Setelah Salah Paham

Setelah Salah Paham
Setelah Salah Paham - BAB 20


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Rea menatap seorang lelaki yang berada di depannya. Lelaki itu berbalik menatapnya dengan senyum manis menunjukan cinta untuk wanita itu.


"Aku mau kamu lakukan sesuatu," ucap Rea.


Lelaki itu tersenyum manis. Dia menarik tangan Rea dan mendudukkan wanita itu diatas pangkuannya. "Apa?" tanya lelaki itu lembut.


"Segera hancurkan rumah tangga Zergan dan Aludra."


Lelaki yang duduk memangku wanita itu terkekeh pelan. Tangannya dengan erat melingkar di pinggang ramping Rea.


"Harus bertahap, Sayang," jawab lelaki itu lembut sambil sebelah tangannya mengusap lembut pipi wanita yang ada di pangkuannya itu.


"Jangan terlalu lama. Nanti semakin lama, cinta Aludra dan Zergan akan mengalahkan salah paham mereka ini. Aku tidak mau itu," jawab Rea manja.


Lelaki itu terkekeh pelan. "Apa yang aku dapatkan jika aku berhasil?" tanya lelaki itu menatap Rea.


"Mau mendapatkan aku tentunya," jawab Rea yakin.


"Tapi jika Aludra dan Zergan berpisah, kau mau Zergan menikah denganmu, bukan? Itu artinya kalian akan hidup bahagia dan melupakanku," ucap lelaki itu pura-pura sedih.


Rea terkekeh pelan. "Kau tahu tujuanku melakukannya. Kau tetaplah cintaku, Sayang," ucap Rea memandang lekat mata lelaki itu.


Lelaki itu tersenyum mengangguk. "Kamu membuatku gila sejak dulu, Rea," ucap lelaki itu dengan tangan yang mulai kemana-mana.


"Dan aku suka kegilaan ini. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana ekspresi mereka saat tahu semua ini nanti," ucap Rea membayangkan dengan seringai jahatnya.


"Dan kita akan usir mereka semua saat itu juga," jawab lelaki itu diiringi dengan tawa yang menggelegar di dalam ruangan tersebut.


"Tapi sekarang ada yang mencurigai ku," adu Rea manja dengan membuat pola-pola abstrak pada dada bidang lelaki itu yang berbulu.


"Apa dia asisten pribadi itu?" tanya lelaki itu menebak.


Rea mengangguk dengan bibir mencebik manja. "Dia selalu membuatku kesal," ucap Rea.


"Itu urusan mudah, sayang," ucap lelaki itu lembut dengan tangan mengusap-usap punggung Rea dari balik kemejanya.

__ADS_1


"Kau bisa mengatasinya?" tanya Rea.


Lelaki itu mengangguk yakin. "Kau ingin aku menghancurkannya kapan?" tanya lelaki itu.


"Biarkan dia merasa seneng dulu. Setelah itu apa kau bersedia melakukannya untuk?" tanya Rea.


"Tentu, Sayang. apapun untuk gadis eh-, wanita kesayanganku ini," ucap lelaki itu menggodaku Rea.


"Kau benar-benar bisa membuat aku senang," ucap Rea dan membalas perlakuan lembut lelaki itu.


Setalahnya, hanya ada suara aneh yang sangat merdu keluar dari bibir Rea. Dan lelaki itu sangat menyukai suara Rea dan gerakan tubuh Rea yang meliuk lihai diatas pangkuannya.


.....


Aludra memasuki kamarnya setelah kembali dari dapur untuk mengambil air minum. Aludra menengok ke kamar mandi melihat pintu yang tertutup. "Masih mandi ternyata," gumam Aludra mengetahui bahwa Zergan yang masih mandi setelah lembur seharian di kantor. Pukul sepuluh malam, lelaki itu baru bisa pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Sambil menunggu Zergan, Aludra duduk di ranjang dengan mengayunkan kakinya. Entahlah, hati wanita itu saat ini ada sedikit rasa takut dan senang. Senang karena mengingat kegiatan panas yang dia lakukan tadi siang bersama Zergan. Dan takut karena sikap Zergan yang masih tetap dingin meskipun kadang suka berubah-ubah.


"Mas sudah selesai?" tanya Aludra melihat Zergan yang sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melingkar di pinggangnya.


Zergan tidak tahu saja bagaimana perasaan Aludra satu ini. Jika lelaki itu tahu dan bisa memahami Aludra seperti sebelumnya, maka Aludra tidak akan seperti ini.


Aludra hanya tersenyum mendengar jawaban Zergan yang sangat asing dalam telinganya. Meskipun cukup menyentil hatinya, tapi Aludra harus bersabar menghadapi suaminya yang batu itu.


Pandangan Aludra beralih pada dada dan perut Zergan yang. Aludra memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Disana, Aludra melihat bekas cakaran dan cubitan. Pipi Aludra memerah mengingat semua itu hasil karya dari jari lentiknya.


Zergan yang menyadari perubahan wajah Aludra terkekeh pelan. "Bekas cakarannya masih sama. Tapi isi hatinya yang sudah sedikit berbeda," ucap Zergan sendu menatap Aludra.


Aludra mengalihkan pandangannya pada Zergan ketika mendengar perkataan lelaki itu. Kakinya melangkah mendekati Zergan. "Apa ini sakit?" tanya Aludra mengalihkan pembicaraan. Aludra tidak ingin kembali ribut setelah apa yang mereka lakukan.


"Pernahkah aku mengeluh karena bekas cakaran ini?" tanya Zergan melihat tangan Aludra yang mengusap lembut dadanya yang terdapat bekas cakaran itu.


"Aku hanya mengeluh atas perubahan isi hatimu," sambung Zergan yang membuat tangan Aludra terlepas begitu saja dari dadanya.


"Aku obati ya, Mas," ucap Aludra yang sama sekali tidak mau membalas apa yang Zergan sampaikan. Sebisa mungkin dia akan mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ini tidak perlu diobati, Aludra. Sebentar lagi pasti akan hilang. Sakit disini yang perlu kau sembuhkan," jawab Zergan menunjuk dadanya.

__ADS_1


Aludra menghela nafas pelan. Dia tidak menghiraukan Zergan. Wanita itu berjalan menuju lemari untuk mengambil kotak obat. Setelah dapat, Aludra membawa Zergan ke ranjang. Mereka berdua duduk di tepi ranjang.


Aludra mulai mengoleskan obat merah di dada Zergan yang sudah dia teteskan pada kapas terlebih dahulu. Tangan Aludra dengan lembut membersihkan sedikit titik darah yang sudah mengering.


Aludra heran, padahal Zergan sudah selesai mandi, tapi masih saja ada bekas sedikit titik darah karena cakarannya. Apa lelaki itu tidak mandi dengan bersih? Pikir Aludra. Tapi itu hanya ada dalam pikirannya. Untuk mengatakan itu saja bahkan Aludra tidak punya keberanian.


Zergan memandangi istrinya yang menunduk. Bahkan pucuk kepala Aludra hampir bertemu dengan bibirnya.


"Luka ini tidak seberapa Aludra. Bukankah aku sudah bilang tidak perlu diobati?" tanya Zergan pelan.


"Bagimu mungkin tak seberapa. Tapi ini pasti sakit," ucap Aludra kekeuh.


Zergan menggeleng. Tangannya menangkap tangan Aludra sehingga menghentikan kegiatan wanita itu yang membersihkan dadanya.


Aludra menghela nafas pelan. Sungguh, dia sedikit kesal. Kenapa suaminya ini suka sekali membuat sedih padahal dia sudah berusaha untuk menghindarinya.


"Aku bilang bekas cakaran ini tidak sakit, Aludra," ucap Zergan menatap Aludra.


Aludra membalas tatapan Zergan. "Kamu pasti mandi tidak bersih karena darah kecil ini saja tidak hilang, Mas," ucap Aludra mencoba sabar.


Zergan menggeleng. "Bukannya aku yang mandi tak bersih, tapi memang matamu yang selalu menangkap luka agar ingat dengan semua ke-"


"CUKUP MAS!"


................


Itu kira-kira Rea sama siapa yaaa???


Aludra emosiiiiiiii


Untuk visual Zergan dan Aludra, silahkan lihat di instagram aku yaaa @yus_kiz


Dukung terus novel ini dengan terus ikuti kisahnya dan semoga kalian suka yaaa. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga vote yaaa 🤗


Oiya, selamat buka puasa untuk emua yang menjalankan puasa hari ini. Dan untuk yang belum puasa, semoga nanti kuat puasa pertama yaa 😉. Dan bagi yang tidak puasa, semoga bisa menyemangati yang berpuasa. 🤗😉


(BTW, Kata puasa auhtor banyak banget kayak jualan di pasar 😅✌️)

__ADS_1


__ADS_2