
**WELCOME TO THE STORY **
HAPPY READING
Aludra hampir selesai menata makan siang untuk anak panti. Sejak tadi dia membantu bu lestari untuk menyiapkan makan siang di dapur panti. “kamu duduk dulu, aludra,” ucap bu lestari mengingatkan agar aludra tak kelelahan.
“ini sedikit lagi selesai, bu,” jawab aludra sibuk menata piring.
“karena sedikit itu biar ibu yang lanjutkan. Sekarang kamu tidak sendiri, nak. Ada calon anak kamu,” ucap bu lestari perhatian.
Aludra menghela nafas pelan. Wanita itu mengangguk dan tersenyum. “maaf ya, bu,” ucap aludra tak enak.
“ibu yang harusnya bilang gitu,” jawab bu lestari sambil melanjutkan pekerjaan yang tadi dikerjakan aludra.
Setelah beberapa menit semua makan siang selesai dihidangkan. Puluhan anak panti itu makan dengan lahap. Zayn juga ikut makan bersama tanpa ada yang special untuknya. Apa yang dimakan anak panti, itu juga yang masuk ke perutnya.
“pasti mama yang masak kan?” tanya zayn di sela makannya.
Aludra tersenyum dan mengangguk.
“selalu enak,” puji anak itu jujur. Begitu juga dengan beberapa anak panti lainnya yang ikut mengiyakan perkataan zayn.
Aludra tersenyum senang. Hatinya menghangat melihat anak panti dan juga anaknya makan dengan lahap. Rasanya tidak sia-sia apa yang dia buat. Ini yang aludra butuhkan. Menjadi istri zergan dengan hidup berkecukupan rasanya tidak lebih baik daripada rasa dihargai seperti ini. Benar kata orang, harta yang paling mahal di dunia ini adalah kejujura dan rasa menghargai. Semua orang berhak mendapatkannya, tapi tidak semua orang memiliki itu dalam dirinya.
Selesai makan siang, aludra dan zayn berada di kamar mereka. Aludra mengusap rambut anaknya yang sedang tidur siang. Zayn memilih tidur setelah tadi mereka melakukan sholat zuhur berjemaah selepas makan bersama. Aludra tersenyum menatap anaknya. Zayn dan calon anak mereka adalah investasi berharga bagi aludra. Pemberian pencipta yang paling aludra syukuri.
Aludra mengambil ponselnya bermaksud mencoba kembali mengubungi zergan. Membuka aplikasi hijau, aludra melihat nama suaminya yang sudah disematkan itu mengirim pesan yang belum aludra buka. Mata aludra bergerak membaca setiap kata yang terangkai dalam pesan dari zergan. Bibirnya melengkung membentuk senyum cantik dan manis. “kata-kata kamu manis sekali, mas,” gumam aludra tersenyum.
Aludra menjadi Wanita labil saat ini. Kadang kecewa, kadang kesal dan marah, dan terkadang dia juga senang dan terbang mengingat bagaimana cinta dia dan zergan.
Jari aludra dengan lincah bergerak membalas pesan dari zergan. Tidak lama ponselnya bergetar mendapat notifikasi balasan dari zergan. Lagi dan lagi senyum cantik itu terbit hingga keduanya saling berbalas pesan.
…..
Grace tersenyum menatap tas bekal makanan ditangannya. Hari ini Wanita itu akan memulai perjuangannya. Dia akan memulai apa yang harusnya dilakukan untuk memperjuangan cinta.
Dengan semangat grace turun dari mobil. Dia berjalan memasuki lobi kantor untuk menemui lelaki yang menjadi incaran hatinya saat ini.
“apa pak wira ada di ruangannya?” tanya grace sopan pada resepsionis.
Resepsionis itu tersenyum dan mengangguk. “bapak ada diruangannya, Bu. Apa anda sudah membuat janji lebih dulu?” tanya resepsionis sopan.
__ADS_1
Grace mengangguk dan tersenyum. Wanita itu harus sedikit berbohong, karena jika tidak maka sudah dipastikan wira tidak akan mau bertemu dengannya.
“kalau begitu silahkan langsung keruangan bapak, bu,” ucap resepsionis itu ramah.
“terimakasih,” jawab grace sopan dan berjalan menuju lift untuk segera samoai diruangan wira.
Grace sedikit senang karena resepsionis perusahaan zergan sangat ramah dan tidak memandang penampilan. Karena biasanya, resepsionis perusahaan kadang bertindak layaknya pemilik perusahaan. Tentu saja ini atas permintaan aludra. Wanita itu meminta kepada suaminya untuk mempekerjakan karyawan yang ramah dan sopan.
Grace sampai di depan ruangan wira. Wanita itu menghirup udara banyak untuk menetralkan kegugupannya. Seumur-umur baru kali ini grace menghampiri dan mendekati lawan jenis lebih dulu. “harus bisa, grace. Kau tidak boleh menyerah sebelum
berperang,” gumam Wanita itu menyemangati diri sendiri.
Tangan grace terangkat untuk mengetuk pintu ruangan wira.
“MASUK!” terdengar teriakan dari dalam saat ketukan pertama grace lakukan. Mungkin wira sedang tidak sibuk, jadi dia langung mendengar dan menyuruh untuk masuk.
Dengan pelan grace memegang handel pintu dan membukanya. Pemandangan pertama yang grace
lihat adalah lelaki tampan yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan sebuah kotak bekal di atas meja.
Wira yang fokus dengan ponsel dan makan siangnya mengangkat kepala. Laki-laki itu hamper tersedak
melihat kedatangan Wanita yang sama sekali belum pernah menemuinya. Selalu dia yang menemui Wanita itu.
Rasanya tidak enak. Grace menelan susah ludahnya mendengar pertanyaan wira. Perhatian itu benar-benar telah hilang dan berubah menjadi sebuah formalitas kemanusiaan. Tidak apa, grace. Memang ini yang harus kau lakukan. Jangan mudah goyah. Batin grace mempertahankan tekadnya.
Grace berjalan dengan kaku namun tetap mempertahankan senyumanya. Wanita penuh tato itu benar-benar merasa gugup sekarang. “Hai,” sapa grace ramah.
Wira mengangguk. “ada apa, grace?” tanya wira santai.
“aku membawakanmu makan siang. Tapi sepertinya kau sudah makan, jadi tujuanku kesini sekarang adalah untuk makan denganmu,” jawab grace dengan senyumnya.
“kau mengajakku makan siang bersama?” tanya wira heran.
Grace mengangguk. “ah itu. Aku hanya bosan makan sendiri di galeri, jadi aku mau makan denganmu,” jawab grace bohong.
“bukankah sekarang ada kedua orang tua mu?” tanya wira lagi kembali duduk.
“ibu dan ayahku sedang ke gereja,” jawab grace yang dibalas anggukkan oleh wira.
“apa aku boleh melakukannya?” tanya grace memastikan.
“tentu. Makanlah!” jawab wira tenang.
__ADS_1
Lain dengan grace yang sudah gemetar memegang sendok. Wanita itu sedikit meremas sendok ditangannya agar wira tidak mengetahuinya. “kau bawa bekal dari rumah?” tanya grace sambil memulai makannya.
“hanya sesekali jika ada masakan. Jika tidak aku akan pesan saja,” jawab wira jujur.
“ingin mencoba masakan ku?” tawar grace dengan harapan wira mengiyakan.
Wira terdiam. Dia menatap grace sedikit lama. Setelahnya lelaki itu tersenyum dan mengangguk.
Grace tersenyum senang. Namun dalam hitungan detik senyum itu hilang saat wira mengambil sendiri makanan yang ada di kotak bekal milik grace dengan sendoknya sendiri.
Grace menurunkan tangannya yang akan menyuapi wira. Percaya dirinya dihancurkan seketikan oeh realita. Grace tetap tersenyum. ini baru awal, jadi wira masih canggung dan ini sebagai bentuk kesopanan lelaki itu.
“ini enak,” puji wira jujur.
“benarkah?” tanya grace senang.
Wira mengangguk. “aku tidak tahu jika kau bisa memasak. Ah tentu aku tidak tahu,” ucap wira penuh arti.
Grace mengerti. Wira seolah menyindir karena grace tidak pernah menawarkan mereka makan bersama
dulu. Jika Wanita itu makan diruangannya, grace hanya makan sendiri. Dan grace benar-benar menyesali tindakannya di masa lalu.
Beberapa menit wira selesai dengan makan siangnya. “aku sudah selesai dan harus segera ke ruang
meeting. Kakek fatih dan ayahku sudah menunggu disana,” ucap wira setelah selesai mengelap bibirnya dengan tisu.
“tapi aku-“
“kau teruskan saja makanmu. Aku harus pergi dulu,” potong wira sambil berdiri.
“tidak bisakah menunggu sebentar? Perutmu akan sakit jika langsung banyak gerak setelah makan,” ucap grace perhatian.
“masih bisa aku atasi. Kalua begitu aku keluar dulu.”
“tidak bisakah temani aku dulu?” tanya grace menghentikan Langkah kaki wira.
Wira berbalik. “pekerjaan menungguku. Dan tidak semua yang kita mau bisa terkabul kan?”
…..
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @nonamarwa_ untuk melihat info mengenai novel aku yaa!!!!
__ADS_1