
"Iya, dia kerja. Aku besok juga kerja. Jadi, aku tidak bisa bertemu lagi denganmu layaknya sekarang." Laurel memandang Ryzel dengan wajah yang sedih.
Melihat Laurel yang sedih, Ryzel menghiburnya dengan cara menggenggam tangannya dan dia berkata, "Bagaimana kalau kita habiskan waktu yang tersisa ini untuk bermain berdua di mall?"
"Boleh! Mau bermain seperti saat di Temzon?" tanya Laurel yang bersemangat. Rasa sedih menghilang di dalam matanya.
"Aku setuju saja," jawab Ryzel sambil menampilkan senyuman menawan di wajahnya.
"Tunggu apa lagi? Ayo pergi ke mall sekarang!"
Berikutnya, Laurel menarik tangan Ryzel dan membawanya ke dalam mall.
Ryzel sengaja membiarkan Laurel menarik tubuhnya dengan cara dilemaskan. Jika tidak, Laurel takkan bisa menarik tubuhnya meski sekuat tenaga yang dia kerahkan.
Setelah itu, mereka berdua sampai di dalam mall dan langsung bergegas ke tempat di mana tempat permainan anak-anak berada.
Sayang sekali, tempat permainan tersebut belum buka, malah bioskop buka di mall ini.
Maka dari itu, Laurel memutuskan untuk menonton terlebih dahulu sebelum bermain-main di Temzon.
Film yang keduanya tonton adalah film yang bergenre horor. Wanita sangat suka genre horor atau romantis, walaupun mereka takut, mereka tetap suka dengan genre horor yang mengandung hantu yang membuat orang-orang kaget.
Sebagai pria yang lembut dan jantan, Ryzel menyetujui keinginan Laurel untuk menyaksikan film horor, dia sama sekali tidak keberatan dengan keinginan Laurel.
Malah dia setuju sekali. Dengan menonton film horor, dia mendapatkan banyak keuntungan dari kegiatan ini.
Salah satunya adalah mendapatkan pelukan gratis, seperti sekarang yang sedang terjadi.
Laurel melompat dan kemudian memeluk Ryzel dengan erat, dia dengan jelas merasakan sesuatu benda bulat yang menekan tubuhnya, itu terasa nikmat.
Makin seram film tersebut, artinya makin sering juga kesempatan Ryzel untuk mendapatkan keuntungan yang sangat menggiurkan, Stephen pun ikut tergiur.
Selepas beberapa kali Laurel memeluk Ryzel dan bahkan mencium pipinya tanpa sengaja, Laurel akhirnya sadar akan sesuatu.
Pupil matanya bergerak ke arah celana Ryzel yang remang-remang terlihat ada sesuatu yang menonjol sangat besar dan panjang.
Mengetahui benda apa yang ada di dalam celana Ryzel, tangan Laurel diam-diam merayap lalu mengelus benda di celana Ryzel dengan lembut.
Sontak Ryzel terkejut dengan gerakan tiba-tiba Laurel dan dia menatap wanita di sebelahnya dengan mata yang tidak percaya.
Laurel menggigit bibir bawahnya, menarik tangannya, dan berbisik di telinga Ryzel, "Aku ingin habis ini kita pergi ke hotel, apa kamu mau?"
Usai mendengar ini, Ryzel melirik wajah Laurel yang memerah dengan wajah yang menunjukkan ekspresi tidak percaya.
Setelah itu, kepala Ryzel perlahan mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Laurel.
Melihat Ryzel saat ini, membuat Laurel tidak tahan untuk tidak mencium pipi Ryzel, kemudian memeluk tangan Ryzel sambil menonton film hingga layar lebar berubah menjadi gelap.
Sesuai dengan rencana, mereka berdua keluar dari auditorium bioskop dan pergi menuju hotel yang ada di seberang mall, jaraknya tidak jauh, cukup dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Begitu sampai di hotel, mereka memesan dua kamar dan langsung pergi ke kamar masing-masing.
Tak lama kemudian, Ryzel keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Laurel.
Di dalam kamar Laurel, sebuah pertarungan sengit terjadi, Laurel selalu kalah oleh serangan Ryzel yang dilancarkan secara bertubi-tubi.
Berkali-kali dia keluar dengan cairan hangat dan bening karena tusukan dalam Ryzel hingga mencapai ruang bayinya.
Suara aneh sering keluar dari mulut Laurel yang terlalu menikmati tusukan Ryzel yang luar biasa.
Mereka bertempur selama 2 jam sebelum akhirnya terpaksa berakhir karena mereka masih ingat dengan tujuan mereka keluar dan ke mall.
Ketika sosok keduanya keluar dari kamar, mereka berdua kelihatan baik-baik saja tanpa ada keanehan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sebelum kembali ke mall, mereka berdua makan siang di restoran hotel.
Tampak ada sebuah perbedaan di antara keduanya, mereka menjadi lebih lengket dan dekat, terlebih perlakuan Laurel kepada Ryzel begitu perhatian serta pengertian penuh kelembutan.
Ryzel sama sekali tidak menolak apa pun yang dilakukan Laurel, bahkan disuapi oleh Laurel, Ryzel tidak keberatan.
"Aku ingin sekali melakukan 'itu' lagi nanti malam, tetapi aku takut besok kesiangan, dan ketika bekerja takut kelelahan, kamu terlalu kejam dalam melakukan hal tersebut, aku sama sekali tidak diberi pengampunan sedikit pun," ujar Laurel yang mengeluarkan keinginan dan keluhannya.
Mendengar perkataan Laurel, Ryzel menjadi canggung sekaligus malu. Dia menggaruk pipinya dan berkata dengan senyum kaku di wajahnya, "Anu, aku terlalu menikmati, aku tidak bisa berhenti jika sudah seperti itu. Maafkan aku."
"Untuk apa minta maaf? Seharusnya, aku yang meminta maaf kepadamu karena tidak bisa membuatmu puas dan mengeluarkan cairan itu," kata Laurel sembari memeluk tangan kanan Ryzel dan menghimpit siku Ryzel di antara bola-bola besarnya. "Um, maukah kamu sebelum kita pulang kita melakukan hal itu lagi?"
"Siap! Aku mengerti, Kapten!" Laurel mengangguk dan memberikan hormat kepada Ryzel seraya tersenyum bahagia.
Melihat senyuman cantik Laurel, perasaan Ryzel menjadi aneh dan kacau.
Apakah perbuatan yang telah dia lakukan adalah sebuah kejahatan?
Dia telah membuat banyak wanita kehilangan kehormatannya, Ryzel takut mereka tidak bisa mendapatkan pasangan karena pernah berhubungan dengannya.
Kasihan kepada orang yang menjadi suami mereka kelak, istrinya sudah pernah dipakai olehnya secara brutal, jika ada suami yang menerima mereka.
Memikirkan hal ini, wajah Ryzel menjadi berubah dan perubahan ini dilihat oleh Laurel.
Pikiran tersebut masih bersemayam di dalam kepala Ryzel selama mereka berdua bermain di Temzon sampai membeli tablet untuk Jean.
Merasakan ada yang salah dengan Ryzel, Laurel bertanya kepada Ryzel dengan wajah yang penuh khawatir, "Anu, Ryzel, apakah ada suatu masalah yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak ada," balas Ryzel dengan spontan dan wajah yang kurang meyakinkan.
"Tidak, wajahmu tak menunjukkan seperti apa yang kamu katakan," protes Laurel kepada Ryzel. "Tolong katakan padaku, apakah ada masalah yang tengah kamu pikirkan? Apakah itu menyangkut sesuatu di antara kita?"
Secara pelan-pelan, Ryzel menggerakkan kepalanya turun-naik. "Sebenarnya, ada sesuatu yang aku renungi dan itu masih berkaitan dengan kita berdua.
Dengan senyuman dan hati yang tenang, Laurel menatap Ryzel dan berkata dengan lembut, "Bisakah kamu memberi tahu secara lengkap di hotel nanti?"
__ADS_1
"Ya, aku bisa."
"Bagus. Ayo kita pergi ke hotel."
Setelahnya, mereka berdua pergi ke hotel dan masuk ke kamar salah satu dari mereka.
Di sana, mereka lebih mementingkan kegiatan mereka yang memompa untuk membuat anak.
Keduanya langsung melakukan hal tersebut daripada membahas sesuatu yang dipikirkan oleh Ryzel.
Tepat setelah Laurel keluar untuk ketiga kalinya, Ryzel meminta berhenti sejenak untuk mengobrol masalah tentang beban pikirannya.
Ryzel dan Laurel masih di posisi yang panas, di mana Laurel menduduki Stephen dan Ryzel terbarik sambil memainkan bola-bola yang bergoyang.
"Aku ingin bertanya kepadamu, apakah tidak apa-apa kamu menikah dengan orang lain dengan kondisi yang seperti ini?" tanya Ryzel dengan hati-hati.
"Masalah ini yang kamu pikirkan, Ryzel?" jawab Laurel yang terkejut sambil menahan tawa.
"Iya, memangnya kenapa?" Ryzel bingung dengan reaksi Laurel.
"Dengarkan aku," kata Laurel dengan pandangan pupil matanya yang serius. "Aku tidak akan menikah secepat itu, mungkin aku akan nikah di umur tiga puluh ke atas. Aku sudah merasakan hal ini, dan aku tidak lagi penasaran. Sejujurnya, aku juga belum siap untuk menjadi seorang ibu. Namun, jika anaknya dari kamu, aku siap sedia."
"Eh?" Ryzel terkejut.
"Tidak-tidak, aku bercanda di akhiran. Di awal aku bicara, aku berkata dengan serius. Di waktu kosong tersebut sampai ke umur tiga puluh, aku akan menggunakan waktu tersebut untuk memulihkan tubuhku, masalah ini aku bisa tangani. Kamu pasti berpikir bagaimana dengan pasanganku nanti, bukan? Tentu saja, jika memang itu bukan kamu adalah suamiku, aku akan mencari orang yang menerimaku apa adanya. Tak perlu mengkhawatirkan aku, Ryzel. Aku bisa merencanakan sesuatu ke depannya dan itu pasti aman," jelas Laurel dengan senyuman di sepanjang perkataannya.
Mendengar jawaban Laurel, Ryzel menjadi lega dan heran. Entah mengapa semua wanita yang dia temui tidak meminta dirinya bertanggung jawab.
Tetap saja, Ryzel merasa berat hati dan tak enak hati, merasa dirinya sendiri adalah seorang penjahat yang kerap mengambil banyak kehormatan wanita.
Muach!
Melihat Ryzel yang bingung, Laurel mencium bibir Ryzel dengan rasa sayang yang mendalam.
Selanjutnya, Stephen dimasukkan ke dalam lubang Laurel dan ronde kembali dilanjutkan lagi.
Begitu puas, keduanya check-out di malam hari, sekitar jam 8 malam dan pergi kembali ke rumah dengan membawa banyak barang belanjaan.
Ryzel secara inisiatif membelikan ayah dan ibu Laurel baju mahal, harganya tak kurang dari jutaan dan juga ponsel baru.
Selain itu juga, Ryzel membelikan ponsel untuk Laurel dan Jean. Adik Laurel ini mendapatkan tablet dan ponsel baru.
"Terima kasih!" Jean memeluk Ryzel dengan erat dan berterima kasih dari hati yang terdalam.
"Terima kasih, Ryzel. Kami berdua menyukai hadiah ini," kata Ibu Laurel dengan tersenyum senang.
Ayah Laurel merangkul Ryzel. "Barang ini sangat berharga, aku akan menjaganya dengan baik."
Kedua orang tua ini tahu bagaimana caranya menghormati barang pemberian, tidak seperti orang lain yang menjual barang pemberian dengan alasan barang tersebut tidak terpakai.
__ADS_1