Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 155: Kedatangan Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Menjadi Pak Ryzel tidaklah mudah, kamu melihat dirinya yang sekarang mungkin terlihat enak. Percayalah, orang sukses pasti telah merasakan kesusahan yang luar biasa untuk bisa menjadi dirinya sesukses ini," celetuk wakil ketua kru tiba-tiba datang dari belakang para kru yang tengah mengobrol.


Mendengar suara ini, para anggota kru terkejut lalu menoleh untuk melihat ke belakang.


"Eh, Pak Wakil Ketua. Iya itu benar, Pak."


"Kebiasaan buruk Burhan, dia selalu ingin seseorang yang dia lihat, Pak. Kurang bersyukur."


"..."


Semua kru menyapa wakil ketua kru dan membenarkan apa yang dikatakan wakil ketuanya.


Tidak ada yang salah dengan perkataan wakil ketua kru, melainkan sebuah fakta yang memang terjadi.


Tiada orang sukses yang tak pernah merasakan kesulitan dan rintangan di hidupnya, bahkan untuk menjadi pewaris perusahaan tidak mudah meski ayahnya seorang pemilik perusahaan. Pasti ada kesulitan yang membuatnya layak menjadi pewaris, tidak asal-asalan.


"Mungkin beberapa dari kalian menduga Pak Ryzel adalah seorang anak dari keluarga orang kaya tingkat tinggi, kan?" tanya Wakil Ketua Kru sambil menatap delapan orang kru yang berdiri rapi.


Mereka semua merespons dengan mengangguk, mereka mengakui bahwa diri mereka pernah berpikiran seperti itu.


Bagaimana tidak, Ryzel terlihat tampan, bersih, masih muda, tinggi, dan memiliki aura orang kaya, secara otomatis mereka menganggap Ryzel berasal dari keluarga konglomerat.


Senyuman halus terbentuk di wajah wakil ketua begitu melihat tanggapan mereka dan dia berkata, "Pak Ryzel tidak memiliki keluarga yang seperti kalian duga. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa melihat biodatanya di internet, kalian akan tahu bahwa Pak Ryzel telah mengalami kesedihan yang luar biasa lantaran keluarganya sendiri."


Setelah mengatakan itu, wakil ketua berbalik pergi dan masuk ke ruang nahkoda kapal Pinisi.


Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, anggota kru yang masih di atas dek kapal segera mengambil ponselnya dan mencari informasi Ryzel di internet.


Segera mereka langsung menemukan sebuah informasi yang membuat mereka tercengang.


"Sial, aku tidak ingin menjadi Pak Ryzel kalau tahu seperti ini. Aku menyerah."


"Ironi sekali. Jauh dari bayangin indahku terhadap Pak Ryzel."


"Aku menarik kembali ucapanku. Aku memilih untuk menjadi diri sendiri."


"..."


Dalam sekejap mata, mereka semua berganti keinginan dan tidak mau menjadi sosok Ryzel.


Semua orang pasti menginginkan dirinya seperti seseorang yang sukses, tetapi semua orang belum tentu mau mengalami hal sedih dan menyakitkan yang dirasakan oleh orang sukses tersebut.

__ADS_1


Orang-orang hanya melihat kesuksesan orang, buta terhadap apa yang sudah dilalui orang itu.


Pada saat ini, Ryzel dan Soomin sedang berjalan bersama menaiki bukit Pulau Kelor, mereka berdua mengikuti Raffy dan salah satu kru yang menjadi pemandu wisata pribadi Ryzel.


"Aduh! Kakiku keram, Ryzel!"


Tiba-tiba saja Soomin memegang tubuh Ryzel yang ada di samping untuk menopang tubuhnya sendiri.


Dengan refleks tubuh yang cepat Ryzel menangkap tubuh Soomin dan tak membuatkannya jatuh.


"Kalau begitu, kita berhenti di sini dahulu," ucap Ryzel yang perlahan menuntun Soomin untuk duduk di tanah.


Ryzel menemani Soomin yang tengah keram pada kakinya sembari memandangi pemandangan dari atas. Meskipun mereka berdua belum berada di bagian paling atas bukit, tetapi di ketinggian ini cukup indah pemandangannya.


"Bagaimana?" Ryzel menoleh melihat Soomin yang mengusap kakinya yang diluruskan untuk meringkas rasa keram dan runyam. "Apakah sudah mendingan sekarang?"


"Belum, kakiku masih terasa nyeri," jawab Soomin dengan wajah yang sedikit kesakitan.


Melihat ini, Ryzel berkata lagi, "Kalau begitu, kita di sini terlebih dahulu sampai kram di kakimu reda."


Soomin tersenyum dan mengangguk beberapa kali dengan cepat. Ryzel memberikan Soomin air minum untuk meredakan rasa nyeri.


Raffy dan pemandu Ryzel tidak menggangu keduanya duduk bersama di bawah, mereka membiarkan Ryzel dan Soomin berduaan, fokus melihat pemandangan 360 derajat.


Akan tetapi, mereka berdua tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu yang mendekati Ryzel dan Soomin.


Mata Raffy yang masih sehat menangkap tiga sosok yang terbang menghampiri Ryzel.


Setelah itu, di bawah tatapan matanya, dia melihat tiga burung elang mendarat tepat di depan Ryzel dengan tampilan yang luar biasa.


Pemandangan ini disaksikan langsung oleh pemandu dan Raffy, keduanya terkejut dan tertegun beberapa saat.


"Paman, apakah itu burung elang?" tanya Raffy sambil menarik-narik celana pemandu liburan Ryzel.


Pemandu tersebut mengangguk dengan tatapan yang masih fokus ke tiga burung elang yang bermain dengan Ryzel.


Melihat tanggapan pemandu, Raffy segera turun untuk mendatangi Ryzel, dia ingin melihat burung elang dari jarak yang dekat.


"Ini?!" Soomin terpana melihat tiga burung elang mendarat di hadapannya. Dia terperangah melihat burung-burung liar ini akrab dengan Ryzel.


Sementara itu, Ryzel mengusap kepala dari tiga elang besar ini dan tersenyum lebar. Tak disangka burung-burung elang ini pergi ke dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jangan bilang kalian datang dari Bali?" tebak Ryzel yang memulai berkomunikasi dengan ketiga elang hebat di depannya.


Seolah mengerti apa yang diucapkan Ryzel, burung elang tersebut mengangguk seperti sedang mematuk angin.


Mengetahui ini, Ryzel benar-benar kagum dengan tiga burung ini, dia terbang jauh hanya untuk mendatanginya.


"Sayang sekali, aku tidak membawa makanan untuk kalian di sini," kata Ryzel dengan wajah yang bersalah. "Mungkin di kapal ada beberapa daging untuk kalian bertiga. Tunggu sampai aku kembali ke kapal, kalian tunggu aku di kapal."


Alih-alih mengangguk dan setuju, ketiga burung ini menggelengkan kepalanya, kemudian mengepakkan kedua sayapnya untuk terbang.


Melihat gerakan mereka, Ryzel tidak mengerti apa yang dimaksud ketiga burung elang ini sekarang.


Ryzel tidak menahan mereka untuk terbang dan membiarkan ketiga burung tersebut pergi meninggalkannya.


"Ke mana burung itu pergi?" Soomin bertanya dengan wajah yang luar biasa.


Bahu Ryzel terangkat naik dan menjawab, "Tidak tahu, mungkin mereka kembali ke daratan luas lagi."


"Bang Ryzel! Burung-burung itu pergi ke mana?!"


Dari arah belakang, Raffy datang mendekati mereka berdua dan berteriak untuk bertanya.


"Entah, aku tidak tahu."


Jawaban Ryzel masih sama dengan pertanyaan Soomin.


Dalam penglihatan orang-orang yang ada di Pulau Kelor dan di kapal laut, ketiga burung itu terbang menukik menuju lautan yang ada di bawahnya.


Di bawah mata banyak orang, ketiga burung tersebut memanen beberapa ikan laut dengan cakarnya yang tajam.


Berikutnya, mereka bertiga meletakkan ikan-ikan yang mereka tangkap di depan Ryzel. Mereka bertiga melakukan hal tersebut selama beberapa menit hingga ikan mulai menumpuk di hadapan Ryzel.


Semua orang terkejut dengan operasi ketiga burung elang ini, termasuk Ryzel sendiri.


Dengan pemandangan langka ini, liburan mereka menjadi istimewa dan berkesan.


Beberapa jam berlalu, Ryzel dan yang lainnya berhasil mengambil gambar di atas bukit Pulau Kelor bersama ketiga burung elang.


Setelah menikmati pemandangan di Pulau Kelor, mereka kembali ke atas kapan Pinisi dan pergi menuju destinasi selanjutnya.


"Ini ikan bakar yang kalian mau, makanlah sepuasnya, Kawan."

__ADS_1


__ADS_2