Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah salah Paham - BAB 136


__ADS_3

WELCOME TO THE STORY


🌹HAPPY READING🌹


Setelah menenangkan hatinya, Wira mengetuk pintu ruang perawatan Margareth. Grace dan kedua orang tuanya menoleh ke arah pintu. "Lho, wira! kamu masih disini?" tanya grace terkejut melihat wira yang mengetuk pintu.


Wira tersenyum dan mengangguk. lelaki itu berjalan mendekati Grace dan kedua orang tuanya. "Aku lupa memberikan ponselmu," ucap wira menyerahkan ponsel grace.


"Ah, iya. aku juga lupa. Terimakasih, ya," ucap Grace senang. jika dia sampai kelupaan ponselnya, entah apa yang akan wanita itu lakukan. dia benar-benar akan sangat bosan jika tidak ad ponsel.


"Om, tante, saya pamit lagi, ya. Mau bersih-bersih dulu," ucap wira sopan menatap Martin dan margareth bergantian.


"Terimkasih banyak, ya nak Wira. om dan keluarga sangat berhutang budi padamu," ucap martin tulus.


"Tidak apa-apa, om. sesama kita memang harus membantu. lagian, grace adalah teman saya, jadi sudah sewajarnya jika saya membantu. lagi pula ini bukan hanya atas usaha saya, ada teman saya zergan dan juga Pak fredy," ucap zergan sopan.


Martin dan margareth tersenyum dan mengangguk. "Kembalilah lagi jika memang kamu mau, Nak. Kami selalu menerima keberadaanmu," ucap margareth jujur.


Wira tersenyum. Orang tua margareth memiliki hati yang lembut. Kelapangan hati mereka sangat luar biasa. Biasanya, korban **** seperti orang tua Grace akan mengalami trauma berat ketika bertemu dengan orang lain atau semacamnya. Tapi kedua orang tua grace mampu berdamai. Mereka sudah ikhlas atas apa yang terjadi. meskipun ketakutan itu masih saja ada dalam diri mereka.


Wira juga sudah menawarkan seorang psikolog untuk memeriksa psikis margareth dan Martin. Tapi sepasang suami istri itu menolak dengan mengatakan bahwa mereka sangat baik-baik saja. Mereka berjanji bisa mengendalikan diri sendiri saat ketakutan itu tiba-tiba muncul.


Lain halnya dengan grace, entah mengapa hati wanita itu sedikit kecewa saat wira mengatakan bahwa mereka adalah teman. tidak ada yang salah dengan apa yang disampaikan oleh wira, tapi tetap saja hati grace berdetak tak senang karenanya. padahal grace sendiri yang meminta untuk menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman. disaat wira sudah melakukannya, malah hatinya yang tak ikhlas. Perempuan memang begitu, ya. Bibir mengatakan tidak, tapi hati sangat memberontak.


Wira tersenyum dan mengangguk. "Pasti, tante. Saya pasti akan kembali. Kalau begitu saya pamit ya, Om, tante," ucap Wira lagi.


Margareth dan Martin mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati mereka sangat berdoa agar grace dapat membuka hati dan menerima Wira. lelaki yang dengan sangat tulus membantu mereka.


"Aku pamit, Grace," ucap wira lembut.


Grace mengangguk. "Hati-hati," jawabnya pelan.


Setelah wira keluar dari ruangan margareth, grace mendapat tatapan jahil dari kedua orang tuanya. "Ayah ibu kenapa?" tanya Grace bingung.


"Wira yang bilang kalian berteman, kenapa kamu yang gelisah, Nak?" tanya Margareth menggoda anaknya.


"Eng-enggak," ucap grace melepaskan tautan jari-jari tangannya.


Martin dan margarth tersenyum. mereka tidak akan mungkin bisa lupa kebiasaan grace saat gadis itu sedang tidak tenang. kentara sekali kegelisahan itu terlihat dari gerakan tangannya.


"Meskipun waktu bersama kita dulu sedikit, tapi kami tidak akan lupa kebiasaan kamu, Nak," ucap martin mengusap lembut kepala Grace.


"Jangan sampai kerasnya hatimu ini membuat kamu menyesal nantinya, Nak. Ingat perkataan ayah ini! ayah dan ibu mengizinkan apapun yang akan kamu lakukan asal itu untuk kebahagiaanmu," ucap Martin menasehati grace dengan lembut.


Grace tersenyum dan mengangguk. "Grace beruntung punya ayah dan ibu," ucap gadis itu tulus.


.....

__ADS_1


Satu bulan sudah sejak kejadian zergan pingsan di ruang kerjanya. kini lelaki itu sudah kembali bekerja setelah dikurung aludra selama dua minggu dirumah.


Ya, setelah zergan keluar dari rumah sakit, aludra memaksa zergan untuk istirahat di rumah selama dua minggu. dan sejak dua minggu itu juga dia hanya bekerja lewat email dari rumah. Zergan menyerahkan perusahaan kepada wira selama dua minggu.


Kini, di depan lelaki itu sudah menumpuk file yang harus dia tanda tangani.


Zergan menghela nafas pelan. Tangannya terasa pegal terus membuat bentuk abstrak di kertas-kertas itu. "Cuma kamu yang bisa paksa aku istirahat segitu lama sampai kerjaan aku numpuk begini, Sayang," gumam zergan menggeleng dengan senyumnya mengingat aludra. Aludra benar-benar berhasil menguasai hati dan kehidupan zergan. Aludra benar-benar sudah menjadi permaisuri tetap tanpa selir dalam kerajaannya.


Sekarang sudah saatnya makan siang. pintu ruangan zergan terbuka dan nampak lah wira masuk dengan wajah kusut nya. "Kenapa?" tanya Zergan heran.


Wira menggeleng. "Capek kerja gue," keluhnya jujur.


"Mau pensiun lo?" tanya zergan yang langsung di balas gelengan kepala oleh wira.


"Kalau gue pensiun, yang biayain hidup calon anak gue nanti siapa?" jawab lelaki itu ngaco.


"Ck. istri gak ada sok-sokan mikir calon anak. Gunain dulu itu pusaka lo," ucap zergan berdiri sambil melirik ke sela paha Wira. Zergan berjalan menuju sofa menyusul wira yang sudah duduk disana.


"Nanti," jawab wira enteng. "Eh, obat lo," ucap wira mengingatkan Zergan.


Zergan mengangguk. Tidak perlu diingatkan juga dia akan selalu minum obatnya telat waktu. Tapi zergan bersyukur, wira benar-benar bagaikan kakak yang selalu mengingatkan adiknya. begitulah hubungan mereka bagi zergan maupun wira. Atasan dan bawahan hanya berlaku di perusahaan. di luar, mereka adalah saudara.


Wira menatap zergan yang sudah meminum atau memakan obatnya. Dia sendiri juga bingung, obat itu diminum atau dimakan. yang penting sudah masuk ke. mulut dan turun ke perutnya.


"Gan," panggil Wira setelah zergan selesai meneguk air mineral.


"Kenapa lo?" tanya zergan melihat wajah serius wira.


"Yang penting masih bagus badan gue. Gak kurus-kurus amat juga," ucap Zergan menatap sendiri tubuhnya.


Wira ikut terkekeh. dia tidak boleh menampakan wajah kasihan pada zergan. karena jika begitu, nanti zergan pasti akan marah dan tersinggung.


"Grace gimana?" tanya Zergan yang membuat Wira seketika terdiam.


"Sejak tante margareth keluar dari rumah sakit, gue gak ketemu lagi sama grace," jawab Wira jujur.


ya, sejak saat mendengar perkataan grace pada kedua orang tuanya, wira memutuskan untuk diam beberapa bulan ini. dia sengaja tidak menemui grace untuk memberi ruang pada wanita itu bersama kedua orang tuanya. tapi ternyata grace memang tak pernah mencari wira. sepertinya memang grace sudah bahagia jika dia tidak menggangu.


"Kalau emang jodohnya, maka pasti bakal bersatu, gan," ucap wira pasrah.


Zergan mengangguk. "Tapi terkadang jodoh itu ada campur tangan kita juga, wir. kalau lo mau dia yang jadi jodoh lo, maka lo harus berusaha. Mana tahu nama yang sudah tertulis di lahul mahfus itu berganti jadi nama grace. Kita tidak ada yang tahu. Allah memang yang menetapkan, tapi semua tergantung doa dan usaha kita," ucap Zergan menyemangati wira yang mulai menyerah.


"keras hatinya gak bisa di goyangin dikit aja, gan. Bahkan setelah semua yang terjadi belakangan, dia masih tetap gak buka hati," ucap Wira menyampaikan sedikit kekecewaannya.


Zergan menatap Wira lekat. Wira yang menyadari itu jadi risih sendiri. "Lo gak suka sama gue kan, gan?" tanya wira ngeri.


"Ngaco!" jawab zergan ketus.

__ADS_1


"habisnya lo liatin gue kayak laki-laki nafsu aja. Kan gue ngeri. gini-gini gue masih suci lo gan," ucap wira menutup dada layaknya wanita yang melindungi diri saat hendak diperkosa.


"Apaan sih lo. Gue becanda aja, ya. gue udah punya aludra kali! "jawab zergan ketus melempar kotak tisu yang berhasil ditangkap wira.


"Ck. makanya kalau lihat orang itu matanya biasa aja," gerutu wira meletakkan kembali kotak tisu.


Zergan terkekeh. Gue cuma mastiin kalau lo orang yang tepat suatu saat nanti, wir. Batin Zergan menatap wira sendu.


.....


Pukul lima sore, zayn masih asik bermain dengan singa putihnya yang sudah datang sejak tiga minggu yang lalu. Zergan benar-benar memenuhi ucapannya dan tentu saja itu adalah hadiah yang paling membahagiakan bagi Zayn.


"Nak, udah main sama Mocinya ya. Zayh harus mandi dulu. nanti keburu papa pulang lo," bujuk aludra pada zayn.


"Bentar, Ma. Moci masih mau main sama zayn," jawab zayn yang kini masih berada di kandang moci.


Ya, zayn memutuskan untuk memberi nama singa putihnya moci. Imut sekali namun tak seimut kenyataanya. Aludra saja bergedik ngeri melihat singa itu, tapi anaknya malah anteng dan bahkan sekarang lebih sering main dengan moci di kandangnya.


hanya butuh waktu satu minggu bagi zayn untuk. belajar dekat dengan moci. tentu itu dengan latihan khusus dari pawang singa yang sudah di datangkan oleh Zergan untuk melatih Zayn. Sekarang moci dan Zayn sudah sangat dekat bagai anak dan induknya. Bagaimana tidak, terkadang Zayn tidur siang di dalam kandang moci dengan perut moci sebagai bantalnya dan mocipun tidak marah sama sekali. malah hewan itu nampak senang dan nyaman. Beruntung kandang moci sengaja dibuat oleh zergan di dalam rumah dekat pintu menuju taman belakang, jadi tidak akan kena hujan atau panas.


Aludra menghela nafas pelan. biar nanti zergan saja yang membujuk zayn untuk mandi.


"Zayn masih gak mau mandi, nak?" tanya mama ana yang baru turun dari tangga.


Aludra menggeleng. "Belum, ma," jawabnya pelan.


"Ya sudah. kamu mandi duluan aja. biar mama yang lihatin Zayn," ucap mama ana kasihan melihat menantunya yang nampak kelelahan.


"Gak papa, ma?" tanya aludra memastikan.


Mama ana mengangguk. "Sudah, kamu mandi duluan aja," jawab Mama ana yang berjalan menuju kandang Moci.


Aludra berjalan memasuki lift untuk menuju kamarnya. Kehamilannya yang semakin besar membuatnya agak kesusahan dan jadi mudah lelah.


Saat memasuki kamar, aludra membersihkan kamarnya terlebih dahulu sebelum mandi. ini menang sudah kebiasaanya. biar nanti saat pulang kerja, zergan melihat kamar yang rapi dan juga aludra yang sudah cantik.


Saat hendak membersihkan ranjang, kaki aludra tak sengaja menginjak sebuah kertas yang terlipat di lantai bawah meja. Aludra juga melihat sebuah amplop yang jatuh tidak jauh dari kertas itu. "Jatuh kali, ya," gumam aludra mengambil kertas dan amplop tersebut.


Aludra membaca lambang dan nama pemberi amplop tersebut. "Inikan rumah sakit biasa aku cek kandungan. oh, ini hasil periksa kehamilan aku mungkin," monolog wanita itu menerka.


"Eh, tapi kayaknya aku gak pernah dapat amplop kayak gini setelah periksa kandungan deh. Lihat aja kali ya," ucap aludra lagi.


Dengan tanpa ragu aludra mulai membuka lipatan kertas tersebut.


"Sayang."


......................

__ADS_1


Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!


SELAMAT MEMBACAAAA!!!!!


__ADS_2