Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 109


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


🌹HAPPY READING🌹


"Siapa?"


Dengan perlahan pemilik badan itu membuka kaca mata serta maskernya. Setelah itu dia mengangkat wajah menatap tiga orang yang sedang menunggu jawabannya.


"Mama Ana."


Mama ana terdiam menatap wajah wanita yang kini berdiri menatapnya. Sedangkan fatih langsung berdiri menatap marah pada Rea. "Punya urusan apa sampai kau berani datang ke kantorku?" tanya fatih angkat bicara.


"Izinkan aku bicara dengan mama ana, Kakek," ucap Rea pelan sambil menunduk.


"Mama? Kakek? Sejak kapan kita menjadi keluarga?" tanya Fatih sarkas.


Rea mengangkat kepalanya. Dahulu fatih sangat menyayanginya. Sekarang semua sangat terbalik. Roda kehidupan itu benar-benar berputar dan merubah segalanya. Yang tadinya diatas menjadi orang paling bawah sampai tak terlihat, orang yang tadinya dihargai kini tak ternilai sampai terlupa, orang yang tadinya sangat disayang kini berubah menjadi rasa benci karena sebuah kesalahan.


Rea sadar, semua ini terjadi atas kesalahannya. andai saja, andai saja dia tidak gila akan cinta dan harta, maka semua ini tidak akan terjadi.


"Izinkan aku bicara dengan nyonya ana, Tuan fatih," ucap Rea menatap sendu pada fatih.


"Pergilah, Nak Rea. jangan mengganggu konsentrasi kami dalam bekerja," ucap Anwar menatap Rea.


Rea menggeleng. Dia tersenyum menatap anwar. Lelaki itu memang lelaki yang sangat baik. Meski sudah begitu besar kesalahannya, tapi orang kepercayaan fatih itu masih menganggapnya anak. terbukti dari cara panggilnya yang tak pernah berubah.


"ini sangat penting, Paman. Izinkan aku bicara dengan Mama ana," ucap Rea lagi memohon.


"Tidak akan ada pembicaraan antara kamu dan anak saya. Sudah tidak ada urusan antara kita. jadi sekarang kamu pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu disini," ucap fatih tegas.


bukannya mundur, Rea malah berjalan maju dan mendekat kearah Ana. Rea menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan mata sendu menatap ana. Dagu wanita itu bergetar menatap wajah teduh yang dulu dengan tulus memberikannya kasih sayang seorang ibu. "Maaf, Mama ana," ucap Rea dengan suara bergetar.


"Maaf," ucap Rea lagi menunduk.


Ana terdiam. wanita itu hanya menatap datar pada Rea. Melihat Rea seolah mengingat kembali luka lamanya.


"Kau kembali mengingatkan aku dengan semua luka itu, Rea," ucap Mama aja pelan.


"maaf," ucap Rea lagi.


"Aku sudah memaafkan mu. sekarang pergilah," ucap ana mengalihkan pandangannya pada Rea.


"Ada hal yang harus mama ana tahu. tolong dengarkan aku," ucap Rea lagi.


"Ikuti apa perintah anakku!" ucap fatih tegas.


Mama ana segera berbalik memunggungi Rea. Dia tidak ingin wajah penyesalan Rea membuat dia kembali lemah dan meruntuhkan ketegaran yang selama ini diusahakannya.


"Ini tentang Ayah Adam," ucap Rea menatap fatih, ana dan anwar bergantian.


Mereka semua hanya diam dan tak ada yang buka suara.


"Ayah adam sangat terpuruk. Dia tidak mengurus dirinya dengan baik. Makananya tidak sehat. Wajahnya pucat. sedikit mendengar suaramu mungkin bisa membuat adam kembali bersemangat," ucap Rea mengatakan semuanya.

__ADS_1


"Sudah bukan urusanku, Rea. Sekarang kau wanita yang ada di hatinya. Lalu kenapa aku yang harus bertanggung jawab untuk semua penyesalan kalian?" jawab Mama ana berbalik menatap Rea.


"Bukankah harusnya kalian yang bertanggung jawab untuk semua ini? Kenapa sekarang harus aku yang membantu?" sambung mama ana dengn mata berkaca-kaca.


"Perasaanya padaku hanyalah nafsu. sedangkan denganmu dia merasakan cinta sejati," jawab Rea.


"Tidak ada cinta sejati yang penuh pengkhianatan," jawab mama ana terkekeh pelan bersamaan dengan sedihnya.


"Sekali saja datanglah, Mama ana. aku mohon," ucap Rea lagi memohon.


"sudah tidak ada hubungan antara aku dan adam. jadi sudah bukan kewajibanku untuk mengobati kesedihannya," jawab mama ana tetap pada pendiriannya.


"Aku mohon mama ana," ucap Rea menangis dan langsung berlutut di depan ana.


Ana yang cukup terkejut reflek memundurkan langkahnya.


"Serendah ini dirimu sekarang?" ucap fatih meremahkan. Lelaki sungguh sangat jijik melihat setiap gerak Rea.


Rea tidak mengindahkan perkataan fatih. dia fokus pada tujuannya yang ingin membawa ana menemui fatih.


"Aku mohon mama Ana. Adam sangat menyesal dan kini sangat membutuhkanmu. Dia sangat membutuhkanmu, Mama ana. Aku mohon," ucap Rea lagi.


Ana terdiam. Dia hanya diam mencerna apa yang dikatakan oleh Rea.


"Berdirilah, Rea. aku bukan Tuhan sehingga kau bisa bersimpuh seperti ini," ucap Ana.


"Aku mohon ikut aku, Mama ana," ucap Rea lagi tanpa mengindahkan perkataan Ana.


Rea mengusap air matanya. dengan kaki bergetar wanita berdiri dan kembali berhadapan dengan Ana.


"Kau mencintai adam, bukan?" tanya Ana.


Rea mengangguk.


"Kalau begitu, itu adalah kewajibanmu untuk menghiburnya. pergilah! aku dan dia adalah orang asing," ucap mama ana tetap dengan pendiriannya.


"Tidak adakah sedikit rasa kasihan ma-"


"Kasihan kamu bilang? apa kamu memiliki kasihan juga saat melukaiku?" tanya Mama ana dengan nada suara meninggi.


Mama ana memejamkan mata mencoba untuk menetralkan emosinya.


Rea hanya bisa mengangguk tak jelas. Wanita itu merasa tidak tahu diri dengan mengatakan bahwa ana adalah orang yang tak punya belas kasih. bukankah itu egois? bahkan Rea lebih jahat dari ini.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Rea berbalik. kakinya melangkah untuk keluar dari ruangan itu.


Mama ana memperhatikan bentuk tubuh Rea. hatinya sudah ikhlas, tapi sakit hatinya tetap saja tak bisa dicegah.


Bahkan anakmu sudah ada dalam perut anak angkatmu sendiri, Mas. Batin Ana yang melihat perubahan bentuk tubuh Rea.


"Tunggu, Rea," ucap ana menghentikan langkah Rea.


Rea berbalik.

__ADS_1


Ana mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di kertas itu.


Jangan marah atas jalan takdir yang sudah kamu pilih. sekarang bertanggung jawablah atas kehidupan yang sudah kamu buat ada. Berbahagialah!


"berikan ini padanya. Aku berharap kertas ini bisa membuatnya sedikit berpikir waras," ucap mama ana memberikan kertas yang sudah dilipat itu pada Rea.


Rea menerimanya dan tersenyum. "Hati kecilmu masih peduli, Ma," ucap Rea yang tidak diindahkan oleh Ana.


Rea menatap fatih, anwar dan ana. Tangan gadis itu terulur mengusap lembut perutnya namun tidak ada yang memperhatikan. Semoga nanti kamu hidup baik seperti mereka semua, Nak. Batin Rea berharap atas kesejahteraan anaknya.


"Rea pamit. maaf dan terimakasih."


.....


Aludra keluar dari kamar mandi dan menatap zergan yang asik dengan ponselnya. Sesekali wajah lelaki itu nampak kesel dan juga bingung sendiri.


"Kenapa, Mas?" tanya aludra heran sambil berjalan mendekati Zergan.


"Aku dari tadi ngirim email ke wira gak bisa-bisa. Aku buka aplikasi lain juga gak bisa," ucap Zergan tetap fokus pada ponselnya.


"Wi-fi rumah hidupkan, Sayang?" tanya Zergan lagi.


"Hidup kok. buktinya semalam itu aku bisa kerja," jawab aludra.


"Tapi kok ini gak bisa?" tanya Zergan lagi.


"Pake paket data coba, Mas."


"Gak punya aku."


"Beli dulu."


"gak ngerti cara belinya," jawab Zergan yang membuat aludra menatap tak percaya.


"Kamu gak pernah beli paket data Mas? yang lima puluh ribu atau dua puluh ribuan gitu buat sebentar aja?"


"Emang ada yang semurah itu?"


"Hah? murah? bagi aku sangat mahal, Mas. untung dirumah ada wi-fi. terus kalau kamu keluar internetnya pake apa?" tanya Aludra lagi.


"Kan di mobil ada wi-fi juga. Kalau lagi kerja itu urusannya wira. Aku gak urus. Cepat bantu aku isinya, sayang. penting banget ini," ucap Zergan memberikan ponselnya pada Aludra.


Aludra mengangguk dan membantu Zergan.


"Kok cepat?" tanya Zergan heran.


"Itu gunanya pernah hidup susah. Kamu sultan terus jadi gak pernah tahu gimana caranya pake paket darurat."


......................


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!


Selamat membaca!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2