
Keesokan harinya setelah bangun tidur, Ryzel mendapatkan tugas dari Sistem, tugas kali ini berbeda karena lebih jauh dari sebelumnya, bukan di daerah Jabodetabek lagi.
Dengan begitu, Ryzel harus berangkat lebih awal, waktu tempuh perjalanan akan lebih lama.
Setelah membereskan barang-barangnya, baju kotor sudah bersih karena dicuci oleh pekerja dari layanan concierge.
Kedua tas telah Ryzel gendong, semua barang tidak ada yang tertinggal, di jam setengah 6 pagi, Ryzel keluar dari gedung hotel sambil menyiapkan untuk siaran langsung, ia ingin siaran langsung sebelum keluar dari Kota Jakarta ini.
Di dalam mobil Gokar yang Ryzel pesan, ia sedang mengobrol bersama para penontonnya, sudah ada lebih dari 20.000 orang yang menyaksikan Ryzel di dalam mobil.
“Ke mana kamu akan pergi, Ryzel?“
“Baru bangun tidur aku langsung mendapatkan notifikasi siaran langsung Ryzel, otomatis aku tonton tanpa berpikir panjang!“
“Dini hari kamu menyiarkan siaran langsung? Sangat rajin!“
“Terlalu dini, Ryzel. Aku masih mengantuk, tetapi aku penasaran dengan tempa apa yang kamu tuju.“
“Judulnya mengapa tidak tercantum tujuan perjalanan? Kamu bermain rahasia denganku, Ryzel?“
Lebih dari 20.000 orang yang bertanya-tanya tentang ke mana dirinya pergi, lantaran di judul siaran langsung tidak diberitahukan tujuan perjalanan kali ini.
Cuma ada keterangan “Siaran Langsung Sebelum Melanjutkan Perjalanan” terpampang jelas sebagai judul siaran langsung, mereka menjadi sangat penasaran.
Namun sayangnya, Ryzel tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan. “Eh, bagaimana tidur kalian semalam? Apa kalian mengalami mimpi buruk bertemu dengan Mami Peri?“
Ia tidak akan lama di dalam mobil, tujuannya tidak jauh, hanya beberapa kilometer saja jarak tempuhnya, butuh belasan menit dalam perjalanan untuk sampai ke lokasi tujuan.
Setelah turun dari mobil, kaki Ryzel melangkah ke terminal bus atau halte bus yang ada di sebelah Stasiun Tanah Abang.
Alasan ia tidak naik di Halte Bundaran HI, itu karena ia ingin melihat pemandangan terakhir kali Tanah Abang, sebab dahulu kecil sering kali bermain di sini, sejak kecil ia nakal, diam-diam pergi ke Tanah Abang bersama teman-teman, atas dasar keseruan karena merasa seperti sedang bertualang.
Perjalanan dari gedung hotel Kempynsky ke Stasiun Tanah Abang tidak begitu jauh, cukup dekat, terlebih di dini hari seperti sekarang ini, jalanan masih sepi, tidak terlalu ramai.
Berjalan sesaat dan masih menyalakan siaran langsung, tidak terasa ia sampai di halte bus, kemudian ia izin kepada penonton untuk mematikan siaran langsung sementara waktu.
__ADS_1
Rentetan komentar terbagi menjadi 2 kubu, kubu yang menolak dan kubu menerima izin, beruntungnya kubu yang menerima ia mematikan siaran langsung lebih banyak ketimbang kubu yang menolak.
Untuk itu, Ryzel menonaktifkan siaran langsungnya dan fokus dalam perjalanan ini.
Segera ia naik bus yang terkenal di Jakarta Pusat dengan tujuan ke Halte Pasar Senen.
Kurang dari 20 menit Ryzel duduk di dalam bus, tidak terasa bus akhirnya sampai di Halte Pasar Senen, meskipun ia merasa sedikit malu karena menjadi pusat perhatian.
Wanita pekerja banyak yang melirik Ryzel, matanya yang menawan sangat mematikan bagi hati lawan jenis.
Turun dari bus, Ryzel pergi ke salah satu tempat makan, di sana ada yang berjualan nasi uduk, Ryzel sengaja tidak sarapan di hotel, lantaran ingin memakan nasi uduk Betawi asli.
Di titik ini, Ryzel mengaktifkan siaran langsung dan mengajak para penontonnya makan bersama di pagi hari ini.
Banyak dari penonton yang meneteskan air liur karena tergoda oleh Ryzel yang tengah melahap makanan.
Selesai makan dan membayar makanan, dengan cepat Ryzel pergi ke Stasiun Pasar Senen untuk memesan tiket kereta api ke tujuan Kota Bandung.
Di Stasiun Pasar Senen cuma tersedia kereta api tipe atau kelas ekonomi atau yang murah dengan tujuan Kota Bandung, jika ingin kelas bisnis dan eksekutif itu harus memesan tiket di Stasiun Gambir.
Melihat jadwal keberangkatan ternyata sudah dekat, Ryzel melihat bahwa keretanya sudah datang dan ia buru-buru pergi menuju ke dalam kereta.
Begitu masuk ke dalam, Ryzel terkejut, ia menghembuskan napas dan tidak masuk langsung, melainkan pergi ke kamar mandi kereta.
Kursi kereta ekonomi ini bisa bergabung dengan orang lain, jadi bisa saja Ryzel duduk dengan orang lain tak dikenal, tidak hanya di sebelah bangku, di depannya pun berhadapan dengan orang lain, sebab pengaturan kursinya saling berhadap-hadapan.
Tidak mungkin untuk Ryzel menyiarkan siaran langsung di dalam kereta, itu akan canggung.
Dengan begitu, Ryzel berpamitan kepada 22.000 penonton di ruang siaran langsung, kemudian ia menutup siaran langsung dan keluar dari kamar mandi.
Orang-orang banyak yang memandang Ryzel begitu ia masuk ke dalam salah satu gerbong kereta, penampilan Ryzel tidak seperti mereka, ini terlihat seperti orang anak kaya dengan kulit bersih dan putih mulus, terlebih lagi tinggi dan matanya sangat menawan.
Ryzel bisa mendengar wanita-wanita yang ada di dalam gerbong ini mengobrol mengenai sosoknya mereka bilang dia tampan dan mirip orang luar negeri jika dilihat dari matanya saja.
Mungkin karena ketampanannya bersifat universal, campuran dari ketampanan berbagai belahan dunia memang Ryzel tidak begitu condong ke wajah khas Asia Tenggara, tetapi masih ada ciri khas yang menampilkan wajah Ryzel sebelum diubah menjadi tampan permanen.
__ADS_1
Sekilas seperti orang luar negeri, tetapi jika dilihat lebih detail, Ryzel masih terlihat seperti orang Asia.
Segera, Ryzel pergi ke kursi kosong yang di hadapannya terdapat kursi yang sudah diisi oleh sepasang orang tua dengan anak kecil perempuan.
“Permisi, selamat pagi, Ibu, Bapak,” sapa Ryzel dengan ramah ke orang tua dan anaknya ini.
Melihat Ryzel datang, orang tua tersebut menyahut dengan membalas sapaan dan menginstruksikan anak perempuannya yang duduk di kursi kosong tersebut untuk kembali ke kursinya.
Anak perempuan yang masih kecil ini terkejut dan menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat Ryzel.
Ryzel pun menunduk dan menatap gadis kecil yang terlihat imut.
Mata bulat yang berkedip itu tampak polos dan suci.
Tanpa sadar tempramen ramah Ryzel ini menginfeksi anak kecil tersebut dan menganggap Ryzel bukan orang yang galak atau jahat.
Gadis kecil yang berusia sekitar 4 tahun ini dengan tenang pindah ke kursi yang diduduki oleh orang tuanya, dan ia tersenyum ke arah Ryzel.
Senyuman ini sangat manis, Ryzel tidak tahan untuk tidak memberi satu bungkus kecil marshmellow cokelat yang sering ia beli kepada anak kecil tersebut.
Melihat barang yang dikasih Ryzel berupa makanan, gadis kecil ini dengan polosnya menerima, kemudian berkata, “Terima kasih.“
Suara balita yang lucu dan menggemaskan terdengar di telinga Ryzel, ini membuat hati Ryzel terasa damai.
Setelahnya, Ryzel mengangguk dan meletakkan kedua tas di bagasi atas tempat duduk kereta.
Mata gadis kecil tersebut masih memandang Ryzel, sepertinya gadis ini tertarik dengan dirinya.
Kemudian Ryzel berkenalan dengan orang tua dari gadis kecil ini agar tidak canggung selama di perjalanan, seiring mereka berbincang, akhirnya perbincangan memanjang, kemampuan komunikasi Ryzel memang bagus, itu berguna untuk berkenalan dengan orang lain tanpa canggung.
Orang tua dari gadis kecil yang lucu ini ternyata cukup tua, hampir berusia 40 tahun, di tahun depan mereka berdua berumur 40 tahun, sedangkan anaknya masih kecil. Mereka menikah di umur yang lebih dari matang, sekitar di usia 35 tahun mereka berdua menikah. Keduanya memiliki umur yang sama.
Melihat gadis kecil ini menyimak obrolan mereka, Ryzel mengajak anak kecil ini mengobrol juga, “Kamu namanya siapa?“
Nada ucapan Ryzel sangat lembut dan halus yang dibalut kehati-hatian.
__ADS_1
“Athu namana Cici,” jawab Gadis kecil tersebut dengan suara susu yang imut dan cara bicara yang belum benar.