
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Kak," panggil Aludra lagi pada Wira.
"Kenapa Aludra?" jawab Wira.
"Apa tidak apa-apa jika kali ini aku menyerah?" tanya Aludra menatap Wira sendu.
"Apa maksudmu?" tanya Wira sedikit tegas.
"Pergi untuk sembuh, Kak," jawab Aludra pelan.
Wira menggeleng. "Tidak ada kepergian yang akan memberikan kesembuhan, Aludra," jawab Wira.
"Tapi setidaknya hatiku ada sedikit ruang untuk tenang," ucap Aludra lagi.
"Melihat semua yang terjadi, mungkin memang kebahagiaan Mas Zergan adalah jika aku pergi dari hidupnya," tambah Aludra tanpa memperhatikan saut wajah Wira yang sangat gemas dengan apa yang wanita itu katakan.
Rasanya ingin sekali Wira menyampaikan bahwa apa yang saat ini mereka lakukan adalah untuk kebaikan semuanya. Apa yang sedang mereka rencanakan ini, adalah untuk masa depan dan mempertahankan rumah tangga Aludra dan Zergan.
Wira menghela nafas. "Pergi, mungkin memang memberimu sedikit ruang untuk meringankan beban, Aludra. Tapi setelah kau kembali, bukankah semua sakit itu akan kembali kau rasakan?" ucap Wira bertanya.
"Siapa yang akan kembali kak?" tanya Aludra yang reflek membuat Wira menatap tajam wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Wira tegas.
"Aku pergi, bukan pulang," ucap Aludra ambigu.
"Jangan memikirkan sesuatu yang egois, Aludra. Pikirkan banyak hati yang akan kau hancurkan," ucap Wira.
"Orang yang pulang pasti akan ke rumah, Kak. Tapi rumahku sudah tak bertuan, untuk apa aku kesana? Sudah tidak akan ada yang aku tuju, dan tidak ada juga yang menungguku datang," ucap Aludra sendu.
__ADS_1
"Ada anak dan suamimu, Aludra!" ucap Wira tegas. Rasanya ingin sekali Wira menyampaikan pada wanita itu bahwa dia harus bersabar sebentar lagi. Karena sebentar lagi, semua akan terbongkar dan dia akan kembali bahagia dengan rumah tangganya bersama Zergan.
Aludra tersenyum sendu mendengar perkataan Wira. Suami? Aludra sangat rindu suaminya yang dulu sangat mencintainya.
"Jadi aku harus mengalah lagi, kak?" tanya Aludra dengan mata berkaca-kaca.
"Bersabar, Aludra. Aku tidak memintamu untuk mengalah," ucap Wira tak tega.
"Rasanya hatiku lelah kak. Hatiku berbisik mengatakan bahwa dia sangat lelah. Tapi pikiranku memintaku untuk tetap seperti ini. Diam dan tetap sabar," ucap Aludra dengan suara bergetar.
Wira yang tidak tahan melihat Aludra menangis seperti itu segera bangun dari duduknya. "Apapun yang terjadi, jangan berpikir untuk pergi, Aludra. Bagaimanapun egoisnya Zergan, dia tetap suamimu," ucap Wira dan pergi meninggalkan Aludra yang menatap sendu punggung tegap itu.
Tanpa Aludra ketahui, seseorang dari balik pintu kamar pribadi mendengar apa yang dia katakan pada Wira. Zergan mengepalkan tangannya kuat menghalau emosi yang hendak keluar ketika mendengar perkataan Aludra. Mata lelaki itu memerah menahan tangis ketika mendengar perkataan Aludra bahwa sabarnya sudah hilang dan ingin pergi dan tak akan kembali.
Saat Zergan sudah selesai bicara dengan Zayn, lelaki itu menunggu Zayn sampai tidur. Setalah memastikan Zayn tidur, Zergan memutuskan untuk keluar kamar menuju Aludra dan Wira. Namun, baru dia membuka pintu sedikit, telinganya sudah mendengar perkataan yang sangat menyakitkan hingga membuat langkahnya terhenti.
Zergan sengaja menghentikan langkahnya untuk mendengar semua isi hati Aludra. Rasanya sakit sekali mendengar keluh kesah Aludra yang sudah tahan dengan apa yang terjadi.
Zergan menghela nafas pelan. Lelaki itu menghapus sudut matanya yang berair dan mengubah sedikit ekspresinya.
"Aludra," panggil Zergan pelan.
Aludra yang tadinya menatap keluar menoleh. "Mas," jawab Aludra mencoba tersenyum dan berdiri menyambut kedatangan Zergan.
Dalam hati lelaki itu mengumpati dirinya sendiri. Mulutnya terus saja berbicara dengan kasar. Padahal tadi dia ingin sekali mengatakan pada Aludra bahwa semua tidak seperti yang dia pikirkan. Tapi mungkin memang semua belum saatnya terjadi.
Aludra menggeleng.
"Jangan mencoba untuk lari, Aludra. Jadilah manusia bertanggung jawab dengan semua kesalahanmu. Berani berbuat, maka kau harus berani bertanggung jawab. Jangan membuat dirimu semakin buruk," ucap Zergan.
Zergan goblok. Batin Zergan mengumpati dirinya sendiri.
Aludra hanya tersenyum hambar mendengar perkataan Zergan.
Mungkin memang sudah takdirku begini. Pergi mungkin akan sembuh sebentar, tapi hidup tanpa Zayn dan Mas Zergan membuat aku tidak akan baik-baik saja. Batin Aludra menatap lekat suaminya itu.
"Aku keluar sebentar, ya Mas. Nanti kalau Zayn cari, bilang aku ada perlu," ucap Aludra dan lari begitu saja tanpa mendengar panggilan Zergan.
Zergan memukul meja kuat melihat kepergian Aludra. "Zergan brengsek!" umpatnya pada diri sendiri.
Zergan segera bangun dan berjalan cepat menuju meja kerjanya. Lelaki itu menekan tombol panggilan pada sebuah kontak yang tadi dia cari sebelumnya.
__ADS_1
"Halo," jawab seorang dari sebrang sana setelah panggilan teleponnya tersambung.
"Kirim gue dan Rea ke New Zealand. Gue percepat tugas kita dan ganti rencana," ucap Zergan cepat dan langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang tadi dia telepon.
Tidak sampai tiga menit sudah menelpon, pintu ruangan Zergan terbuka dengan kasar.
"LO GILA?!" ucap orang itu sedikit emosi masuk keruangan Zergan.
"Gue gak bisa lebih lama, Wira," jawab Zergan lemas dengan tubuh tersandar ke meja kerjanya.
"Tapi tidak gegabah juga, Zergan. Kalau kita mengambil jalan pintas, kemungkinan kita akan gagal, Zergan," ucap Wira tak setuju.
"Tapi Aludra..."
"Aludra pasti bisa sabar sebentar lagi Gan," ucap Wira.
"Tapi gimana kalau Aludra pergi. Gue dan Zayn butuh Aludra, Wir," ucap Zergan dengan bicara non formalnya.
"Gue percaya Aludra gak selemah Lo," jawab Wira tegas.
"Gue lemah kalau menyangkut Aludra, Wir. Gue lemah," ucap Zergan dengan mata berkaca-kaca.
"Gue yakin Aludra bukan orang yang berpikir pendek. Dan sekarang Lo harus bijak," ucap Wira.
"Apa Lo udah minta orang kita buat ikuti Aludra?" tanya Zergan.
Wira mengangguk. "Nadia selalu mengawasi Aludra," jawab Wira menyebut nama pengawal wanita yang memang mereka kirim diam-diam untuk mengawasi Aludra.
.....
Aludra sampai di taman yang nampak ramai. Cuaca siang yang tak panah membuat udara sedikit sejuk dan menambah kenyamanan untuk duduk di bangku taman. Aludra menatap lembut pada anak-anak yang nampak berlarian sambil bermain di taman. Mereka nampak mengejar kupu-kupu, bermain lompat tadi, seluncuran dan masih banyak lagi.
"Keluargaku pernah sebahagia itu dulu," ucap Aludra sendu menatap keluarga kecil yang bermain tidak jauh dari pandangannya.
Saat Aludra asik dengan pemandangannya, seseorang datang menghampiri dan duduk disebelah Aludra.
Aludra yang merasakan kedatangan seseorang menoleh. "Rio."
................
Maaf baru bisa update bestie, karena kemarin ada sedikit kerjaan 🤗😉
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Nanti berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.