
Ryzel keluar dari kamar usai berbenah persiapan keberangkatan menuju ke lokasi tugas masuk.
Langkah kakinya mengarah ke lobi hotel dan ia pergi ke restoran hotel.
Di sana, sudah ada Haimi yang memakai jaket kuning dengan celana pendek sedang duduk sambil menyaksikan Ryzel berjalan menuju ke arahnya.
Haimi tersenyum dan menatap Ryzel dengan pandangan nata yang senang. Kedatangan Ryzel merupakan awalan hari yang baik.
“Bagaimana tadi malam, apakah kamu bermimpi indah?“ Haimi bertanya sambil memiringkan kepalanya.
“Aku lupa mimpi apa semalam,” jawab Ryzel sembari melirik mata Haimi. “Bagaimana denganmu?“
“Kamu mau tahu?“ Haimi memberikan senyuman yang membuat Ryzel menjadi penasaran.
“Ya, mimpi apa?“ Alis mata Ryzel terangkat dan ia mengangguk mengiakan.
“Kamu sedikit bergeser ke arahku agar duduknya lebih dekat denganku, aku ingin bisikkan.“
“Umm … oke.“
Dengan perasaan yang aneh, Ryzel mendekatkan diri kepada Haimi dan membiarkan Haimi membisikkan sesuatu kalimat.
Begitu Haimi berbisik di telinganya, mata Ryzel membulat, dan pipinya muncul rona merah yang makin lama makin pekat, bahkan terlihat asap yang mengepul samar-samar dari wajahnya.
Informasi yang dibisikkan oleh Haimi sangat mengejutkannya. Ternyata Haimi bermimpi tentang dirinya.
Awal mendengar bisikan Haimi, Ryzel tidak begitu mempermasalahkan atau bagaimana, biasa saja. Namun, begitu tahu dirinya di mimpi Haimi melakukan rudapaksa terhadap Haimi, Ryzel menjadi malu sekaligus terkejut.
Apakah isi pikiran Haimi brutal seperti itu?
Ryzel bingung dengan apa yang ada di dalam pikiran wanita ini. Haimi bahkan berani mengungkapkan mimpinya yang agak aneh dan mengerikan.
Dari ekspresinya, Haimi seperti senang terkena rudapaksa dari Ryzel, tampak seperti tidak keberatan dan ingin lagi.
“Anu, itu beneran kamu mimpi seperti itu?“ tanya Ryzel dengan wajah yang tak percaya.
Haimi mengangguk dengan cepat sambil menampilkan wajahnya yang merah karena terlalu malu. “Iya, Ryzel. Aku baru pertama kali mimpi seperti itu. Aku kaget setelah bangun dari mimpi, dan kemudian aku baru sadar bahwa kasur yang aku tiduri basah.“
Tubuh Ryzel tersentak dan ia menatap wajah Haimi dengan ekspresi yang berubah-ubah. Ryzel sama sekali tidak mengerti dengan Haimi. Wanita ini terlalu jujur apa adanya. Tidak malu membeberkan hal tersebut ke lawan jenis.
__ADS_1
“Lupakan itu, Haimi. Kamu jangan berpikir aneh-aneh, lebih baik kita pesan makanan. Oh, satu lagi. Aku ingin memberi tahu sesuatu padamu.“ Ryzel mengibaskan tangannya lalu memegang buku menu di atas meja dan bersiap untuk memesan makanan.
“Sesuatu? Apa itu?“ Wajah merah Haimi menghilang detik berikutnya, berganti dengan mimik wajah yang penasaran. “Bisakah kamu memberi tahu hal itu sekarang?“
“Nanti, Haimi. Kita pesan makan dahulu, setelah sarapan aku akan memberi sesuatu itu kepadamu.“
“Emm … baiklah.“ Haimi mengalah dan ia setuju dengan permintaan Ryzel.
Seorang pelayan restoran datang dan mulai mencatat makanan yang dipilih oleh keduanya. Ryzel masih sama pemilihan makanannya dengan sarapan pagi yang kemarin. Begitu juga Haimi, tak berbeda.
Setelah itu, pelayan tersebut kembali ke dapur untuk meneruskan pesanan makanan keduanya ke koki dapur.
Mereka berdua mengobrol seperti biasa, masih dengan sikap Haimi yang aneh dan agak mencurigakan. Haimi menjadi lekat dengan Ryzel, bahkan ia tidak masalah jika benda besarnya menempel di lengan Ryzel.
Sementara itu, Ryzel sedang berkeringat dingin sambil menahan adik kecilnya untuk tidak bangun. Godaan Haimi terlalu besar, sama seperti milik Haimi yang besar luar biasa.
Meskipun kedua benda itu ditutupi jaket, benda itu tetap terlihat besar dan memikat mata.
Untungnya, pelayan restoran datang dan tak sengaja memberhentikan gerakan diam-diam Haimi kepada Ryzel.
Merasakan benda besar itu tidak menabrak tangannya lagi, Ryzel merasa lega dan mengeluarkan napas diam-diam.
Haimi mengikuti gerakan Ryzel dan ia langsung memulai sarapan pagi.
Sehabis makan, mereka berdua masih di tempat duduk dalam restoran sambil memakan hidangan kecil yang mereka berdua pesan.
Sesuai dengan janji sebelum makan, Ryzel akhirnya mengungkapkan tentang sesuatu hal kepada Haimi.
“Pergi? Mengapa mendadak seperti ini, Ryzel?“ Haimi memandang rumit wajah Ryzel dengan matanya bergetar.
“Aku sebenarnya ingin memberi tahumu kemarin, tetapi aku lupa.“ Ryzel canggung ketika melihat tatapan Haimi mengarah pada wajahnya.
“Ryzel, tolong jangan pergi secepat ini ….“
Haimi mengambil tangan Ryzel dan memohon kepada Ryzel untuk tidak pergi dengan cepat.
Sorot mata Haimi yang begitu memohon dan dipenuhi oleh harapan, membuat Ryzel bingung dan rumit.
Ryzel takut dengan hukuman Sistem, ia takut apabila dirinya menunda keberangkatan, dirinya akan terlambat tiba ke lokasi tugas masuk.
__ADS_1
Namun, di sisi lain, dirinya kasihan dengan Haimi karena wanita ini belum siap ditinggalkan olehnya.
Begitu memikirkan hal ini, Ryzel menatap sepasang mata Haimi dengan pandangan yang lemah lembut. “Maaf, Haimi. Aku harus pergi hari ini. Aku—”
“Ryzel, jangan pergi, aku mohon ….“ Mata Haimi perlahan mulai diisi oleh air mata. Haimi merasa sangat sedih jika Ryzel pergi.
“Haimi, tidak bisa. Aku harus pergi hari ini, itu tidak bisa dibatalkan.“ Ryzel menatap mata Haimi dengan wajah yang rumit.
Setelah mendengar ucapan Ryzel, Haimi menangis dan menangkupkan wajahnya.
“Haimi, jangan menangis, aku akan ke sini lagi, aku berjanji,” ucap Ryzel dengan panik.
Orang-orang yang berada di dalam hotel menoleh dan memandangi Ryzel. Mereka memandang ke arah Ryzel dengan sorot mata yang tidak senang.
Ketika mendengar ucapan Ryzel, tangisan Haimi mulai mereda. Setelah itu, Haimi memalingkan wajahnya dan melihat Ryzel. “Ap–apakah kamu akan ke sini lagi nanti?“
“Ya, aku berjanji.“ Ryzel mengangguk tegas, dan kemudian tangannya mengambil tisu untuk mengusap air mata yang menempel di pipi dan kelopak matanya.
Ryzel merasa agak lega setelah melihat Haimi berhenti menangis. Orang-orang tidak lagi melihatnya seperti melihat sesuatu yang aneh.
Perasaan yang menyesakkan dadanya perlahan mulai menghilang saat Ryzel mengusap air mata yang melekat di sekitar kelopak mata dan pipi. Tergantikan oleh perasaan yang berbunga-bunga dan nyaman.
“Ryzel, sebelum kamu pergi, bisakah kamu menuruti kemauanku? Kamu masih ada waktu, kan?“ Haimi memegangi tangan Ryzel. Mengusapnya secara lembut dan pelan.
“Bisa, asalkan kamu jangan menangis seperti tadi. Aku masih ada waktu enam jam lagi sebelum berangkat ke bandara.“ Ryzel mengangguk lembut. Menatap mata milik Haimi seraya tersenyum.
“Kalau begitu, kamu ikut aku sekarang.“
Haimi mencoba menarik Ryzel, tetapi ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh Ryzel sedikit pun.
“Mau ke mana, Haimi?“
“Katanya kamu mau menuruti kemauanku? Ikut saja, aku tidak akan membawa ke tempat yang jahat.“
“Baiklah.“
Ryzel membiarkan Haimi menarik tangannya dan membawanya pergi ke suatu tempat di hotel.
Semua makanan sudah Ryzel bayar, termasuk makanan kecil yang dimakan oleh keduanya barusan.
__ADS_1