
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Aludra mana?" tanya Wira.
"Istirahat. Tadi tiba-tiba mual dan pusing," jawab Zergan.
Wira terdiam demi mencerna setiap perkataan Zergan. "Aludra hamil?" tanya Wira yang membuat Zergan terdiam.
Setelah berpikir, Zergan menggeleng. "Kayaknya enggak deh. Lo lupa, beberapa malam yang lalu gue gila karena gak dapat jatah," tanya Zergan mengingatkan Wira.
"Ya, bisa aja baru beberapa hari usia hamilnya," jawab Wira tanpa berpikir sedikitpun.
"Tapi gue belum ngapa-ngapain lagi sama Aludra," ucap Zergan lagi.
"Iya juga," jawab Wira sepemikiran.
"Ya sudahlah. Jangan lupa nanti lo temui Kakek Fatih," ucap Wira mengingatkan Zergan yang dibalas anggukan oleh lelaki itu.
Setelah Wira keluar, Zergan duduk termenung di tempatnya. Laptop di depannya di biarkan menyala, sedangkan pandanganya kosong ke depan. "Kau yang memancingku untuk melawan mu, Ayah!" gumam Zergan tajam.
.....
Sedangkan dibelahan bumi lain, Rea berjalan ragu memasuki kamarnya dengan Adam. Dia masih takut bahwa Adam kembali marah seperti tadi. Sungguh, Rea tidak pernah melihat Adam semarah itu padanya.
Rea teringat akan Mama Ana. "Apa seperti ini ketakutan yang dulu di rasakan oleh Mama Ana? Apa seperti ini dulu kuatnya dia menahan semuanya?" gumam Rea sedih sekaligus menyesal mengingat apa yang sudah mereka lakukan pada Mama Ana.
Rea mengatur nafasnya untuk menetralkan kegugupannya. Dengan keberanian, Rea menekan gagang pintu untuk membuka pintu tersebut.
Langkah kaki Rea yang pelan melangkah memasuki kamar. Mata Rea langsung tertuju pada seorang lelaki yang kini berdiri di balkon kamar mereka dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana bahanya.
__ADS_1
Kaki Rea berjalan mendekati Adam. "Mas Adam," panggil Rea pelan.
Adam hanya diam. Dia mendengar panggilan Rea. tapi dia lebih memilih diam dan tetap menatap lurus ke depan.
"Mas, ayo makan dulu," ucap Rea memberanikan diri.
Wanita muda itu setengah mati menahan ketakutannya untuk berbicara dengan Adam.
"Mas," panggil Rea lagi. Kini dengan lebih berani dia menyentuh lengan Adam.
Adam berbalik merasakan kulit tangan Rea menyentuh lengannya. Dia menatap wajah sembab Rea dengan tatapan datar. Tanpa suara, Adam berjalan memasuki kamar dan mengambil remote televisi kamarnya. Adam menekan tombol power hingga televisi menyala.
"Lihat ini," ucap Ada dingin setelah mendapatkan Chanel yang dia cari.
Rea menurut. Dia mengikuti pandangan Adam menatap televisi. Mata Rea membulat sempurna melihat siaran berita yang menayangkan skandal hubungannya dengan Adam.
"M-Mas," gugup Rea tak tahu harus bicara apa. Hilang sudah citra baiknya di depan semua orang sekarang. Setelah ini, Rea yakin tidak akan ada yang mau menerima dirinya kembali, termasuk teman atau sahabatnya sekalipun.
Rea menatap Adam dengan pandangan berair. Sekarang harapannya hanya Adam. Hanya Adam tempat dia bersandar saat ini. Hanya Adam tempat dia mengadu saat ini.
"Mas," ucap panggil Rea dengan suara bergetar.
"Hubungan ini kita jalani berdua atas kesadaran penuh, Mas. Tanpa ada paksaan, lantas kenapa hanya aku yang disalahkan sekarang? kenapa hanya aku yang jadi kambing hitam?" tanya Rea sendu.
Adam terkekeh pelan mendengar pertanyaan Rea. "Mau bicara seolah kau adalah korban, Rea. Padahal disini, kau adalah pelaku utamanya," ucap Adam sengit.
"Maafkan aku," ucap Rea. Mungkin hanya maaf yang bisa dia ucapkan saat ini. Dia tidak ingin membuat Adam semakin marah. Dia tidak ingi Adam membuangnya karena kemarahan lelaki itu.
"Besok pagi, aku akan melakukan konferensi pers untuk semua berita ini," ucap Adam memberitahu.
"Apa kamu akan memberitahu semuanya?" tanya Rea khawatir.
"Tentu saja tidak. Aku sudah terlanjur basah, maka aku akan semakin menyelam untuk kebohongan ini. Tapi satu hal," ucap Adam menjeda perkataanya menatap Rea.
Rea membalas tatapan Adam yang sangat mengintimidasinya. "Aku tidak janji untuk membelamu," ucap Adam dan berlalu keluar dari kamar tersebut.
Air mata Rea jatuh begitu saja. Tangisnya kian pilu melihat Adam yang menutup pintu dengan sangat keras. Rea terduduk di lantai dengan menyadarkan kepalanya ke pinggiran kasur. Sekarang dia benar-benar hancur. Sudah tidak ada lagi harapannya. Ternyata benar, nafsu hanya akan menghancurkan mereka.
"Pada akhirnya aku yang menjadi tersangka," ucap Rea menangis. Wanita itu menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Sungguh, penyesalan itu sangat menyakiti.
__ADS_1
.....
Aludra menguap sambil meregangkan tangannya ke samping untuk merilekskan ototnya yang terasa kalau karena tidur. Matanya langsung menatap jam dinding yang menunjukan pukul empat sore. "Aku tidur cukup lama," ucap wanita sedikit terkejut.
Aludra bangun dan turun dari kamar pribadi. Dia keluar kamar dan melihat Zergan yang masih bekerja.
"Sudah bangun, sayang?" tanya Zergan yang menyadari kehadiran Aludra.
Aludra mengangguk. "Kenapa gak bangunin aku, Mas?" tanya Aludra sedikit kesal.
Zergan menaikan sebelah alisnya menatap Aludra. Tadi sebelum tidur istrinya itu sangat manja. Tapi sekarang Aludra kesal tanpa sebab.
"Aku tidak tega ganggu tidur kamu, Sayang. Jadi biar kamu istirahat dulu," jawab Zergan sabar.
Zergan bangun dari kursi kerjanya dan berjalan menyusul Aludra yang duduk di sofa.
Aludra mengamati kemeja suaminya yang berbeda dari apa yang tadi dia pakai saat berangkat kerja. Otak Aludra mencoba mengingat apa yang sudah terjadi sehingga Zergan mengganti kemejanya.
Mata wanita itu kembali berkaca-kaca. "Mas," panggil Aludra dengan suara bergetar.
"Kenapa sayang?" tanya Zergan kelabakan melihat Aludra yang tiba-tiba menangis.
"Maafin aku. Kemeja kamu kotor kena muntah aku," ucap Aludra menyesal.
Zergan menghela nafas lega. Dia sudah berpikir buruk mengenai penyebab Aludra menangis, ternyata karena muntah tadi. "Tidak apa-apa, Sayang," ucap Zergan lembut.
Aludra mengangguk. Setelahnya dia menatap Zergan seolah ingat apa yang akan mereka lakukan. "Kita jadi ke rumah Kakek?" tanya Aludra menatap Zergan dengan mengerjapkan mata beberapa kali, dan hal itu sukses membuat Zergan gemas melihat kelucuan istrinya.
Karena tidak tahan, Zergan mencuri sebuah kecupan di bibir Aludra. Bukannya menolak, Aludra dengan senang hati memberikan bibirnya kepada sang suami. Tentu dengan hati berbunga Zergan melancarkan aksinya.
Setelah dirasa kekurangan oksigen, baru Zergan melepaskan penyatuan bibir mereka. Zergan bingung melihat tingkah istrinya hari ini, tapi tidak dipungkiri dia juga sangat senang karen hal itu.
Zergan dan Aludra saling tersenyum. Tangan Aldira bergerak merapikan rambut Zergan yang sedikit berantakan. Sungguh, Aludra sangat beruntung memiliki Zergan sebagai suaminya. Kamu bentuk pemberian Tuhan paling sempurna untuk aku, Mas. Batin Aludra tulus.
Setelah rapi, Aludra menurunkan tangannya. "Ayo kita ke rumah Kakek."
................
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉