Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setalah Salah Paham - Bab 29


__ADS_3

Jangan lupa like


Jangan lupa komen


Jangan lupa favorit


Jangan lupa kasih vote


Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗


🌹HAPPY READING🌹


Rea yang penasaran dengan rekaman CCTV ikut berpindah duduk. Jadilah Wira duduk diantara kakak beradik itu.


"Dapat," ucap Wira.


Tanpa aba-aba, Wira langsung menekan enter untuk membuka rekaman CCTV itu.


DEG


"Aludra."


"Kak Aludra."


Kaget bukan main. Itulah yang dirasakan oleh mereka saat ini. Tangan Zergan terkepal kuat melihat rekaman video itu.


"Ini nggak mungkin," ucap Wira dan ingin segera menutup laptopnya.


"Biarkan, Wira. Aku ingin melihatnya!" ucap Zergan tegas.


"Tapi abang-"


"Biarkan diputar dulu," ucap Zergan tanpa mau dibantah ketika Rea hendak mengatakan sesuatu.


Wira kembali melanjutkan rekaman itu. Suara-suara yang begitu aneh terdengar di rekaman. Karena CCTV ruangan Zergan sudah dilengkapi oleh teknologi untuk ikut merekam suara.


"Zergan bodoh itu tidak akan tahu jika kita mengkhianatinya."


DEG


Lagi dan lagi, jantung Zergan berdetak cepat mendengar suara dari rekaman itu. "Ini suara Aludra," gumam Zergan yang membuat Wira dan Rea menatap lelaki itu.


"Ini pasti jebakan, Bang," ucap Rea meyakinkan Zergan bahwa ini semua tidak benar.


Zergan hanya diam. Dia terus mendengar dengan seksama dan menonton rekaman itu.


"Ibunya yang bodoh dan tidak tahu diri itu pasti sebentar lagi akan mati. Dia itu wanita tidak tahu diri," ucap perempuan yang di rekaman itu yang mereka pikir adalah Aludra.


Sedangkan lelaki yang ada di video itu sama sekali tidak memperlihatkan wajahnya. Dia nampak mengangguk semangat dengan apa yang Aludra katakan dalam rekaman itu.


"Dan keluarga Bailey yang jahat itu sebentar lagi akan hancur," ucap wanita itu lagi dengan goyangan tubuh yang semakin cepat diatas tubuh lelaki itu.

__ADS_1


"AAAKKHHH!" teriak Zergan melempar laptop yang ada di depannya dengan penuh emosi.


Laptop itu tergeletak tak berdaya di lantai ruangan Zergan dengan keadaan yang mengenaskan.


"Ini belum tentu, benar Gan," ucap Wira meyakinkan Zergan.


"Iya, Kak. Semua ini pasti fitnah," ucap Rea ikut meyakinkan Zergan.


Zergan gelap mata. Lelaki itu menatap tajam pada foto pernikahannya dan Aludra yang terpajang besar di dinding ruangannya. "Kau pengkhianat, Aludra," ucap Zergan penuh benci.


Wira menggeleng. "Kendalikan dirimu, Zergan," ucap Ira menahan lelaki itu yang akan melempar vas bunga pada foto besar tersebut.


Rea yang melihat itu langsung mengambil vas bunga dari hadapan Zergan agar tak hancur berkeping dan bertaburan kemana-mana.


"Rea," panggil Wira.


"Iya Kak," jawab Rea.


"Kau keluarlah dulu. Pastikan semua karyawan tidak mengetahui masalah ini. Aku akan menenangkan Zergan," ucap Wira.


"Tapi-"


"Itu yang harus kita lakukan saat ini, Rea," ucap Wira cepat memotong perkataan Rea.


Rea mengangguk patuh. Dengan segera wanita itu keluar dari ruangan Zergan untuk menuju ruangannya.


"Kendalikan dirimu!" ucap Wira tegas pada Zergan.


Zergan menatap nyalang pada Wira. "Tapi ini sangat-sangat keterlaluan, Wira!" jawab Zergan tajam.


"Apa kau yakin Aludra bersalah?" tanya Wira setelah mereka berdua duduk di sofa.


"Bukti itu sudah jelas, bukan?" tanya Zergan balik.


"Tapi kita harus memastikan terlebih dahulu," ucap Wira.


"Memastikan apa lagi? Aludra benar-benar mengkhianati aku dan keluarga Bailey," ucap Zergan dengan tangan mengepal kuat.


"Apa kau lupa satu hal?" tanya Wira yang membuat Zergan menatap lelaki itu.


"Apa?" tanya Zergan cepat.


"Rekaman itu ada suara. Apa kau lupa jika seminggu yang lalu kau memintaku untuk mengganti CCTV ruangan ini menjadi CCTV biasa?" ucap Wira bertanya.


Zergan nampak terdiam dan sedikit mengingat. "Kau sudah menggantinya?" tanya Zergan langsung.


Wira mengangguk. "Aku sudah menggantinya dua hari yang lalu," jawab Wira.


"Kapan? Kenapa aku tak tahu?" tanya Zergan sedikit kesal.


"Kau memintaku untuk merahasiakan ini dari siapapun, karena kau ingin kerahasiaan data itu benar-benar terjaga. Makanya aku melakukan diam-diam," jawab Wira.

__ADS_1


"Tapi bukan merahasiakan dari aku juga, bodoh!" ucap Zergan emosi menjambak rambut Wira hingga rambut rapi itu kini berantakan.


"Lepaskan! Sakit gula!" umpat Wira setelah berhasil melepaskan tangan Zergan dari rambutnya.


Zergan menghela nafas pelan. "Jika memang itu bukan Aludra, berarti ada pengkhianat dalam perusahaan ini," ucap Zergan memandang jauh ke depan.


"Atau bahkan dalam keluarga Bailey," tambah Zergan dengan tangan mengepal kuat.


Setelah mengatakan itu, Zergan beralih menatap Wira dengan lekat dan tajam.


Wira yang menyadari tatapan Zergan menjadi sedikit takut juga. Mata lelaki itu benar-benar tajam dan mematikan. "Apa?" tanyanya tak nyaman.


"Kau bukan pengkhianat, bukan?" tanya Zergan tegas.


PLAK.


Tangan Wira menempel sempurna di kepala Zergan. Dengan Reflek lelaki itu mengayunkan tangannya ketika mendengar pertanyaan Zergan.


"Kenapa kau memukulku?" tanya Zergan tak terima.


"Aku memang manusia yang tidak luput dari kesalahan. Tapi aku selalu mengusahakan bahwa aku tidak akan melakukan perbuatan kotor itu," ucap Wira sedikit berapi.


"Aku hanya bertanya, kenapa kau marah?" tanya Zergan polos.


"Bocah gila!" umpat Wira kesal setengah mati melihat ekspresi Zergan yang sangat menyebalkan untuknya.


Zergan sedikit terkekeh mendengar umpatan Wira. Dia juga percaya bahwa Wira tidak akan melakukan hal menjijikan itu. Zergan hanya berusaha menutupi pikirannya yang membuat badannya sedikit panas dingin.


"Ada yang kau sembunyikan?" tanya Wira menatap Zergan.


Zergan menggeleng.


"Kau jangan berbohong," ucap Wira lagi.


"Jika aku mengatakan apa yang ada dipikiranku, apa kau percaya?" tanya Zergan pelan.


"Mungkin akan percaya jika kau memang jujur," ucap Wira.


Zergan menghela nafas pelan. Dengan yakin, Zergan menceritakan apa yang semalam Aludra alami dan apa yang Aludra ceritakan tadi pagi, juga dua ceritakan pada Wira tanpa ada yang dikurang dan dilebihkan. Semua cerita Zergan mengalir begitu saja. Hingga tak terasa, mata lelaki itu sedikit berembun membayangkan bagaimana sakitnya pengkhianatan itu jika memang benar terjadi.


Wira dengan seksama mendengar apa yang diceritakan oleh Zergan. Berbagai ekspresi keluar dari wajahnya. Ada marah, sedih, tak percaya dan kesal bercampur menjadi satu.


"Jadi kau mencurigai Ayah dan Adik tirimu?" tanya Wira.


Zergan mengangguk. "Kita selidiki semua ini, Wira."


................


Flashback masih panjang ya bestie, jadi sabar nunggu ya 🤗😉


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz

__ADS_1


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan. Berbukalah dengan yang manis-manis ya 🤗😉 Semoga setiap ikhlas menjadi berkah, dan setiap sabar menjadi anugrah.


__ADS_2