Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 82: Ketertarikan Linh


__ADS_3

“Kamu mau ke mana?“ Linh bertanya kepada Ryzel.


Ryzel menjawab sambil tersenyum, “Ke restoran, aku belum makan malam. Kamu mau ikut?“


“Ayo! Kebetulan aku juga ingin pergi ke restoran untuk makan malam.“


Sebelum Ryzel sempat menjawab, tiba-tiba tangannya dipegang oleh Linh dan ia ditarik intuk berjalan bersama menuju ke tempat restoran hotel berada.


Tanpa Ryzel ketahui, pipi Linh memerah bagai kepiting yang direbus lama. Rasanya berpegangan tangan dengan Ryzel sangat membuat candu dan ingin lagi merasakan perasaan yang sama.


Pemandangan saat mereka berjalan beriringan bersama terlihat seperti anak dan ayah.


Tinggi Ryzel jika disandingkan dengan tinggi Linh sangat berbeda-beda jauh, bahkan kepala Linh hanya ada di bawah dada atau sekitar perut Ryzel. Sangat pendek dan imut.


Untungnya, Linh tampak cantik dan menggemaskan. Sebenarnya, tinggi Linh sangat susah untuk mendapatkan pasangan karena terlalu pendek.


Beberapa orang pasti berpikir tentang keturunan, mereka tidak ingin keturunan mereka pendek layaknya Linh.


Namun, ada banyak orang yang tidak memikirkan tentang fisik pasangan, mereka menerima pasangan apa adanya dan selalu bersyukur dengan kondisi fisik pasangan.


Mereka berdua berjalan ke bawah melalui lift hotel dan sampai di tempat restoran yang ada di hotel lobi.


Restoran ini cukup enak makanannya, banyak orang yang menginap lebih memilih untuk makan di sini dibandingkan di luar hotel.


Dengan begitu, mereka berdua langsung masuk ke restoran dan memesan meja untuk 2 orang, hanya untuk Ryzel dan Linh.


Begitu mereka masuk, mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang makan di restoran.


Pemandangan perpaduan antara pria tampan nan tinggi dan wanita pendek serta imut sangatlah unik dan sangat menonjol di kerumunan.


Maka dari itu, banyak mata yang kerap kali melihat ke arah Ryzel dan Linh yang sedang mengobrol santai dan asyik.


“Untuk makanan Vietnam, aku merekomendasikan kamu makan hidangan bernama Pho.“ Linh menunjuk ke kertas menu yang disediakan di atas meja.


Ryzel menatap ke gambar yang ditunjuk oleh Linh. Makanan di gambar ini tampak tidak buruk, terlihat menarik.


“Apa yang ada di dalam makanan ini?“


“Ini makanan berbahan mie, mienya terbuat dari mie putih yang disiram oleh kuah kaldu sapi. Di atasnya terdapat irisan daging sapi atau ayam, kamu bisa memilihnya, ada sayuran untuk pelengkap, kamu bisa memilih juga antara tauge atau daun ketumbar,” jelas Linh kepada Ryzel.


Saat ini, Linh dalam keadaan kalem dan tenang. Di dalam mode inilah yang Ryzel suka. Enak dipandang dan aura imutnya lebih kental.


“Boleh, aku pesan itu. Apakah ada lagi? Kebenaran aku juga suka dengan masakan yang berbahan mie,” Ryzel bertanya tentang makanan kepada Linh.


Linh mengangguk dan tahu makanan yang diinginkan oleh Ryzel. Sebagai orang Vietnam asli, pastinya dia tahu makanan negaranya.


“Makanan itu bernama Cao Lau, sama-sama berbahan mie putih, bedanya adalah topping atau pelengkapnya, ada daging ayam, ikan, jeroan, daun ketumbar dan selada, dan juga irisan jahe. Biasanya makanan ini diberi perasaan jeruk dan sedikit saus ikan untuk rasa makanan ini menjadi lebih mantap dan lebih baik.“


“Aku juga mau itu. Minumannya es jeruk saja, aku ingin yang segar-segar.“


“Oke!“ Linh memberi tanda oke kepada Ryzel dan kemudian ia memanggil pelayan.


Ia menyebutkan makanan yang mereka pesan kepada pelayan ini. Pelayan bilang bahwa mereka berdua harus menunggu sekitar setengah jam untuk semua hidangan sampai di atas meja.


Ryzel tidak masalah, setengah jam adalah waktu yang singkat baginya.


“Ryzel, aku katakan jujur kepadamu, kamu itu tampan—”


“Terima kasih pujiannya,” sela Ryzel dengan menampilkan senyuman menawannya.


“Ih! Aku belum selesai berbicara!“ Linh memukul pelan tangan Ryzel.


“Haha, oke-oke.“


Mengerjai dan membuat kesal Linh sudah menjadi kebiasaan Ryzel untuk sementara ini. Reaksi Linh yang lucu dan imut membuat Ryzel ketagihan menjahilinya.


“Kamu tampan, tetapi apakah kamu punya pacar? Atau jangan-jangan kamu memiliki banyak pacar di luar sana?“ tanya Linh yang penasaran. Matanya menatap Ryzel dengan perasaan yang ingin tahu.


Ryzel menghembuskan napas ringan dan kemudian menjawab, “Dahulu pernah sekali aku memiliki pacar, sekarang sudah tidak lagi.“


“Mengapa bisa begitu? Kamu yang memutuskan dia?“ Linh menjadi sangat ingin tahu tentang Ryzel.


Menurutnya, ini adalah kasus yang seru dan cerita yang wajib didengar.


“Tidak, dia yang memutuskan aku.“ Ryzel menggelengkan kepalanya.


Mendengar jawaban ini, Linh hampir saja melompat dari kursinya karena terkejut.


Sangat-sangat aneh. Wanita bekas pacar Ryzel sangat aneh.


Linh bergumam di dalam hatinya, “Kalau saja aku pacar pria ini, aku tidak akan pernah meninggalkannya dan akan terus-menerus mencintainya, bahkan jika aku sudah tiada. Wanita yang aneh mantan pacar Ryzel ini.“


“Aneh, bisa-bisanya wanita itu memutuskan kamu, padahal kamu sudah tampan seperti ini, terlebih suara kamu sangat indah didengar.“

__ADS_1


Pujian yang dilontarkan oleh mulut Linh membuat Ryzel sedikit malu.


“Namanya juga manusia. Manusia tidak akan pernah puas. Mereka akan mencari sesuatu yang lebih baik lagi dari apa yang mereka punya.“


“Benar. Untungnya, aku bukan manusia. Aku vampir dan elf.“ Linh mengangguk menyatakan persetujuannya terhadap pernyataan Ryzel.


“Kurangi menonton animenya, kamu akan seperti anak kecil terus jika menonton kartun.“ Ryzel mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Linh.


Rambut Linh ini memiliki poni yang rata, rambutnya berwarna hitam dan panjang yang tergerai ke depan hingga sedikit menutup bagian dada ratanya.


Linh melepaskan gosokan tangan Ryzel dan ia mengerucutkan bibirnya setelah sekian kali. “Tidak! Aku sudah tidak menonton anime lagi.“


“Benarkah? Kapan terakhir kali kamu menonton anime?“ Ryzel tidak percaya dengan kata-kata wanita kecil ini.


“Kemarin, hehehe.“


Wajah Ryzel berubah menjadi datar dan ia menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, pelayan datang dan dia menurunkan semua makanan yang dipesan oleh Linh.


Ketika makanan ini turun dari nampan makanan, semburan aroma segar dan gurih makanan-makanan ini tercium sangat jelas di hidung mereka masing-masing.


Sangat menggugah selera makan.


Tanpa banyak bicara, Ryzel langsung mencoba pesanan makanan yang pertama, yaitu Pho.


Untuk mencoba mie, Ryzel pertama harus mencoba kuahnya. Jika kuahnya enak, mienya seharusnya tidak terlalu buruk.


Kuah makanan Pho sangat gurih karena terbuat dari kaldu sapi, sangat enak. Gurih, asin, dan ada sedikit asam.


Ryzel menambahkan cabe untuk menambah rasa pedas, orang Indonesia sangat suka sambal, termasuk Ryzel.


Setelah itu, Ryzel mencoba mie putih ini dengan menggunakan sumpit.


Cara Ryzel memakai sumpit sangat lihai dan cakap, mudah untuk mendapatkan satu helai mie di dalam mangkuk.


Saat mie panjang itu masuk ke mulut, Ryzel merasakan kekenyalan yang pas dan kematangan yang di tekstur yang tepat.


Sangat enak dan Ryzel menyukainya. Irisan daging sapi yang Ryzel pesan juga tak kalah enak. Secara otomatis masuk dalam daftar mie yang difavoritkan olehnya. Jika ke Vietnam nanti, Ryzel akan memakan ini.


Puas memakan Pho, Ryzel langsung pindah ke makanan yang kedua sekaligus terakhir, Cao lu.


Makanan ini tak jauh berbeda untuk tekstur mie dan kekenyalannya, hanya ada perbedaan di antara bumbu dan makanan tambahannya. Cao lu tak kalah enak dengan Pho.


Mungkin saja ketika ada restoran Vietnam di negara lain dan Ryzel sedang rindu masakan Vietnam, ia akan memakan kedua mie ini untuk membayar atau mengobati rasa rindu dirinya.


Sementara itu, Linh juga memakan makanan yang sama dengan Ryzel, tetapi dia cuma memesan Pho.


Linh tahu kapasitas perutnya, itu kecil dan tak cukup untuk makan banyak-banyak.


Begitu Linh melihat Ryzel menghabiskan 4 porsi makanan, ia sangat terkejut.


Pria ini tinggi karena makannya juga banyak.


Namun, setelah ia perhatikan, Ryzel sama sekali tidak gendut, melainkan berotot semi-ramping. Tidak besar dan kecil.


Setelah keduanya makan, mereka berdua berniat untuk duduk di restoran untuk beberapa saat sambil melihat jalan raya di perkotaan.


Mereka ingin keluar, tetapi tidak tahu di mana tempatnya. Jadi, mereka memutuskan untuk di restoran dahulu.


Tentu saja, mereka memesan makanan kecil untuk mereka boleh diam di restoran lebih lama lagi. Ryzel memesan kopi untuk tidur malam.


“Ke Kamboja? Kamu ke Kamboja ke wisata apa? Mengapa aku tidak melihat kamu?“


“Aku di Kamboja sekitar enam hingga tujuh hari. Waktu di Phnom Penh sekitar dua sampai tiga hari, sisanya aku berlibur ke Pulau Koh Rong untuk bermain pantai. Pada akhirnya, aku ke Vietnam di hari ini.“ Ryzel memainkan sedotan minuman.


“Berbeda denganku, aku sebentar di Kamboja, itu juga hanya ke Phnom Penh untuk melihat keindahan istana kerajaan. Kurasa ketika kamu ke Pulau Koh Rong, aku ada di Phnom Penh,” kata Linh setelah berpikir cepat.


Ryzel juga merasa seperti itu dan mengangguk. “Benar. Maka dari itu, kita tidak bertemu.“


“Besok kamu mau ke mana? Apakah ada jadwal tempat wisata yang ingin kamu kunjungi di sini?“ tanya Linh. Kelihatannya wanita ini ingin mengajak Ryzel ke tempat wisata besok hari.


“Belum ada. Bagaimana denganmu?“


“Aku ingin ke Sungai Saigon. Kamu mau ikut?“


“Tidak tahu. Nanti aku kabari jika aku ikut.“ Ryzel tidak bisa menjanjikan seperti biasa lantaran Sistem belum memberinya tugas masuk yang jelas.


“Kamar kita dekat, kamu ketuk pintu aku saja. Kalau mau kamu ikuti akun Instagrem milikku.“


“Mana? Sebutkan nama akun kamu.“


“…”

__ADS_1


Linh memberi nomor telepon Whatsupp, dia juga memakai Whatsupp dan Instagrem.


Setelah mendapatkan nama akun Instagrem milik Linh, Ryzel melihat isi foto yang diunggah pada akun Linh.


Isinya ternyata kebanyakan adalah foto Linh yang sedang mengenakan busana anak kecil yang lucu dan menggemaskan.


Mengetahui Ryzel sedang melihat fotonya, tangan kecil Linh langsung meraih ponsel Ryzel dan menahannya untuk melihat.


“Jangan lihat itu di depanku, Ryzel. Aku malu~ ….“ Linh menutup layar ponsel Ryzel sambil mengarahkan pandangannya ke bawah.


“Baiklah, aku akan melihatnya di kamar nanti,” kata Ryzel dengan ringan.


Di telinga Linh berbeda artinya, kalimat ini memiliki arti ambigu.


Memberanikan diri menatap Ryzel dan Linh memberinya sebuah peringatan, “Awas saja kamu melihat gambar sambil membayangkan sesuatu yang aneh!“


“Hei-hei, aku tidak cabul seperti apa yang kamu pikirkan.“ Ryzel menggelengkan kepalanya. “Lagi pula, kamu masih anak kecil.“


“Enak saja! Kamu benar-benar ingin digigit, ya?!“ Linh kembali marah dan ia mengambil tangan Ryzel untuk digigit.


Akan tetapi, saat tangan Ryzel diambil, jari-jari Ryzel menyentuh bola-bola milik Linh.


Dalam sekejap mereka berdua berhenti bergerak, seakan waktu membeku dan tidak berjalan.


Pipi Linh menjadi sangat merah, bahkan asap mengepul dari kedua pipinya.


Ryzel tidak berkomentar karena ini bukan salahnya. Ia diam dan cosplay menjadi patung batu.


Suasana canggung ini berlaku selama 2 detik sebelum akhirnya Linh memberanikan diri berbicara.


“Sudah malam, Ryzel. Mending kita ke kamar masing-masing,” ujar Linh kepada Ryzel.


Tanggapan Ryzel adalah anggukan setuju dan ia sama sekali tidak keberatan. “Ayo kembali ke kamar! Aku juga ada sesuatu yang ingin aku kerjakan di kamar.“


“Ayo pergi!“


Setelah itu, Ryzel membayar makanannya, ini sudah menjadi agendanya jika makan bersama wanita, dia harus selalu yang bayar, jika tidak, rasanya menjadi tidak enak di hati.


Keduanya berjalan menuju lift hotel dan mereka pergi ke lantai di mana kamar mereka berdua berada.


Di dalam kamar, Linh duduk di atas kasur dengan tatapan yang kosong. Pikirannya sedang pergi ke ingatan ketika Ryzel menyentuh bolanya karena ulahnya sendiri.


Itu pertama kali bagi Linh, dirinya disentuh oleh pria. Di acara cosplay, tidak ada yang berani menyentuhnya. Dia terkenal galak.


Dia galak juga karena untuk menutupi kelemahannya yang cengeng atau mudah menangis. Sebenarnya, ia sangat takut dengan orang lain. Takut sekali dengan orang lain yang menculiknya dan memutilasi.


Sangat-sangat takut.


Demi pertahanan diri, Linh menjadi galak di banyak orang agar semua semua orang berjaga jarak dengannya.


Namun, setelah bertemu dengan Ryzel. Linh merasa perasaan hati yang berbeda. Dia belum pernah senyaman ini dengan pria.


Sebelumnya, ada pria yang membuatnya nyaman, tetapi itu sudah menjadi masa lalu. Rasa nyaman Ryzel lebih kental dirasakan oleh Linh.


Kejadian Ryzel menyentuh bola dan wajah Ryzel yang tampan terngiang-ngiang di dalam pikiran Linh.


Linh membaringkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamar dan ia berkata, “Semoga saja ada suatu keajaiban di antara aku dan Ryzel.“


Usai perkataan itu jatuh, Linh memiringkan tubuhnya. Kedua tangannya ke belakang seperti sedang menjangkau sesuatu yang ada di belakangnya.


Dikarenakan susah, Linh berdiri dan kemudian ia membuka gaunnya yang mirip anak kecil.


Begitu gaun tersebut terbuka, tampak sosok Linh yang janggal.


Di dada Linh terdapat sebuah kain putih yang menutupi seluruh bagian dadanya yang rata.


Tangan Linh bergerak di antara kain putih ini, kemudian ia melepaskan ikatan besar dari kain putih dari tubuhnya.


Saat berikutnya, kain tersebut terjatuh dari tubuh Linh dan mendarat di lantai kamar.


Linh berjalan ke arah cermin dan melihat sosoknya di dalam cermin seraya berkata, “Sial! Ini sedikit bertambah besar!“


Di refleksi cermin, Linh melihat sosok kecilnya yang memiliki bola yang besar dan melebihi bole yang seharusnya dia terima. Ini terlalu besar, bahkan hampir sebesar milik Maly.


Sama besarnya dengan milik Haimi.


Perbedaannya, milik Haimi tumbuh di tubuh gadis kecil yang berumur belasan tahun. Itu sangat tidak proporsional.


Linh mengelus beberapa kali buah besarnya. Selanjutnya, ia pergi ke atas kasur dan berbaring di atasnya. Membebaskan bola besar tersebut jatuh miring dari tubuhnya saking besar ukurannya.


“Tidak ada yang tahu rahasia ini. Jikalau Ryzel tahu tentang kelebihanku, apakah aku bisa menjadi pasangannya?“ gumam Linh tanpa sadar.


“Eh? Kamu berpikir tentang apa, Linh? Kamu tidak boleh jorok seperti dia! Lagi pula, siapa juga yang mau menjadi pacar pria tinggi itu? Dia menyebalkan dan ...."

__ADS_1


__ADS_2