
Dengan permainan mereka berdua yang diterima Ryzel, kedua pipi Ryzel tercetak logo bibir yang samar-samar.
Kedua wanita yang kembar seiras tersebut memakai lipstik dengan tipis. Bertujuan untuk menambahkan kecantikan mereka.
Ryzel tidak masalah dengan mereka memakai riasan atau tidak, terpenting mereka menyukai kegiatan mereka.
Setelah berciuman bibir dan pipi, mereka berdua pergi meninggalkan Ryzel di rumah sendirian.
Untuk berangkat ke universitas, mereka menggunakan gokar agar lebih cepat. Hari ini Ryzel tidak bisa mengantarkan mereka berdua ke kampus karena ada urusan yang penting.
Dia harus menunggu Septi dan keluarganya datang ke rumah ini.
Mereka tidak memberi tahu tentang keberangkatannya, pesannya tidak dijawab di aplikasi Tiktod, hanya dibaca.
Melihat jam baru menunjukkan pukul jam 8 pagi, Ryzel memutuskan untuk bermain gim dan berolahraga santai sambil menunggu mereka datang.
Dikarenakan baru selesai makan, kegiatan pagi ini diawali dengan menaikkan peringkat di dalam gimnya ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu Warrior Glory, tingkatan teratas pada gim yang Ryzel mainkan.
Masih butuh beberapa permainan dan harus dimenangkan agar dia bisa mencapai tingkatan tersebut.
Permainan yang dipilihnya untuk mengisi waktu sangat intens dan seru. Saking serunya, Ryzel mengeluarkan kata-kata mutiara yang sangat indah dan lembut di telinga.
Hati Ryzel yang damai menjadi jauh dari damai, wajahnya yang selalu tersenyum sekejap berubah menjadi marah.
Wajahnya terlihat mengerikan dengan senyum jahat di mulutnya.
"Bajingan! Tim milikku luar biasa ... bodoh! Mereka benar-benar menyebalkan!"
Dengan amarah yang memuncak, Ryzel melempar ponselnya ke sofa dan segera melanjutkan kegiatannya dengan berolahraga.
Dalam satu menit, Ryzel bisa melakukan push-up sebanyak 500 kali, dan dalam 3 menit bisa 3 ribu lebih.
Kekuatan fisiknya sangat kuat dari kebanyakan orang sehingga push-up benar-benar mudah bagi Ryzel seorang.
Meskipun mudah, push-up sebanyak itu bisa menghasilkan keringat pada tubuhnya. Lumayan untuk membakar lemak yang tersisa karena makanan.
Selain push-up, Ryzel melakukan gerakan lainnya yang lebih intens, yakni pull-up menggunakan alat fitnes yang sudah disediakan di dalam rumah.
Tidak terasa lebih dari 4 jam berlalu sejak Ryzel bermain gim dan berolahraga secara intens.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, tanda bahwa pihak keamanan memanggilnya.
__ADS_1
Di rumah ini menyediakan bel agar orang rumah tahu bahwa ada sesuatu yang penting di luar.
Melihat tubuhnya telah basah oleh keringat, Ryzel memutuskan untuk pergi ke luar rumah tanpa pakaian atas.
Jika dia memakai pakaian atas, itu akan percuma, bajunya akan basah dan tidak enak dilihat.
Lebih baik membiarkan tubuhnya yang basah karena keringat terkena angin sehingga mengering secara alami.
Ryzel menuruni tangga dengan tubuh bagian atas yang terekspos jelas.
Tidak lama kemudian, Ryzel tiba di depan pintu rumah, tangannya mengambil kenop pintu dan menariknya ke dalam.
Begitu pintu terbuka, Ryzel melihat beberapa orang berdiri di depan pintunya, terdiri dari 1 anak kecil, 2 wanita, dan 1 pria.
Melihat orang-orang ini, wajah Ryzel menjadi datar dengan tatapan yang tidak menunjukkan suatu emosi tertentu.
Orang-orang yang datang ternyata Septi dan keluarganya.
Ryzel bahkan melihat ibu kandungnya secara langsung, tetapi hatinya tidak bereaksi apa-apa setelah melihat mereka semua.
Pada saat ini, ibu kandung Ryzel dan Septi sangat terkejut melihat Ryzel yang memiliki tampilan panas ini.
Ototnya yang meledak-ledak tampak kuat terlihat seksi dengan keringat yang melumuri otot tersebut. Dikombinasikan dengan wajah dingin Ryzel, penampilan ini sangat menggoda.
Ibu Ryzel saat ini terkejut karena dia akhirnya bisa melihat Ryzel secara tatap muka.
Dilihat lebih dalam lagi, wajah Ryzel memang mirip di saat kecil, tetapi ini versi dewasanya yang sangat tampan.
Sekilas penampilan Ryzel mirip dengan sosok seseorang yang diingat oleh ibu Ryzel.
Sementara itu, ayah Septi memandang Ryzel dengan senyuman di wajahnya. Sayangnya, Ryzel bisa melihat bahwa senyuman ini palsu.
"Silakan masuk ke dalam."
Setelah mengatakan itu, Ryzel masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, diikuti oleh Septi dan keluarganya.
Melihat Ryzel yang tidak menyapa mereka sama sekali, semuanya terlihat tidak senang, kemudian ikut masuk sambil melihat-lihat interior rumah Ryzel.
Pada saat mereka masuk ke dalam, mereka semuanya tampak sangat norak, seolah belum pernah melihat rumah.
Langkah kaki mereka sangat lambat lantaran mereka fokus melihat interior rumah ini yang indah dan sangat mewah bagi mereka.
__ADS_1
Mata mereka semua dipenuhi bintang, kekaguman yang tak tertahankan terpancar pada wajahnya.
Ryzel tidak peduli dengan ini, kemudian duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu.
Tak lama kemudian, beberapa pembantu rumah membawakan beberapa camilan dan minuman di atas meja tamu.
Duduk dengan tenang, pandangan Ryzel terfokus pada mereka yang menyentuh barang-barang yang ada di rumah. Mereka terlihat tidak sopan di dalam rumah orang lain, sangat lancang.
Namun, Ryzel tidak menegur mereka, membiarkan mereka memperlihatkan sikap buruknya di awal.
Beberapa menit berselang, mereka semua duduk di seberang sofa Ryzel dengan wajah yang gembira seolah belum menduduki sofa mahal.
"Langsung ke intinya, apa yang ingin kalian bicarakan padaku?" tanya Ryzel dengan wajah yang tidak berubah. Intonasi bicaranya terdengar dingin dan agak menyeramkan.
Mendengar pertanyaan Ryzel, mereka semua saling memandang, Septi dan ibunya saling memandang beberapa saat lalu mengangguk bersamaan.
"Aku ingin bertanya kepadamu terlebih dahulu." Ibu Ryzel memandang Ryzel secara terang-terangan. "Apakah kamu sungguhan anakku?"
Ryzel mengangguk pelan dengan tangan yang saling bertautan, postur duduknya terlihat elegan layaknya seorang pangeran. Terlihat ada pancaran yang mendominasi, membuat lawan bicara agak tertekan.
"Benar, aku Ryzel Dicky, anakmu satu-satunya, Santi Farissa."
Setelah Ryzel mengatakan itu, pupil mata ibu Ryzel yang bernama Santi bergoyang, terlihat sangat terkejut dan ingin menangis.
Akan tetapi, hal itu tidak terjadi, ibu Ryzel menegaskan wajahnya dan kembali menatap mata Ryzel dengan serius.
"Kami di sini ingin meminta kamu ikut kami, bergabung dengan kami seperti dahulu. Sebenarnya, kami semua merindukanmu, Ryzel. Aku, ibu kandungmu sendiri ingin kamu bergabung lagi bersama kami," ungkap ibu Ryzel dengan wajah yang sedih dan serius.
Ungkapan tersebut didukung oleh anggukkan kepala Septi dan ayahnya.
Apa yang diucapkan ibu Ryzel adalah tujuan mereka sebenarnya datang ke sini.
Mereka semua melihat reaksi Ryzel saat mendengar ini, tetapi mereka melihat Ryzel hanya diam sambil menatap mereka semua.
Ibu Ryzel melanjutkan dengan air mata yang menetes di pipinya, "Ryzel, tidakkah kamu merindukan ibumu sekarang? Aku sebenarnya tidak mau membuatmu seperti ini, tetapi ini semua demi kebersamaan kita.
"Jika kamu tidak terkena masalah ini, mungkin kamu tidak mengingat ibumu sendiri. Kamu ini masih anakku, ibu sayang padamu, Nak!"
"Berhenti, aku tidak ingin melihat tangisan itu," ucap Ryzel dengan suara yang benar-benar dingin hingga dapat membuat jiwa mereka membeku.
Dalam sekejap ibu Ryzel tertegun dan tidak lagi melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Aku tahu tangisanmu, Santi. Saat ayah tidak ada, kamu sempat memperlihatkan tangisan itu kepadaku. Semua air matamu hanya ada kebohongan dan kemunafikan, tangisan palsu!"