
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
Zergan dan Mama Ana keluar dari ruang rapat. Tidak mau terlalu lama berada di perusahaan Adam, Zergan langsung membawa Mama Ana keluar dari perusahaan. Bahan saking tergesa-gesanya, Zergan dan Mama ana tidak membalas sapaan dari beberapa karyawan Adam.
Setelah sampai di mobil, Zergan menghela nafas pelan. Lelaki itu menatap Mama Ana yang hanya memandang lurus ke depan. "Ma," panggil Zergan pelan.
"Iya Nak," jawab Mama Ana sambil menyeka air mata yang sejak tadi dia tahan dalam ruangan rapat.
"Menangislah, Ma. Semua tidak akan membuat Mam lemah," ucap Zergan lembut.
Mendengar perkataan Zergan, Mama Ana menangis dengan menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Wanita paruh baya itu menangis tanpa suara. Zergan yang melihat itu langsung membawa tubuh Mama Ana dalam dekapannya.
"Mama gak sanggup rasanya," ucap Mama Ana dalam pelukan anaknya.
Zergan menghalau air matanya dengan menengadahkan kepala agar tak jatuh membasahi pipinya. Lelaki itu tak sanggup mendengar tangis sang ibu yang terdengar begitu pilu.
"Bertahun-tahun Mama menahan semuanya. Dada Mama sesak sekali, Nak. Sakit sekali rasanya. Fisik dan batin Mama tidak baik-baik saja," ucap Mama Ana mengadu layaknya anak kecil kepada Zergan.
Sungguh, hati Zergan terasa sakit mendengarnya. Dia saja yang baru mengetahui ini semua beberapa bulan lalu merasakan sakit yang luar biasa. Apa lagi Mama Ana yang memang mengetahui sejak lama. Menahan sendiri dan tak bisa bicara pada siapapun hanya untuk menjaga nama baik suaminya sendiri.
Berpura-pura tegar di saat hantaman ombak yang begitu dahsyat. Bersikap baik-baik saja saat hati sedang porak poranda. Dan tersenyum dibalik luka yang menganga minta untuk diobati. Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu semua.
"Apa Mama seburuk itu hingga Papa kamu lebih memilih perempuan itu, Nak? Apa Mama tidak sepantas itu?" tanya Mama Ana memukul-mukul pelan dada Zergan dalam pelukan lelaki itu.
__ADS_1
Zergan menggeleng. "Mama adalah wanita terbaik. Bukan Mama yang buruk, lelaki itu yang tidak pantas mendapat kasih sayang dari Mama. Dia yang tidak pantas merasakan ketulusan dari Mama. Sampah tidak akan pernah bersanding dengan berlian, Ma," ucap Zergan lembut.
"Tapi kenapa Mama masih dicampakkan? Mama memberikan semuanya. Mama memberikan cinta dan hidup Mama untuk Papa kamu. Bahkan, mama juga menyayangi selingkuhannya sebagai anak perempuan mama sendiri. Tapi mereka malah mengkhianati Mama. Apa Mama sebodoh itu untuk dibohongi?" ucap Mama Ana pilu.
Zergan menggeleng kuat. Rasanya dia tidak bisa lagi untuk menahan air matanya agar tak jatuh. "Bukan Mama yang bodoh, tapi mereka yang tidak punya otak dan nurani. Jangan menyalahkan diri Mama sendiri. Permaisuri tidak akan kalah hanya karena seorang selir, Ma," ucap Zergan dengan suara bergetar.
Mama Ana mengangkat kepalanya menatap Zergan. Mata wanita paruh baya itu nampak sangat bengkak karena menangis. Zergan ingat, mata seperti ini dulu sering dia lihat saat berkunjung kesini bersama Aludra dan Zayn. Sekarang dia tahu, penyebab mata sembab mamanya setiap pagi bukan karena tidur yang nyenyak, tapi karena menahan hati yang begitu sesak.
"Mama memang permaisuri. Tapi itu hanya posisi, Nak. Bagaimanapun juga, selir adalah kesayangan rajanya. Jika raja mencintai permaisuri, maka tidak akan pernah ada selir," ucap Mama Ana sendu dengan mata yang sangat berair menatap Zergan.
"Mama sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah berpuluh tahun ini. Mama berjuang sendiri tanpa ada semangat dari Papa kamu. Rasanya hidup tanpa Papa kamu akan sangat menyakitkan, Nak," sambung Mama Ana.
"Mungkin hidup tanpa lelaki itu membuat Mama sakit, tapi bersama lelaki itu akan lebih sakit, Ma," jawab Zergan lembut.
"Sekarang Mama hanya punya kamu. Jangan pernah tinggalkan Mama, Nak," ucap Mama Ana sendu.
Zergan menggeleng. "Bagaimanapun susahnya, Zergan adalah anak lelaki Mama. Kita akan bahagia bersama istri dan anak Zergan," ucap Zergan tulus.
"Mama harus minta maaf sama Aludra karena sudah salah paham dengannya. Sudah lama mama ingin bicara, tapi sekali mama bicara, maka kehancuran akan semakin dekat dengan kita. Maafkan Mama, Nak," ucap Mama Ana menyesal karena menduga bahwa Aludra lah yang menjadi selingkuhan dari suaminya sendiri.
Mama Ana mengangguk. Setelah melepaskan semua keluh kesahnya, Zergan kembali menjalankan mobilnya dan segera pergi meninggalkan perusahaan Adam.
Sampai dirumah, Zergan tidak langsung turun. Mama Ana turun lebih dulu dan memasuki rumah.
Zergan terdiam di dalam mobil. Saat teringat sesuatu, lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan mendial salah satu kontak yang menjadi tujuannya.
"Kenapa?" jawab seseorang dari seberang sana dengan suara serak bangun tidur.
"Kita jujur pada Aludra sekarang, Wira," ucap Zergan yang membuat semua nyawa Wira tiba-tiba terkumpul.
"Kau yakin?" tanya Wira.
Ditempatnya Zergan mengangguk. "Sangat yakin. Aku sudah berhasil membungkam Adam dan Rea. Aku takut mereka bertindak lebih dan menghancurkan semuanya. Sebelum mereka melakukan itu, aku ingin Aludra tahu semuanya," jawab Zergan pasti.
__ADS_1
"Apa tidak apa-apa jika aku yang beritahu? Alangkah lebih baik kamu yang memberitahu sendiri, Zergan," ucap Wira.
"Tidak ada waktu sekarang. Kau beritahu semuanya tanpa ada yang kurang. Aku akan pulang hari ini," ucap Zergan.
"Bersama Mama Ana?" tanya Wira dari sebrang sana.
Zergan mengangguk. "Dengan Mamaku," jawab Zergan yang menerbitkan senyum Wira ditempatnya.
"Baiklah. Akan aku laksanakan," ucap Wira dan setelah itu panggilan mereka terputus.
"Kalian tidak akan bisa mengganggu rumah tanggaku," desis Zergan tajam mencengkram kita stir mobilnya.
.....
Setelah menerima telepon dari Zergan, Wira langsung mengubungi Aludra.
"Assalamu'alaikum, Kak," jawab Aludra dari seberang sana mengangkat penggilan Wira.
"Waalaikumsalam, Aludra. Bisakah kita bertemu?" tanya Wira tanpa basa-basi.
"Ada apa Kak?" tanya Aludra bingung karena permintaan Wira yang mendadak.
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan. Kau datanglah ke kantor. Aku menunggumu," ucap Wira dan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Aludra. Wira yakin, jika tidak langsung di tutup, maka akan banyak pertanyaan lain keluar dari Aludra.
Sedangkan di tempatnya, dahi Aludra berkerut bingung. "Ada apa, ya?" gumam Aludra tak paham.
Saat Aludra akan meletakkan ponselnya kembali, terdengar notifikasi pesan masuk. Tanpa pikir panjang Aludra membuka pesan tersebut.
DEG
"Mas Zergan."
......................
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
Masih dalam suasana lebaran, aku ucapin selamat hari raya idul Fitri teman-teman. Semoga kita semua mendapatkan berkah dan kembali fitrah 😉😉. Minal aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin 🤗🙏