
"*****? Bukankah itu artinya berciuman? Tentu, aku tahu."
"Aku tahu *****, aku sering melakukannya bersama gulingku yang bergambar waifu kesayangan aku, bahagia sekali!
"Kurasa aku pernah mendengarnya, apakah itu makanan?"
"Beliau satu ini mengasihi hamba sebuah pertanyaan yang sangat berisi."
"Anak kecil dilarang menonton siaran langsung yang satu ini, berbahaya, kalian belum cukup umur."
"Mengapa Ryzel bertanya tentang sesuatu yang sangat-sangat privasi?"
"Aku dan pacarku sering melakukannya, sungguh, itu sangat menyenangkan untuk berbagi sisa makanan di dalam mulut."
"Hoek!"
"..."
Ryzel memandang rentetan komentar para penonton di layar kaca ponselnya. Sebuah senyuman terbentuk di wajah Ryzel saat membaca isi dari komentar orang-orang terhadap pertanyaannya. Sebetulnya, Ryzel menahan dirinya untuk tidak tertawa.
Ternyata dia salah menyebut nama makanan menjadi hal yang ambigu dan terdengar jorok.
"Anu, maksudku, apa kalian tahu makanan cipuk?" Ryzel merevisi pernyataannya yang tadi telah dilontarkan agar tidak salah paham.
Orang-orang yang mendengar pertanyaan Ryzel menjadi paham. Pasalnya, banyak orang yang terkejut ketika Ryzel menanyakan sesuatu yang kotor dan bersifat sangat dewasa.
Nyatanya, dia tidak bermaksud menanyakan tentang hal itu.
Sekejap, orang-orang yang ada di ruang siaran langsung Ryzel mengirimkan komentar-komentarnya yang berasal dari tanggapan diri sendiri.
"Oh, cipuk, aku pernah memakannya sekali, itu pun aku mencuri dari temanku, sampai sekarang kita bermusuhan karena hal besar itu."
"Pernah coba memakan makanan itu, rasanya lumayan enak!"
"Aku sering, cipuk dengan nasi adalah kombinasi makanan paling enak di tahun ini."
"Makanan Bandung, ya? Aku belum pernah karena di daerahku tidak ada."
"Cipuk sangat enak, terlebih dikombinasikan dan dimakan bersama dengan pizza, burger, kebab, dan nasi goreng."
"Kukira cipuk itu singkatan dari kata cium dan puk-puk."
"..."
Membaca deretan komentar yang tak bergulir tak pernah berhenti ini, Ryzel hampir saja tertawa. Banyak sekali pelawak di ruang siaran langsungnya, dia pikir dia harus mengadakan lomba Stand Up siapa yang paling lama berdiri di atas panggung.
"Bagi kalian yang belum pernah coba, biar aku deskripsikan makanan ini."
Ryzel mengambil satu makanan cipuk yang memiliki ukuran sedang, tidak kecil ataupun besar.
Begitu dia mengunyah makanan ini di dalam mulut, wajahnya terlihat tenang sambil mencoba memikirkan kata yang tepat untuk menggambarkan rasa dari makanan ini.
"Cipuk ini memiliki rasa yang enak dan ...." Ryzel terus mengunyah makanan lalu menelannya. "Hanya itu saja."
"Penggambaran yang teramat detail. Orang ini cocok menjadi seorang review makanan atau pengulas makanan di kereta."
"Sangat bisa dibayangkan betapa enaknya makanan cipuk hanya dengan mendengar penggambaran yang diberikan Ryzel."
"Entah kenapa aku tiba-tiba ingin keluar setelah belasan tahun tidak pernah keluar kamar setelah mendengar kata-kata orang ini."
"Tolong kirimkan cipuk kepadaku, aku penasaran!"
Orang-orang berbondong-bondong mengomentari tingkah Ryzel yang sangat membuat orang kesal dan jengkel.
Mereka semua sudah berekspektasi Ryzel akan menerangkan rasa makanan cipuk dengan sangat akurat dan rinci.
Untuk sekian kalinya, mereka dikecewakan oleh harapannya sendiri. Jadi, jangan terlalu banyak berharap, lebih lagi kepada dia.
Rina dan Rank yang duduk di dekat Ryzel pun merasa kesal, ingin rasanya mencium pipi tampan ini, terlalu tampan untuk dikasari.
Ryzel terus mengobrol dengan orang-orang di ruang siaran langsung, Rina dan Rani pun sesekali disorot kamera. Mereka bertiga menikmati makanan cipuk di pinggir jalan seperti ini.
Mereka ada di tempat duduk umum lebih dari satu jam, mereka tidak hanya memakan makanan cipuk, tetapi banyak makanan jajanan yang lain.
__ADS_1
Di sana, mereka menghabiskan makanan dengan suasana yang menyenangkan. Obrolan mereka sangat asyik, Rina pun kerap berinteraksi dengan para penonton yang menonton siaran langsung Ryzel di malam hari.
Datanglah waktu di mana pergantian waktu akan dimulai dalam beberapa detik.
Mereka semua pergi kamar hotel masing untuk menyaksikan malam tahun bari di balkon kamar yang kebetulan menghadap ke arah pusat perkotaan.
Ryzel mematikan siaran langsung terlebih dahulu, kemudian dia mengaktifkan lagi siaran langsungnya tepat ketika dia sudah berada di balkon kamar.
Mengarahkan kamera siaran langsung ke pemandangan kota yang ramai oleh kendaraan, Ryzel berbicara dengan penggemarnya yang sangat asyik untuk diajak mengobrol.
"Ada sesuatu yang ingin kalian lakukan di tahun yang akan datang ini?" tanya Ryzel kepada para penonton sambil menunjukkan keindahan Kota Bandung di malam hari.
Biasanya, setiap orang memiliki keinginan atau sesuatu cita-cita yang ingin mereka capai di setiap tahun, dan mereka membuat list atau daftar keinginan yang ingin dicapai, entah itu perbaikan diri atau prestasi.
"Resolusi? Aku ingin bisa tidur pagi lagi."
"Setelah membuat daftar resolusi, aku merasa diriku tak ada guna."
"Tak ada resolusi, percuma saja, aku sama sekali tidak berubah di setiap tahunnya."
"Aku akan mencari bakat di tahun selanjutnya."
"Resolusiku sangat banyak, tidak bisa aku tuturkan di sini saking banyaknya, tetapi tenang, cintaku kepadamu lebih banyak ketimbang resolusiku sendiri."
"Tentu, resolusi di tahun yang baru ini adalah memperbaiki penampilan, aku lelah menjadi seorang pria jelek. Sama sekali tidak dihargai oleh orang-orang, terlebih para wanita."
"..."
Rentetan komentar memiliki segala sesuatu yang dilontarkan, Ryzel membaca komentar dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah.
Tidak sedikit orang yang suram di siaran langsungnya. Suram di sini bukan sesuatu yang buruk, melainkan kekurangan yang mereka miliki terlalu banyak sehingga di tahun sebelumnya mereka teramat jauh dari daftar resolusi yang mereka buat di tahun sebelumnya.
Perasaan sedih, tertawa karena lucu, sedikit kesal, dan senang dialami oleh Ryzel dalam satu waktu.
"Kuharap kalian mampu memenuhi daftar resolusi yang kalian buat sendiri di tahun baru. Tetap semangat dan jangan menyerah."
Ryzel memberikan ucapan positif yang disenangi oleh banyak orang.
Perubahan aktivitas atau rutinitas tidak bisa dilakukan secara mendadak dan besar, harus diawali dengan mengubah hal yang mudah dan terkecil terlebih dahulu di dalam kegiatan kita sehari-hari.
Perlahan-lahan, tetapi hasilnya pasti. Jangan terlalu dipaksakan yang ada nanti tidak konsisten melakukan perubahannya karena terasa berat.
Mendengar pernyataan kalimat Ryzel, banyak orang di ruang siaran langsung yang setuju, semua harus dilakukan secara bertahap untuk mencapai tujuan, tidak bisa langsung ke final sebelum menyentuh rintangan yang ada di tengah jalan.
Duar! Duar!
Sebuah suara petasan yang meledak meriah di atas langit terdengar di telinga Ryzel.
Para penonton terkejut dengan suara ini dan mereka melihat banyak petasan yang diluncurkan ke langit begitu indah.
Dia tampaknya telah melewati detik-detik pergantian tahun dan hari.
Menatap layar ponsel, Ryzel tersenyum canggung dan berkata, "Selamat tahun baru, Semuanya!"
Di beberapa detik berikutnya, ruang siaran langsung dipenuhi oleh ucapan selamat tahun baru.
Ratusan ribu orang, tepatnya 279 ribu orang yang menonton hampir semua mengirimkan komentar hampir di waktu bersamaan.
"Akhirnya, tahun yang baru telah datang. Aku tidak sabar menantikan ceritaku di tahun ini."
"Sudah saatnya ke hotel untuk bermain."
"Hotel akan ramai sebentar lagi. Kalian sudah memesan kamar?"
"Pecinta wanita telah bergerak sekarang, sepertinya akan banyak yang menikah mendadak."
"Aku berharap tahun ini menjadi tahun yang luar biasa bagiku."
"..."
Setelah mengucapkan selamat tahun baru kepada para penonton di ruang siaran langsung, Ryzel berdiam diri sejenak menyaksikan kembang api yang meledak di atas langit dengan lampu berwarna-warni.
Belasan menit kemudian, dia mematikan siaran langsungnya karena besok dia ada acara dengan Rina dan Rani.
__ADS_1
Sebelum pergi tidur, Ryzel mengirimkan beberapa pesan kepada Rina dan Rani menanyakan tentang kegiatannya di hari besok.
Rina dan Rani mengonfirmasikan bahwa acara besok pasti dilaksanakan. Mereka bertiga ingin pergi ke suatu tempat di Bandung, yakni tempat wisata The Great Asia Africa.
Begitu melihat pesan dari mereka, tangan Ryzel menarik selimut dan dia tidur di kasur sampai matahari timbul.
Keesokan harinya, Ryzel bersama wanita kembar keluar dari hotel bersamaan dan berdiri di depan hotel, mereka menunggu taksi online yang telah dipesan.
"Sudah jam delapan, tidak apa-apa kita ke sana di jam sekarang?" tanya Ryzel yang tidak tahu-menahu tentang lokasi mereka pergi.
Rina menggelengkan kepalanya, dan menjawab, "Tentu saja itu baik-baik saja, siapa yang melarang kita pergi? Malah kita ini terbilang terlambat karena tempat itu sudah buka sekarang."
"Buka jam delapan?"
"Iya, benar."
Saat memeriksanya di internet, ucapan Rina itu benar, untuk hari Minggu mereka buka di jam 8 pagi dan tutup jam 6 sore atau malam
"Tampaknya seru di sana, kalian berdua pernah ke sana sebelumnya?" Ryzel menoleh menatap keduanya.
Dilihat dari gambar-gambar yang tersebar di internet, tempat yang ingin dia kunjungi terlihat menarik, Ryzel pribadi cukup ingin tahu dengan apa yang ada di sana.
"Belum. Maka dari itu, kami berdua mengajak kamu agar kita bisa ke sana bersama-sama. Kamu juga belum pernah ke sana, bukan?"
Ryzel menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Iya, kalau aku pernah ke sana, aku tidak akan bertanya tentang jam bukanya."
Tepat ketika Ryzel mengatakan kalimat tersebut, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan mereka berdua.
"Dengan Mbak Rani?"
"Iya, saya sendiri."
"Baik, saya adalah supir taksi yang Anda pesan. Ingin berangkat sekarang?"
"Iya, Pak."
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil tersebut dan pergi ke tempat lokasi yang mereka bicarakan.
Di dalam mobil, Rina dan Rani memberi tahu Ryzel tentang peraturan tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar saat tiba di sana.
Selain peraturan, di sana sudah terdapat banyak restoran makanan yang wajib dicoba makanannya. Untuk apa jika membawa makanan di luar jika di dalam sana banyak yang menjual makanan yang terbilang enak.
Ryzel mengerti ini dan dia mengikuti apa yang diberitahukan oleh keduanya.
Lagi pula, Ryzel sudah makan di restoran hotel tadi pagi bersama mereka berdua. Perutnya masih ada isinya, mungkin di siang hari dia haru mengisi lagi.
Jadi, tidak perlu membawa makanan dari luar. Pasalnya, Ryzel sendiri jarang membawa bekal atau beli di tempat lain ketika pergi berwisata.
Lebih dari setengah jam mereka duduk tenang di dalam kursi mobil, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di suatu tempat, mereka telah sampai di The Great Asia Africa.
Usai membayar, mereka bertiga berjalan ke dalam untuk membeli tiket masuk.
Ketika di depan pintu masuk, mereka sempat melihat spanduk besar yang terdapat sebuah tulisan ucapan terima kasih karena para pengunjung tidak membawa makanan dan minuman dari luar tempat wisata ini.
Lagi-lagi apa yang wanita kembar ini ucapkan benar dengan bukti nyata, tidak seperti para peja—pejudi, benar, pejudi sangat sulit dipegang omongannya.
Pada saat mereka masuk ke dalam, mereka bisa melihat banyak toko, kemudian berjalan ke depan lagi, mereka bisa melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan.
Di dekat bukit kecil terdapat bangunan yang memiliki warna yang beragam, bangunan-bangunan tersebut terdiri dari banyak bangunan dari berbagai negara.
Ada China, Jepang, Afrika, India, dan beberapa yang lain. Tampak sangat cantik, pemandangan alam di sini menambah kesan yang lebih baik lagi.
Akan tetapi, melihat denah tempat ini secara langsung, Ryzel rasa ini dapat membuat banyak pengunjung kelelahan karena luas tempatnya yang cukup besar.
Menggerakkan kepalanya ke samping, Ryzel melirik kedua wanita yang berdiri di sebelahnya tengah memotret keindahan tempat ini dengan ponsel.
Seharusnya, mereka berdua kuat untuk mengeksplorasi banyak tempat di sini. Mengingat mereka masih muda.
Ryzel tidak memikirkan tentang dirinya, tidak berguna jika dia memikirkan dirinya tentang masalah ini. Fisiknya yang lebih kuat berkali-kali lipat dari seorang pegulat, binaragawan, dan ahli bela diri, tentu tidak masalah dengan luat tempat ini.
Namun, sebelum mereka ke bawah, kedua wanita pergi toko-toko yang ada di dekat pintu masuk.
"Wanita, mereka tidak berbeda, sama-sama suka dengan kegiatan berbelanja."
__ADS_1