Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 128: Risa yang Bimbang


__ADS_3

Ryzel menggerakkan pinggulnya secara perlahan dan penuh kehati-hatian, dia tidak mau membuat Risa merasakan sakit dari gerakannya ini.


Tiap kali Ryzel bergerak, raut wajah Risa menekuk dengan dahi yang mengerut, tetapi terdapat senyuman setelahnya.


Wanita ini sudah mulai merasakan kenikmatan di setiap tusukan yang Ryzel lancarkan.


Benda tebal dan padat milik Ryzel menusuk sangat dalam pada bagian lubang Risa, bahkan Risa sendiri merasakan ada sesuatu yang menyentuh bagian paling dalam di lubangnya.


Perasaan penuh dan sesak dirasakan oleh Risa sangat jelas. Alih-alih ingin berhenti, dia ketagihan akan perasaan yang ditimbulkan di setiap pompa yang dilakukan Ryzel.


Saking nikmatnya, Risa tak sadar dirinya telah mengeluarkan banyak cairan di tengah-tengah Ryzel asyik memompa lubangnya.


Jelas, suhu hangat yang menyembur membasahi adik kecilnya dirasakan Ryzel dan dia langsung mengetahui cairan itu.


Dalam 20 menit kegiatan itu berlangsung, Ryzel sudah merasakan beberapa kali adik kecilnya disiram oleh cairan hangat dari dalam lubang Risa. Wanita ini sama seperti wanita-wanita sebelumnya, tak ada yang bisa mengalahkan dirinya dalam kegiatan panas ini, mereka semua sangat lemah di bawah adik kecilnya.


Mereka berdua tidak berhenti sampai di situ, keduanya melakukan gaya yang lain, sangat membosankan apabila hanya mencoba satu gaya atau gerakan saja.


Maka dari itu, berbagai gaya yang Ryzel kuasai mulai dipraktikkan bersama Risa.


Posisi mereka berdua pindah, Ryzel tidak lagi berada di atas, kini Risa yang menggantikan posisi atas, sedangkan Ryzel sendiri berada di posisi bawah.


"Pelan-pelan saja, jangan terlalu dipaksa," ucap Ryzel sambil menahan rasa nikmat, dan matanya menatap Risa yang berjongkok di atas tubuhnya.


Risa mengangguk mengerti dan segera melakukan apa yang disarankan Ryzel.


Tangan cantik Risa mengarahkan kepala adik besar Ryzel ke lubangnya sendiri, dia sangat fokus untuk mengarahkan benda tersebut agar bisa masuk ke dalam lubang.


Setelah dirasa cukup pas dan cocok, dia menurunkan tubuhnya hingga membiarkan batang daging yang tebal dan panjang menusuk lubangnya sampai ke bagian terdalam.


"Em~ ...."


Saat benda itu masuk kembali ke dalam lubangnya, kenikmatan yang dia idamkan masih bisa ia rasakan.


Pikiran Risa menjadi kosong, dia hanya bisa memikirkan betapa indah dan nikmatnya kegiatan yang sedang dilakukan.


Di otaknya hanya ada Ryzel dan adik besar yang memanjakan lubang miliknya. Tak ada pikiran lain yang ada di dalam kepalanya.


"Aku suka benda milikmu Ryzel! Itu terlalu dalam, mmhh!" Risa mengerang sambil menggerakkan pinggulnya naik dan turun.


Ryzel kembali mengambil alih permainan, dia memeluk Risa dan membawanya berdiri, kemudian memompa dengan gaya menggendong seorang Putri Kerajaan.


"Ya! Terus tusuk aku! Biarkan aku melayang sampai ke langit!"


Celotehan Risa yang disertai dengan suara manis yang menggoda jiwa tidak Ryzel jawab, hanya gerakan setiap ia memompa lebih dikuatkan hingga menyentuh titik paling dalam dari lubang Risa.


Merasakan titik lemahnya ditabrak dengan kuat, Risa menjerit dan berkata, "Agh, Ryzel! Itu terlalu enak! Aku ingin lagi, aku ingin kamu yang selalu memompaku! Aku milikmu sekarang!"


Jeritan yang dilontarkan Risa membuat adrenalin Ryzel menyala, dan gerakannya makin lama makin cepat.


Tubuh Risa bahkan digerakkan oleh Ryzel sangat cepat seolah Ryzel benar-benar sedang memompa udara di ban kendaraan.

__ADS_1


Perasaan dan sensasi yang tak tertahankan menumpuk pada tubuh Risa, membuatnya tidak kuat lagi menahan cairan kenikmatan yang tertampung banyak.


"Aku keluar!"


Bersamaan dengan jeritan itu, cairan hangat yang sangat cair mengguyur seluruh tubuh adik kecil Ryzel dan itu merembes sampai ke luar lubang.


Tetesan cairan bening yang bersuhu hangat jatuh ke atas lantai dan membentuk genangan air yang kecil.


Mulanya, Risa berpikir bahwa dengan keluarnya cairan miliknya yang banyak adalah tanda kegiatan mereka berdua berakhir, ternyata dia salah.


Tepat di beberapa detik berikutnya, Ryzel tidak menurunkan tubuh Risa ke lantai, tetapi dia memulai lagi ronde selanjutnya tanpa izin dari Risa, dan menggerakkan tubuh Risa layaknya sebuah pompa.


"Milikmu sangat enak, Ryzel!" jerit Risa sembari melingkari leher Ryzel dengan kedua tangannya. "Tusuk aku lebih kuat! Lakukan sesuai dengan keinginanmu, bahkan jika itu akan membuatku hamil!"


Usai mengatakan kalimat itu, Ryzel merasakan ada perubahan pada lubang Risa, itu terasa makin menjepit dan mencengkeram adik kecilnya yang ada di dalam.


Hal ini membuat Ryzel makin intens untuk memompa. "Risa, lubang punyamu begitu hangat!"


"Ryzel, berikan aku cairan milikku, aku ingin hamil anak darimu!" Risa mengencangkan pelukannya pada leher Ryzel, sekarang dia benar-benar sedang terbawa suasana.


"Nghhh!"


Ryzel tidak menjawab dan hanya mengeluarkan suara yang aneh.


Mereka berdua mempertahankan posisi itu hampir 1 jam lamanya. Pada akhirnya, Risa tak kuat lagi untuk menahan nafsu besar Ryzel dan juga telah keluar lebih dari 20 kali, wanita itu mengungkapkan kekalahannya dan meminta Ryzel untuk berhenti dan lebih baik beristirahat.


Suara tarikan napas yang berat terdengar di seluruh kamar, keduanya berbaring di atas lantai dengan tubuh yang basah.


Di sisinya terdapat Ryzel yang berbaring dengan posisi miring, dia sedang menatap Risa yang kelelahan sembari mengelus perut Risa.


"Aku sangat bahagia, Ryzel." Risa menoleh dan tersenyum manis pada Ryzel.


Senyuman ditampilkan oleh Ryzel sebagai balasan dan dia berkata, "Aku juga, tetapi aku pikir kita harus membereskan ini semua."


"Tunggu, aku masih lemas, beri aku beberapa menit lagi," balas Risa yang memang memiliki wajah yang lelah.


Ryzel mengangguk dan tersenyum lembut. Namun, ketika dia melihat ke bawah, muncul keinginan di hatinya.


"Anu, bolehkah aku memainkan ini?"


Jari telunjuk Ryzel menyentuh bola bagian kanan milik Risa, pria ini bertanya dengan wajah yang malu. Agak aneh.


"Terserah kamu, Ryzel. Aku milikmu, lakukan apa pun pada tubuhku sesuka hatimu," Risa menjawab dengan senang hati. Wanita ini benar-benar terlihat menyerahkan seluruh tubuhnya kepada Ryzel.


Dengan jawaban Risa yang demikian, Ryzel kembali beraksi memainkan dua bola Risa yang mulus dan bersih.


Setelah semua kegiatan panas yang mereka lakukan, mereka akhirnya bisa pergi tidur di kamar ini dan di satu kasur yang sama.


Tak perlu ada pemisah, Ryzel dan Risa tidak masalah tidur saling berpelukan, bahkan tidak keberatan untuk melakukan hal itu lagi.


Namun, melihat jam sudah menunjukkan pukul larut malam, sudah bukan waktunya lagi untuk mereka melakukan itu untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Di ranjang yang sama, keduanya tidur dengan posisi yang ambigu. Sosok Ryzel tengah memeluk Risa dari belakang dan tangannya yang lancang *******-***** kedua bole milik Risa, sedangkan Risa hanya diam dan membiarkan Ryzel bermain dengan dadanya yang besar.


Sejujurnya, Risa cukup terkejut dengan ketahanan dan nafsu Ryzel, tak menyangka pria tampan ini punya stamina yang kuat dan nafsu yang sangat besar, dan juga pria ini kelihatan punya suatu obsesi pada buah dada.


Dia merasa bahagia bisa melakukan hal ini untuk pertama kali bersama Ryzel. Di lain sisi, dia juga merasa bimbang, sebab Ryzel bilang dia tidak menjamin akan menikahinya.


Entah apa yang harus ia lakukan dengan peristiwa ini, dia sudah terlanjur suka, bahkan tidak segan untuk memberikan kehormatannya kepada Ryzel.


Merenung akan persoalan ini di kepalanya, Risa mencoba untuk membuat keputusan hidupnya sampai dia tak sadar bahwa dirinya sudah tertidur lelap.


Keesokan harinya, di pagi hari yang cerah, terlihat mereka berdua sedang membereskan barang-barangnya.


Kekacauan yang timbul akibat kegiatan yang sangat brutal dan intens semalam sudah dibereskan secara keseluruhan oleh Ryzel dan Risa.


"Ryzel, aku ingin bilang sesuatu kepadamu."


Ketika mereka berdua bersiap-siap keluar dari hotel, tiba-tiba Risa menoleh untuk melihat Ryzel dengan wajah yang tampak sangat serius.


"Iya, bilang saja," ucap Ryzel sambil meletakkan tasnya di atas kasur.


Dia sudah membenahi semua barangnya, dan juga tasnya ini tidak repot, semua barang bisa masuk dengan kuantitas yang banyak.


Risa terdiam sejenak, matanya menatap Ryzel dengan berbagai perasaan di dalamnya, dan dia menghembuskan napas.


Mulut kecil Risa terbuka, dan dia berkata, "Aku benar-benar sayang padamu."


Ryzel tertegun untuk waktu yang singka, kemudian dia tersenyum. "Terima kasih, tetapi aku rasa aku ini tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari kamu."


"Mengapa begitu? Menurutku, kamu sangat pantas disayangi olehku, Ryzel."


"Tidak." Ryzel dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pantas mendapatkan rasa sayang darimu karena aku bukan pria yang baik."


"Kamu pria baik, Ryzel. Beri tahu aku siapa orang yang bilang bahwa kamu bukan seorang pria yang baik," sanggah Risa yang pendapatannya sangat bertentangan dengan pernyataan Ryzel.


Senyuman yang terlihat rumit muncul di mulut Ryzel, dia berkata dengan suara yang rendah, "Aku belum bisa sepenuhnya menyayangi kamu, Risa. Aku belum merasakan hatiku memilih kamu untuk aku cintai, aku belum merasakan hal itu."


Mendengar ucapan Ryzel, mandat Risa membulat sesaat, dan dia kembali normal dengan cepat, seolah-olah dia telah mendapatkan pencerahan begitu mengalami perasaan kecewa.


"Bukan masalah, aku sudah memikirkan hal ini. Jika kamu tidak mencintaiku, aku tidak akan memaksa. Segala sesuatu yang dipaksa biasanya takkan benar di masa depan. Aku akan menunggu jawaban kamu. Cinta atau tidaknya, kamu harus mengabariku agar aku tidak terlalu menunggu. Jangan khawatirkan aku apabila kamu memang sulit untuk mencintaiku, aku baik-baik saja."


Saat mengatakan semua ungkapan tersebut, Risa mencubit bajunya seakan menafsirkan tentang sesuatu pada perasaannya.


Begitu mendengar semua ini, tanggapan Ryzel hanya diam, dia sendiri sedang memikirkan masalah ini. Masalah yang biasa muncul tiap dirinya habis melakukan kegiatan panas dengan seorang wanita.


"Pasti, aku pasti memberi tahu tentang hatiku nanti. Terima kasih." Ryzel menatap Risa seraya tersenyum.


Tidak ada yang bisa Ryzel ucapkan sebagai responsnya terhadap perkataan Risa.


Dia sendiri tidak bisa menjanjikan apa-apa pada Risa.


Dengan peristiwa ini, Ryzel menjadi lebih berpikir bahwa sebenarnya dirinya adalah seorang bajingan yang memanfaatkan wanita.

__ADS_1


__ADS_2