
Mendengar suara yang pernah didengarnya, Ryzel mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang datang ke mejanya.
“Ya, boleh. Duduk saja.“ Ryzel menundukkan kembali kepalanya dan kembali melanjutkan menggigit roti lapisnya.
Wanita yang datang ini duduk di kursi depan Ryzel dengan perasaan yang canggung.
Ryzel melirik wanita yang duduk di seberangnya beberapa kali, kemudian dia fokus memakan roti lapisnya sampai habis.
“Anu, boleh kita berkenalan?“ Wanita ini mengulurkan tangannya ke depan Ryzel dengan pipi yang memerah.
Alis Ryzel terangkat naik, ia menegakkan tubuhnya, membersihkan tangannya dengan tisu dan menggenggam tangan wanita tersebut.
“Aku Ryzel Dicky, salam kenal,” ucap Ryzel dengan senyum di wajahnya.
Wanita tersebut membalas sembari tersenyum dengan pipinya makin merah, “Amanda Belinda, salam kenal juga.“
“Oh, halo, Amanda.“ Ryzel mengubah senyumannya menjadi lebih ramah.
Melihat senyuman Ryzel ini, Amanda benar-benar tidak kuat, dan dia segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ryzel.
“Umm … iya.“
“Anu, kamu tidak segera makan makanannya? Nanti dingin makanannya,” ujar Ryzel yang sadar bahwa makanan yang dibawa Amanda belum dimakan, bahkan belum disentuh.
Mendengar ini, Amanda langsung tersadar dan tingkahnya tampak panik di depan Ryzel. “Eh, iya, aku lupa, aku akan segera makan.“
Setelah itu, Amanda memakan roti lapis yang juga sama apa yang dimakan oleh Ryzel dan beberapa potongan salad sayur.
Selagi Amanda makan, Ryzel juga ikut menghabiskan makanan roti lapis kedua dan ketiga atau yang terakhir. Masih ada banyak roti yang dibawa Ryzel, dia mengambil 9 makanan yang berbeda. Maka dari itu, mejanya terlihat penuh.
Ryzel sama sekali tidak malu dengan ini, dia malas memanjakan sifat gengsi pada dirinya sendiri. Lebih baik dia makan sampai kenyang daripada makan sedikit karena gengsi tidak ingin terlihat makan banyak dan rakus.
Lagi pula, dia di hotel ini bayar dan bukan menumpang gratis.
Ketika Ryzel sibuk makan, Amanda sesekali melihat Ryzel yang duduk di depannya tengah melahap semua makanan yang ada di atas meja.
Amanda terkejut melihat ini, dia tidak menyangka bahwa pria tampan yang dia temui ini memiliki nafsu makan yang besar, bahkan dia tidak berlagak keren, pria ini benar-benar tak malu.
Sifat ini bukan sesuatu yang Amanda benci, dia menyukai sifat Ryzel yang apa adanya. Dia tidak berpura-pura keren di depan seorang wanita. Agak terlihat acuh tak acuh, tetapi juga ada sisi perhatiannya.
__ADS_1
Makanan yang dibawa Amanda hanya dua piring saja, terdiri makanan utama dan makanan pembuka sekaligus pencuci mulut, tidak lupa membawa segelas susu untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Maka dari itu, Amanda lebih cepat menghabiskan makanannya dibandingkan Ryzel karena jumlah porsinya yang sedikit.
Beberapa menit kemudian, Ryzel menyelesaikan makanannya tanpa ada makanan yang tersisa di atas piring.
Usai menghabiskan makanan, Ryzel meminum air putih dan susu yang sudah dia bawa, kemudian dia menyeka mulutnya dan duduk santai menunggu semua makanan turun ke dalam perutnya.
“Kamu tidak kembung atau kekenyangan?“ tanya Amanda menunjukkan ekspresi yang sedikit terkejut.
Ryzel menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan santai, “Tidak, ini memang biasa porsi yang aku makan.“
“Ouh, begitu.“ Amanda menahan rasa terkejutnya dan mulai membiasakan diri dengan perihal aneh pada pria tampan di depannya. “Omong-omong, kamu orang Thailand?“
Amanda menganggap Ryzel orang Thailand karena bahasa yang digunakan Ryzel adalah bahasa Thai. Oleh sebab itu, Amanda mengobrol dan bertanya kepada Ryzel menggunakan bahasa Inggris. Dia tidak bisa menggunakan bahasa Thailand, alternatifnya bahasa Inggris karena itu universal.
“Bukan, aku orang Indonesia.“ Ryzel menggelengkan kepalanya. Dia mengubah bahasanya menjadi bahasa Indonesia.
Mendengar suara Ryzel yang memakai bahasa Indonesia, Amanda terkejut sekali lagi, dia memandang Ryzel dengan pandangan yang tak percaya.
Matanya terbelalak sesaat, dia menatap Ryzel tidak senang. “Mengapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu adalah orang Indonesia juga?“
“Kamu tidak bertanya tentang itu, dan kamu juga yang memulai lebih dahulu mengobrol dengan bahasa Inggris.“ Ryzel mengangkat kedua bahunya. Dia pun tidak sadar bahwa dirinya belum memberi tahu tentang kewarganegaraan.
“Oke. Jangan bahas itu. Lebih baik kita bahas yang lain.“ Amanda menyingkirkan rasa kesalnya, dan merenung sejenak. “Kamu berasal dari daerah mana? Ke Jakarta dalam rangka pekerjaan?“
“Tidak, aku ke sini hanya untuk berlibur. Aku berasal dari Jakarta juga, tetapi aku tidak menetap.“
“Maksudnya? Aku tidak mengerti.“
“Aku sering pergi ke mana-mana, aku tidak punya tinggal utama,” kata Ryzel dengan tenang tanpa malu.
Amanda menjadi heran dengan Ryzel. Sebuah pikiran tentang Ryzel yang miskin masuk ke dalam kepalanya. “Kamu tidak punya rumah? Tetapi kamu bisa tinggal di hotel ini? Mengapa kamu tidak menabung dan membeli rumah atau tempat tinggal lain?“
“Bukan, bukan persoalan uang. Aku bisa saja membeli rumah, tetapi menurutku percuma karena aku tidak akan sering berada di rumah. Aku kerap pergi liburan ke daerah lain.“
“Kamu seorang traveler yang suka jalan-jalan ke luar negeri? Atau apa?“ Amanda bertanya untuk memastikan.
“Iya, aku seorang traveler,“ jawab Ryzel mengangguk membenarkan tebakan Amanda.
“Oh, aku mengerti apa yang kamu maksudkan. Namun, aku sarankan kamu membeli rumah suatu saat ini sebelum harga tempat tinggal mahal. Tanah makin lama makin mahal, kamu harus ingat bahwa tempat tinggal itu hal yang paling penting.“
__ADS_1
“Aku tahu itu. Aku juga memiliki rencana untuk membeli rumah suatu saat nanti.“
“Oke. Habis ini kamu ada urusan?“ Amanda memiringkan kepalanya dan menatap Ryzel dengan sorot mata yang lembut.
Kepala Ryzel bergerak ke kanan dan ke kiri. “Tidak, aku bebas hari ini. Memangnya ada apa?“
“Kalau memang seperti itu, aku ingin mengajak kamu pergi bersamaku. Aku tidak memaksa, jika keberatan kamu boleh menolaknya,” ucap Amanda dengan kepala yang makin lama makin tertunduk dan menurunkan pandangannya.
Dia malu mengajak seorang pria yang baru dikenal untuk jalan bersama. Amanda belum pernah melakukan hal ini, mengajak seorang pria asing dekat dengannya.
Melihat Ryzel yang kelihatan seperti pria yang baik dan memiliki getaran positif yang terpancar dari tubuhnya, membuat Amanda berani mengajak pria berjalan bersama.
Ryzel tidak langsung menjawab ajakan Amanda, melainkan bertanya tentang tempat, “Ke mana perginya?“
“Ke bioskop di Mall GI. Aku tidak sendiri, ada satu orang temanku yang ikut juga,” balas Amanda yang tidak terlihat berbohong.
Merenung beberapa detik untuk menimbang-nimbang keputusan ini, dan Ryzel menemukan jawabannya. “Baik, aku ikut.“
Dia berpikir tidak ada kegiatan, sangat membosankan jika diam di kamar. Pergi bersama wanita cantik ini bukan ide yang buruk.
“Oke! Habis ini kamu ikut aku ke rumah temanku. Tidak apa-apa, kan?“
“Ya, tidak masalah.“
“Baiklah.“
Setelah mengobrol tentang hal yang tidak penting, seperti membahas tentang idola Korea Amanda, mereka berdua pergi dari hotel dan naik Gokar atau ojek mobil menuju ke suatu tempat.
Ryzel sempat izin kepada Amanda untuk pergi sebentar, dia ingin mengambil tasnya yang terdapat peralatan siaran langsung dan beberapa barang penting lainnya.
Penampilan Ryzel sangat sederhana sekali, dia tidak mengubah bajunya dan tetap memakai kaos hitam lengan pendek, menggendong tas di punggungnya. Tidak lupa untuk membawa topi juga, ini cukup penting bagi Ryzel.
Di dalam mobil, Ryzel dan Amanda terlihat makin dekat, mereka berdua tidak canggung lagi seperti sebelumnya, obrolannya berjalan secara alami dan lancar begitu saja.
“Ternyata kamu Ryzel yang sedang populer di Tiktod! Aku baru sadar!“ seru Amanda di dalam mobil. Dia tidak menyangka bahwa pria yang ditemuinya juga memiliki identitas yang bagus. “Kamu tahu tidak? Temanku yang sekarang kita kunjungi adalah penggemar kamu. Setiap kami bekerja, dia pasti akan membahas tentang kamu, terlebih di jam istirahat, dia selalu menonton video kamu.“
“Apakah itu benar?“
“Iya, dia penggemar beratmu. Aku tidak tahu bagaimana reaksi dia ketika aku membawamu kepadanya. Mungkin dia akan berguling di trotoar.“
__ADS_1