Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 18


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Zergan mendengus kesal. "Aku menunggumu di ruanganku," ucap Zergan dan langsung berbalik meninggalkan ruangan Wira.


Saat akan teringat sesuatu. Zergan kembali berbalik dan menatap Rea. "Rea," panggil Zergan.


"Kenapa Bang?" tanya Rea.


"Tato yang indah," ucap Zergan dan keluar begitu saja dari ruangan Wira.


Wira terkekeh pelan melihat wajah Rea yang sudah sangat berbeda. Wajah putih itu sudah merah padam dan mata yang menatapnya dengan tatapan permusuhan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Rea?" tanya Wira.


"Aku akan buat perhitungan denganmu, Kak. Berani menggangguku, maka bersiap agar hidupmu tak akan tenang," ucap Rea menatap tajam Wira.


Wira terkekeh pelan. Setelah itu wajahnya berubah serius dan membalas tatapan tajam Rea. "Jangan coba-coba menjadi orang ketiga dalam hubungan Aludra dan Zergan, Anak tiri!" ucap Wira tajam.


Rea yang mendengar itu semakin naik pitan. Wanita itu keluar dari ruangan Wira dengan kekesalan yang bersarang dihatinya.


Wira terkekeh pelan. "Sangat tidak tahu diri," gumam Wira pelan. Setelahnya, lelaki itu keluar dari ruangannya sendiri untuk pergi menemui Zergan ke ruangannya.


.....


"Ada apa?" tanya Wira ketika sampai diruangan Zergan.


Zergan yang tadinya menatap keluar jendela kaca besar di ruangannya berbalik menatap Wira. "Kenapa bisa Aludra seperti itu?" tanya Zergan tanpa basa-basi.


"Kau ingin aku berbicara sebagai teman atau sebagai bawahan?" tanya Wira terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Zergan.


Zergan menaikan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Wira. Jika sudah seperti ini, biasanya lelaki itu akan bicara sesuatu hal yang serius.


"Bicaralah sebagai teman," ucap Zergan.


Wira menghela nafas pelan. Lelaki itu duduk di kursi yang ada disebrang meja kerja Zergan.


"Lo boleh tanya apa aja yang ada dipikiran Lo, Gan," ucap Wira dengan gaya bicara non formalnya.

__ADS_1


"Kenapa Aludra bisa seperti itu?" tanya Zergan.


"Lo pasti tahu obat apa yang diminum Aludra hingga dia seperti itu," jawab Wira.


"Jawab pertanyaan gue dengan simpel aja bisa nggak sih?" ucap Zergan sedikit kesal.


Wira menghela nafas pelan. "Nggak bisa! Gue mau Lo mikir dikit," jawab Wira yang membuat Zergan mendegus.


Zergan beralih duduk di kursi kerjanya. Kini, kedua lelaki itu duduk dengan saling berhadapan dan dibatasi oleh meja kerja Zergan.


"Obat perangsang?" tanya Zergan langsung.


Wira mengangguk.


"Siapa?" tanya Zergan.


Alis Wira berkerut. "Siapa apa?" tanya lelaki itu tak paham.


"Siapa yang ngasi obat itu ke Aludra?" tanya Zergan.


Wira menggeleng. Belum saatnya Zergan tahu semua tentang Rea. Dia harus mengumpulkan bukti terlebih dahulu sebelum berbicara.


"Itu yang masih gue selidiki," jawab Wira singkat.


"Dan Lo nggak libatin gue?" tanya Wira lagi.


"Kali ini biar gue yang urus. Lo cukup urus urusan Lo sama Aludra," jawab Wira.


Wira yang melihat itu membalas tatapan Zergan. "Gimana kalau gue kencan sama istri Lo?" tanya Wira balik.


"Gue bunuh!"" jawab Zergan singkat dan penuh dengan ancaman.


Wira terkekeh melihat reaksi Zergan. Wira sudah tahu pasti ini yang akan dikatakan oleh lelaki itu.


"Gue mau bilang sesuatu sama Lo," ucap Wira pada akhirnya.


Zergan yang minat raut wajah serius Wira menatap mata sahabatnya itu. "Apa?"


"Beberapa hari yang lalu, Aludra datang ke gua untuk minta tolong unt-" ucap Wira memulai perkataanya.


"Minta tolong?" tanya Zergan cepat.


"Bisa nggak sih dengerin dulu aja," ucap Wira kesal dengan Zergan yang terus saja bertanya disetiap perkataanya.


"Hem," jawab Zergan cuek dan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.


"Aludra minta tolong sama gue buat cari bukti kalau dia tidak bersalah dalam kejadian satu bulan yang lalu," ucap Wira tanpa jeda.

__ADS_1


Zergan menatap Wira. "Terus?" tanya Zergan.


"Dan gue lakuin itu," jawab Wira.


"Bukti apa lagi? Bukankah video itu sudah cukup membuktikan semuanya?" tanya Zergan pelan.


Wira terkekeh pelan. "Lo nggak dukung apa yang ingin dilakuin sama istri lo? Dia sedang berusaha memperbaiki semuanya, Gan," ucap Wira.


"Gue mau percaya, Wir. Tapi semuanya membuktikan jika Aludra memang bersalah," ucap Wira sendu.


"Kenapa cinta Lo lemah banget sih, Gan? Bukannya dulu Lo yang selalu ngejar Aludra? Lalu kenapa sekarang seolah Lo nggak menghargai perjuangan lo sendiri?" tanya Wira.


Zergan menggeleng. "Bukannya gue nggak menghargai, Wir. Tapi sikap Aludra yang buat gue begini," jawab Zergan.


"Apa Lo lupa? Aludra hanya gadis panti asuhan yang polos, Gan. Bahkan saat pertama Lo ketemu dia, dia dengan tegas menolak Lo. Tapi Lo yang ngejar dia dan mengajarkan apa arti cinta. Lalu kenapa sekarang seolah-olah Lo lupa sama apa yang Lo ajarin sama Aludra?" tanya Wira yang membuat Zergan terdiam.


"Ingat, Gan. Sikap istri adalah bagaimana ajaran suaminya," ucap Wira dan langsung pergi dari ruangan Zergan. Lelaki itu memilih pergi dari pada harus mendengar perkataan keras kepala Zergan.


Zergan memandangi pintu ruangannya yang tertutup. Perkataan terlahir Wira mampu membuat Zergan terdiam dan tak bisa berkata apa-apa.


Dari dalam kamar pribadi yang ada diruangan Zergan, Aludra mendengar semuanya. Wanita itu tertawa hambar mendengar setiap jawaban Zergan yang sangat tidak mempercayainya.


Tadi, wanita itu terbangun dan hendak keluar. Saat membuka sedikit pintu, suara Wira dan Zergan mengentikan kegiatan Aludra yang hendak keluar hingga dia memilih untuk mendengar semuanya.


"Aku berharap akhir yang baik untuk pernikahan kita, Mas," gumam Aludra sendu.


Aludra menghirup udara banyak untuk menormalkan perasaanya. Dengan senyum menghiasai wajahnya, Aludra berjalan keluar dari kamar pribadi itu.


"Mas," panggil Aludra pelan.


Zergan yang tadinya termenung menoleh begitu mendengar panggilan Aludra. "Kau sudah bangun?" tanya Zergan yang dibalas anggukan oleh Aludra.


Zergan memperhatikan Aludra yang berjalan dengan sedikit pelan. Apa tadi aku sedikit kasar hingga jalannya pelan begitu? Batin Zergan bertanya-tanya.


"Apa masih sakit?" tanya Zergan khawatir. Lelaki itu berdiri dan menuntun Aludra untuk duduk di sofa ruangannya.


Aludra tersenyum dan menggeleng. Ini yang dia selalu suka dari Zergan, dibalik marahnya, selalu terselip rasa khawatir dalam dirinya untuk Aludra. "Sedikit, Mas. Tapi tidak apa-apa," jawab Aludra lembut.


"Mau makan?" tanya Zergan lembut.


Aludra memandang lekat Zergan. "Mas," panggil Aludra lembut.


Zergan memandang Aludra dan menaikan sebelas alisnya menunggu apa yang akan Aludra katakan.


"Sikap kamu yang berubah-rubah membuat aku bingung harus bersekspresi bagaimana. Bolehkah aku menganggap khawatir kamu ini sebagai bentuk cinta? Atau hanya formalitas suami kepada istrinya?"


......................

__ADS_1


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


__ADS_2