Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 96: Burung Penghibur


__ADS_3

Sejak ada kedatangan Burung Elang Ekor Putih, Ryzel harus menambah porsi daging lagi untuk mereka bertiga. Ternyata mereka semua makan begitu lapar. Mungkin mereka habis terbang dan sangat lapar.


Akan tetapi, peristiwa ini sangat aneh, jarang sekali ada elang di Jakarta, sebab ini bukan habitat dan tempat mereka.


Apalagi, Burung Elang Harpy dan Burung Elang Ekor Putih ini, asal kedua jenis burung ini bukan berasal dari Indonesia. Ada pun Burung Elang Harpy yang memiliki jenis yang berbeda, dan itu ada di Papua, bukan di Jakarta.


Melihat bentuk Burung Elang Harpy ini, jenisnya harusnya yang berasal dari Amerika.


Apakah itu mungkin Burung Elang Harpy satu ini terbang ke sini dari Amerika yang jauh? Seharusnya, itu mustahil.


Jenis Burung Elang Ekor Putih ini pun jarang ada di Indonesia. Dia baru tahu ada Burung Elang Ekor Putih hidup di Indonesia.


Sementara burung elang yang pertama datang ini, jenisnya memang ada di Indonesia dan asli Indonesia, tetapi itu dilindungi, Ryzel tidak bisa memelihara atau menangkap elang ini, dia pasti kena hukum.


Meski mereka bertiga dari jenis yang berbeda, tidak ada satu pun dari mereka yang menyerang satu sama lain, mereka damai-damai saja, terlihat fokus makan dan tak mau mengusik satu sama lain.


Pemandangan ini sangat langka, Ryzel harus mengabadikan momen langka yang terjadi di depannya dengan mengambil gambar banyak.


Beberapa gambar swafoto yang ada wajah Ryzel disimpan, dan puluhan gambar yang hanya menampilkan pemandangan ketiga burung besar ini sedang makan.


Ketika Ryzel mengambil banyak potret gambar, ketiga burung elang sama sekali tidak menghiraukan Ryzel. Mereka sangat fokus memakan daging ayang yang diberikan oleh Ryzel.


“Keren! Burung-burung elang ini sangat gagah! Sama gagahnya dengan burung yang aku miliki! Sugoi!“


Pada saat Ryzel berdiri sambil melihat hasil yang berhasil dia jepret, tiba-tiba Burung Elang Jawa terbang dan bertengger tepat di tiang pagar sebelah Ryzel.


Ryzel bersandarkan di pagar sembari melihat hasil gambar.


Menoleh ke samping, Ryzel menatap burung elang yang berwarna cokelat satu ini, dan burung elang juga menatap Ryzel.


Mata mereka berdua saling memandang beberapa saat, kemudian burung elang tersebut terbang pendek dan ingin bertengger bahu Ryzel.


Namun, Ryzel yang sigap ini merentangkan tangan kirinya untuk dijadikan tempat Burung Elang Jawa ini bertengger.


Mendarat di atas lengan Ryzel, Burung Elang Jawa ini tidak mencengkeram kuat tangan Ryzel, kukunya yang tajam tidak sampai melukai kulit Ryzel. Tampak Burung Elang Jawa tidak mau menyakiti Ryzel.

__ADS_1


Ryzel merasa lega ketika melihat cakar-cakar tajam elang satu ini tidak melukai dia. Sebenernya, jika elang ini mencengkeram biasa ketika bertengger pun, dia tidak akan mudah melukai Ryzel lantaran pertahanan kulit Ryzel 4 kali manusia normal. Terasa tebal.


Bagi orang lain burung ini terasa berat, tetapi bagi Ryzel burung elang yang hinggap di tangannya sama sekali tidak berat, itu ringan.


“Apa kamu sudah kenyang?“ Ryzel membuka pembicaraan kepada Burung Elang Jawa di tangannya. Suasana begitu sunyi apabila dia diam terus seperti ini.


Kepala Elang Jawa bergerak ke bawah dan ke atas seolah membalas pertanyaan Ryzel, terlihat hewan ini mengerti perkataan yang dikeluarkan Ryzel. Sangat aneh.


Elang Jawa tersebut, bergerak perlahan mendekati diri ke Ryzel melalui tangan Ryzel.


Tanpa Ryzel sangka, burung ini menempelkan kepalanya di pipi Ryzel beberapa kali dan terasa sedikit sedang dielus.


Tak lama kemudian, Elang ini berpindah ke tiang pagar balkon dan melihat kedua burung elang yang masih memakan beberapa potongan daging yang tersisa.


Elang ini menonton mereka berdua sesaat. Setelahnya, Burung Elang Jawa tersebut terbang dan pergi usai melihat Ryzel.


Sosok Elang Jawa yang lumayan besar itu tampak mengecil seiring berjalannya detik. Pada akhirnya, sosoknya menghilang ditelan oleh malam yang gelap.


Selanjutnya, Burung Elang Harpy menyelesaikan makannya, ada beberapa potongan daging yang disisakan, tidak dimakan olehnya lantaran itu jatah untuk Elang Ekor Putih.


Kini, sosok Harpy yang besar itu sudah menjadi titik hitam yang lebih gelap dari langit malam yang disinari cahaya rembulan. Hanya bertahan beberapa puluh detik dan itu menghilang sepenuhnya.


Arah kedua burung elang ini terbang searah dengan jalur rel kereta Stasiun Sudirman, mengarah ke selatan kota Jakarta.


Dan terakhir, Elang Ekor Putih yang paling besar di antara ketiga burung elang menghabiskan semua daging yang ada di piring tanpa menyisakan satu potong daging pun.


Ryzel tidak lagi berdiri di samping pagar balkon, melainkan mendekati burung elang dan berjongkok di depannya.


Ada sesuatu yang membuat Ryzel penasaran, dia sedang mencoba sesuatu yang membuatnya penasaran tersebut untuk menemukan jawaban langsung.


Menatap beberapa detik, burung elang besar ini melangkahkan kakinya menuju Ryzel yang ada di depannya. Beberapa piring diinjak oleh burung ini, tetapi itu tidak membuatnya berhenti untuk mendatangi Ryzel.


Sampai akhirnya, burung elang besar ini dan Ryzel saling menyentuh kepala satu sama lain. Kepala burung elang tersebut menggosok ke dahi Ryzel, terasa lembut.


Masih dengan pola yang sama, burung itu pergi balkon kamar Ryzel menuju ke arah yang sama dengan burung elang sebelumnya.

__ADS_1


Sebuahnya senyuman muncul di mulut Ryzel, malam ini tanpa disangka-sangka membikin kegelisahannya sepenuhnya. Meskipun masih teringat peristiwa wanita di tempat wisata tadi sore, dia tidak begitu memikirkannya.


“Kemampuan Afinitas Binatang begitu kuat, bahkan bisa mendatangkan burung elang yang begitu langka dan tidak biasa.“


Melirik ke arah sosok ketiga burung menghilang, Ryzel menampilkan senyuman beberapa saat dan berbalik sembari mengumpulkan beberapa piring yang ada di bawah lantai.


Dia harus membereskan piring-piring ini dan mengepel lantai, kaki burung elang agak kotor dan noda tanah membekas di tangan dan lantai balkonnya.


Setelah membereskan semuanya, Ryzel merebahkan diri di atas kasur sambil melihat-lihat lagi fotonya yang menampilkan gambar pemandangan ketiga elang yang sempat mampir ke balkonnya.


Dia memilih-milih beberapa foto yang ada wajahnya dan ketiga sosok burung elang yang sedang makan. Berniat untuk mengirimkan foto-foto tersebut ke media sosial.


Momen yang sangat langka dan keren, cocok untuk dipamerkan. Untuk menghindari sesuatu tuduhan palsu, Ryzel juga mengirimkan foto-foto ketika burung tersebut pergi, dia sempat mengambil gambar burung-burung elang itu saat pergi. Bertujuan supaya orang lain percaya dirinya tidak memelihara burung yang dilindungi oleh negara.


“Sangat keren meski sudah puluhan kali aku memandang foto-foto elang ini. Mereka terlihat elegan dan berani, lebih lagi mata bulat tajamnya yang tampak menakutkan.“


Beberapa foto berhasil di unggah ke media sosial Instagrem, dan ada 1 video pendek tentang burung elang yang diunggahnya di Tiktod.


Selain foto, Ryzel juga merekam ketiganya makan walau tidak panjang durasinya.


Baru beberapa menit foto dan video Ryzel unggah, itu langsung disukai oleh puluhan ribu orang, dan ada ratusan komentar dari penonton serta penggemar.


Ryzel malas untuk melihat para komentar-komentar netizen, dia lebih memilih menunda membaca komentar postingan sampai besok. Sekarang sudah saatnya tidur malam karena jam telah menunjukkan pukul 11 malam.


Sistem tidak mengeluarkan tugas masuk di malam nanti. Jadi, untuk apa dia begadang sampai malam. Lagi pula, Ryzel bukan penggila gim mobile atau gim kompetitif yang berbasis 5 lawan 5, tak perlu begadang untuk menaikkan peringkat akun gim.


Ketika tidur, Ryzel tidak tahu bahwa ketiga elang yang telah diberinya makanan kembali lagi ke balkon kamar. Ketiganya bertengger di tiang pagar sambil melihat pemandangan air mancur.


Di pagi berikutnya, Ryzel terbangun lantaran ada bunyi alarm yang begitu kencang dan nyaring. Melakukan kegiatan paginya seperti biasa, yaitu mandi dan berganti pakaian. Namun, Ryzel tidak keluar dari kamar setelah itu, dia memesan makanan untuk sarapan paginya di kamar lantaran dirinya menemukan ketiga elang masih berdiri di balkonnya.


“Mengapa kalian di sini?“


Di suatu rumah yang sederhana, terlihat sosok ibu dan anak sedang mengobrol di dalam ruangan keluarga.


Mereka berdua membahas sesuatu yang sangat seru sampai-sampai di antara mereka berdua tertawa.

__ADS_1


“Benar, Bu. Aku Yakin dia akan buruk namanya jika tidak menerima kita sebagai keluarganya lagi. Kita akan berhasil mengambil semua hartanya, Bu!"


__ADS_2