Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 92: Bertemu Ketiga Anak Kecil


__ADS_3

Ryzel sedikit menggelengkan kepalanya sambil bermain ponsel. Sistem memang aneh dan tidak bisa ditebak tempat masuk misinya.


Sebenarnya, Ryzel masih ingin pergi ke luar negeri daripada pulang lagi ke Indonesia. Dia masih memiliki semangat untuk bepergian ke luar negeri, keinginan dia untuk mengeksplorasi dan melihat wajah daerah negara lain masih kuat.


Percuma juga dia protes kepada Sistem, jawabannya sudah diketahui oleh Ryzel sendiri. Maka dari itu, dia mengutuk dan mengomel sendiri tidak terlalu lama.


Bermain gim offline di ponselnya adalah cara Ryzel untuk mengembalikan suasana hatinya menjadi ceria lagi.


Selama di pesawat, beberapa hal dia lakukan untuk menghilangkan rasa bosan. Selain bermain gim, dia juga membuat rencana apa yang harus dilakukan beberapa jam ke depan, rencana jangka pendek, juga dia mendengarkan musik untuk menenangkan hatinya, dia suka musik pop dan rock and roll, semua itu dilakukan ketika ada di dalam pesawat.


Kegiatan di pesawat diakhiri oleh tidur santai sampai ke tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Di malam hari, hampir tengah malam, Ryzel keluar dari bandara dengan keadaan setengah mengantuk.


Berdiri di depan pintu masuk bandara menunggu taksi yang ia pesan datang. Sangat sulit pesanan untuk diambil oleh para pengemudi online di jam sekarang yang hampir jam 12 malam.


Untungnya, pesanannya ada yang menerima meski Ryzel sudah menunggu lama.


Di dalam mobil taksi, Ryzel sama sekali tidak berbicara karena dia merasa ngantuk, ini efek dari tidur di pesawat. Walaupun demikian, Ryzel menyahut beberapa kali pertanyaan bapak-bapak supir taksi.


“Orang Indonesia, Mas?“


“Hah? Oh, iya, Pak. Bapak orang Indonesia?“


“Hehe, iya, saya juga orang Indonesia.“


“Oh, begitu. Oke-oke, Pak.“


“…”


Seperti itu mereka mengobrol di dalam mobil, sangat asyik dan memiliki banyak topik yang dibicarakan.


Mereka berdua mengobrol seperti itu hingga mobil sampai di hotel yang pernah Ryzel inap beberapa hari yang lalu.


Hotel yang pernah Ryzel tempati yang letaknya dekat dengan Bundaran HI.


Setelah turun dari mobil, Ryzel memberikan ongkos lebih kepada bapak supir karena mau menerima pesanannya. Jika tidak ada bapak ini, bisa-bisa dirinya berjalan kaki untuk tiba di hotel.


Melihat jam sudah menunjukkan ke angka 1, Ryzel memilih langsung tidur setelah mencuci muka dan mandi.


Awalnya, dia ingin siaran langsung untuk memilih pemenang dari tebak-tebakan hari ini, tetapi sudah terlalu malam, terlanjur untuk siaran di pagi hari.


“Akhirnya, aku di Indonesia lagi. Meskipun aku kurang senang, ketika di sini aku merasa tenang. Mungkin karena ini negara asalku, aku merasa aman dan nyaman.“


Di saat Ryzel ada di luar negeri, di merasa sangat asing dan selalu waspada walaupun hanya sedikit. Namun, itu tetap saja dia merasa tidak aman karena dia tidak tahu tentang orang-orang yang ada di sini. Tidak semua tempat aman. Di Indonesia, dia tidak begitu memasang banyak kewaspadaan, sebab dia tahu kapan dan di mana harus waspada.


Orang negara asal pasti sudah tahu cara bagaimana menghindari bahaya atau kejahatan kecil yang ada di lingkungan warga negaranya.


Malam ini Ryzel tidak membuka ponselnya, terlalu mengantuk, bahkan dia tidak ada selera untuk makan.


Keesokan harinya, Ryzel terbangun karena alarm yang sudah dipasang semalam.


Kegiatan hari ini tetap sama dan konsisten dia lakukan, tentunya bukan mengocok sesuatu, melainkan mengeluarkan sesuatu, pasta gigi harus dikeluarkan untuk dia menyikat gigi.


Ryzel selesai mandi dan tubuhnya sudah bersih tanpa ada kotoran di kulit atau kulit yang menumpuk pada tubuh. Mandinya begitu bersih, tak sama dengan orang yang sedang membaca ini.


Selanjutnya, dia langsung memakai pakaian sederhana yang hanya terdiri dari kaos hitam, celana pendek berkantong banyak yang panjangnya selutut, dan jaket hitam, tak lupa topi yang selalu dia bawa agar tidak kepanasan.


Selain itu juga, dia membawa tas yang berisi peralatan siaran langsung. Tas tersebut sudah menjadi keharusan Ryzel ketika hendak keluar, barang yang wajib dibawa, kedudukannya serupa dengan ponsel.


Sarapan pagi ini, Ryzel makan di restoran hotel yang letaknya ada di dekat lobi. Di sana, Ryzel makan sendirian, tidak lagi ditemani oleh Linh, Maly, atau pun wanita yang pernah ia temui.


Sepi, tetapi dia telah terbiasa dan akrab dengan perasaan sepi ini. Dahulu juga dia sering sendiri, semua kegiatan dilakukan sendiri.


Ketika tengah makan, dia mendapatkan telepon melalui Instagrem dari Linh. Ryzel mengangkatnya tanpa berpikir dan mengobrol dengan Linh beberapa menit.


Wanita ini menanyakan tentang kabarnya, apakah sudah sampai di Jakarta atau belum dan menanyakan seputar yang lain, terkait dengan Ryzel.

__ADS_1


Selain panggilan telepon Linh, beberapa pesan dari Maly dan wanita yang lain pun masuk ke ponselnya, Ryzel menjawab semua pesan mereka di tengah sarapan pagi.


Dengan ini, Ryzel sarapan agak lama, hampir 2 jam dia di restoran hotel.


Memastikan semuanya sudah siap dan barang-barang yang dibawa ke restoran juga tidak ada yang tertinggal, Ryzel keluar dari hotel dan pergi ke rumah seseorang.


Tidak perlu naik ojek sepeda motor, jalan saja sudah bisa untuk bisa ke rumah itu.


Ryzel masuk ke dalam sebuah perkampungan dekat Mall GI dan dia memasuki gang sempit. Jalan ini ada beberapa penduduk yang duduk di depan rumah mereka sehingga Ryzel harus meminta izin untuk lewat, dia harus mengatakan kata “permisi” setiap kali ada orang yang duduk di dalam jalan sempit.


Tak lama kemudian, dia sampai di rumah yang dia tuju, rumah ini letaknya bukan di dalam gang, melainkan ada di jalan yang cukup untuk 1 mobil berlalu lalang. Termasuk ada di area yang pada penduduk karena lokasinya masih di area perkampungan ini.


Rumah ini cukup rapi dan bersih, memiliki 2 lantai. Ketika dia masuk ke dalam, itu hanya terlihat lorong ke dalam, dan di dalam lorong ini ada beberapa pintu.


Benar, rumah ini adalah kos-kosan tempat di mana ketiga anak kecil yang pernah ia temui berada.


Orang tua atau Ibu Nuraini mereka meminta izin kepada Ryzel untuk tinggal di sini untuk sementara waktu, padahal Ryzel sudah menyuruh mereka untuk mengontrak rumah yang besar, paling tidak cukup untuk mereka semua tinggal.


Namun, ibu Nuraini memilih untuk kos di sebuah rumah kos yang terlihat agak sempit dan sesak karena berhimpitan begitu dekat.


Berjalan melalui lorong, tiba-tiba dia melihat ketiga anak yang turun dari tangga rumah ini dengan tergesa-gesa.


Sebuah senyuman di wajah Ryzel yang sedang memakai masker, dia pun berdiri untuk menunggu mereka mendatanginya.


“Abang!“


“Abang Ryzel!


“Aku kangen!“


“…”


Mereka bertiga memeluk Ryzel dengan penuh perasaan yang rindu.


Ketiga anak kecil ini memeluk Ryzel yang berdiri sambil menguburkan kepalanya di jaket Ryzel.


Tak lama kemudian, ibu Nuraini yang sudah lama tidak dilihat Ryzel turun dari tangga dan tersenyum ke arah Ryzel.


Ibu Nuraini mengelus punggung mereka bertiga dan mencoba memberhentikan tangisan ketiganya. Takut mengganggu orang yang tinggal di rumah kos ini.


Anak-anak ini mudah ditenangkan dan dibujuk, mereka berhenti menangis, kemudian tersenyum ketika melihat Ryzel.


“Bagaimana? Kalian sudah siap untuk jalan-jalan sekarang?“ Ryzel tersenyum dan bertanya sambil memiringkan kepala kepada mereka bertiga.


Secara serempak mereka menunjukkan tanggapannya dengan anggukan kepala.


“Ayo! Aku sudah siap!


“Aku sudah tidak sabar!“


“Abang, aku mau digendong.“


“…”


Mereka berlima keluar dari rumah kos menuju ke Mall GI untuk melakukan sesuatu.


Ryzel saat ini menggendong Rani Dara, anak perempuan angkat ibu Nuraini. Dia tidak malu lagi dengan Ryzel. Hal itu dikarenakan karena Rani kecil ini suka menonton cuplikan siaran langsungnya.


Jika meminjam ponsel ibunya, Rani membuka Tiktod dan Yitub. Membuka Tiktod hanya untuk melihat Ryzel setiap hari, sedangkan Yitub untuk belajar, tahun depan mereka akan sekolah.


Sekolah tidak bisa menerima mereka untuk masuk karena belum membuka pendaftaran sekolah. Jadi, mereka hanya bisa menunggu sekolah di tahun depan.


Selama di perjalanan, ibu Nuraini memberikan informasi tentang apa yang dia lakukan dengan uang yang dikasih, dia membuka usaha dagang kecil-kecilan di depan rumah kos atas izin pemilik kos.


Menjual jajan anak yang cepat saji, seperti menjual mie goreng, sosis goreng, telur kecil goreng, otak-otak, minuman es, dan lain-lain.


Hasil dari dagangannya lumayan banyak karena di daerah pemukiman di sana cukup banyak. Bukan anak kecil saja yang membeli, ada juga orang yang habis kerja untuk mengopi di dagangannya. Ibu Nuraini juga menjual kopi.

__ADS_1


Pendapatan untuk beberapa minggu ini cukup bagus, jika dihitung seharusnya cukup untuk membayar biaya kos tanpa menggunakan uang dari Ryzel, bahkan masih ada lebihnya untuk makan dan balik modal.


Ryzel senang dengan usaha ibu Nuraini, dia mendukung penuh, sampai-sampai menawarkan untuk membuka warung kopi saja di sekitar sini.


Namun, ibu Nuraini masih belum siap, dia saja belum terbiasa sepenuhnya dengan pekerjaannya sekarang.


Ryzel paham dengan maksud ibu Nuraini. Maka dari itu, dia selalu siap memodali jika ibu Nuraini mau membuka usaha warung kopi atau rumah makan kecil.


Setelah sekian lamanya mereka mengobrol, mereka berdua sampai di Mall GI, tepatnya di area luarnya.


Sebetulnya, mereka tidak ke dalam gedung mall, melainkan pergi ke tukang bubur yang ada di dekat Mall GI.


Di sana, mereka sarapan bersama, adegan ini mirip dengan saat itu.


Pagi ini, Ryzel melakukan sarapan 2 kali.


Jika dilihat lebih dekat, ketiga anak ini terlihat berisi dibandingkan dengan sosok mereka ketika pertama kali bertemu.


Kulit mereka juga sudah bersih dan terlihat putih. Tidak lagi berwarna cokelat kulitnya karena selalu dijemur oleh cahaya dan panasnya matahari.


Gilang dan Bagus terlihat tampan sekarang, dahulu mereka seperti seorang anak yang tidak terurus, penampilannya begitu kotor dan lusuh. Sementara itu, Rani kecil ini makin cantik, lebih kelihatan wajah cantik dan imutnya.


Mata ketiga anak ini telah terlihat cerah dan hidup. Inilah mata yang seharusnya ditunjukkan oleh anak-anak kecil, bukan pupil mata yang dipenuhi rasa sedih dan kecewa.


“Aku selalu makan telur puyuh di hari rabu, ibu selalu memasak sop telur puyuh untuk kami bertiga di hari rabu. Aku senang makan sate telur puyuh lagi bersama Abang Ryzel!“


“Benar! Masakan ibu sangat enak! Abang Ryzel harus coba!“


“Rani suka telur puyuh goreng.“


Melihat mereka yang ceria dan energik, Ryzel hanya bisa tersenyum dan merespons dengan baik.


Selanjutnya, mereka semua pergi ke suatu tempat yang sudah direncanakan oleh Ryzel dari malam hari kemarin.


Ryzel ke sana sekaligus untuk masuk tugas.


Ke sana mereka harus menggunakan transportasi mobil. Mobil Gokar sudah Ryzel pesan untuk mereka semua pergi ke sana.


“Di sana ada apa saja, Bang? Apakah seru?“


“Aku penasaran dengan tempat yang kita kunjungi sekarang!“


“Rani ingin melihat istana.“


Mendengar ini, Ryzel tersenyum dan menjawab salah satu pertanyaan mereka.


“Di sana ada banyak tempat yang bisa kita lihat dan kunjungi. Ada tempat untuk menyewa sepeda, nanti kita sama-sama bermain sepeda. Tempat ini cocok untuk kalian belajar karena banyak ilmu yang diberikan. Pokoknya, tempat ini bagus untuk dikunjungi.“


Setelah mendengar ucapan Ryzel, mereka semua memancarkan pancaran mata yang begitu bersemangat. Wajahnya sangat ceria dan bahagia.


Setibanya di sana, mereka langsung masuk ke dalam tempat wisata tersebut usai membeli tiket.


“Ramai sekali!“


“Wow! Banyak sekali orang yang datang!


“Ada pohon-pohon, Rani suka!“


Reaksi anak-anak di pertama kali lihat sudah bagus, Ryzel makin senang.


Namun, sebelum memulai penjelajahan tempat ini, Ryzel mengajak mereka untuk masuk ke dalam restoran sejenak.


Mereka di sana makan lagi, tetapi hanya makan makanan yang ringan seperti makanan penutup dan manis.


Ryzel melirik mereka semua yang sibuk dengan makanannya, dan kemudian dia menundukkan kepalanya untuk berbicara dengan Sistem.


[Ding! Terdeteksi Anda Telah Berada di TMII!]

__ADS_1


__ADS_2