Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 87: Balon Linh?


__ADS_3

Mendengar suara Linh, Ryzel langsung bergerak sesuai dengan permintaan Linh. Dia menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh Linh dan membuat tubuh Linh berdiri.


Setelah itu, Ryzel berdiri di belakang Linh dan menatap sosok Linh yang membelakangi dirinya.


Saat ini, Linh sedang melakukan sesuatu di depan Ryzel tanpa mau menunjukkan apa yang sedang dilakukannya.


Ryzel terus menunggu sambil memperhatikan sosok Linh. Pandangannya tidak ke mana-mana dan terfokus ke Linh saja.


Setelah beberapa menit menunggu, tangan Linh tiba-tiba memegang kain putih entah dari mana, tetapi Ryzel melihat itu sepertinya dari dalam baju Linh karena baju Linh bergerak dan bergoyang-goyang.


Berikutnya, tubuh Linh berbalik dan menampilkan suatu pemandangan yang luar biasa indah kepada Ryzel.


Sosok tubuh Linh yang memakai kaos lengan panjang itu memiliki tambahan ekstra, terdapat bulatan besar hingga kaus itu sedikit terangkat.


Penampilan Linh sekarang sangat berbeda dengan sebelumnya, dia tidak lagi seperti anak kecil, melainkan seperti karakter anime yang pernah Ryzel tonton seri animenya.


Wanita dengan bentuk mungil layaknya anak kecil, tetapi memiliki bola besar yang bahkan wanita berbadan dewasa tidak banyak yang memilikinya.


Mata Ryzel membulat menatap kedua benda besar tersebut, tampan tidak percaya dengan apa yang dilihat sekarang olehnya.


Merasakan tatapan Ryzel, Linh sangat malu, rasanya dia ingin menggali lubang untuk bersembunyi.


Linh memasang postur tubuh yang malu, dia tak sengaja menjepit benda besar itu di antara kedua tangannya.


Melihat keindahan yang tidak sengaja dibuat oleh Linh ini, Ryzel tidak bisa menahannya lagi. Adik kecil yang sedang tidur itu langsung terbangun.


Pada saat ini, Linh yang menundukkan pandangannya memberanikan diri untuk mencoba melihat Ryzel. Namun, ketika ia melihat ke tubuh Ryzel, pipinya yang memerah makin merah sehingga mengeluarkan asap.


Ryzel mengetahui tentang ini, dan dengan sigap dia membalikkan badan agar Linh tidak melihatnya.


Selanjutnya, Ryzel melepaskan jaket hitam yang dia pakai dan memberikannya kepada Linh tanpa menghadap Linh.


“Anu, pakai jaket ini. Kupikir penampilan kamu sekarang tidak baik dilihat oleh orang.“


Melirik Ryzel yang memberikan jaket kepadanya tanpa melihat sosoknya, Linh tersenyum dan menahan tawa, tingkah Ryzel benar-benar lucu. Tanpa disadari, rasa malu Linh memudar setelah melihat tingkah Ryzel.


Selain terhibur, Linh juga merasakan rasa hangat di dalam hatinya. Meskipun pria ini bertemu dengannya, ternyata pria ini memiliki sifat yang lembut dan baik.


Dia menggunakan kakinya untuk melangkah lebih dekat, dan tangan Linh mengambil jaket yang ada di tangan Ryzel.


Jaket tersebut langsung dipakai oleh Linh dalam beberapa detik. Dalam sekejap penampilan Linh yang menggoda dan panas tersebut ditutup oleh jaket hitam Ryzel.


Saat ini, tampilan Linh mirip dengan gadis kecil yang sedang memakai jaket milik ayahnya, itu kebesaran di tubuhnya.


“Kamu … sudah memakai jaketnya?“ tanya Ryzel untuk memastikan kondisi Linh. Adik kecilnya sudah lunak dan tak membesar lagi, takut adik kecilnya terbangun melihat tubuh Linh yang tadi.


Linh mengangkat kepalanya dan memandang Ryzel yang masih memunggungi dirinya, sebuah senyuman manis terbentuk, dia menjawab dengan suara lembut, “Sudah, kamu boleh membalikkan tubuhmu dan melihatku.“


Setelah mendengar ucapan Linh, Ryzel membalikkan tubuhnya dan melihat sosok Linh sekarang.


Di bawah penerangan lampu jalan, visual Linh ditampilkan dengan jelas. Linh tidak lagi berpenampilan panas, pakaiannya telah dibungkus oleh jaket yang besar, tubuhnya kelihatan ditelan oleh jaketnya. Benar-benar mirip dengan anak kecil. Sangat lucu.


Saking besarnya, tangan Linh sampai tidak terlihat karena lengan jaket lebih panjang dari tangannya.


“Kamu sangat imut malam ini,” Tanpa sadar Ryzel berkata kepada Linh dengan wajah yang tersenyum.


Pujian Ryzel berdampak besar pada hati Linh, perasaan berbunga-bunga muncul di hati Linh, dia merasa senang dan bahagia terhadap pujian pria ini.


Menatap Ryzel dengan sorot mata yang malu, Linh membalas perkataan Ryzel, “Terima kasih, Ryzel.“


“Sama-sama.“ Ryzel melihat ke suasana di sekeliling, sudah mulai sepi. “Lebih baik kita melanjutkan untuk berjalan lagi.“


“Emm … baik.“ Linh setuju dan memberi respons dengan anggukan kepala.


Di tangannya masih menggenggam kain putih yang dilipat, dan dia membawa kain tersebut sambil berjalan.


Selama berjalan bersama Linh di trotoar jalan, Ryzel ingin sekali bertanya tentang sesuatu yang besar tersebut, tetapi dia tidak tahu cara memulainya.


Linh juga sama sekali tidak mengajak berbicara Ryzel. Setalah diamati beberapa saat, Linh selalu menundukkan kepalanya. Tidak tahu sedang malu atau sedang memikirkan sesuatu.


Merasakan suasana di antara keduanya makin canggung, Ryzel mencoba untuk membuka topik pembicaraan.


“Malam ini sangat bagus, ya?“


Linh menoleh dan melirik wajah Ryzel yang sedang melihat ke atas langit. Matanya bergerak untuk memandang langit malam saat ini.


“Benar, awannya sedikit.“ Linh mengangguk dan setuju dengan tanggapan Ryzel terhadap pemandangan malam.

__ADS_1


Langit malam di Kota Ho Chi Minh di hari ini terlihat indah karena jarang terdapat awan. Linh bisa melihat cahaya bulan belum bulat sempurna di atas langit dengan mudah.


Setelah percakapan ini, mereka berdua menjadi diam lagi dan situasi pada keduanya kembali canggung.


Ryzel bingung sekarang, otaknya tidak bisa memikirkan topik pembicaraan, pikirannya masih tertuju pada pemandangan tubuh Linh yang unik dan panas.


Sementara itu, Linh juga bingung, dia masih belum percaya diri untuk mengajak Ryzel berbicara. Peristiwa yang baru saja terjadi langsung menjatuhkan rasa percaya dirinya, dan membuatnya sangat sungkan untuk membuka topik percakapan.


Selepas beberapa saat suasana sepi menyelimuti keduanya, Ryzel dengan pertanyaan yang acak mulai mengajak Linh berbicara.


“Anu, itu apa yang ada di tangan kamu?“ Ryzel bertanya sambil melirik ke bawah sebuah kain yang dipeluk oleh Linh.


Linh segera mengencangkan pelukannya pada kain dan ragu untuk menjawab. Terdapat jeda beberapa detik sebelum Linh menjawab. Terdengar sangat kaku.


“Ka–kain ini adalah kain untuk melindungi se–sesuatu.“ Linh menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup untuk melirik Ryzel karena dirinya sangat malu.


“Sesuatu?“ Ryzel bingung sejenak dan memikirkan sesuatu yang dikatakan oleh Linh.


“Ya, sesuatu yang sempat ka–kamu lihat ba–barusan.“


Suara Linh makin mengecil dan gugup ketika mengatakan kalimat tersebut.


Wajah Ryzel menjadi stagnan dan dia mengalihkan wajahnya sedikit ke bawah untuk melihat Linh yang berjalan di sebelahnya. “Jadi, itu bukan balon?!“


“Balon?“ Linh mendongak dan memandang Ryzel dengan aneh.


Mereka berdua terus berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah tempat makan. Mengetahui waktu sudah malam, sudah saatnya untuk mereka makan malam.


“Kukira itu balon, ternyata bukan, aku masih bingung sekarang.“ Ryzel masih membahas tentang sesuatu yang besar pada tubuh Linh.


Selama perjalanan menuju restoran, mereka berdua membahas tentang sesuatu yang besar tersebut yang menempel di tubuh kecil Linh.


Ryzel masih tidak percaya bahwa benda besar yang ada pada tubuh Linh ternyata adalah bola besar miliknya. Dengan jelas Ryzel melihat dada Linh itu adalah rata dan tak ada gundukan besar ataupun tonjolan.


Penampakannya sekarang sangat jauh berbeda sekali, bagai daratan rata dan pegunungan tinggi. Sangat sulit dipercaya.


Bagaimana cara Linh menyembunyikan bola besar tersebut?


“Su–sudah aku katakan, apa yang kamu lihat sebelumnya adalah ba–barang milikku, sama sekali bukan ba–balon.“ Wajah Linh masih merah semenjak Ryzel bertanya tentang hal yang sensitif tersebut.


Sebenarnya, Linh tidak mau membahas hal ini, tetapi demi Ryzel, dia mencoba meluruskan pandangan Ryzel terhadap miliknya, dia sama sekali tidak memakai perawatan dokter atau operasi pembesaran, barang besarnya tumbuh secara natural.


Pasalnya, dia belum pernah melihat seorang wanita yang memiliki tubuh anak kecil dengan bola besar milik seorang tante-tante.


“Jangan bahas itu lagi, Ryzel. Itu memalukan,” ucap Linh dengan pipi yang tersipu.


Ryzel tersenyum dan menuruti permintaan Linh.


Keduanya membahas sesuatu yang lain, tanpa menyenggol sesuatu hal tersebut.


“Besok kamu mau ke mana? Apakah ada rencana?“ Linh menatap kedua mata Ryzel sembari memegang sendok yang di atasnya terdapat nasi dan lauk.


Respons Ryzel tidak cepat, dia mengunyah makanan lebih dahulu dan menelannya. “Belum, kamu sudah?“


“Sudah. Aku memiliki jadwal pergi besok. Kamu mau ikut?“ ajak Linh melirik Ryzel dan menunggu jawaban.


“Tidak tahu. Aku akan mengabari kamu jika ingin ikut,“ balas Ryzel mengangkat kedua bahunya. Dia tidak bisa berjanji, Sistem belum memberi kejelasan tentang lokasi tugas masuk giliran berikutnya.


“Oke, aku akan menunggu. Jangan lama-lama, besok pagi sekitar jam sembilan, aku sudah berangkat.“


“Baik. Aku akan memberi jawaban pastinya dini hari.“


Mereka berdua terus makan sampai semua makanan habis. Melihat jam masih menunjukkan pukul jam 10 kurang, mereka berdua menghabiskan waktu untuk minum.


Tiba-tiba saja Linh memiliki keinginan untuk minum bersama Ryzel. Ajakannya tentu saja diterima. Linh bilang minum-minum ini untuk merayakan kebahagiaannya, dia juga akan membayar makanan keduanya malam ini Ryzel tidak perlu membayar.


Tentu saja, Ryzel menuruti permintaannya dan membiarkan Linh minum beberapa gelas.


Mau seberapa banyak Ryzel meminum minuman beralkohol, dia tidak akan pernah mabuk.


Sangat berbeda dengan Linh, baru minum 4 gelas kecil atau 4 shot, dia sudah mabuk berat sehingga Ryzel harus menyudahi pesta minuman di antara keduanya.


Lantaran Linh mabuk, Ryzel yang membayar semua makanan mereka berdua, termasuk 3 botol bir dan minuman alkohol yang mereka pesan. Ryzel tidak masalah dengan ini, terpenting Linh harus segera diantarkan ke dalam kamarnya.


Pasalnya, tingkah Linh sangat berbahaya jika berada bersamanya.


Pada saat ini, Linh digendong oleh Ryzel layaknya gadis kecil yang berumur belasan tahun.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju ke hotel, Linh mengelus-elus pipi Ryzel dengan lembut menggunakan tangan kecilnya sembari berkata sesuatu yang tak jelas.


“Wajahmu sangat mulus, aku iri.“


“Mengapa kamu tampan sekali? Orang tua kamu Dewi Yunani?“


“Gemasnya! Aku ingin mencium pipimu.“


“Kamu pakai parfum apa? Wangi ini membuatku makin mabuk.“


“…”


Beberapa ucapan tersebut dikeluarkan oleh mulut Linh. Wajahnya tidak terlihat normal. Seluruh wajah kecilnya memerah dengan mata yang sayu, senyumannya pun terlihat aneh.


Sesekali Linh mengecup bibir Ryzel sekilas di beberapa perkataannya.


Ryzel tidak bisa menghentikan ini, jika menghentikan gerakannya, itu akan merepotkan sehingga Linh akan sulit dibawa ke hotel.


Sudah beberapa kali Ryzel mencari taksi, tetapi tidak ada yang lewat, memesan melalui aplikasi pun lama dapatnya.


Lebih baik pergi berjalan ketimbang menunggu lama mobil taksi. Dikhawatirkan mereka berdua sampai di hotel terlalu malam.


Tepat ketika Ryzel sudah berada di dekat hotel, tiba-tiba Linh bertingkah aneh.


Dia menggunakan kedua tangannya untuk membuka ritsleting jaket milik Ryzel yang digunakan oleh Linh. Ritsleting tersebut terbuka pada bagian atas dan memperlihatkan belahan bola yang mulus dan mengkilap tepat di wajah Ryzel.


Tubuh Ryzel terperanjat ketika berjalan. Pemandangan ini sangat tiba-tiba, Ryzel tidak memperhatikan gerakan Linh dan fokus pada jalan.


Dengan gerakan yang cepat, Ryzel menutup ritsleting jaket pada tubuh Linh tanpa mendengar ocehan Linh yang tidak jelas.


“Mengapa kamu menutupnya? Kamu tidak suka dengan punyaku? Apakah itu masih kecil bagimu?“


Senyuman masam muncul di wajah Ryzel dan dia hanya diam tanpa mau merespons ucapan Linh yang terdengar ambigu.


Ryzel sekarang sudah ada di lorong hotel, dia sempat melewati lobi hotel, dan banyak orang melihat ke arahnya karena aneh dengan perkataan Linh yang dikeluarkan dari mulutnya.


Linh makin liar, dia mengucapkan kalimat yang tidak mungkin diucapkan waktu dia sadar.


“Kamu mau mencoba milikku? Kamu pasti suka!“


“Jangan diam seperti itu, aku tahu kamu menyukai barang milikku. Ayo jawab aku, Pria Tampan.“


“…”


Mengabaikan kata-kata Linh, Ryzel langsung merogoh saku celana yang dipakai oleh Linh dan menemukan kunci.


Membuka kamar Linh, dan Ryzel kemudian meletakkan Linh pada kasurnya.


Namun, beberapa detik Linh tenang dan hendak tidur, tiba-tiba suara orang yang ingin muntah terdengar.


Ryzel yang ingin keluar dari kamar langsung bergegas kembali dan mengangkat tubuh Linh dan membawanya ke kamar mandi.


Hoekk!


Sayangnya, Ryzel terlambat, makanan yang sempat ditelan oleh Linh dan ada di perut keluar sebagian hingga jatuh ke lantai. Muntahan makanan tersebut sempat mengenai baju Linh.


Jaket sudah Ryzel buka, tanpa menatap sesuatu yang besar di tubuh Linh.


Mengetahui tentang ini, Ryzel ingin sekali keluar dan meminta petugas hotel untuk mengurus Linh. Namun, tangan kecil Linh mencengkeram kuat tangannya. Matanya sayu menatap wajahnya dan dia mengucap sebuah kata dengan suara yang kecil. Kata tersebut menyuruhnya untuk tidak pergi dan memohon mengurusi dirinya.


Tidak ada yang bisa Ryzel lakukan selain mengikuti permintaan Lin.


Terpaksa Ryzel membawa Linh ke kamar mandi dan mulai mengganti pakaian wanita ini.


Glup!


Melihat pemandangan di depannya, Linh menelan ludah yang banyak. Tubuh Linh sangat ajaib. Meskipun kecil, tetapi bola yang tumbuh sangat besar. Melihat Linh dia merasa seperti sedang melihat karakter anime versi dunia nyata.


Selama Ryzel mengganti pakaian Linh, Ryzel berusaha untuk tidak terangsang ataupun terpancing.


Akan tetapi, usahanya itu sia-sia, adik kecilnya sudah membesar dan menonjol.


Linh yang mabuk ini sesekali melirik sesuatu yang ada di antara kedua kaki Ryzel.


Pada akhirnya, ketika Ryzel menyelesaikan tugasnya mengganti pakaiannya Linh dengan pakaian yang baru dan membawanya ke kasur untuk membaringkan Linh, tiba-tiba saja Linh menyentuh sesuatu yang menonjol di antara kedua kakinya.


Sebuah sensasi sengatan listrik terasa pada tubuh Ryzel dan dia melihat Linh yang berbaring sedang tersenyum pada Ryzel sambil menggigit bibir bawahnya. Tatapannya sangat seduktif.

__ADS_1


Ryzel hendak beranjak pergi dari atas kasur, tangan Linh dengan cepat menyambar dan menahannya, kemudian dia bangun dari kasur, mendekatkan diri pada Ryzel sambil melingkari leher Ryzel secara perlahan.


“Apakah kamu tidak mau melakukan hal menyenangkan itu denganku?“


__ADS_2