
Membuka laptopnya, mencari unggahan yang menampilkan video yang sedang panas, Septi menemukan video yang dimaksud oleh temannya.
Benar saja, video yang diunggah ini menampilkan temannya yang sedang mengganggu kursi pengunjung bioskop.
Video berlanjut memperlihatkan temannya mendorong barisan orang yang hendak keluar hingga semua orang terjatuh ke bawah.
Wanita ini tertawa selama dirinya menonton kompilasi video temannya yang jahil. Septi tidak menonton sampai habis, video dibiarkan berjalan, dan dia melihat komentar-komentar videonya.
Wajahnya yang ceria karena terhibur dengan kejahilan kecil temannya langsung berubah saat membaca komentar-komentar para netizen.
"Tidak lucu dari mana?! Ini sangat lucu! Mereka berlagak memiliki humor yang terlalu tinggi, menjijikkan!" Septi yang tidak setuju dengan orang-orang yang mengomentari video ini.
Baginya, video ini sangat menghibur, kejahilan temannya satu ini memang bisa membuat suasana hatinya membaik.
"Bukankah melihat orang yang terjatuh ke lantai itu lucu? Para netizen ini munafik saking inginnya menghujat orang lain. Dasar warga Ind—"
Kalimat Septi terhenti ketika matanya tak sengaja melihat video yang masih diputar, dia melihat sosok yang familiar di dalam video, itu adalah Ryzel.
"Di–dia? Temanku mengganggu dia?!" gumam Septi dengan wajahnya yang menunjukkan ekspresi terkejut.
Pantas saja banyak orang yang memarahi temannya lantaran ada sosok terkenal di dalam video, dan bahkan temannya berkonflik dengan Ryzel secara langsung.
Dengan telepon yang masih terhubung, Septi langsung melontarkan banyak pertanyaan kepada temannya yang bernama Gelisha.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Ryzel Trapeler? Apakah dia sangat marah kepadamu? Pasti dia kesal, kan?" Beri tahu aku apa yang terjadi secara lengkap, Sha!"
Gelisha yang ada di balik telepon terkejut mendengar rentetan pertanyaan dari Septi, dia menjauhi ponselnya dari telinga agar tidak sakit.
Setelah itu, Gelisha menjawab beberapa pertanyaan Septi sesuai dengan apa yang dia alami.
"Entah kenapa aku tiba-tiba merasa terpikat oleh ketampanan pria itu. Aku menyesal telah berbuat jahil yang keterlaluan kepadanya."
"Apa yang kamu katakan, Gelisha?! Kamu menyesal?!" Septi tidak percaya Gelisha mengatakan kalimat itu. "Tidak-tidak, kamu bukan Gelisha, Gelisha tidak akan pernah menyesal dengan apa yang telah dia perbuat. Kamu bukan temanku."
"Hei, aku benar-benar menyesal karena telah jahil kepadanya. Kalau saja aku tidak jahil, aku tidak akan kehilangan tiga puluh ribu pengikut di akun Tiktod aku!" ucap Gelisha dengan perasaan yang sedih.
Dia sedih karena pengikut akun Tiktod yang telah dia kumpulkan selama 2 tahun menghilang begitu saja akibat perbuatannya tadi sore.
"Andai saja aku tidak banyak bertingkah, pengikut akun Tiktod aku pasti masih utuh dan juga aku bisa berkenalan dengan dia," sambung Gelisha yang suaranya terdengar jelas seperti orang yang putus asa akibat menerima kegagalan.
Mendengar ucapan Gelisha, membuat Septi tidak senang. Dia mendengus dan berkata, "Apa yang ingin kamu lakukan? Nasi telah menjadi lontong, kamu telah mendapatkan hasilnya."
"Entah, aku bingung sekarang. Menurutmu, apakah aku harus membuat video klarifikasi?"
"Humm ... kurasa kamu perlu klarifikasi tentang hal tersebut agar masalah tidak terus berlanjut. Setidaknya, kamu tidak terlalu dibenci oleh orang-orang di internet," saran Septi usai merenung beberapa saat.
__ADS_1
Menurutnya, masalah ini juga bukan masalah yang kecil, sebab sudah masuk ke internet dan tersebar luas, bahkan ada beberapa portal berita besar yang membagikan video tersebut.
Gelisha sudah viral dan panas sekarang. Mau tidak mau harus klarifikasi di media sosial.
"Kalau tidak, kamu lebih baik bantu aku."
"Bantu apa?" Gelisha yang sedang memikirkan video klarifikasi langsung tertarik dengan ajakan Septi.
Mulut Septi melengkung menampilkan sebuah senyuman yang aneh dan terkesan licik. Dengan ide yang ada di otaknya, dia berkata, "Apa kamu benci dia?"
"Sedikit, memang kenapa?"
"Kalau begitu, kamu lebih baik bantu aku. Kebetulan aku pernah mendapatkan perlakuan buruk darinya."
Suara Septi membuat orang penasaran seolah-olah ingin informasi yang sangat misterius dan penting.
"Cepat beri tahu aku!" Gelisha sudah tidak sabar ingin tahu apa yang di butuhkan Septi.
"Apakah di kamar kamu ada orang?"
"Tidak? Memang kenapa, Septi?"
Septi tersenyum senang dan sedikit lega, kemudian dia berkata menjelaskan bantuan yang dia perlukan, "Kamu hanya perlu ...."
Malam ini, keduanya melakukan panggilan telepon dalam waktu berjam-jam, dan di jarum jam menunjukkan angka 2 mereka menghentikan pembicaraan dan memutuskan untuk tidur.
"Namun, aku pikir ini terlalu merugikan dia, Septi."
"Merugikan? Bukankah kamu juga telah dirugikan olehnya sekarang? Apakah dia peduli? Tentu saja itu tidak."
"Tetapi—"
"Percayalah, dengan ini nama baikmu akan dibersihkan dan dia tidak lagi seenaknya seperti itu," potong Septi. "Rencana ini sudah dibuat dengan susah payah. Kamu jangan sampai membatalkannya."
"Baiklah, Septi. Aku akan ikut membantumu." Tidak ada yang bisa Gelisha lakukan. Dia saja tidak memiliki rencana untuk menyelesaikan ini secara tuntas
Dengan video klarifikasi saja itu tidak dapat membuat namanya kembali baik, jejak digital sangat kejam, perbuatan jeleknya akan selalu disimpan sampai internet tak bisa lagi diakses.
Septi senang dengan keputusan Gelisha, dia tersenyum lebar sepanjang bertelepon.
Panggilan dimatikan oleh Septi, rencana keduanya telah dibuat. Kemungkinan besar rencana ibu dan dia akan sukses.
Menggosok tangannya, Septi tidak sabar melihat Ryzel terpuruk dan sengsara, kemudian pasrah dan menurut kepadanya dan keluarganya.
"Oke, aku harus membuat daftar barang yang harus aku beli ketika aku dan dia satu keluarga kembali."
__ADS_1
Dengan gegas, Septi menggunakan waktu tidurnya untuk mendaftarkan barang-barang yang ingin dia milik ketika rencana dia sukses hasilnya.
Pada saat yang sama, Ryzel masuk ke dalam balkon usai mematikan siaran langsung. Siaran langsung selesai ketika ketiga burung itu terbang meninggalkan balkon kamarnya.
Selama siaran langsung diterbangkan, Ryzel mengabaikan sejenak pemberitahuan Sistem tentang tugas masuk hari ini atau besok pagi.
"Pantai Pelabuhan Ratu? Lumayan jauh, tetapi tidak masalah untuk pergi menggunakan sepeda motor hanya butuh beberapa jam saja."
Merebahkan diri di atas kasur, Ryzel menatap panel sistem yang mengambang di depan wajahnya.
Tugas masuk telah diperbarui dan lokasinya sudah diganti. Kali ini lokasinya ada di sebuah pantai yang terkenal yang letaknya ada di daerah Sukabumi. Tentu saja, bukan Bencibumi.
Waktu yang diberikan pun cukup lama, 24 jam, masih sempat pergi ke pantai lokasi tugas meski sudah malam.
Untuk sekarang, dia bisa santai terlebih-lebih dahulu.
"Santai dulu enggak, sih?" gumam Ryzel yang teringat gambar meme lucu di internet.
Merilekskan tubuhnya di kasurnya yang lembut dan empuk, Ryzel berniat untuk pergi tidur dan menjemput pagi yang indah.
Tririring!
Nada dering ponsel berbunyi di telinga Ryzel, membuatnya tidak jadi untuk tidur dan beristirahat.
Mengambil ponsel di atas meja, melihat layar ponsel, dan Ryzel mengangkat panggilan yang masuk.
"Halo, Laurel?"
"..."
Laurel menelepon Ryzel untuk memberi informasi dirinya yang ingin pergi ke suatu tempat wisata bersama temannya, bukan Amanda, besok dia bekerja, tetapi teman masa kecilnya.
Ketika ditanya, Laurel bilang dia ingin pergi ke Pantai Pelabuhan Ratu karena sedang ramai di sana.
Sontak hal ini membuat Ryzel terkejut, tetapi tidak terlalu heboh.
Setelah diingat-ingat lagi, tugas masuk dari Sistem selalu saja bertepatan dan sama dengan lokasi wisata yang teman atau orang baru dikenalnya ingin kunjungi.
Maka dari itu, Ryzel perlahan memaklumi ini dan mulai menganggapnya hal biasa. Mungkin sudah diatur lokasi tugas masuknya sama dengan lokasi kunjungan teman-temannya oleh Sistem yang hebat ini.
Setelah menerima telepon dari Laurel, Ryzel tidur sampai pagi datang.
Keesokan harinya, Ryzel dan Laurel bertemu, mempersiapkan sebelum pergi ke Pantai Pelabuhan Ratu.
"Bagaimana dengan temanmu? Sudah ada di mana?"
__ADS_1