
Suara lembut yang menggoda terdengar oleh telinga Ryzel. Tatapan mata Ryzel terkunci pada wajah mungil yang cantik di depannya. Tampak sangat menggoda, terlebih mata Linh yang tengah memandangi area wajahnya.
Glup!
Air liur meluncur di dalam kerongkongannya, Ryzel menahan godaan Linh agar peristiwa aneh tidak terjadi.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Linh yang sedang mabuk ini tidak dijawab oleh Ryzel. Saat ini, Ryzel tidak tahu harus menjawab apa, dia tak tahu konsekuensi jika dia menjawab antara menerima dan tidak.
Tubuh Linh makin dekat dengan Ryzel, dia memandang wajah Ryzel menunggu jawaban Ryzel terhadap pertanyaannya.
“Kalau kamu diam seperti ini, aku anggap kamu mau dan setuju.“ Linh menjilati bibir atasnya dan menatap Ryzel dengan rayuan.
Sebelum Ryzel bisa menjawab dan menyanggah ucapan Linh, mulutnya tiba-tiba ditahan oleh bibir lembut Linh.
Ryzel tertegun sesaat, tubuhnya tegang sementara. Perasaan lembut di mulutnya yang bergerak bebas membuat hati dan pikiran Ryzel berubah, yang awalnya bertentangan menjadi satu tujuan dalam sekejap.
Sedari tadi Linh sudah menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Ryzel, kedua bolanya yang lembut itu menempel begitu lekat pada dada keras Ryzel.
“Emmhh~ ….“
Suara aneh dan menggoda terdengar dari mulut Linh. Ciuman Linh kepada Ryzel makin intens dengan nafsu yang makin besar.
Saking bersemangatnya wanita ini, dia sampai menggelantung pada tubuh Ryzel tidak mau melepaskan diri dari tubuh Ryzel.
Wanita bertubuh kecil ini sangat mendominasi, nafsunya begitu besar, dia yang menekan Ryzel pada adu mulut kali ini.
Kedua tangan kecilnya terus bergerak membelai leher dan bahu Ryzel. Tak lama kemudian, kedua tangan Linh menuntun tangan Ryzel untuk melakukan sesuatu.
Tangan Ryzel diarahkan oleh Linh untuk menyentuh bola-bola besar miliknya. Dia sengaja menyuruh Ryzel bermain dengan bola besar miliknya.
Gerakan Linh ini dipahami oleh Ryzel, seakan otak Ryzel terkoneksi secara otomatis sehingga dia tahu apa yang harus dilakukan.
Jari-jari Ryzel menari di antara kedua bola besar tersebut. Bentuk bola Linh yang bulat berubah bentuk menjadi tak beraturan. Tangan Ryzel sangat bersemangat meremas kedua bola yang lembut ini. Perasaan lembut dan kenyal dari bola Linh membuat Ryzel sangat senang.
Mereka berdua berciuman makin intens dan kuat. Ryzel sudah mengubah posisi mereka. Pada saat ini, Linh berbaring di atas kasur sambil mengalungkan tangannya di leher Ryzel. Kedua kakinya masih mengunci pinggang Ryzel.
Setelah lebih 15 menit mereka beradu mulut dan bertukar air liur. Keduanya melanjutkan kegiatan selanjutnya tanpa banyak berpikir.
Linh tahu apa yang harus dilakukan tanpa harus disuruh dan dibimbing oleh Ryzel, kesadarannya sudah tidak terkendali oleh efek mabuk dari minuman beralkohol.
Pakaiannya satu per satu terlepas dari tubuhnya di depan Ryzel yang berdiri di depan kasur.
Ryzel saat ini sedang merenung dan berpikir. Masih ada rasa ragu dengan apa yang ingin dia lakukan dengan Linh.
Tidak tahu kapan Linh ada di depannya sedang memeluk sambil membelai adik besar yang terbungkus. Dalam sekejap sebuah keputusan Ryzel ambil dan dia memutuskan untuk melanjutkan kegiatan ini dengan Linh.
Wanita kecil ini sangat gila, dia benar-benar seperti seorang wanita malam yang profesional.
Semua pakaian Ryzel dilepas oleh Linh dan dia menuntun Ryzel untuk ke atas kasur.
Cara Linh menuntun pun sangat nakal, dia bukan memegang lengan, tetapi dia memegang adik besar Ryzel yang lebih besar dari tangannya.
Tangan Linh dari siku sampai pergelangan tangan ukurannya kalah besar dengan adik besar Ryzel.
Perlahan Linh membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia membentangkan kedua kakinya mengungkapkan sebuah lubang yang teramat sempit. Saking sempitnya hanya terlihat garis vertikal.
Lubang ini berwarna pink, sama dengan warna dari pucuk bola besar Linh.
Ryzel mendekatkan wajahnya kepada benda sempit ini dan mencoba untuk memeriksanya.
Jari telunjuk dan jari tengah Ryzel mencoba untuk menyentuh bagian yang terbelah ini, terasa lembut dengan bulu-bulu halus.
Sedikit demi sedikit jari-jari Ryzel mencoba mengulik lubang ini. Setelah dilihat, lubang ini masih sangat sempit dan belum pernah dijamah oleh burung lain.
Tepat ketika Ryzel ingin bangun dan berniat untuk menusuk lubang ini, kepala Ryzel ditahan dan dia dipaksa untuk menjilati lubang milik Linh.
Mulanya dia sangat enggan dan memberontak, tetapi saat tahu lubang Linh sangat bersih dan terawat sampai memiliki wangi yang enak, Ryzel menuruti keinginan Linh.
Selama Ryzel bermain dengan lubang ini dengan mulutnya, tubuh Linh menggeliat tidak tahan dengan perasaan geli di bagian bawah tubuhnya.
Tak lama berselang, tubuh Linh bergetar dan menaikkan pinggul rampingnya terangkat ke atas melengkung, bagai pelangi yang indah. Kedua bola besar itu terjuntai-juntai di udara.
__ADS_1
“Ahhh~ ….“
Semburan cairan bening hangat keluar dari lubang Linh dan tumpah membasahi kasur.
Wajah Ryzel telah menjauh dari lubang ini ketika tubuh Linh bergetar mengeluarkan cairan rangsangan lubrikasi.
Tubuh Linh terjatuh di kasur dengan kondisi yang lemas, dia menatap Ryzel dengan wajah yang penuh ekspresi yang liar dan nakal.
“Aku mau lebih dari ini. Jadi, lakukan saja, Sayang.“
Setelah suara manis Linh keluar, Ryzel tanpa berpikir panjang langsung memulai acara utamanya.
Kepala adik besar Ryzel menyentuh kacang kecil di lubang Linh. Tubuh Linh sedikit gemetar ketik kepala adik Ryzel bersentuhan dengan kacangnya.
Melihat reaksi Linh, Ryzel makin menjadi-jadi, dia sengaja menggosok kepala adiknya kepada kacang Linh sambil memainkan bola kiri Linh dengan girang.
Tidak butuh lama untuk tubuh Linh kembali bergetar dan cairan pelumas alami keluar dari lubang kecil dan sempitnya, dan tak sengaja cairan tersebut membasahi batang dan seluruh tubuh adik besar Ryzel.
Mengelus tangan Ryzel yang bermain dengan bola besarnya, Linh berkata dengan wajah yang lemah penuh goda, “Sayang, aku sudah tidak sabar lagi. Tolong masukkan milikmu ke dalam tubuhku, dan biarkan kita berdua bersatu malam ini~ ….“
Mendengar ucapan Ryzel, membuat api semangat di dalam tubuhnya melonjak naik. Dia langsung mengubah arah kepala adiknya turun agak ke bawah, tepatnya mengarah ke lubang kecil Linh.
Kepala besar adiknya mencoba untuk menerobos masuk ke dalam lubang Linh, tetapi itu sangat sulit sehingga lubang Linh menolak dan memuntahkan kepala adik besar Ryzel keluar.
Setelah sekian kali Ryzel mencoba, akhirnya setengah tubuh adik kecil tersebut masuk ke dalam lubang kecil dan sempit Linh. Darah segar berwarna merah mengalir keluar dari lubang Linh.
“Sakit!“ Linh menjerit kesakitan ketika adik besar Ryzel resmi masuk ke dalam tubuhnya.
Namun, Linh tidak menyuruh Ryzel untuk mengeluarkan adik besarnya.
Menatap Ryzel dengan mata sedikit berkedut dan wajah yang menunjukkan perasaan yang kesakitan, Linh berkata dengan suara yang lemah, “Gerakan perlahan, Sayang. Jangan khawatirkan aku.“
Dengan peringatan ini, Ryzel mencoba untuk menuruti permintaan Linh dan dia dengan hati-hati menggoyangkan pinggulnya.
Setiap kali adik besar itu bergerak di dalam, Linh menunjukkan ekspresi yang tengah kesakitan. Dia menggunakan bantal dan meremasnya untuk mengurasi perasaan sakit yang datang.
Gerakan Ryzel makin lama makin cepat, adik besar Ryzel sudah masuk sekitar 60% di dalam lubang Ryzel.
“Ahh … ahhh … ahhh ….“ Linh mengeluarkan suara yang menggoda, menambah goyangan dan dorongan pinggul Ryzel makin cepat.
Saat ini, Linh merasa pikirannya menjadi kosong. Dia hanya terfokus pada setiap tusukan yang diluncurkan Ryzel, terasa sangat nikmat.
Lubang Linh sangat sempit, lebih sempit dari ketiga wanita yang dia coba di Kamboja. Lebih sempit dan mencengkeram kuat. Adik besarnya benar-benar terasa dipijat dengan penuh tenaga.
Seiring berjalannya waktu, mereka berdua terus melakukan kegiatan panas tersebut dengan perasaan yang gembira dan senang.
Beberapa jam berlalu, keduanya saling berpelukan usai melakukan hubungan yang begitu internal.
Ryzel melihat Linh tidur di atas tubuhnya sambil menempelkan pipi mungilnya di samping pipinya. Napas Linh yang teratur terdengar di telinga Ryzel, sudah tidak lagi bernapas dengan cepat dan terburu-buru.
Adik besar Ryzel masih bersemayam di dalam lubang Linh, Linh meminta untuk tidak melepaskan adik besar dari dalam tubuhnya sampai dia tertidur lelap.
Melihat kondisi Linh yang sudah tertidur, Ryzel sudah diperbolehkan untuk mengeluarkan adik besar dari lubang Linh.
Daging besar, tebal, dan panjang milik Ryzel menghilang dan lubang kecil Linh yang kosong kembali menyempit, tetapi tidak bisa sempit seperti sebelumnya.
Cairan bening keluar dan membanjiri adik besar Ryzel.
Selama Ryzel memompa dan menusuk lubang Linh dalam beberapa jam ini, dia sama sekali tidak keluar. Ryzel tidak mau keluar dan selalu ia tahan agar tidak kelepasan.
Namun, setelah miliknya keluar dari lubang Linh, Ryzel tiba-tiba merasa adik kecilnya ingin muntah dan Ryzel tidak bisa menahannya lagi.
Di detik berikutnya, sebuah cairan putih kental menyembur keluar dari adik besar Ryzel dan jatuh tepat di atas punggung Linh.
Sebuah reaksi muncul dari wajah kecil Linh, alisnya bertaut sekilas dan wajahnya kembali normal dengan senyum bahagia di wajahnya.
Pada saat ini, Ryzel tidak bisa bergerak, jika memindahkan sedikit saja tubuh Linh, wajah Linh akan menunjukkan sesuatu ketidaknyamanan dan itu berpotensi untuk membangunkannya.
Oleh sebab itu, Ryzel memutuskan untuk tidur di sini selama satu malam.
Memeluk tubuh Linh yang mungil dengan lembut, Ryzel memejamkan matanya dan tidur di menit berikutnya.
__ADS_1
Adegan seperti ini tidak akan diceritakan secara detail lagi.
“…”
“Aaaa!“
Mata Ryzel terbuka dalam sekejap begitu mendengar teriakan seorang wanita.
Ia bangun dari posisi terbaring dan menoleh melihat ke sekitarnya.
Di ujung tempat tidur, Ryzel melihat Linh menatapnya dengan wajah yang dipenuhi banyak ekspresi sambil memeluk selimut dan menutupi tubuhnya.
“Ka–kamu ….“
“Anu, aku akan jelaskan,“ Ryzel dengan cepat berkata dan hendak menjelaskan semuanya yang telah terjadi di antara mereka berdua.
Namun, Linh hanya diam dan memandangi wajahnya dengan mata yang berubah secara lambat. Matanya yang menunjukkan perasaan yang rumit mulai berkaca-kaca, dia tidak tahan lagi ingin menangis.
Begitu melihat Linh seperti ini, Ryzel langsung bergerak dengan cepat dan memeluk Linh.
Linh tidak menghindari pelukan ini dan dia pasrah dipeluk oleh Ryzel.
Tidak tahu kenapa tubuhnya menerima pelukan hangat Ryzel, dia tidak merasakan suatu perasaan yang tidak nyaman maupun penolakan alami dari dalam tubuhnya.
“Aku akan ceritakan mengapa aku dan kamu bisa seperti ini. Jadi, malam tadi ….“
Ryzel memeluk sambil menceritakan semuanya tentang apa yang telah terjadi di malam hari tadi. Suara Ryzel terasa begitu lembut, membuat perasaan Linh yang runyam menjadi tenang.
Selepas mendengarkan semua cerita tentang peristiwa yang terjadi di antara keduanya, Linh menjadi tersipu, wajahnya dalam kedipan mata langsung memerah.
“Aku tidak memanipulasi atau merekayasa cerita ini untuk membohongi dan agar kamu percaya padaku. Cerita ini aku beri tahu sesuai dengan kenyataan.“ Ryzel masih memeluk Linh. Suaranya terdengar begitu meyakinkan dan tidak ada tanda dirinya berbohong.
Pada sekarang ini, Linh percaya dengan cerita Ryzel. Dia sangat malu sekarang, ternyata orang yang membuat peristiwa itu terjadi adalah dirinya sendiri.
Wajar saja, dia dikendalikan oleh perasaan mabuk, dia saja tidak ingat dengan apa yang semuanya telah terjadi. Namun, dia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, lebih lagi di bagian bawah tubuhnya.
“Aduh!“ Linh memegangi kepalanya, dia tiba-tiba merasa pusing. Efek setelah mabuk atau pengar mulai terjadi padanya.
Dengan cekatan, Ryzel merebahkan tubuh Linh di atas kasur dengan tubuh yang diselimuti. Dia dengan cepat pergi ke dapur kamar dan mengambil segelas air hangat.
Linh memejamkan matanya sambil menahan rasa pusing yang melanda. Dia tidak melihat sosok Ryzel yang tak memakai busana dan berjalan di dalam kamarnya.
Setelah mengambil air hangat, Ryzel duduk di atas kasur dan masuk ke dalam selimut, kemudian menyerahkan segelas air hangat kepada Linh.
Ryzel membantu Linh untuk minum air putih hangat sampai habis.
“Bagaimana? Apakah itu mendingan?“ Ryzel menatap Linh yang bersandar di kepala ranjang dan bertanya dengan nada yang khawatir.
Kepala kecil Linh mengangguk dan dia berkata, “Sudah lebih baik dari sebelumnya.“
“Syukurlah.“ Ryzel tersenyum dan senang dengan kondisi Linh sekarang.
Ryzel sudah terlalu lama di kamar Linh, dia harus keluar dan pergi ke kamarnya sendiri. Dengan begitu, Ryzel memegang selimut dan ingin menyingkirkannya.
Di titik Ryzel ingin keluar dari selimut, tangan kecil Linh tiba-tiba memegang dan menahan tangannya.
“Itu … kamu, bisakah tinggal di sini sebentar lagi?“
Mengalihkan kepalanya ke samping kiri, Ryzel melirik Linh yang ada di sebelahnya dengan alis yang terangkat. “Ya, memangnya kenapa? Apakah ada yang kamu bicarakan?“
Linh menundukkan kepalanya menyembunyikan ekspresi wajahnya yang tersipu. “Umm … iya.“
“Baiklah. Apa yang ingin kamu bicarakan?“ Ryzel kembali duduk di atas kasur dengan tubuh ditutup selimut, menahan niatnya untuk pergi dari kamar Linh.
Mengangkat wajahnya, Linh menatap Ryzel dengan wajah yang sangat merah. “Aku mau kita berdua melakukan kegiatan yang semalam lagi ….“
Mendengar ini, alis Ryzel tersentak bersama-sama dan dia melirik wajah Linh dengan ekspresi yang tidak terduga.
Saat berikutnya, pada beberapa menit kemudian, suara aneh kembali terdengar dari kamar Linh. Suara teriakan dan suara kulit basah yang saling bertabrakan memenuhi kamar.
“Kamu curang, Ryzel! Jangan pegang bagian itu sambil memompa! Kalau kamu seperti itu terus, aku bisa-bisa keluar lagi! Ahh!“
__ADS_1