
Jangan lupa like
Jangan lupa komen
Jangan lupa favorit
Jangan lupa kasih vote
Jangan lupa kasih hadiah juga yaaaaa 😉🤗
🌹HAPPY READING🌹
"Tapi kita kita ada yang tahu nanti, Nyonya Aludra. Bagaimana jika suatu saat nanti suami anda melakukan hal yang sama dengan Ayahnya?"
Aludra tersenyum lembut menatap wartawan itu. "Mereka memang Ayah dan anak kandung. Darah mereka boleh sama, tapi pikiran mereka tentu berbeda," jawab Aludra yakin.
Zergan yang mendengar jawaban Aludra tersenyum senang. Dia sempat kaget atas ketakutan Aludra itu, tapi istrinya itu bisa sekali memberi penenang dan lebih meyakinkan Zergan bahwa Aludra baik-baik saja karena masalah ini.
Selanjutnya pertanyaan terus bergulir. Grace yang ada diantara mereka menggerutu kesal mengutuk Wira dalam hatinya. Karena konferensi pers ini sama sekali tidak ada hubungan dengan masalah video Aludra, sama sekali tidak ada.
Grace menoleh dan menatap tajam pada Wira. Wira yang ditatap seperti itu hanya tersenyum kecil seperti manusia tidak bersalah. "Jangan menatap begitu, nanti media menyorot mu," ucap Wira berbisik.
Grace yang terlanjur kesal menginjak kaki Wira untuk melampiaskan emosinya. Tapi wajahnya tetap tenang dan kada tersenyum menatap ke depan.
"Ya salam, tenaga kuli," ucap Wira reflek menahan sakitnya. Untung dia tidak berkata lantang, jika iya maka dia bisa mengacaukan konferensi pers ini. Dengan menahan sakit, Wira tetap tersenyum dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa masih ada yang ingin kalian tanyakan?" ucap Zergan melihat semua wartawan.
"Saya, Tuan," ucap seorang wartawan menunjuk tangan.
__ADS_1
"Silahkan," jawab Zergan.
"Lalu bagaimana dengan hubungan anda dan tuan Adam? Apakah anda memutuskan hubungan atau bagaimana?" tanya Wartawan itu tepat pada Zergan.
Zergan terlihat mengangguk. Kali ini dia tidak mau terbawa emosi menjawab pertanyaan wartawan yang terkadang menjebak mereka.
"Mungkin diantara kami memang tidak baik sekarang ini. Tapi tetap pada kenyataanya, bagaimanapun juga dia adalah Ayah kandung saya," jawab Zergan singkat dan yakin.
"Mungkin itu adalah pertanyaan terakhir, dan jawaban saya adalah jawaban terakhir. Semoga konferensi pers ini bisa memberi kejelasan mengenai berita yang sedang terjadi dan bisa meluruskan simpang siur mengenai skandal ini. Dan semoga media tidak lagi memberikan informasi macam-macam dan menduga-duga mengenai semua ini, terimakasih," ucap Zergan menutup konferensi pers dan segera berdiri disusul yang lainnya.
Disaat Zergan dan yang lainnya mengadakan konferensi pers, di negara lain ada seorang wanita yang tidak hentinya menangis atas apa yang akan terjadi nanti. Rasanya dia sangat takut menghadapi takdir ke depannya.
"Aku takut," ucap Rea memeluk lututnya. Wanita itu duduk di lantai tak berdaya. Rasanya semua tenaganya hilang begitu saja dari tubuhnya.
Sekarang Rea memilih kamar yang berbeda dengan Adam. Rea menempati kamar tamu yang berada di lantai satu. Tepatnya disebelah kamar Mama Ana.
"Aku harus mengadu pada siapa sekarang? Aku harus bercerita pada siapa sekarang?" gumam Rea dalam tangisnya.
"Karena suamiku yang membawamu kesini, dan aku percaya orang yang berada di dekat suamiku adalah orang baik. Dan kau adalah anak perempuan satu-satunya kelurga Bailey. Anak yang sangat diinginkan suamiku, tapi karena kekuranganku yang sudah tidak bisa memberi anak sejak beberapa tahun lalu, aku tidak bisa memenuhi keinginannya itu. Dan kehadiranmu membuat senyum suamiku selalu mengembang," itulah ucapan Mama Ana yang sampai saat ini masih selalu teringat oleh Rea. Saat Rea menanyakan alasan mama Ana mau menerimanya sebagai anak angkat, inilah jawaban lembut yang selalu diberikan oleh wanita itu.
Tanpa Mama Ana ketahui sebelumnya, bahwa dibalik senyum mengembang dan kebahagiaan Adam, ada pengkhianatan yang mereka lakukan di belakang Mama Ana.
"Maafkan Rea, Mama Ana," ucap Rea menyesal dengan tangis pilunya. Penyesalan memang selalu saja datang belakangan. Dia bertindak sebagai pembalasan yang sangat sakit atas semua kesalahan.
Rea mencoba untuk berdiri dengan sekuat tenaganya. Dia berjalan menuju laci meja yang ada di sebelah ranjang. Tangannya terulur mengambil sebuah pisau yang ada di sana. "Apakah kematian bisa membuat aku tenang?" gumam Rea bertanya pada dirinya sendiri.
Rea semakin mendekatkan pisau kecil itu ke pergelangan tangannya. Dengan memejamkan mata, Rea semakin meyakinkan dirinya. Tapi bayangan kesalahannya dan tangis Mama Ana selalu berputar di kepalanya.
"Tidak!" reflek Rea menjauhkan pisau itu dari pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak boleh begini. Aku harus membayar semuanya terlebih dahulu dan mendapat maaf dari semua orang. Terutama pada Mama dan Aludra. Aku harus mendapat maaf dari mereka," ucap Rea meyakinkan dirinya sendiri.
Lain halnya dengan Rea, Adam sejak tadi tidak bisa memejamkan matanya untuk konferensi pers yang akan dia adakan nanti. Ini sudah tengah malam, tapi kantuk di kunjung menghampiri.
Untuk mengalihkan pikirannya, Adam menyalakan televisi. Adam mencari siaran yang bagus untuk menghalau rasa gundahnya.
Bukannya tenang, kegundahan Adam semakin bertambah saat melihat tayangan yang memperlihatkan wajah semua keluarganya di Indonesia. "Sialan!" umpat Adam kesal.
"Mereka bertindak lebih cepat dan melakukannya di jam seperti ini. Pasti ada seseorang yang sudah memberitahu semua rencana ku pada mereka. Brengsek!" umpat Adam melempar remote televisi dengan kasar ke sembarang arah.
Adam menonton dengan seksama dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh mereka semua. Dan satu lagi yang membuat Adam semakin murka, cara Zergan membuktikan keaslian video mereka.
"Anak itu benar-benar licik! Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" ucap Adam frustasi. Kalau sudah begini dia semakin tidak bisa untuk keluar. Bahkan untuk ke kantornya saja Adam sudah tidak memiliki muka rasanya. Zergan benar-benar mempermalukannya dengan sangat lengkap, sampai ke akar-akarnya.
"AAAARRGGGHHHH!" jerit Adam menjambak rambutnya sendiri.
Tangan Adam mengepal kuat. Matanya merah karena emosi. Adam mengambil vas bunga yang ada di atas meja sebelah ranjang.
PRANG.
Layar televisi itu hancur dalam seketika. Pandangan Adam saat ini benar-benar seperti orang kesetanan.
Rea yang masih berada di kamar tamu mendengar suara berisik dari kamar Adam.
"Mas Adam," gumam Rea pelan dan langsung berlari keluar kamar untuk menyusul dan melihat apa yang terjadi pada Adam. Rea tidak mau lelaki itu melakukan hal nekat seperti yang akan dia lakukan tadi.
......................
Dukung novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan ikuti instagram aku @yus_kiz untuk melihat info mengenai novel aku yang lainnya. Tentunya ada info Alu dan Zergan jugaa. Terimakasih 🤗😉