Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 84: Pergi ke Sungai Saigon


__ADS_3

“Sudah, bagaimana denganmu?“ Mata Ryzel memindai sosok Linh sekali lagi.


Saat menatap tubuh Linh, tingkah Linh langsung berbeda, dia memasang sosok yang kalem dan lembut.


Dengan pipi yang merona, Linh berkata, “Aku juga sudah siap.“


“Umm, apa pendapatmu tentang penampilanku sekarang?“ Linh menatap Ryzel dengan wajah yang penasaran. Pipinya masih menampakkan warna merah, terlihat makin imut.


Setalah melihat sosok Linh, Ryzel menatap kembali mata Linh dan dia menjawab dengan jujur, “Cantik dan imut.“


“Sungguh?“ Mata Linh melebar dan samar-samar mengeluarkan pancaran cahaya.


“Iya, kamu tetap imut dan pendek,” kata Ryzel dengan mudah.


“Apa?!“


Wajah Linh seketika berubah, dia terlihat marah dan menatap wajah Ryzel dengan pandangan mata yang tajam serta penuh amarah. Aura pembunuh keluar dari tubuhnya.


Melihat wanita kecil dan cantik ini naik darah dengan wajah yang dipenuhi warna merah, Ryzel sama sekali tidak takut. Di dalam matanya, Linh mirip dengan anak kecil yang mengamuk karena tidak dibelikan es krim. Bukan menyeramkan, lebih cenderung lucu dan menggemaskan.


Ryzel berbalik badan dan mulai mengunci pintu kamar. “Percuma saja kamu menunjukkan wajah itu, kamu sama sekali tidak menakutkan.“


“Ih!“


Mendengar ucapan Ryzel, Linh menjadi lebih kesal dan jengkel. Kedua tangannya mengepal melampiaskan rasa kekesalannya.


Saat kesal, tatapan mata Linh tak sengaja terfokus pada pinggang Ryzel, kemudian dia menjulurkan tangannya berniat mencubit pria di depannya.


Begitu tangan Linh hendak menyentuh kemeja hitam Ryzel, sebuah tangan menahan tangan Linh secepat kilat.


Linh terkejut dengan gerakan ini. Dia menaikkan pandangannya ke atas, dan melihat bahwa tangan yang menghentikan tangannya adalah tangan milik Ryzel. Pria ini mengehentikan aksinya tanpa melihat ke belakang.


Sebuah senyuman muncul di wajah Ryzel, dan dia berkata dengan suara yang dalam, “Kamu mau mencubitku? Sayangnya itu tidak bisa.“


Melepaskan tangan Linh, Ryzel membelokkan tubuhnya 180 derajat dan menghadap Linh yang terkejut.


Tubuhnya membungkuk dan menatap Linh dengan pandangan mata yang main-main. “Jangan harap kamu bisa mencubit tubuhku kalau kamu masih pendek dan berdada rata.“


Pupil mata Linh bergetar mendengar ucapan Ryzel, menatap sepasang mata Ryzel dengan ekspresi yang terpana.


Beberapa detik kemudian, mata Linh yang terpana berubah, air mata muncul dan menggenang di matanya.


Raut wajah Ryzel yang tampak main-main dan mengejek ini langsung berubah.


“Tidak-tidak, aku hanya bercanda, jangan dengarkan ucapanku tadi.“ Ryzel berjongkok dan mencoba menenangkan Linh yang sudah ancang-ancang ingin menjerit dan menangis.


Sayangnya, Linh tidak mendengarkan ucapan Ryzel. Air mata makin banyak dan hampir menetes keluar dari kelopak matanya. Bibirnya sudah melengkung cemberut dan hidungnya samar-samar memerah.


Ryzel tidak tahu harus bagaimana, dia telah mencoba mengeluarkan kalimat untuk menggagalkan upaya Linh yang hendak menangis, tetapi itu tidak berguna.


Kalimatnya tadi benar-benar sudah berlebihan, dia memang salah karena sudah berbicara seperti itu kepada Linh.


Melihat Linh yang sudah ada di titik ingin menangis keras, Ryzel mau tidak mau harus bertindak demi menahan Linh supaya tidak menangis.


Baru saja mulut kecil Linh terbuka, kedua tangan Ryzel memeluk tubuh mungil Linh dengan perasaan yang hangat. Tangan kanan Ryzel mengelus punggung kecil Linh dan mencoba menenangkan suasana hati Linh yang terluka karenanya.


Merasakan tubuhnya dipeluk oleh Ryzel, manik mata Linh membesar, dia kini tidak percaya bahwa Ryzel memeluknya begitu saja.


Tanpa disadari, niatnya untuk menangis menjadi batal. Rasa keterkejutannya mengalahkan niatnya.


Setelah itu, Linh mendengar Ryzel mengatakan sebuah kalimat kepadanya tepat di telinga kanannya. Suara magnetis dan nyaman membuat Linh memfokuskan telinganya.


“Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud melukai perasaan kamu, aku sudah berlebihan. Maaf ….“


Suara Ryzel begitu dalam, seperti seorang yang sangat menyesal dan dia sedang mengakui perbuatan salah yang ia perbuat.


Linh enggan memaafkan pada awalnya, tetapi begitu mendengar kata-kata Ryzel, dia merasa bahwa Ryzel memang tidak berniat untuk berkata seperti itu.


Dengan suasana hati yang baik, Linh mengangguk dan membalas pelukan Ryzel. “Ya, aku memaafkan kamu sekarang. Namun, kalau di masa depan kamu masih mengatakan kalimat yang sama. Aku sangat tidak mau memaafkannya lagi.“


“Baik, aku mengerti. Terima kasih telah memaafkan aku.“


Ryzel merasa lega setelah permintaan maaf darinya diterima oleh Linh.


“Sama-sama, Ryzel.“ Linh mengelus punggung lebar Ryzel dengan lembut. “Aku juga ingin meminta maaf kepadamu, Ryzel. Aku sudah mencubit kamu, aku tahu itu sebuah tindakan yang kasar. Aku mohon maaf atas perilaku buruk yang pernah aku lakukan kepadamu.“


Hatinya merasa bersalah lantaran tindakannya yang lancang dan menyakiti Ryzel waktu itu, yaitu mencubit Ryzel di pesawat. Menurutnya, itu perbuatan yang tak pantas ditujukan kepada orang lain..


“Aku sudah memaafkannya saat di pesawat,” balas Ryzel dan mengangguk. Tangannya masih mengusap punggung kecil Linh.


Namun, Ryzel tidak tahu bahwa tangannya ini telah melepaskan sesuatu.

__ADS_1


“Terima kasih, Ryzel. “ Linh menghembuskan napas panjang. Dia juga dimaafkan oleh Ryzel atas perbuatannya tersebut. “Ryzel, aku—”


“Linh, apakah kamu sedang membawa balon di tubuhmu?“ Tak sengaja Ryzel memotong ucapan Linh. Pasalnya, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Terasa seperti ada benda bulat dan empuk layaknya balon diisi balon di antara kedua tubuh mereka.


Tubuh mereka berdua tidak bisa terlalu berdekatan karena benda tersebut, ada yang mengganjal.


Begitu mendengar perkataan Ryzel, raut muka Linh berubah, kemudian dia melepaskan pelukan Ryzel dan melihat ke arah dadanya.


Terpampang jelas 2 bola putih yang timbul dari dalam gaun hitam santai miliknya.


Selain Linh, Ryzel juga melihat bola besar ini, bahkan dia bisa melihat dengan jelas belahan dari 2 bola tersebut yang seperti memberontak ingin keluar dari gaun.


Melihat ini, Ryzel langsung membuang wajahnya ke arah lain. Mencegah adiknya terbangun dari tidurnya.


Dengan cekatan, Linh menutup bola miliknya dengan topi pantai, dia tidak mau Ryzel melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat dari tubuhnya.


Rona merah dan panas sudah mendominasi seluruh wajah Linh. Sekarang, dia sangat malu, sampai-sampai tidak tahu harus apa.


“Anu, Linh. Ada baiknya kalau kamu masuk ke kamar dan mengganti baju. Itu, terlalu tidak pantas jika kita ingin keluar dan pergi jalan-jalan,” ujar Ryzel masih membuang wajahnya dan melihat ke ujung lorong. Dia berusaha untuk tidak melihat sosok Linh.


Saran Ryzel membuat Linh tersadar, dan dia dengan cepat berlari ke kamar. “Baik, kamu tunggu aku. Aku ganti baju dahulu.“


Suara Linh terdengar menjauh dari Ryzel, kemudian suara pintu dibukan dan ditutup berbunyi.


Mengetahui Linh mengikuti sarannya, Ryzel menoleh ke arah pintu kamar Linh dan memikirkan sesuatu.


“Apakah itu bola sungguhan? Atau hanya balon? Bisakah wanita sekecil itu mampu memiliki bola sebesar itu? Dari mana munculnya?“


Banyak sekali pikiran serta pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.


Begitu merenungkan hal tersebut, Ryzel berdiri dan masuk kembali ke kamar. Wanita pasti akan lama untuk membuat ulang dandanan dan persiapannya.


Benar saja dengan dugaannya, Linh mengetuk pintunya setelah 20 menit berlalu setelah Linh masuk ke dalam kamar.


Saat Ryzel membuka pintu, dia melihat sosok Linh yang sama. Dadanya kembali rata dan dia mengganti pakaiannya dengan baju santai berwarna putih yang kebesaran. Tak lagi memakai topi pantai, sekarang ia memakai topi biasa berwarna hitam. Celananya pun masih aman, panjangnya pas di lutut.


Tas kecil dia bawa di bahunya. Secara keseluruhan penampilannya bergaya sederhana dan santai, terkesan ceria.


“Umm … ayo kita pergi!“ ajak Linh sambil menatap Ryzel di depannya. Wajahnya masih malu-malu, dia masih teringat dengan hal yang memalukan itu.


“Oke.“ Tanpa banyak berpikir, Ryzel keluar dari kamar dan pergi bersama Linh.


Ryzel ingin membahas tentang peristiwa yang telah terjadi barusan, tetapi itu agak sensitif bagi Linh.


Jadi, lebih baik ia diam dan menunggu Linh membuka percakapan.


Namun, setelah sampai di luar hotel, Linh tak kunjung berbicara dan masih menutup mulutnya.


Tampaknya, Ryzel harus yang membuka percakapan.


“Anu, Linh.“


“Itu, Ryzel.“


Tiba-tiba keduanya memang satu sama lain secara bersamaan. Mereka berdua saling menoleh dan melihat wajah masing-masing.


Setelah mengucapkan kalimat itu, mereka berdua tidak jadi bicara dan menundukkan kepalanya. Keduanya sama-sama diam.


Ryzel menggaruk-garuk kepalanya terlihat canggung, sesekali mencuri pandangan pada sosok Linh.


Berpikiran Linh tidak berbicara, Ryzel mencoba untuk membuka pembicaraan.


“Linh, ke mana kita harus pergi?“ Ryzel bertanya tentang arah mereka pergi. Sekarang dia hanya berdiri di trotoar jalan depan hotel.


Mendengar pertanyaan Ryzel, Linh memberanikan diri untuk menjawab, “Kita harus ke sana. Aku sarankan untuk jalan kaki saja karena pemandangan di perjalanan menuju sungai sangat bagus.“


Tangan Linh menunjuk ke suatu arah. Meskipun dia berani menjawab, tetapi dia masih belum percaya diri menatap secara terang-terangan ke wajah Ryzel.


“Baiklah, aku tidak masalah. Ayo kita mulai perjalanan menuju sungai!“ Ryzel mengangguk dan melangkah memulai perjalanannya ke Sungai Saigon.


Melihat Ryzel yang bergerak lebih dahulu, Linh mengekori Ryzel dan berjalan di belakangnya.


Mereka pergi ke sungai dengan suasana pertemanan mereka yang begitu canggung.


Di sepanjang jalan, mereka berdua melihat bangunan yang berdiri di samping trotoar jalan raya. Pemandangan ini begitu damai dan menyejukkan. Di pagi hari cuaca masih begitu sejuk.


Selama di perjalanan ini, pertemanan mereka berdua kembali normal. Linh menjadi aktif meski tidak aktif seperti sebelumnya, Ryzel tidak kaku dan merasa santai.


Sebenarnya, Ryzel sudah santai ketika mereka mulai perjalanan ke sungai.


“Aku waktu kecil pernah ke Sungai Saigon. Sungainya sangat besar hingga aku menangis. Sangat lucu jika diingat. Kebanyakan anak kecil pasti takjub melihat sungai yang besar ini, tetapi aku kebalikannya. Sekarang aku sudah besar, aku tidak takut lagi,” kata Linh yang sedang menceritakan sedikit tentang masa kecilnya.

__ADS_1


Ryzel tersenyum mendengar cerita Linh saat kecil. Wanita ini sudah unik, bahkan saat dirinya kecil.


“Mungkin kamu takut ada sesuatu yang muncul dari sungai besar itu. Biasanya, anak kecil takut dengan monster,” ucap Ryzel setelah berpikir singkat.


Menundukkan kepalanya sejenak, Linh mengangguk beberapa kali. “Mungkin saja. Waktu kecil aku takut dengan ular, sampai sekarang, sih.“


“Bisa saja, saat kecil kamu takut dengan ular besar yang muncul dari sungai. Bukankah saat kecil imajinasi kita sangat tinggi?“


“Benar juga. Kemungkinannya seperti itu.“ Setelah dipikir-pikir lagi, analisis dan dugaan Ryzel bisa dipakai.


Linh menjadi penasaran dengan masa kecil Ryzel dan dia bertanya sambil menatap wajah Ryzel, “Apakah kamu waktu kecil takut akan sesuatu?“


“Aku?“ Ryzel menoleh kepada Linh, dan Linh merespons dengan anggukan. “Aku waktu kecil memiliki ketakutan dengan salah satu hewan, menurutku itu sangat unik. Kamu mau tahu hewan apa yang aku takuti?“


“Apa itu?“ Linh melirik Ryzel dengan mata yang penasaran.


“Banteng, aku sangat takut dengan banteng yang berwarna merah.“


“Banteng berwarna merah?“ Ekspresi Linh berubah menjadi aneh dan ia berpikir tentang binatang tersebut.


Ryzel menahan tawa saat ini, sebab candaan ini hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu.


Dengan wajah yang bingung, Linh menatap Ryzel dan bertanya lagi, “Memangnya ada binatang banteng merah?“


“Ada. Hanya ada di Indonesia.“ Ryzel mengangguk dengan memasang wajah yang meyakinkan.


“Sungguh?“ Linh menatap Ryzel dengan mata yang tidak percaya.


“Iya, ada di Indonesia.“


“Hmm ….“


Pernyataan ini sulit dipercaya. Linh tidak tahu bahwa di dunia ini adaa banteng berwarna merah.


“Sudah-sudah, jangan dipikirkan. Lebih baik fokus ke jalan. Habis ini kita belok ke mana?“


Melihat Linh yang menundukkan kepalanya dan merenung, Ryzel berpikir untuk menyudahi pembahasan ini dan berganti topik.


“Kita lurus saja, ikuti jalan, nanti juga sungainya akan kelihatan,” kata Linh kepada Ryzel. Pikirannya masih tersangkut di pembahasan banteng merah.


“Oke!“ Ryzel mengangguk menampilkan dirinya mengerti.


Keduanya terus berjalan ke arah di mana Sungai Saigon berada.


Namun, sebelum di sungai, Ryzel dan Linh mampir ke suatu kafe terlebih dahulu. Linh sedari tadi sudah mengeluh ingin minum, kebetulan ada kafe di perjalanan dan mereka membelokkan arahnya ke dalam kafe.


Mereka berdua memesan minuman dan beberapa makanan camilan.


“Makin lama matahari makin terasa. Sekarang sudah jam sepuluh lebih.“ Linh melihat ponselnya yang bermerek Oddo keluaran tahun 2020, termasuk hp lama.


Ryzel juga ikut melihat ponselnya dan melirik jam, ternyata benar sudah jam 10 pagi lewat sekian menit.


Begitu melihat ponsel Linh, Ryzel baru sadar bahwa ponsel Linh bukan bermerek iPon. Ponsel yang dipegang Linh bermerek jenis yang murah, harga 3 jutaan rupiah dan itu keluaran beberapa tahun yang lalu.


Semua wanita yang Ryzel temui entah Maly, Haimi, Rina, dan lainnya, mereka memakai ponsel yang bergengsi.


Seharusnya, Linh bisa membeli sebuah ponsel yang mahal, sebab dia sudah beberapa kali pergi ke luar negeri.


Dengan penasaran dan rasa ingin tahu yang terpendam, Ryzel bertanya, “Linh, apakah itu ponsel kamu?“


“Iya, ada apa memangnya?“ Linh menatap Ryzel dengan bingung.


“Mengapa memakai ponsel itu? Kamu tidak meningkatkan ponsel kamu?“


“Untuk apa? Ini masih bagus dan berfungsi dengan baik.“


“Bukannya ponsel itu penting untuk pekerjaan kamu? Berkomunikasi lewat ponsel, sudah seharusnya meningkatkan ponsel,” kata Ryzel dengan pendapatnya.


Mendengar ini, Linh menjadi malu dan dia membalas, “Aku juga ingin membeli ponsel baru, tetapi ada banyak kepentingan yang lain, seperti memberi uang kepada orang tua, membayar sekolah adik, membeli baju baru untuk cosplay dan banyak lagi. Namun, sekarang aku sedang mengumpulkan uang untuk membeli ipon.“


“Oh, aku mengerti.“


Ryzel mengangguk salut dan hormat dengan wanita kecil ini, dia bekerja bukan karena dirinya sendiri, tetapi juga karena keluarga. Ryzel tidak bisa menerka bagaimana kondisi keluarga Linh. Intinya, Ryzel salut dengan wanita ini.


Sebuah perasaan iba datang dari dalam hati Ryzel. Tiba-tiba dia memiliki suatu niat yang baik.


“Kamu tahu di mana tempat pusat perbelanjaan di kota ini? Kalau kamu tahu, kamu antarkan aku ke sana, ada yang ingin aku beli,” tanya Ryzel kepada Linh sambil mengaduk-aduk minuman yang baru datang.


“Aku tahu tempatnya,” jawab Linh. “Kamu mau beli apa?“


“Sesuatu, kamu tidak perlu tahu.“

__ADS_1


__ADS_2