebuah wajah setannya," ucap Zergan menebak yang ikut dianggukki oleh Wira.
"Agar tak dicurigai, Tuan Adam seolah-olah menyayangi Rea sebagai anak didepan kita semua. Padahal diluar sana..." ucap Wira yang tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Zergan mengangguk. "Adam Bailey brengsek!" umpat Zergan memukul kuat dashboard mobil.
"Apa kita perlu kasih tahu semua ini pada Tuan besar Fatih?" tanya Wira meminta persetujuan Zergan.
Zergan menggeleng. "Belum saatnya. Kita ikuti dulu permainan mereka. Aku akan membongkar kejahatan mereka dengan cara yang sangat menjijikan. Rasa malu tidak akan bisa mereka hindari ketika saatnya nanti semua terbongkar."
......................
Flashbacknya dikit lagi ya bestie, jadi sabar nunggu ya 🤗😉
Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Nanti berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.