Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 104


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


🌹HAPPY READING🌹


Wira menghela nafas lelah. "Apa gue ikut agamanya aja kali ya?" tanya wira sedikit tak nyambung.


Zergan mengangkat sebelah alisnya. "Gue mah terserah lo aja. tapi gue gak mau munafik, sekali lo ambil jalan pintas itu, berhenti jadi sahabat gue," ucap zergan tegas menatap wira.


Wira yang mendengar itu berjalan mendekati meja zergan. lelaki itu menyangga tubuhnya dengan kedua tangan hingga bisa menatap tepat di wajah Zergan.


"Lo sesayang itu sama gue, gan?" tanya Wira berbicara menatap zergan.


Reflek zergan mundur. lelaki itu menoyor kepala wira hingga menjauh. "Bukannya sayang. gue gak mau aja nanti om anwar sedih lihat anaknya masuk kerak-kerak neraka," ucap zergan santai.


"Astaghfirullah, omongan lo gan," ucap wira tak Terima.


"Makanya, kalau ngomong itu di pikir dulu. Perempuan banyak, wira. jangan sampai kalah sama perasaan lo sendiri," ucap Zergan.


"lagian nih ya, kalau lo mau murtad, lo pikir grace bakal mau sama lo? jelas dia tambah jijik sama lo. Agama aja lo korbanin apa lagi dia nanti yang hanya wanita biasa," tambah zergan bijak yang membuat wira mendengar tanpa mengedip.


"Gan," panggil wira polos.


"Apa?"


"Lo sehatkan?" tanya Wira dengan meletakkan telapak tangannya di dahi zergan. "gak panas," gumamnya setelah memeriksa suhu tubuh zergan.


"Ck. gue itu sehat. lo yang gak sehat. udah saja kerja. jangan makan gaji buta," ucap zergan sedikit kesal.


"Gaji buta gaji buta. Kalau bukan karena kesetiaan gue udah hancur nih perusahaan," ucap wira berjalan keluar ruangan zergan sambil menggerutu.


Zergan tersenyum sambil menggeleng. tak dapat dia pungkiri, kesetiaan wira padanya sebagai bawahan dan juga sebagai sahabat memang tak dapat diragukan lagi. "Gue berdoa yang terbaik buat lo, Wir."


.....


Jam sudah menunjukan pukul enam sore waktu new Zealand. rea duduk di ruang tamu menunggu kepulangan adam. Sejak dia meminta rea untuk tidak jadi pergi dari rumah, lelaki itu belum kembali lagi. sudah tiga malam ini rea selalu tidur di ruang tamu sambil menunggu kepulangan adam.


Rea mengusap perutnya dengan senyum mengembang. "Kamu sehat-sehat disana, ya Nak. Tumbuhlah menjadi anak yang baik, sholeh dan sholeha, dan yang pasti sayang sama orang tua, Nak. Agar kelak kamu jadi anak yang punya masa depan. bukan kayak mama ya, Nak," gumam Rea dengan harapan besar akan kehidupan anaknya nanti.


"Hari ini mama akan kasih tahu ayah kalau kamu itu ada, Nak. Apapun yang terjadi mama akan memperjuangkanmu," lanjut Rea dengan keyakinan kuat. Dia sudah sangat memikirkan resikonya. jika memang adam menolak, maka dia siap pergi dari kehidupan laki-laki itu. Rea siap jika menang harus membesarkan anaknya sendirian.


Suara mobil terdengar dari luar. rea segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Senyum yang tadinya berbinar kini berubah menjadi khawatir setelah melihat adam. keluar mobil dengan penampilan yang sangat kacau.


"mas adam baru pulang?" tanya Rea pelan.

__ADS_1


Adam berhenti sejenak. Lelaki itu beralih menatap rea yang kini berdiri disebelahnya. "Bukan urusanmu," jawab adam singkat.


Rea reflek menutup hidung ketika mencium baru nafas adam yang sangat kental akan alkohol. Apa yang terjadi dengan lelaki itu sampai dia berantakan seperti ini? pikir Rea.


"Mas kamu kenapa?" tanya Rea khawatir berusaha mengejar langkah kaki adam.


"Mas berhenti dulu, kamu kenapa?" ucap rea lagi memeganh sikut adam hingga lelaki itu menghentikan langkahnya.


"Aku ingin berterimakasih padamu," ucap adam tanpa menoleh ke belakang.


"Untuk?" tanya Rea bingung.


"terimakasih sudah memperkenalkan aku dengan alkohol. Setidaknya aku punya pelampiasan atas kekecewaan ini," jawab adam tanpa ada rasa marah di hatinya. lelaki itu tidak mau adu mulut dengan Rea saat ini. Masih mampu berdiri seperti ini saja dia sudah sangat bersyukur.


"Ada apa?" tanya Rea kini beralih berdiri di depan adam. Kesedihan apa yang adam alami sampai-sampai dia terlihat sangat frustasi seperti ini. padahal waktu dia pergi tiga hari yang lalu, wajahnya sangat senang dipenuhi dengan senyum manis di bibirnya.


"Aku hanya kecewa pada diriku. aku kecewa atas apa yang aku lakukan. entah kenapa penyesalan itu baru datang sekarang. kenapa dia tidak datang dari dulu hingga aku masih bisa memperbaiki semuanya. aku pasti masih bisa hidup bersama dengan anak, istri, menantu, ayah dan juga cucu-cucuku," jawab adam sendu.


"Apa kamu bertemu dengan Mama Ana?" tanya Rea pelan.


"Adam mengangguk. Ternyata kesalahanku begitu besar sampai tidak ada dari mereka yang ingin menerimaku kembali," jawab adam.


"tapi mereka pasti memaafkan kamu, Mas," ucap Rea.


"tapi setidaknya kamu sudah mendapat kata maaf, Mas," jawab Rea lagi.


"Kau tidak tahu betapa sulitnya aku dulu untuk mendapatkan ana. tapi setelah kedatanganmu, aku melupakan semua perjuanganku. kenapa kita harus bertemu rea?" tanya Adam dengan mata berair.


"Kenapa kita harus bertemu?" tanya adam lagi.


Rea menunduk. Tentu disini dialah yang sangat salah. Jika saja dulu dia tidak gigih untuk menggoda adam, pasti keluarga bahagia itu masih sangat bahagia saat ini. Dan dia pasti akan jadi gadis yang sangat beruntung karena di sayangi oleh keluarga yang sangat baik.


"Maafkan aku," jawab Rea dengan suara bergetar.


Adam tergelak. "Salahku juga yang begitu mudah tergoda denganmu. Tapi boleh aku jujur sekarang?" tanya adam.


Rea mengangguk.


"Selama ini, yang aku rasakan padamu hanyalah nafsu dan hasrat, Rea. Cintaku tetap hanya untuk ana. Maaf jika aku menghancurkan masa depanmu," ucap adam menatap lurus ke depan.


"Bukankah kita masih bisa bersatu untuk hidup bahagia, Mas adam?" tanya Rea lagi.


"Dan kita bahagia saat Ana terluka sendiri?" tanya Adam sadar.

__ADS_1


Rea benci ini. Ingin sekali dia egois saat ini. bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk anak yang ada di kandungannya. "Kamu pasti bisa jika kamu bangkit dari rasa kecewa ini," jawab Rea lagi.


Adam menatap tajam pada Rea. "Kau memang sangat egois!"


"Kita sama, Mas. aku bicara begini karena aku mencintaimu," jawab Rea tak Terima.


Adam terkekeh pelan. "Cinta? Aku tidak akan lupa satu hal, Rea. kau mau melakukan hubungan ini hanya karena ingin mewujudkan cintamu pada anakku."


Setelah mengatakan itu, Adam berjalan mendahului Rea dan meninggalkan wanita itu sendiri di ruang tamu.


"Tapi itu dulu sebelum aku benar-benar mencintaimu."


.....


Zergan dan Wira baru saja selesai melakukan meeting dengan investor dari luar negeri. kedua lelaki itu kini masih berada di dalam ruang meeting, sedangkan yang lain sudah keluar terlebih dahulu.


"Oiya, wir, tagihan kartu aludra mana?" tanya Zergan pada Wira.


"Tagihan?" tanya Wira bingung.


Zergan mengangguk. "Tagihan kartu kredit dan aktivitas rekeningnya," jawab Zergan.


"Buat apa? Selama menikah baru kali ini lo tanyain itu," jawab Wira.


"Gue mau tau aja. Mana?" tanya Zergan lagi.


Wira menghidupkan iPad-nya dan mengirim apa yang zergan minta ke ponsel lelaki itu.


"Udah gue kirim," ucap Wira.


Zergan mengangguk dan memeriksa ponselnya. Mata lelaki itu membulat sempurna melihat apa yang ada di layar ponselnya. "Lo serius?" tanya Zergan tak percaya.


Wira mengangguk.


"Kalau gitu, aludra selama ini belanja pakai apa?"


......................


Oiya, buat yang mau lihat chatnya zergan dan aludra yang buat zergan mabuk kepayang udah bisa lihat postingan di instagram aku yaaa


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!


Selamat membaca!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2