
Sudah beberapa jam setelah kejadian di tempat wisata tadi terjadi, Ryzel masih saja mengingat peristiwa tersebut di dalam kepalanya.
Dia benar-benar curiga dengan wanita tadi, terasa seperti ada sesuatu hal yang buruk mungkin akan terjadi tak akan lama lagi.
Namun, Ryzel tidak tahu pasti apa masalah yang akan datang. Ini membuatnya gelisah dan tidak nyaman.
“Selain aneh, wanita ini terasa familier, aku seperti pernah melihatnya, tetapi tidak tahu kapan dan di mana aku melihat wanita itu.“ Ryzel berbaring di atas kasur hotel sambil menatap langit kamar.
Wajah dari wanita yang berbuat konyol dan tanpa jelas tersebut memiliki penampilan yang mirip dengan seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya. Sayangnya, Ryzel lupa dengan di mana dan kapan melihatnya.
Setelah Ryzel merenung sambil menatap kosong langit kamar, dia tidak bisa mengingat siapa wanita aneh itu. Dia sungguh lupa dengan jejak ingatan dirinya yang pernah melihat wajah wanita tersebut di suatu tempat.
Menyerah mengingat wanita tersebut, Ryzel bangkit dari kasur dan pergi ke ruang balkon. Kamarnya ada di lantai puluhan, cukup tinggi, dia bisa melihat pemandangan kota dari balkon kamar ini.
Beruntung sekali kamarnya menghadap ke arah tempat di mana Bundaran HI berada, dia bisa melihat betapa indahnya lamu warna-warni bergerak mengelilingi bundaran air mancur.
Sangat efektif jika memiliki pikiran yang membuat gelisah lalu menyaksikan suatu keindahan pemandangan entah kota atau desa. Pikiran yang mengganggu perlahan menghilang dan lenyap, hanya ada ketenangan dan rasa damai yang dirasakan.
Di tengah Ryzel memandangi pemandangan kota, tiba-tiba muncul seekor burung yang datang ke balkon dan bertengger di tiang pagar balkon.
Burung ini tidak takut dengan Ryzel, dia bertengger di dekat tangan Ryzel yang sedang memegang tiang pagar. Burung ini berjenis burung gereja atau burung pingai, dia berdiri di atas tiang sambil ke arah yang sama dengan pandangan mata Ryzel.
Kedatangan burung kecil ini membuat Ryzel terkejut. Setelah mengingat dirinya telah mendapatkan kemampuan untuk bersahabat dengan para binatang.
Ryzel tersenyum, dan dia mengeluarkan tangannya dengan pelan-pelan ingin mencoba mengelus kepala kecil burung ini.
Seakan tidak terancam, burung ini tak bereaksi sedikit pun terhadap tangan Ryzel yang makin lama makin mendekat. Hingga pada akhirnya, tangan Ryzel berhasil menyentuh kepala burung kecil ini dengan dua jari tangannya.
Kepala burungnya terlalu kecil, bahkan sangat kecil kalau dibandingkan dengan kepala burung miliknya.
Selama beberapa detik Ryzel mengelus kepala burung ini, kemudian burung ini bergerak dan terbang ke pundak Ryzel, dia mendekatkan kepalanya dan menggosok leher Ryzel, seolah-olah ingin membalas kelembutan Ryzel kepadanya.
“Hahaha, geli sekali.“
Bulu burung ini membuat Ryzel geli, dan dia tertawa kecil karena gerakan burung satu ini.
__ADS_1
Setelah itu, burung tersebut kembali lagi bertengger di tiang pagar balkon untuk beberapa saat, sebelum akhirnya pergi karena diusir oleh 3 ekor burung walet.
Mereka datang begitu saja lalu mengusir dan membuat takut burung gereja hingga akhir terbang meninggalkan Ryzel.
Ketiga burung walet ini sama tingkahnya dengan burung pingai, mereka bertengger sejenak di atas pagar balkon, kemudian naik ke bahu Ryzel.
Mereka tidak mengelus leher Ryzel, melainkan hanya diam dan memandang ke arah yang sama dengan kepala Ryzel. Setelahnya, mereka kembali ke atas pagar balkon dan menengok ke arah Ryzel.
Mata mereka semua ini menatap Ryzel, tetapi tatapan mereka terlihat aneh, seakan memiliki makna tersendiri dan ada sebuah pesan yang disampaikan.
Alis Ryzel terangkat naik, dan dia menatap ketiga burung ini dengan heran. Dia tak mengerti maksud dari pandangan ketiga makhluk ini.
Di detik berikutnya, ketiga burung walet tersebut terbang dan menghilang dari pandangan Ryzel.
Baru saja burung walet itu pergi, burung lain tiba-tiba datang dan kali ini bukan burung kecil, melainkan burung besar.
“Sial! Mengapa banyak burung yang ikut bersantai ke balkon ini?!“ kata Ryzel sambil menatap burung elang yang berdiri di atas pagar balkon dengan gagah.
Burung elang ini adalah Burung Elang Jawa yang dilindungi oleh negara.
Ryzel memandang sosok burung elang ini beberapa detik, dia baru pertama kali melihat burung elang sedekat ini.
“Tunggu sebentar, aku ingat ada daging steak yang belum aku makan.“
Sebelum ke kamar hotel, Ryzel ingat dirinya membeli beberapa makanan di tempat jajanan dekat kolong Mall GI. Salah satu makanan yang dibelinya adalah steak ayam dan dia belum makan.
Burung elang ini menoleh sekilas kepada Ryzel kemudian dia bertengger diam melihat ke arah depan.
Ryzel menganggap burung elang ini mau dengan tawarannya. Dengan gegas dia pergi ke dalam kamar dan kembali dengan membawa piring yang di atas terdapat daging ayam yang dipotong ala makanan steak.
Merasakan bau daging, burung elang ini berbalik ke arah Ryzel, matanya yang tajam itu melirik ke daging ayam yang ada di tangan Ryzel.
“Kamu lapar? Ini, makanlah daging ini.“ Ryzel mengambil satu potong daging ayam dan menggantung tepat di depan kepala burung elang.
Paruh elang tersebut terbuka dan menelan daging ini semuanya sekaligus. Elang tidak bisa mengunyah.
__ADS_1
Melihat pemandangan ini, Ryzel menjadi senang. Berikutnya, dia meletakkan piring yang berisi potongan daging ayam ini di lantai balkon.
Sangat berbahaya jika memberi makan secara langsung seperti tadi.
Burung elang ini tahu maksud Ryzel dan dia mendarat tepat di dekat piring. Dia mulai memakan daging yang diberikan oleh Ryzel.
Seketika Ryzel tersadar, dia harus mengabadikan momen ini dengan menggunakan ponselnya. Jarang sekali orang menemukan dan bisa sedekat ini dengan burung elang.
Apalagi, burung elang ini bukan burung elang penangkaran, melainkan burung elang liar.
Begitu memikirkan ini, Ryzel pergi ke dalam untuk mengambil ponselnya.
Namun, Ryzel lupa dengan di mana ponselnya diletakkan. Maka dari itu dia butuh beberapa waktu untuk mencari ponselnya.
Lebih dari 1 menit setelah Ryzel masuk ke dalam kamar, dia akhirnya kembali ke balkon sambil membawa ponsel di tangannya.
Pada saat Ryzel tersenyum dan hendak melihat burung elang yang ada di lantai, tiba-tiba wajahnya berubah dan dia menatap ke tempat burung elang berada dengan raut wajah yang terkejut.
“Mengapa ada dua burung elang?!“
Di lantai balkon, Ryzel dengan jelas melihat ada seekor burung elang tambahan yang ikut makan daging ayam di piring.
Burung ini berbeda dengan Burung Elang Jawa, dari warnanya saja berbeda, Burung Elang Jawa berwarna cokelat, sedang burung elang satunya perpaduan antara putih dan hitam, juga memiliki jambul yang berbeda, ditambah ukurannya jauh lebih besar dari Elang Jawa.
“Burung Elang Harpy?!“
Setelah kedatangan satu tambahan ekor elang, Ryzel memesan beberapa daging ayam dari restoran bawah untuk diberikan kepada para elang ini.
Namun, tidak dimasak, Ryzel meminta untuk dibiarkan dimasak setengah matang saja.
Meskipun agak aneh pesanan Ryzel, orang-orang hotel tetap mengantarkan makanan yang dipesan Ryzel ke kamarnya.
Berikutnya, terdapat 6 tambahan piring yang di atasnya tersedia 1 kilogram daging ayam di setiap piringnya, Ryzel letakkan di lantai balkon agar mereka bisa makan sepuasnya.
Baru saja Ryzel ingin duduk dan menyaksikan mereka berdua makan, dia kedatangan burung elang yang baru, dan ini bahkan sedikit lebih besar dari Burung Elang Harpy.
__ADS_1
“Mengapa aku didatangi banyak burung elang? Apa yang terjadi?"