
Suara anak kecil yang terdengar polos dan lucu membuat Ryzel menghentikan tangannya melempar bola basket.
Memalingkan kepalanya ke bawah untuk melihat siapa yang memanggilnya, seorang gadis kecil sedang berdiri di sebelah kirinya dan menatapnya dengan wajah polosnya yang kecil.
Gadis kecil ini sangat lucu dan menggemaskan, mengenakan bando dan gaun anak kecil berwarna pink. Mata bulatnya yang jernih memandang Ryzel dengan cerah.
Penampilan gadis kecil ini sangat lucu sehingga Ryzel tidak bisa mengabaikannya.
Melupakan permainan basket sejenak, Ryzel perlahan berjongkok di depan anak kecil ini dan memberikan senyuman yang ramah.
“Kamu mengajakku bermain lempar bola basket bersama?“ tanya Ryzel dengan suara yang lembut penuh kenyamanan. Anak kecil ini merasakan perasaan nyaman dan aman dari Ryzel.
Kepala kecilnya mengangguk dan tersenyum, gadis kecil menjawab dengan suara susu yang imut, “Iya, Abang Tampan. Apa aku boleh bermain?“
Mata Ryzel memindai sosok gadis kecil ini sebelum merespons permintaannya. Gadis kecil ini terlihat seperti anak yang baru berusia 4 — 5 tahun dengan tinggi sekitar 100 sentimeter ke atas.
Tingginya yang berkisar antara 103 sampai 107 sentimeter bisa memainkan permainan ini. Jadi, Ryzel mengangguk dan menerima keinginan gadis kecil ini bermain lempar bola basket.
“Baiklah, Abang mengizinkan, tetapi kamu harus berhati-hati.“ Ryzel tidak bisa menolak permintaan dari gadis kecil yang lucu ini.
Dengan begitu, dia menggesek kartu permainan ini ke mesin lempar bola basket di sebelahnya.
Gadis kecil ini tersenyum senang dan dia mulai mengambil bola basket yang sudah diperbolehkan untuk dilempar ke keranjang yang ada di depannya.
Walaupun sulit untuk memasukkan bola basket ke keranjangnya, gadis kecil ini tetap tersenyum dan menikmati permainannya bermain bola basket. Tidak memedulikan bola yang dilemparnya masuk atau tidak, paling penting perasaan senang didapatkan ketika dia melempar bola.
Lengkungan senyuman muncul di mulut Ryzel, dia melemparkan bola basket sambil menyaksikan gadis kecil ini tersenyum dan tertawa kecil bermain lempar bola basket.
Sebuah pemandangan yang manis yang bisa disaksikan oleh Ryzel hari ini. Ryzel sampai lupa dirinya telah memasukkan bola basket ke keranjang dan memecahkan rekor terbanyak. Padahal, dia tidak serius, kerap kali mengalihkan pandangannya ke gadis kecil ini dengan tangannya yang terus menembakkan bola.
Selain itu juga, Ryzel lupa dengan keberadaan Amanda dan Laurel yang kini tengah asyik bermain hoki meja.
“Yeay, aku berhasil memasukkan bolanya!“ seru Gadis kecil sambil menari-nari di tempat dengan gerakan yang acak, tetapi lucu untuk dilihat.
Dia sangat senang karena berhasil memasukkan satu bola setelah puluhan kali mencoba melempar bola ke keranjang.
Bahagia yang sangat sederhana.
Melihat keceriaan anak ini, Ryzel juga ikut terinfeksi rasa senangnya.
Sepanjang melempar bola, senyumannya tidak pudar sama sekali hingga waktu bermain bola basket berakhir.
Setelah mesin bola menunjukkan angka 00:00, artinya waktu kesempatan mereka melempar bola telah selesai. Mesin bola basket mengeluarkan kartu permainan yang terbuat dari kertas sesuai dengan skor yang berhasil dicetak, di mana nantinya kartu kecil ini bisa ditukarkan dengan benda sebagai hadiah.
Ryzel mendapatkan banyak sekali tiket atau kartu kertas dari mesin bola basket hingga menumpuk di bawah lantai.
Sementara mesin bola basket yang dipakai gadis kecil ini hanya mengeluarkan 1 kartu.
__ADS_1
Akan tetapi, gadis kecil ini tidak marah, dia tersenyum senang sambil memegang satu kertas kecil ini dan menyerahkan kartu yang diperoleh kepada Ryzel.
“Abang tampan, aku mendapatkan satu kartu ini, aku memberikan ini kepadamu,” ucap Gadis kecil dengan senyumannya yang menggemaskan.
Melihat tingkah polos nan imut gadis kecil ini, Ryzel tidak tahan untuk tidak menyentuh kepala kecil dan mengelusnya lembut dengan penuh rasa sayang.
Gadis kecil ini tersenyum senang, hatinya merasa nyaman dan gembira ketika merasakan usapan lembut dari tangan besar Ryzel.
Senyuman yang muncul di wajah kecil gadis ini membuat Ryzel tersenyum lebar, gadis ini memiliki senyuman bagaikan malaikat kecil.
“Tidak perlu, simpan itu.“ Ryzel kembali berdiri dan mengumpulkan kartu kecil yang keluar dari mesin permainan bola basket ini.
Merapikan kartu-kartu tersebut dan dia meletakkan kartu hadiah dari mesin permainan basket ke kedua tangan gadis kecil ini.
“Ambil kartunya, ini hadiah dari Abang untukmu karena kamu sangat menggemaskan.“
“Umm, terima kasih, Abang tampan.“ Gadis kecil memiliki rona merah di kedua pipinya, dia menatap Ryzel dengan pandangan yang malu.
Usai mendapatkan kertas berbentuk kartu ini, gadis kecil itu melemparkan senyuman manis dan berlari meninggalkan Ryzel.
Pupil mata Ryzel bergerak mengikuti arah ke mana gadis kecil ini berlari, dan setelah dia amati beberapa detik, gadis kecil tersebut berhenti di depan seorang wanita cantik yang terlihat dewasa.
Wanita itu berbicara dengan gadis kecil itu menanyakan dari mana dia mendapatkan banyak kartu penukaran hadiah.
Saat wanita itu berbicara dengan anak kecil perempuan ini, datang dua wanita lain yang terlihat akrab dengan wanita dewasa dan gadis kecil itu.
Begitu Ryzel melihat kedua wanita yang baru saja datang, dia sedikit tersentak dan menatap kedua wanita ini dengan pupil yang sempat membesar.
Kedua wanita tersebut adalah wanita yang mengajaknya jalan-jalan.
Penasaran dengan ini, Ryzel berdiri dan berjalan perlahan menuju mereka semua.
“Aku dapat kartu ini dari Abang tampan, aku juga dibolehkan bermain bola basket memakai kartu Abang itu,” kata Gadis kecil dengan jujur.
Wanita yang terlihat lebih dewasa dari Amanda ini terlihat aneh. “Abang tampan?“
“Iya, Abangnya tampan dan baik. Aku suka.“ Gadis kecil mengangguk cepat beberapa kali.
“Di mana Abang yang kamu sebutkan itu?“
“Itu dia Abang tampannya.“ Gadis kecil tersebut membalikkan tubuhnya ke belakang dan menunjuk ke Ryzel yang sedang berjalan.
Wanita dewasa itu langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh gadis kecil ini, dan ekspresi wajahnya yang bingung menghilang.
Pipinya berubah menjadi merah, matanya terbelalak karena terpana melihat wajah tampan Ryzel.
Amanda dan Laurel juga tidak menyangka bahwa gadis kecil ini bertemu dengan Ryzel. Dan mereka juga tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita dewasa dan gadis kecil di sini.
__ADS_1
“Ternyata Ryzel, kukira siapa,” Amanda berkata sambil menghela napas.
Mendengar ucapan Amanda, wanita dewasa ini menoleh dan bertanya dengan ekspresi terkejut, “Kamu kenal dia?“
“Iya, kami berdua datang bersama dia,” jawab Amanda dengan senyuman.
“Benar, dia bernama Ryzel, Tante Sinta.“ Nina mengangguk menguatkan ucapan Amanda.
Wanita yang terlihat sangat dewasa ini bernama Sinta, kakak ipar Amanda dan gadis kecil ini adalah keponakan Amanda.
“Abang!“ Gadis kecil tersebut berlari mendekati Ryzel sembari membawa kartunya.
Ryzel berhenti berjalan karena gadis kecil ini berdiri menghalangi jalannya.
Tidak lama kemudian, ketiga wanita di belakang anak kecil berjalan mendekati Ryzel.
Setelah pertemuan tidak sengaja ini, Ryzel menjadi tahu siapa gadis kecil ini, nama gadis kecil tersebut Zia yang adalah anak dari kakak ipar Amanda, Sinta.
Pertemuan ini benar-benar pertemuan yang tidak disengaja karena di antara kedua pihak tidak melakukan perjanjian ingin bertemu, murni kebetulan.
Sinta dan anaknya datang ke sini untuk mengajak anaknya yang bosan bermain di rumah. Biasanya, Zia bermain dengan Amanda ketika Amanda libur, tetapi Amanda sedang pergi dan orang tua juga sedang pergi bisnis.
Amanda dan Sinta tinggal di rumah yang sama dengan orang tuanya.
Mereka berasal dari keluarga yang berkecukupan, tak masalah membeli mobil dan lainnya. Orang tua dari keduanya seorang pebisnis yang cukup kaya meski tidak bermain di ruang lingkup perusahaan yang besar, seperti Pak Jhony.
Ayah Zia atau suami Sinta tidak hidup bersamanya, dia pergi dan menikahi wanita lain. Dengan kata lain, Ayah Zia selingkuh dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Meskipun begitu, Zia dan Sinta tetap bisa bahagia bersama. Sinta adalah wanita yang kuat dan cerdas karena mampu membahagiakan anaknya tanpa adanya seorang suami.
Mendengar informasi tentang Sinta yang ditinggal suaminya, entah mengapa Ryzel menjadi lebih takut untuk menjalin hubungan. Takut jika dia ikut seperti itu.
Selama di perjalanan usai bermain di Pan World, Ryzel dan lainnya menjadi lebih dekat, rasa canggung tidak lagi dirasakan dan hanya samar-samar, bahkan Zia saja tidak malu untuk memeluk dan digendong oleh Ryzel.
Gadis kecil ini entah kenapa terasa genit kepada Ryzel, dia selalu saja minta digendong, dan dia sangat menyayangi boneka yang didapatkan oleh Ryzel sebelum pergi dari tempat bermain.
Hadiah penukaran mendapatkan hadiah boneka beruang besar, dan dipegang oleh Amanda.
Jelas, boneka itu untuk Zia yang masih kecil.
Sehabis dari tempat bermain, mereka berempat pergi ke Bioskop yang ada di lantai paling atas dari gedung Mall GI.
Mereka langsung membeli tiket film kartun yang terkenal yang digadang-gadang merupakan film terbagus di bulan ini, yaitu film kucing di dalam sepatu boots yang memiliki tema Harapan Terakhir. Film kucing ajaib yang bisa bertarung.
Akan tetapi, ketika mereka berempat dan ditambah satu gadis kecil sedang asyik menonton, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganggu mereka berempat.
Sebuah kaki dengan santainya dinaikkan ke atas sandaran kursi Zia.
__ADS_1
Amanda melihat ini dan dia menegurnya, “Maaf, apa kakinya bisa diturunkan?“
Melihat Amanda yang berdiri dan berbicara, pemilik kaki tersebut yang adalah seorang wanita berkacamata bulat membalasnya dengan suara yang sedikit membentak, “Kenapa? Apa itu masalah bagimu?!“