
Welcome Back To My Story
🌹HAPPY READING🌹
"Kau semakin menyakiti dirimu," ucap grace sembari melakukan pekerjaannya.
"demi kesembuhan hatiku tidak apa."
Kegiatan tangan grace terhenti seketika. dia menatap lamat wira yang tengah memejamkan mata dan menutup setengah wajah dengan tangan sebelah kanannya.
Wira yang tak merasakan gerakan grace membuka mata dan menjauhkan tangan dari wajahnya. "kenapa?" tanya wira menatap grace.
"Kau kenapa?" tanya grace yang membuat wira sedikit terdiam.
"Apa maksudmu?" tanya wira seolah tak paham. padahal dia sangat tahu maksud dari pertanyaan grace.
"Kamu kenapa, wira?" tanya grace lagi menghiraukan pertanyaan wira.
Wira menghela nafas pelan. "Bukankah ini yang kau inginkan? kau ingin aku hidup tanpa mengganggumu dan kau ingin hidup tanpa adanya gangguan dariku, bukan?" tanya wira menatap grace tak minat.
Grace terpaku mendapat tatapan yang tak seperti biasanya dari wira. Wira yang biasa menatap lembut penuh cinta dan kasih. tatapan yang berbalut ketulusan itu kini berganti menjadi tatapan biasa tak ada arti. tanpa ada cinta yang menyejukkan dan ketulusan yang meluluhkan. wira menatapnya seolah tidak ada rasa diantara mereka.
"Kau kenapa, wira?" tanya grace lagi dengan suara pelan.
Wira menghela nafas pelan. "cepatlah lakukan tugasmu!" jawab Wira lagi dengan suara kesal sehingga tanpa sadar di membentak grace.
lagi dan lagi grace terpaku. dulu, seperti apapun penolakan yang diberikan grace, wira tetap bicara dengan lembut dengan senyum tak luntur menghiasai wajahnya. tapi sekarang? hanya pertanyaan sederhana yang dia sampaikan bisa membuat wira emosi sampai membentaknya seperti itu.
Grace tersenyum hambar dan mengangguk. "Biar karyawan ku saja. aku ada pekerjaan lain," ucap grace dan langsung pergi begitu saja.
Wira juga tak mencegah. dia membiarkan grace pergi dan memilih diam mendengar apa yang dikatakan wanita itu.
grace duduk di ruang pribadinya setelah tadi meminta salah satu karyawannya untuk melanjutkan penghapusan tato wira.
"Kenapa aku yang sakit saat keinginanku telah terpenuhi?" gumam Grace memegang dadanya yang terasa sangat tidak nyaman.
"Keadaan sangat tidak adil dalam memilih tuannya," gumam Grace dengan mata berair menatap sebuah tayo mungil bergambarkan huruf W di sela jari manis dan jadi tengahnya.
__ADS_1
"Seperti jari ini yang tak pernah jadi satu. Istiqlal dan katedral dibangun memang hanya untuk berdampingan dalam bentuk toleransi."
.....
Wira duduk di kursi penumpang. setelah menghapus tato tadi, rasanya dia tidak kuat menyetir sendiri sehingga meminta sopir untuk mejemputnya.
Pandangan lelaki itu kosong. Apakah keputusannya untuk mulai melupakan grace sudah benar? apa ini baik untuk semuanya? apa ini baik untuk dia dan grace? Entahlah. wira hanya berusaha membuat ego grace menjadi kenyataan. sesekali tidak apa memberi pelajaran pada ego Grace. Agar wanita itu paham, jika kita memang sama-sama ingin bersama, maka seberat apapun rintangannya pasti bisa dilewati sekalipun itu perbedaan agama.
"Pak," panggil wira pada sopir perusahaan yang dia tugaskan saat ini untuk membantunya.
"Iya, tuan," jawab sopir yang sudah berumur itu.
"Nikah beda agama hadiahnya apa, Pak?" tanya wira yang membuat pak sopir itu terkekeh.
"Di dunia dapat banyak kado, tuan. tapi di akhirat sudah pasti neraka," jawab Pak sopir yang membuat Wira terdiam.
"Dan juga, setahu saya nikah beda agama itu sama saja dengan zina, tuan. karena pernikahannya tak akan sah," tambah pak sopir.
Wira bukannya tidak tahu. tapi dia hanya ingin bertanya untuk lebih meyakinkan diri bahwa apa yang dia lakukan ini sudah benar.
Ini bukan pengorbanan. Tapi melupakan semua ini memang keharusan yang mestinya aku lakukan.
.....
Semua masih berkumpul di ruang rawat Zergan sambil menunggu konfirmasi dari dokter rizal. Rencananya nanti dia akan terbang ke thailand pada pukul sembilan malam. dan itu terhitung masih dua jam lagi dari sekarang.
"Sayang," panggil Zergan merengek pada aludra yang kini mengecek semua persiapan Zergan selama disana.
"Iya Mas," jawab aludra menghentikan kegiatannya. wanita itu berjalan dari sofa mendekati ranjang.
Fatih dan wira yang mendengar rengekan Zergan memutar bola mata malas. sedangan Anwar dan Mama ana hanya diam.
"Kamu ikut, ya. Kita bawa juga zayn," ucap Zergan masih berusaha membujuk Aludra.
"Fokuslah sama pengobatan kamu disana, mas," ucap Aludra tersenyum sambil mengusap lembut bahu Zergan.
"Zayn," panggil Zergan pada Zayn yang sejak tadi asik bermain ponsel aludra di kasur Zergan.
__ADS_1
"zayn nulut mama aja," jawab anak itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Zergan menghela nafas pelan. "Masih belum terlambat, Sayang. kamu masih bisa siap-siap. atau kita beli keperluan kamu sama Zayn disana," ucap Zergan merayu.
"kamu gak lupa kalau aku keras kepala kan mas?" tanya aludra menatap Zergan.
Zergan berdecak kesal. Aludra tersenyum, namun dalam hati dia juga tertawa menatap wajah jengkel suaminya.
"Jangan pikirin aku dan anak-anak. kami pasti bisa walau sulit. buktinya, selama ini aku juga gak tahu tentang sakit kamu dan kamu masih bisa bertahan kan?" tanya aludra sedikit menyindir. Niat hati Ingin menyindir zergan malah semua yang ada di ruangan merasa kena dari omongan Aludra.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Dokter rizal yang masuk bersama dokter David.
"Tidak bisa besok, dokter?" tanya Zergan malas.
"Semakin lama pergi semakin lama kamu sembuh. tinggal pilih saja," jawab dokter rizal santai.
Lagi dan lagi zergan berdecak malas. tidak ada pilihan selain pergi demi kesehatannya. lagian semua berawal dari salahnya yang tidak jujur dan terbuka.
.....
lebih kurang satu jam mereka sudah berada di bandara dan duduk di kursi yang ada di bandara menunggu pengumuman keberangkatan Zergan.
"Papa baik-baik disana, ya. Jangan nakal-nakal dan selalu ingat Zayn sama mama sama adik bayi juga," ucap Zayn yang duduk di sebelah kursi roda Zergan.
Ya, Zergan memang menggunakan kursi roda dan tentu itu atas paksaan aludra. dia tidak mau Zergan sampai drop dan kelelaha. Wajah laki-laki itu ditutupi masker agar tak ada yang mengenalinya.
Zergan mengangguk. "Papa akan pulang cepat, Nak. Kamu jagain mama disini, ya. Jagain mama dan jangan biarin ada orang yang ganggu mama terutama laki-laki," ucap Zergan lembut.
Zayn mengangguk semangat. Tidak lama terdengar panggilan untuk keberangkatan Zergan. Dengan berat hati Zergan pergi bersama mama ana yang akan menemaninya disana.
Aludra tidak melepas pandangannya dari punggung Zergan. Ada rasa tidak rela saat membiarkan suaminya berobat sendiri disana. tapi tetap saja, hatinya masih belum menerima sepenuhnya apa yang Zergan lakukan.
Maaf, Mas.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @nonamarwa_ (ganti nama dari yus_kiz ke nonamarwa_) untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!