
WELCOME TO THE STORY
🌹HAPPY READING🌹
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya bu lestari menahan tangan aludra.
"Aku mau pastiin sesuatu, bu," jawab aludra dan kembali berjalan agar lebih jelas melihat siapa wanita yang malang itu.
Semakin lama langkah aludra semakin dekat.
"Astagfirullahalazim. GRACE!" pekik aludra terkejut melihat wanita yang menangis tersedu itu adalah grace. wanita yang sangat dia kenal.
"Nak jangan kesana," ucap lestari memperingati aludra agar tetap berdiri di posisi mereka.
"Tapi itu teman aludra, bu," ucap aludra dengan suara penuh kekhawatiran.
"Tunggu disini, Nak," ucap bu lestari memperingati aludra.
Aludra menghela nafas pelan. dia menatap khawatir melihat grace yang kini tidak baik-baik saja. Ternyata dibalik wajah datar, sikap cuek dan mandirinya, grace adalah wanita rapuh yang menyimpan banyak luka.
"Sekarang kamu boleh kesana," ucap bu lestari lembut.
Aludra mengangguk. Setelah sepasang paruh baya yang tadi melukai grace masuk ke dalam rumah, aludra kini berjalan menyebrangi jalan untuk mendekati grace yang masih menangis dengan tubuh lemahnya.
Ibu lestari meminta anak panti untuk kembali pada kegiatan mereka masing-masing. Sebenarnya ini tidak baik untuk anak-anak, tapi apa daya, jika ibu lestari angkat bicara, maka dia yang akan di caci maki oleh si pembuat keributan.
Aludra bersimpuh di depan wanita yang kini memeluk lututnya itu. badannya bersandar ke pintu rumah denga pasrah.
Tangan aludra terulur menyentuh lembut baju wanita itu. "Grace."
Grace yang merasakan sentuhan dan mendengar seseorang memanggilnya mengangkat kepala. "Aludra," gumam grace terkejut.
"Ayo ikut aku," ucap Aludra lembut menatap grace dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu paling tidak kuat melihat hal seperti ini. apalagi ini dialami oleh seseorang yang dia kenal yang sudah dianggapnya sebagai teman.
Grace menggeleng. "Pergilah aludra. Jika mereka mengetahuimu maka itu akan berbahaya. Menjauhlah aludra," ucap grace memperingati aludra.
Aludra bersikukuh menggeleng. "Ayo," ucap aludra mengulurkan tangannya pada Grace.
Grace terdiam. wanita itu bergantian menatap aludra dan ke dalam rumah lewat jendela. Setelah dirasa aman karena tak ada yang melihat aludra dari dalam rumah, Grace menerima uluran tangan Aludra.
Aludra sedikit memapah grace karena kaki wanita itu lecet dibagian lututnya.
"Ayo duduk, Nak," ucap bu lestari menyambut grace dan aludra.
"Terimakasih, bu," ucap Grace lembut.
Bu lestari mengangguk. setelahnya wanita paruh baya itu berjalan menjauh untuk mengambil minum dan kotak P3K untuk mengobati grace.
Kini di ruangan itu hanya ada grace berdua dengan Aludra. Grace sejak tadi menghindari mata aludra yang terus menatapnya.
"Tatap aku, grace," ucap aludra lembut.
__ADS_1
Grace saling menautkan jari-jari tangannya. Aludra yang melihat itu menghela nafas pelan. Aludra menatap semua tato yang ada di tangan bahkan sampai ke leher wanita itu. tangan aludra tanpa pamit memegang tangan grace.
Grace yang kaget tidak bisa menolak. dia mencoba menarik kembali tangannya namun aludra memegang dengan erat.
mata aludra memicing menatap setiap tato itu. "Apa seperti ini caranya menyembunyikan luka, grace?" tanya aludra menatap grace dengan mata berkaca-kaca.
Grace hanya bisa menunduk menyembunyikan air matanya. "Ini hanya menambah sakitmu," ucap aludra sudah menangis.
"Apa ini tujuanmu membuat tato disetiap tubuhmu?" tanya aludra lagi.
Grace hanya diam. dia tidak bisa menjawab apa-apa sampai akhirnya Bu lestari datang dengan membawa nampan yang diatasnya sudah ada air minum dan kotak P3K.
"diminum dulu, Nak," ucap Bu lestari.
grace mangangguk. wanita itu mengambil air yang diberikan oleh Bu lestari dan meneguknya sampai habis.
"Ini akan sedikit sakit. jadi tahanlah," ucap Bu lestari yang mulia membersihkan luka di kaki grace.
grace mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih banyak, Bu. ini tidak sakit," ucap grace pelan.
Aludra membiarkan bu lestari mengobati luka grace. sesekali wanita itu nampak mengernyit menahan sakit saat lukanya diberi alkohol.
"Ini sudah selesai. ibu ke kantor panti dulu, ya," ucap Bu lestari uang mengerti bahwa aludra ingin bicara dengan grace.
Kini diruang tamu panti itu hanya ada grace dan aludra.
"Grace," panggil aludra pelan.
"Bukankah kita teman? Meskipun kita tidak mengenal cukup lama, tapi kamu yang membantuku agar tidak tertipu oleh rencana jahat Rea, grace," ucap aludra mengingatkan grace.
"Aku hanya melakukan itu atas perintah Zergan, Aludra," jawab grace yang tidak mau memberitahu Aludra.
"Itu adalah jawaban untuk menyembunyikan sebuah ketulusan," ucap aludra yang membuat grace terdiam.
"Apa tidak bisa berbagi cerita?" tanya aludra lagi lembut.
Aludra menghela nafas pelan. dia tidak akan bertanya lebih banyak lagi. dia tidak mau membuat grace merasa tak nyaman karenanya. "Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Aludra.
"Aku akan ke studio tato ku, Aludra," jawab grace dengan senyumnya.
"Apa kau yakin bisa pergi sendiri? sopir panti bisa mengantarmu," ucap aludra memberi saran.
Grace menggeleng dan tersenyum. "Terimakasih atas kebaikanmu, Aludra. tapi aku bisa sendiri. Terimakasih banyak. Dan sampaikan maafku pada ibu panti karena sudah memberikan contoh tak baik pada anak-anak. Percayalah, semua diluar kuasaku," ucap grace menyesal.
Aludra mengangguk. "Tidak ada orang yang menginginkan hal seperti tadi, grace," ucap Aludra lembut mengenggam tangan grace.
"kalau kamu butuh bantuan, aku siap membantu. hubungi aku kapanpun kamu perlu, Grace. Jangan merasa sendiri," tambah Aludra lembut.
Grace tersenyum.
"Aku harus pergi sekarang. sekali lagi terimakasih, aludra," ucap grace kemudia pergi meninggalkan panti.
__ADS_1
Aludra menatap tubuh grace yang sudah keluar dari panti. "Tidak ada yang tahu apa yang tersembunyi dibalik mandirinya seorang wanita."
.....
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Zergan yang duduk disebelahnya. kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Sejak mereka meninggalkan panti, aludra terdengar beberapa kali menghembuskan nafasnya dan lebih banyak diam.
Sedangkan zayn yang duduk di kursi belakang sudah tertidur pulas.
Aludra mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar mobil dan menatap zergan. "Aku boleh nanya gak, Mas?" ucap aludra.
"Tanya aja, Sayang," jawab zergan yakin.
"Em, kamu dulu kenal grace darimana, Mas?" tanya aludra menatap zergan.
"Kok tiba-tiba tanyain grace?" balik tanya zergan.
"Gakpapa, Mas. Tiba-tiba ingat aja," jawab aludra tak bersemangat.
"Berbagi pikiran itu akan membuat kita lega, Sayang. aku gak suka sama kebiasaan kamu yang suka memendam ini," ucap zergan yang membuat zergan menoleh.
"Eemmm, besok aku ikut kamu ke kantor, ya," ucap aludra tidak mengindahkan perkataan Zergan.
"Aku barusan ngasih kamu nasehat, Sayang," ucap zergan lagi.
"Maaf, Mas. nanti sampai di rumah kita bicara, ya. Banyak yang mau aku ceritain dan aku tanyain, Mas," ucap aludra menyesal.
"Jangan biasain kayak gitu, Sayang. jangan nunggu aku nasehati dulu baru kamu mau cerita. jangan tunggu aku diamin dulu baru kamu buka suara. Inisiatif itu penting juga untuk sebuah hubungan, Sayang," ucap zergan yang membuat aludra tersenyum.
"Suami aku kalau ngomel gini gantengnya nambah tau. apalagi dari samping gini, ga ada obat gantengnya," ucap aludra gombal.
Senyum tertahan muncul di bibir Zergan. lelaki itu menggigit kulit dalam mulutnya menahan senyum. "Cie salting," ucap aludra membuat zergan semakin salah tingkah.
"Apasih sayang," ucap zergan mengalihkan pandangannya.
"Haha suamiku kalau malu lebih imut dari anak singa."
"Kok anak singa? bukanya anak kucing yang imut?" tanya zergan heran.
"Anak kucing bikin aku geli, jadi gak imut. Kalau anak singa kayak kamu, lucu tapi perkasa dan bikin aku candu menatapnya."
"Aaaaa sayaaang," ucap zergan salang tingkah membenturkan kepalanya pelan ke stri mobil.
Tawa aludra pecah melihat wajah suaminya yang merah bak kepiting rebus. "hahaha. Lucunya suamikuuu."
"Ekhem. Btw, kamu nanti mau bicarain tentang apa, Sayang?" tanya zergan mencoba serius menyembunyikan salah tingkahnya.
Aludra menatap zergan yang. "Grace, Mas."
................
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
__ADS_1
Selamat membaca!!!!!!!!