Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 22


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


"Mama," panggil Zayn lembut. Mata anak itu berkaca-kaca menatap Mamanya.


"Iya Nak," jawab Aludra dengan suara bergetar menatap anaknya yang nampak sekali memancarkan wajah sendu.


"Kalau nanti mau pelgi, bawa Zayn, ya. Kalena lebih baik hidup tanpa Papa daripada halus beltahan tanpa Mama," ucap Zayn sendu menatap Aludra dengan.maga yang sudah berair.


Aludra beralih memeluk Zayn. Dia kira, hanya dia yang merasakan sakit karena sikap Zergan, tapi nyatanya buah hatinya juga ikut merasakan apa yang dia rasakan. Rasanya sakit sekali mendengar setiap apa yang keluar dari mulut Zayn tadi. Anaknya masih terlalu kecil untuk mengetahui ini semua.


Aludra melepaskan pelukan mereka. Tangannya dengan lembut mengusap pelan rambut Zayn. "Mama nggak akan pernah ninggalin Zayn. Mama selalu ada disini," ucap Aludra menunjuk dada Zayn.


Zayn menggeleng. "Zayn nggak mau cuma di hati. Mama halus ada di depan Zayn. Kalena kalau dihati, Mama belalti bisa pelgi bawa hati Zayn tanpa bawa laganya," jawab anak itu tidak setuju dengan apa yang Aludra katakan.


"Ya Allah, Nak," ucap Aludra tak kuasa menahan haru ya dan kembali memeluk Zayn.


"Mama janji nggak akan ninggalin kamu. Kita akan terus sama-sama, ya," ucap Aludra sambil mengusap lembut rambut Zayn.


Zayn mengangguk dan memeluk erat Aludra dengan tangan mungilnya.


"Sekarang Zayn tidur lagi, ya," ucap Aludra lembut dengan senyum teduhnya.


"Mama tidul sama Zayn, ya?" pinta anak itu memohon.


Aludra mengangguk.


"Tapi jangan pindah kalau malam," ucap Zayn merajuk. Karena jika dia sudah tidur, tengah malam Aludra pasti pindah ke kamarnya. Alhasil, saat bangun tidur dia tidak melihat keberadaan Aludra.


Aludra mengangguk. "Mama akan tidur disini sampai pagi," ucap Aludra dengan senyumnya.


Zayn ikut tersenyum. Setelahnya, Aludra mengangkat tubuh Zayn dan kembali menaikkannya di ranjang. Aludra mengambil salah satu buku dongeng kesukaan Zayn dan membacakannya untuk pengantar tidur anak itu.


Aludra terus membacakan dongeng untuk Zayn. Hingga hanya lima belas menit, Zayn sudah terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Aludra mengayunkan tangannya di depan wajah Zayn untuk melihat apa anaknya itu benar-benar sudah tidur atau belum. Setelah memastikan Zayn benar-benar tidur, Aludra bangun dan berjalan menuju balkon kamar Zayn untuk menghirup udara malam sejenak.


Langkah kaki Aludra terhenti ketika dari pintu balkon, dia melihat Zergan yang berdiri dekat pagar balkon kamar mereka.


Sesakit itu kamu sampai merokok begini, Mas? Batin udara menatap Zergan dari belakang.


Zergan hanya akan merokok jika memang berada dalam pikiran yang sangat kalut. Dan sekarang lelaki itu melakukannya.


Mengurungkan niatnya untuk keluar balkon kamar Zayn, Aludra kembali menutup pintu balkon.


Kakinya melangkah keluar kamar Zayn dengan perlahan agar tak menganggu anak itu.


Setelah keluar dari kamar, Aludra melangkah ke dalam kamarnya untuk menemui Zergan.


"Mas," panggil Aludra lembut.


Zergan yang sedang menghirup ujung rokoknya berbalik. "Kenapa Aludra?" tanya Zergan.


Aludra menggeleng. Matanya menatap lantai balkon yang terdapat beberapa puntung rokok yang sudah habis Zergan hisap.


Aludra mengambil rokok di tangan Zergan. "Udah ya, Mas. Nanti nafas kamu bisa sesak kalau ngerokok terus," ucap Aludra lembut.


Aludra membuat rokok itu asal. Setelahnya beralih menatap Zergan.


"Sekarang kamu tidur, ya," ucap Aludra mengandeng tangan Zergan dan menuntunnya menuju ranjang.


Zergan hanya menurut. Wajahnya hanya datar dan tidak memandang Aludra sama sekali.


"Sekali lagi aku minta maaf ya, Mas. Karena sikap aku tadi udah buat kamu nggak nyaman. Aku nggak gitu lagi kok," ucap Aludra lembut setelah Zergan duduk di ranjang mereka.


"Malam ini aku izin tidur sama Zayn ya, Mas. Nanti anak kamu bisa ngamuk kalau pas bangun nggak ada di sampingnya. Tidur kamu juga akan lebih nyenyak jika nggak ada aku. Aku keluar dulu ya. Cup, selamat malam," ucap Aludra lembut dan langsung berjalan keluar kamar setelah memberi kecupan di pipi Zergan.


Aludra berdiri dibalik luar pintu kamarnya yang sudah tertutup. Dada wanita itu naik turun dengan air mata yang jatuh begitu saja. Demi kenyamanan dan kebaikan kamu, aku akan terus mengalah, Mas. Aku tidak marah atas semua perkataan kamu. Karena sebenarnya, kamu hanya menasehati. Hanya saja mungkin memang caranya yang sedikit berbeda. Batin Aludra memegang dadanya yang terasa sesak sekali.


Aludra mengambil nafas dalam untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Sudah dirasa sedikit tenang, Aludra kembali berjalan menuju kamar Zayn.


Sedangkan di dalam kamar, Zergan menendang kasar selimut yang sudah menutupi tubuhnya. Nampak kekesalan, kemarahan dan kecewa menjadi satu dalam dirinya.


Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Aludra, bukanya membuat Zergan tenang malah membuat lelaki itu semakin berpikir atas apa yang dia lakukan. "Semoga memang ini yang benar," gumam Zergan pelan.


.....


Hari sudah berganti. Pagi ini Zergan sarapan bersama Zayn dan Aludra. Sejak tadi sampai di meja makan, Zergan selalu memperhatikan anaknya yang nampak lebih banyak diam terhadap dirinya.

__ADS_1


"Zayn," panggil Zergan lembut.


Aludra ikut menoleh. Wanita itu juga ikut merasakan hal berbeda dari sikap Zayn. Tapi wanita itu tidak mau semakin mempersulit keadaan.


Zayn yang mendengar panggilan Zergan menoleh. "Kenapa Papa?" tanya Zayn pelan.


"Zayn tidak mau bicara dengan Papa, Nak?" tanya Zergan lembut.


"Zayn sedang makan. Kan kita tidak boleh bicala kalau lagi makan," jawab Zayn dan kembali melanjutkan sarapannya.


Zergan menghela nafas pelan. Dia kembali melanjutkan sarapannya dan sesekali menatap Aludra.


"Papa pergi kerja dulu, ya Nak," ucap Zergan pada Zayn setelah selesai sarapan.


Zayn hanya mengangguk. "Papa hati-hati," ucapnya singkat yang membuat Zergan semakin tak enak.


Karena biasanya, Zayn anak selalu antusias jika mereka sarapan bersama. Tapi ini, anaknya malah lebih dingin dari es terhadap dirinya.


Aludra yang melihat itu menjadi sedih. "Salim Papa dulu, Nak," ucap Aludra.


Zayn tersenyum dan mengangguk pada Aludra. Dia berbalik menatap Zergan dan menyalami tangan lelaki itu.


"Papa pergi dulu, ya," ucap Zergan yang dianggukki Zayn.


"Jangan dipikirkan, Mas. Mungkin Zayn memang sedang dalam mood yang tak baik. Mungkin dia bertengkar dengan teman mainnya atau gimana," ucap Aludra setelah sampai di teras rumah mengantarkan Zergan.


Zergan mengangguk. "Aku pergi dulu. Baik-baik dirumah," ucap Zergan dan langsung menaiki mobil tanpa ada kecupan pagi ataupun acara salim dari Zergan dan Aludra.


Aludra memandangi mobil Zergan dengan sendu. "Semoga Zayn baik-baik saja," gumam Aludra mengingat sikap anaknya pada Zergan.


.....


Zergan sampai di basemen perusahaanya. Lelaki itu sengaja duduk di mobil sampai menunggu seseorang yang dia tunggu datang. Kepala Zergan menoleh mendengar bunyi mesin mobil yang berhenti tepat disebelah mobilnya. Tidak lama setelah itu, seseorang masuk ke mobil Zergan.


Zergan mendengus kesal. Dia mengambil sebuah note kecil di atas dashboard mobilnya dan mengambil pulpen yang ada di saku jasnya.


Sampai kapan aku harus begini? Tidak bisakah semua kita percepat?


................


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗

__ADS_1


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan. Semoga puasanya berkah yaa 🤗😉


__ADS_2