Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 14


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Aludra termenung di bangku taman rumahnya sambil menunggui Zayn yang sedang bermain dengan kelinci-kelinci kesayangannya. Anak itu memiliki sepuluh kelinci peliharaan yang dibelikan oleh Opa kesayangannya, Adam Bailey.


Perkataan Zergan yang memintanya untuk tidak berusaha mencari bukti bahwa dia tidak bersalah selalu terngiang di telinga Aludra. Jika dia tidak diizinkan lagi untuk berusaha membuktikan bahwa dirinya tak bersalah, lantas apakah dia akan hidup dalam kesalahpahaman ini sampai mati nanti? apakah dia akan menjalani rumah tangga yang diselimuti oleh kabut marah dan benci? Bagaimana bisa Aludra menjalani hal itu semua? Dia rindu keluarga kecilnya yang begitu harmonis.


"Mama," panggil Zayn yang mendekati Aludra.


Tidak mendapat jawaban dari Mamanya, Zayn mengecup pipi Aludra untuk menyatakan wanita itu dari lamunannya.


"Eh, Zayn!" ucap Aludra kaget.


"Mama kenapa melamun?" tanya Zayn.


"Enggak, Nak. Mama lagi lihat-lihat taman," ucap Aludra beralasan sambil melihat sekeliling taman rumah mereka.


Dahi Zayn berkerut. Anak itu nampak tak percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Mamanya. "Taman kita tidak berubah apapun," ucapnya pelan.


Aludra tersenyum. "Zayn sudah selesai main?" tanya Aludra mengalihkan pikiran anaknya.


Zayn mengangguk. "Kelincinya juga udah Zayn masukin kandang," jawab Zayn.


"Udah seharian Zayn main dan udah bau matahari juga ini. Kita mandi dulu ya," ajak Aludra lembut.


Dengan patuh anak itu mengangguk. Dengan berpegangan tangan Zayn dan Aludra memasuki rumah. Anak itu juga sudah merasa gerah dengan tubuhnya. Mungkin mandi akan lebih baik untuk saat ini.


.....


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Tapi belum ada tanda-tanda suaminya akan pulang.


"Ma, Papa masih lama, ya?" tanya Zayn dengan mata yang sudah mengantuk.


"Zayn udah ngantuk, Nak?" tanya Aludra lembut. Mata anak itu sudah setengah terpejam sambil menonton televisi di ruang keluarga.


Zayn mengangguk. "Tadi nggak tidul siang. Jadi ngantuk sekalang," ucapnya merebahkan kepalanya di paha Aludra. Ibu dan anak itu duduk diatas karpet bulu yang ada di depan TV ruang keluarga.


"Zayn tidur di kamar, ya Nak. Mama gendong," ucap Aludra.


Zayn menurut. Anak itu naik ke gendongan Aludra dengan gaya koala. Aludra mengusap-usap rambut Zayn lembut agar anak itu semakin terlelap.


Setelah menidurkan Zayn, Aludra kembali turun ke bawah untuk menunggu kepulangan Zergan.


.....

__ADS_1


Sedangkan di Perusahaan, Zergan masih sibuk dengan beberapa berkas ditemani oleh Rea dan Wira yang membantu pekerjaannya.


"Rea, yang kamu kerjakan sudah selesai, Dek?" tanya Zergan pada Rea yang duduk di sofa ruangannya bersama Wira.


"Sebentar lagi, Kak," jawab Rea sambil terus mengetik di laptopnya.


Setelah beberapa menit, Rea meregangkan ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama tidak bertukar posisi.


Rea berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja kerja Zergan. "Ini Kak," ucap Rea sambil memberikan file yang dia kerjakan pada Zergan.


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Zergan. Dia tidak tega meminta adiknya untuk lembur lagi. Sudah nampak sekali kelelahan di wajah wanita itu.


"Diantar Abang, ya," pinta Rea manja.


"Bukannya kamu bawa mobil sendiri?" tanya Zergan.


"Capek nyetir sendiri," jawab Rea beralasan.


"Makanya cari pawang," jawab Zergan meledek.


"Iihhh Abang. Abang pikir aku hujan pakai pawang segala," jawab Rea cemberut.


Wira yang mendengar itu langsung mengangkat kepalanya. "Biar saya yang antar Rea, Tuan," ucap Wira menawarkan.


Wira mengangguk. Lelaki itu berdiri dan memberikan laptopnya kepada Zergan untuk memperlihatkan bahwa pekerjaannya sudah selesai.


"Apa tidak akan merepotkanmu?" tanya Zergan.


Wira tersenyum. "Tentu tidak, Tuan. Anda lebih baik pulang saja. Istri anda pasti sudah menunggu dirumah. Istri itu lebih penting dari siapapun, Tuan," ucap Wira sedikit menyindir.


Zergan terdiam mendengar perkataan Wira. Sedangkan Aludra menatap kesal pada Wira yang sok menasehati.


"Ah, baiklah. Rea, kamu pulang sama Wira, ya. Abang akan langsung pulang setelah ini," ucap Zergan.


Rea memasang wajah senyumnya. "Baiklah. Rea akan ambil tas dulu di ruangan. Aku tunggu di luar Kak Wira," ucap Rea dan langsung keluar dari ruangan Zergan.


Melihat Rea yang sudah keluar, Wira beralih menatap bos didepannya itu. "Tuan," panggil Wira pelan.


"Kenapa Wira? Ada yang ingin kau katakan?" tanya Zergan melihat gelagat Wira.


Wira mengangguk. "Saya hanya ingin bilang, jangan terlalu percaya pada siapapun, Tuan. Apalagi itu orang terdekat kita," ucap Wira.


Dahi Zergan berkerut. "Apa maksudmu?" tanya Zergan.

__ADS_1


"Selalu waspada pada siapapun, Tuan. Terkadang orang yang paling kita sayang, bisa menjadi orang yang paling menyakiti. Dia memang memeluk kita, tapi tujuannya bukan untuk menenangkan. Tapi agar belati yang dia gunakan semakin tertancap dalam," ucap Wira serius menatap Zergan.


"Ya, dan istriku melakukan itu," jawab Zergan dengan pandangan lurus ke depan.


Wira tersenyum dan menggeleng. "Orang terdekat bukan hanya istri, Tuan. Tuan pasti bisa mencerna apa yang saya katakan," ucap Wira.


"Termasuk dirimu sendiri, Wira?" tanya Zergan.


Zergan mengangguk. "Iya jika Tuan juga menganggap saya orang terdekat Tuan," jawab Wira yakin.


"Berarti aku juga harus waspada denganmu?" tanya Zergan sambil memasang jasnya.


Wira mengangguk lagi. "Tentu, Tuan. Saya tidak ingin membenarkan diri," ucap Wira yakin.


Zergan terkekeh pelan. "Kau lelaki sejati, Wira," ucap Zergan.


Wira tersenyum. "Memang harus begitu, Tuan. Lelaki sejati tidak membenarkan satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya. Dan lelaki bijaksana, dia akan mencari celah diantara kedua pihak itu untuk mengetahui kebenarannya," ucap Wira tegas.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan. Selamat malam," lanjut Wira pamit dan keluar dari ruangan Zergan.


Zergan terdiam mencerna perkataan Wira. Lelaki itu tersenyum hambar setelah beberapa detik. "Kau bilang begitu karena belum pernah merasakan ditikam oleh orang yang paling kau cintai, Wira," gumam Zergan lirih.


Tidak ingin terlalu lama, Zergan memilih untuk merapikan sedikit meja kerjanya. Setelah itu baru dia bergegas untuk pulang.


.....


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Aludra masih setia dibalik jendela ruang tamu untuk melihat kepulangan suaminya. "Nggak bisanya Mas Zergan pulang terlalu larut begini. Paling lambat jam tuju pasti udah pulang," gumam Aludra khawatir.


Aludra sudah mengubungi berkali-kali, tapi lelaki itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya.


Deerrrrtt, deeerrrrrtt. Ponsel Aludra bergetar. Wanita itu langsung melihat ponsel digenggamnya dengan harapan Zergan yang memberi kabar.


Alis Aludra berkerut saya nama Wira tertera disana. Lelaki itu mengirim pesan kepada Aludra. Dengan cepat, Aludra langsung membuka pesan tersebut.


Apa besok kita bisa bertemu, Nyonya? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.


Setelah mengirim balasannya, Aludra kembali menutup ponselnya. "Hal penting apa?" gumam Aludra.


......................


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗

__ADS_1


Kalian bisa follow Instagram aku @yus_kiz buat lihat visual dan segala perkataan indah yang berkaitan dengan novel ini 😉🤗


__ADS_2