
“Simpan baik-baik senjata kita, tunggu waktu yang tepat untuk melepaskannya supaya usaha kita tidak sia-sia.“ Wanita tua itu menatap anak gadisnya dengan serius. Dia benar-benar tak ingin rencana yang telah dibuatnya gagal.
Gadis ini mengangguk dan tersenyum kepada ibunya. “Aku paham, Bu.“
“Namun, apakah ini rencana yang tepat? Bukankah lebih baik kita memberi tahu secara langsung bahwa kita adalah keluarganya?“ lanjut Gadis tersebut dengan menunjukkan wajah yang ragu.
“Tidak, di awal lebih baik tidak memberi tahu dia bahwa kita keluarganya agar dia terkena dua masalah sekaligus. Kamu seharusnya mengerti,” kata Wanita tua tersebut dengan senyum yang licik. “Biarkan dia menghadapi masalah yang pertama kita rencanakan, dan kemudian kita tambahkan lagi begitu masalah tersebut hendak memudar dan menghilang. Dengan begitu, dia akan depresi dan kebingungan hingga mau tidak mau menerima kita sebagai keluarganya, dan di situ kita bisa bahagia bersama.“
“Aku mengerti, Bu. Ibu sangat cerdas!“ Gadis tersebut memberi jempol tangannya kepada ibunya.
“Sebagai seorang wanita, kita harus cerdas dan pintar memanfaatkan keadaan karena kalau tidak, kita hanya dijadikan objek semata oleh para lelaki.“ Wanita tua itu bangkit dari sofa dan ingin melakukan sesuatu. “Ingat pesan ibu, kamu harus mementingkan dirimu sendiri. Jangan begitu merasa kasihan dengan pasangan kamu nanti. Pada dasarnya, lelaki zaman sekarang tidak banyak yang biasa menghargai wanita.“
Setelah mengatakan itu, ibu dari gadis tersebut meninggalkan ruang keluarga dan berjalan ke luar rumah. Dia ingin berbelanja sayuran di luar.
Gadis ini menatap ibunya yang pergi ke luar dengan mata yang rumit. Tampaknya gadis ini sedang bimbang setelah mendengar perkataan yang disampaikan oleh ibunya.
Matanya memiliki pandangan yang ragu dan bingung, hatinya tenggelam, selang beberapa hitungan detik itu berubah menjadi tegas, penuh dengan keyakinan. Gadis tersebut percaya sepenuhnya dengan ucapan dari ibunya.
Kurva perlahan terbentuk di wajahnya dan senyuman tersebut mirip dengan senyum licik ibunya.
Pada saat ini, Ryzel yang berjalan di lorong hotel tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon dari seseorang. Dia merogoh saku celana dan mengambil ponsel yang disimpan di dalamnya.
“Tumben sekali Yochi meneleponku.“
Di layar ponselnya saat ini menampilkan panggilan yang berasal dari seorang yang bernama Yochi. Teman Ryzel yang ada di Thailand.
Biasanya orang ini tidak begitu sering meneleponnya, mungkin baru 3 kali Ryzel dan dia melakukan panggilan suara. Mereka berdua lebih nyaman mengirim pesan.
Menggeser tombol telepon hijau ke atas, Ryzel mengangkat panggilan dan meletakkan ponsel di dekat telinga kanannya. “Halo, Yochi? Ada apa meneleponku?“
Tanpa sadar Ryzel terus berjalan di koridor hotel sambil bertelepon bersama Yochi mengarah ke lift hotel berada.
Salah satu pintu kamar yang Ryzel lewati tiba-tiba bergerak dan pintu itu terbuka. Sosok wanita cantik dengan rambut pirang kekuning-kuningan keluar dengan sosok tubuh yang ramping dan elegan.
Wanita cantik ini berpakaian bagus dengan gaun hitam rok panjang dan tubuh bagian atasnya ditutupi jaket, tampilannya tertutup.
Di telinga wanita ini terdapat anting putih yang menambahkan kesan cantiknya, terlebih rambut panjang yang terikat itu tergerai ke bagian depan bahu kanannya, kecantikan yang terlihat dewasa.
Keluar dari pintu kamar hotel, wanita ini menoleh ke arah Ryzel yang sedang berjalan sambil mengobrol dengan Yochi menggunakan bahasa Thailand.
__ADS_1
Mata wanita itu terfokus beberapa saat pada sosok bagian belakang Ryzel yang tinggi. Ryzel mengenakan pakaian rapi dan santai, berupa kaos hitam lengan pendek dan celana hitam panjang.
Meskipun sederhana, Ryzel masih terlihat menarik karena postur tubuhnya yang sangat keren dan memancing perhatian wanita.
Dari belakang punggungnya yang lebar saja bisa ditebak bahwa Ryzel memiliki dada yang bidang dan berotot. Ryzel tidak terlihat kurus dan membungkuk, tetapi berotot ramping dan berjalan tegap.
Wanita ini menggelengkan kepalanya, dan mengalihkan pandangannya dari sosok Ryzel, dia fokus mengunci pintu kamar dan berjalan satu arah dengan Ryzel. Lift yang ada dia tuju sama dengan lift yang Ryzel datangi.
Ryzel masuk ke dalam lift dan masih mengobrol dengan Yochi melalui ponsel. Dia berdiri di dalam lift sambil fokus mengobrol. Yochi dalam panggilan ini memberi kabar bahwa Minggu depan nanti, dia dan beberapa temannya akan pergi ke Indonesia, lebih tepatnya ke Bali.
Mereka ingin berlibur di Bali sekaligus bertemu dengan Ryzel di sana kalau Ryzel bisa dan memiliki waktu.
Jelas, Ryzel menjawab dengan kata tidak tahu, dia belum tahu tentang lokasi tugas masuk di masa depan, mungkin saja dia pergi ke luar negeri di waktu Yochi dan temannya datang ke Indonesia.
Maka dari itu, jawaban yang bisa Ryzel berikan adalah tidak tahu dan akan memberikan jawaban pastinya di hari-hari sebelum hari keberangkatan Yochi ke Indonesia. Kemungkinan besar Ryzel saat itu bisa memberikan jawaban atas kesediaannya.
Sebagai orang yang pernah bertemu dengan Ryzel, Yochi sudah paham dengan sikap Ryzel ini. Mereka menerima jawaban Ryzel dan akan menunggu Ryzel mengabari lagi dengan jawaban yang jelas.
Ryzel terlaku fokus menelepon sampai-sampai dirinya tidak tahu bahwa susah ada banyak wanita yang mengisi lift dan berdiri bersamanya.
Wanita-wanita ini sesekali melirik wajah Ryzel karena penasaran dengan wajah tampan Ryzel. Sekali lihat, mereka ingin melihat wujud wajah Ryzel lagi. Ketampanan Ryzel memiliki efek adiktif kepada siapa saja yang melihatnya. Paling terasa oleh para wanita.
Kulit putih, mulus, tinggi, memiliki otot, tampak kuat, dan tampan membuat semua wanita yang ada di lift ingin melihat Ryzel berkali-kali.
Di antara mereka, ada wanita dewasa yang sempat melihat Ryzel yang berjalan di lorong barusan. Wanita ini berdiri tepat di samping Ryzel sehingga dia sedikit mendengar suara yang keluar dari lubang suara ponsel Ryzel. Suara Tan dan Yochi sempat wanita tersebut dengar secara tak sengaja.
“Baik, kalian juga perhatikan keamanan kalian di sana, jaga diri dengan baik. Sampai jumpa.“
Panggilan ditutup oleh Yochi setelah dia mengucapkan kalimat perpisahan kepada Ryzel. Mereka menelepon cukup lama, hampir 7 menit lamanya.
Tepat ketika Ryzel menyimpan ponselnya, lift yang dia masuki ini sampai di lantai dasar hotel.
Dia berjalan keluar dari lift mengabaikan pandangan mata wanita-wanita yang asa di dalam lift.
“Eh, maaf-maaf, aku tidak sengaja ….“
Baru berjalan beberapa langkah, Ryzel tiba-tiba ditabrak oleh seseorang dari belakang.
Dengan hati yang tenang dan sabar, Ryzel menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang menabraknya.
__ADS_1
Sesosok wanita yang cantik berdiri di belakang Ryzel, menatap Ryzel yang menghadapnya dengan wajah yang bersalah.
“Maaf, aku sungguh tak berniat untuk menabrak kamu. Aku tadi lengah dan tidak melihat kamu ada di depanku.“
Wanita yang meminta maaf ini adalah wanita yang memiliki penampilan yang dewasa. Dia tak sengaja menabrak tubuh Ryzel karena dia fokus mengetik pesan di ponselnya sembari berjalan.
Sebenarnya, wanita ini sedang mengetik pesan kepada temannya untuk memberi informasi bahwa dia bertemu dengan pria tampan.
Memandang sosok wanita ini, Ryzel tersenyum ramah dan berkata, “Tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja, kan?“
Bahasa yang digunakan Ryzel adalah bahasa Inggris karena wanita ini yang memulai dahulu. Permintaan maafnya memakai bahasa Inggris.
Sikap pihak lain terlihat baik, Ryzel tidak tega untuk memarahi wanita ini. Jadi, dia tidak mempermasalahkan hal yang sangat sepele ini.
Mengelus dahinya yang terasa sedikit sakit, wanita cantik ini tersenyum dan menjawab dengan malu, “Aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit.“
“Apakah itu benar? Dahimu tidak apa-apa?“
“Sedikit sakit karena terbentur punggung kamu. Jangan pikirkan aku, ini bukan apa-apa.“
Ryzel menjadi yang merasa bersalah karena membuat wanita ini sakit, tetapi dia tidak tahu harus apa lantaran wanita tersebut meyakini dirinya bahwa dia tidak kenapa-kenapa.
Menganggukkan kepalanya, Ryzel menatap keseluruhan orang untuk memastikan benar-benar tidak terluka.
Jantung wanita tersebut berdegup kencang saat Ryzel memandangi sosoknya terang-terangan.
“Kalau begitu, aku pergi dahulu. Tetap fokus ketika jalan, jangan menabrak orang lagi. Sampai jumpa.“
Setelah suara itu jatuh, Ryzel berbalik badan dan kembali berjalan menuju ke suatu tempat.
Melihat Ryzel yang pergi, raut wajah wanita ini tampak kecewa, rona merah di pipinya menghilang, dan senyumnya memudar.
Namun, wajah wanita tersebut berubah lagi, senyum manis yang hampir menghilang tersebut muncul kembali, seluruh orang menjadi senang dan dia berjalan ke arah yang sama dengan Ryzel. Dia terlihat tahu sesuatu.
“Terima kasih.“
Di dalam restoran, Ryzel duduk sendiri di meja yang diperuntukkan untuk dua orang duduk. Kursi di seberang kosong tidak ada siapa-siapa.
Perut Ryzel terasa lapar, makanan-makanan yang ada di depannya seolah memiliki sihir pemikat sehingga dia tidak sabar untuk makan.
__ADS_1
Pada saat Ryzel membuka mulutnya untuk menggigit roti lapis daging sapi di tangannya, wanita yang tak sengaja menabrak Ryzel tadi berdiri di depan mejanya.
“Anu, itu, apakah aku boleh duduk di sini?“