Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 114: Ke Rumah Laurel


__ADS_3

Naura mengajak mereka semua untuk pergi ke hotel sebelum sore datang.


Mereka semua mengangguk setuju dan segera beranjak pergi meninggalkan pantai.


Semua barang bawaan mereka dibawa dan dipastikan tidak ada yang tertinggal.


Setelah mereka semua memeriksa kembali barang bawaan, mereka melangkah ke luar daerah pantai menuju ke hotel mereka.


Di pantai kurang menyenangkan apabila hanya berenang, mereka ingin berselancar, tetapi kondisi tidak memungkinkan.


Masih dengan alasan yang sama.


Berjalan sambil menyiarkan siaran langsung adalah cara Ryzel untuk sampai di tempat tujuan dengan cepat.


Terasa cepat, padahal jarak dan waktu tempuhnya tetap sama dengan keberangkatannya ke pantai.


Setelah sampai di hotel, mereka berlima duduk di restoran untuk membeli camilan.


Mereka mengobrol di restoran lobby sejenak, kemudian para wanita mengajak Ryzel untuk pergi ke kamar Syifa dan Firda.


Di sana, mereka melakukan hal itu lagi bersama dengan intens.


Stephen telah ditingkatkan sehingga dia tidak mudah dan cepat memuntah cairan khasnya.


Mereka berempat selalu saja kalah melawan Ryzel.


Tak peduli berapa banyak ronde yang mereka adakan Ryzel tetaplah menjadi pemenangnya.


Masing-masing wanita ini telah keluar belasan kali dalam waktu dua jam saja.


Setiap tusukan Ryzel di lubang milik mereka itu memberikan perasaan yang luar biasa nikmat pada tubuh mereka berempat.


Rasanya ingin merasakan tusukan dari Ryzel lagi dan lagi.


Meskipun mereka kalah, mereka tak ada niat untuk berhenti. Makin banyak cairan yang mereka keluarkan, makin besar pula keinginan mereka untuk melanjutkan.


Sayangnya Ryzel tidak mengizinkan, dia menjatuhkan mereka berempat dengan cara memberikan cairan lengket dan hangatnya di dalam ruang bayi mereka berempat.


Usai cairan putih Ryzel ditembakkan di dalam lubang mereka, tubuh mereka mengejang hebat, dan cairan milik mereka keluar sangat banyak, bahkan itu memancar ke atas bagaikan pancuran.


Keempat wanita tersebut tiduran saling bersebelahan sambil menunjukkan lubangnya masing-masing yang mengalir cairan putih kental milik Ryzel.


Raut wajah mereka berempat terlihat sangat senang, seolah memang menginginkan anak dari Ryzel. Tidak ada rasa marah dan keengganan di wajah mereka semua.


Jelas, Ryzel mengontrol benihnya sendiri dan memilih untuk tidak menjadikan benihnya menjadi anak di dalam ruang bayi mereka berempat.


Harapan mereka memiliki bayi Ryzel adalah nol. Itu belum bisa terjadi.


Setelah itu, Ryzel membersihkan cairan mereka semua yang membasahi lantai kamar dengan cara dipel atau dilap, tidak lupa memakai pembersih lantai agar wangi dan bersih.


Untuk kasur, itu adalah urusan mereka berempat, tetapi Ryzel akan membantu mereka dalam mengurusi ini.


Puas bermain dengan Ryzel, mereka berempat segera membereskan barang-barangnya karena hari sudah mulai sore.


Sore hari ini mereka harus pergi dan pulang ke rumah masing-masing.


Setelah semuanya siap dan sudah ada di dalam mobil, Naura menginjak pedal gas dan mobil melaju sesuai dengan rute jalan yang diarahkan oleh GugelMeps.


Formasi mereka duduk berubah, Ryzel tidak di depan, dia duduk di belakang bersama Syifa dan Laurel, sedangkan Firda ada di depan.


Di kursi belakang mobil, Ryzel mendapatkan perlakuan yang manja dari mereka berdua, Laurel dan Syifa. Dia benar-benar diperlukan seperti seorang bayi besar.


Ryzel diberi susu gratis dan boleh memainkan benda tersebut jika mau.


Namun, wanita ini yang selalu menawarkan Ryzel untuk Mimi, padahal Ryzel tidak mau dan cuma ingin tidur.


Mereka memaksa Ryzel, sampai-sampai mereka menaiki tubuh Ryzel dan menyodorkan bola-bola mereka berdua ke wajah serta mulut Ryzel.


Firda yang melihat ini, ingin sekali bergabung, tetapi tidak mungkin, kursi belakang akan sempit jika dia pindah ke belakang.


Dia dan Naura hanya bisa tersenyum dan menonton pemandangan ini dari cermin dalam mobil


Perjalanan berlangsung selama beberapa jam lamanya, dan mereka sampai di tengah malam buta.


Untungnya, tidak ada kejadian yang tak mengenakkan selama di perjalanan menuju pulang.


Setelah mengantarkan Naura ke rumahnya, Laurel membawa Ryzel ke rumahnya.


Di rumah Laurel, Ryzel bertemu dengan adik Laurel yang perempuan dan kedua orang tuanya.


Melihat keluarga Laurel, Ryzel merasa rindu dengan keluarganya sendiri.

__ADS_1


"Kalau butuh apa-apa kamu boleh bilang kepada kami berdua, jangan sungkan, ya." Ayah Laurel tersenyum kepada Ryzel, dia memandang Ryzel seperti anaknya sendiri.


Lebih-lebih Ibu Laurel, Ibu Laurel sangat suka sekali dengan Ryzel, bahkan dia kerap memberikan kode kepada anak pertamanya, yaitu Laurel.


Ryzel tahu kode apa itu, tetapi dia hanya diam dan sekadar tahu saja.


Kedua orang tua Laurel terbilang muda, berumur sekitar 40 tahun lebih.


Mirip dengan usia kedua orang tuanya jika masih ada di sisinya.


Sayangnya, mereka tidak mungkin kembali lagi, Ryzel ditakdirkan untuk sendiri di dunia tanpa ada keluarga di sampingnya yang menyemangati.


"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya." Ryzel mengangguk dan tersenyum.


Penampilan Ryzel yang tampan dan bersih bagai seorang artis papan atas paling tampan, membuat kedua orang tua Laurel memandang Ryzel dengan kesan yang baik.


Mengetahui sifat Ryzel yang sopan dan baik, di dalam hati orang tua Laurel, mereka berharap anaknya bisa menikah dengan Ryzel.


Setelah itu, Ryzel dan Ayah Laurel mengobrol di ruang keluarga dengan pembahasan yang acak, dimulai dari permasalahan percintaan, politik, makanan, negara, hingga bisnis.


Ibu Laurel dan Laurel serta Adik Laurel sedang tidur di kamarnya masing-masing.


Pria biasanya begadang, seperti apa yang dilakukan kedua pria ini.


"Kamu bekerja di media sosial dan seorang traveler?" Ayah Laurel menatap Ryzel dengan terkejut.


Ryzel mengangguk tegas penuh percaya diri, dan berkata, "Benar, Pak. Aku bekerja di media sosial sebagai seorang traveler yang memberi hiburan berupa keindahan alam di setiap negara."


"Oh, begitu. Jadi, kamu sudah ke negara apa saja?" tanya Ayah Laurel yang telah tertarik dengan profesi Ryzel.


Dia ingin tahu bagaimana pemuda zaman sekarang bekerja. Apakah hebat atau tidak.


Ini masalah mindset.


Ada jeda beberapa detik sebelum Ryzel menjawab pertanyaan Ayah Laurel.


Memandang Ayah Laurel, Ryzel menjawab, "Pertama pergi ke Thailand, kemudian ke Laos, Kamboja, dan terakhir Vietnam."


"Cukup banyak. Di sekitar Asia Tenggara saja, ya." Ayah Laurel mengangguk mengerti. "Apa yang kamu dapatkan dari liburan di berbagai negara itu?"


"Aku menjadi tahu tentang perbedaan berbagai negara. Meskipun sama-sama di Asia Tenggara, tetapi setiap negara memiliki ciri khas masing-masing yang tidak sama. Namun, untuk tampilan orang-orangnya dan sikapnya terlihat hampir sama."


"Memang benar, aku saja pernah ke Malaysia. Mereka tidak berbeda dengan Indonesia. Benar katamu, mereka juga memiliki sesuatu yang berbeda dengan kami, orang Indonesia."


Ryzel punya rencana untuk pergi ke sana, itu tergantung apakah Sistem memberinya tugas masuk ke sana atau tidak.


Jika tidak, mungkin dia akan ke sana di luar dari tugas masuk Sistem. Kalau ada kesempatan dan waktu, dia akan pergi ke negara tersebut.


Obrolan terus berlanjut hingga mereka berdua berpisah karena sudah terlalu malam.


Jam digital pada layar ponsel mereka sudah menunjukkan pukul jam 3 pagi lewat 20 menit.


Ayah Laurel dan Ryzel pergi ke kamarnya masing-masing, Ryzel tidur di ruang kamar tamu yang memiliki tempat yang cukup bagus dan nyaman.


Baru beberapa saat Ryzel membaringkan diri di atas kasur yang empuk, dia tak lama tertidur hingga pagi yang cerah tiba.


Tok! Tok!


Ryzel yang sedang tidur terbangun akan suara ketukan pintu.


Bangkit dari kasur, duduk beberapa detik, kemudian Ryzel berjalan untuk membukakan pintu.


"Sudah pagi, waktunya kita sarapan pagi. Ayo kita makan bersama!" Laurel berdiri di depan pintu kamar dan langsung mengajak Ryzel untuk makan bersama tanpa basa-basi.


Dengan tubuh yang agak lemas, Ryzel mengangguk setuju. "Tunggu sebentar, aku ingin mandi dahulu."


"Oke, kamar mandi ada di sana, kami tunggu di ruang makan." Laurel tersenyum dan mengizinkan Ryzel mandi.


"Iya, aku mengerti."


Usai percakapan tersebut, Ryzel mengambil handuk di dalam tasnya dan peralatan mandi lainnya yang selalu dia bawa.


Berjalan keluar dari kamar tamu, dia mendorong pintu kamar mandi di dekat kamarnya, dan masuk ke dalam.


Kamar mandi ini terlihat dikhususkan untuk para tamu, Ryzel melihat ada banyak alat mandi yang masih baru, belum dibuka sama sekali.


Juga kamar mandi ini sangat bersih.


Tersedia bathtub di dalam, Ryzel bisa berendam beberapa menit dan bersantai.


Kamar mandi dengan bathtub memang enak, sebuah cara baru untuk mandi dengan perasaan santai dan tenang, tentunya juga bersih.

__ADS_1


Lebih dari 20 menit lamanya Ryzel di dalam kamar mandi, dia menggosok tubuhnya dengan sabun miliknya sendiri, dia tidak mau memakai alat mandi, seperti sabun, penggosok gigi, shampoo milik orang lain.


Maka dari itu, dia selalu membeli peralatan mandi jika sudah habis.


Setelah dari kamar mandi, dia mengenakan pakaian bersih dan pakaian kotornya dia masukkan begitu saja ke dalam tas.


Ruang penyimpanan yang ada di dalam tas mempunyai waktu bersifat statis, bajunya akan seperti itu terus, bisa dibilang waktu di dalam tas itu berhenti.


Bajunya yang kotor tidak akan menjadi lebih bau meski disimpan di tas.


Ryzel akan mencuci baju kotornya nanti.


Keluar dari kamar, Ryzel melangkah menuju ruang makan keluarga. Drinya merasa dia terlalu lama di dalam kamar mandi, takut orang-orang di sana sudah lama menunggunya.


Begitu Ryzel tiba di ruang makan bersama, Laurel dan keluarganya sudah duduk di kursi masing-masing.


Terlihat satu kursi yang kosong yang disediakan untuk Ryzel.


Setelah Ryzel duduk di kursi tersebut, orang tua Laurel menyapa dan mengucapkan selamat pagi kepada Ryzel, terasa sedang makan bersama dengan keluarga sendiri.


Kehangatan dapat dirasakan oleh Ryzel selama sarapan pagi ini berlangsung. Mereka semua mengajaknya mengobrol dan berinteraksi dengan lembut, sama halnya berinteraksi bersama keluarga sendiri.


Adik perempuan Laurel saja senang bercanda dengan Ryzel, adiknya ini selalu ingin dekat Ryzel, sampai-sampai Laurel merasa cemburu.


"Ryzel, aku kebetulan masih libur, dan aku berniat berbelanja ke Mall, kamu mau ikut atau enggak?" tanya Laurel sambil memegang gelas air minum di tangan kanannya.


Mendengar ini, Ryzel segera mengusap bibirnya menggunakan tisu, menatap Laurel dan menjawab, "Boleh, kebetulan aku juga tidak ada rencana untuk pergi di hari ini."


Laurel tersenyum dengan suasana hati yang senang. Akhirnya, dia memiliki waktu berdua bersama Ryzel.


"Kakak, aku mau ikut, apakah boleh?"


"Eh?" Laurel menoleh dengan cepat dan menatap adiknya dengan ekspresi kaget. "Bukankah kamu sekolah hari ini, Jean?"


"Um, itu benar, tetapi tak masalah kalau aku tidak sekolah satu hari," ucap adik Laurel yang bernama Jean.


Dalam sekejap orang tua Laurel menatap Jean dengan wajah yang kurang senang.


"Sayang, kamu harus sekolah sekarang. Lagi pula, kamu sudah memakai baju sekolah. Kamu tidak boleh bolos dan tidak masuk tanpa keterangan," tegus Ibu Laurel dengan suara yang terdengar lembut, tidak marah-marah.


Jean mengangguk kecil dan menundukkan kepalanya melanjutkan makannya yang belum selesai.


Melihat Jean yang kelihatan sedih karena tidak bisa ikut pergi, Laurel berjanji akan membelikan barang yang diinginkan Jean.


Mengingat Jean baru masuk Sekolah Menengah Pertama, dia harusnya membutuhkan sebuah barang.


Setelah Laurel menjanjikan ingin membelikan barang keinginannya sendiri, Jean menampilkan wajah yang cerah dengan gembira.


Dengan lantangnya Jean berkata dirinya ingin Tab atau Pad, elektronik gadget.


Jean membutuhkan itu untuk kebutuhan sekolah. Untuk melihat materi, tugas, dan pelajaran di sekolah, Jean membutuhkan Tab atau Pad karena memiliki layar yang lebar dan luas.


Tentu saja, Laurel tidak bisa berjanji karena harga Pad yang dimaksud Jean sangat mahal lantaran merek dan jenis tablet tersebut sangat terkenal dengan harganya yang tinggi.


Merek tersebut bernama Samsong Bimasakti S8+ dengan harga belasan juta.


Laurel keberatan dengan permintaan barang yang diinginkan oleh Jean lantaran itu terlalu mahal untuk dibeli, sedangkan gaji dia bekerja saja belum sampai sebesar itu.


Jujur saja, Laurel sebenarnya bisa membelikan barang itu, tetapi harus menggunakan uang simpanannya. Dan Laurel tidak mau jika harus memakai uang simpanan yang telah lama dia kumpulkan.


Tepat ketika Jean bersedih karena tolakan kakaknya, Ryzel bersedia untuk membelikan Jean barang tersebut dengan syarat.


Syaratnya adalah belajar dengan rajin dan tidak boleh pacaran selama sekolah di jenjang SMP.


Jelas, Jean langsung setuju dengan persyaratan Ryzel.


Dengan demikian, Ryzel harus membelikan Jean tablet yang diinginkan Jean.


Alasan Ryzel ingin membelikan Jean tablet adalah bentuk rasa terima kasihnya kepada keluarga Laurel yang membolehkan dirinya menginap di sini dalam semalam.


Tidak mungkin Ryzel tak membalas kebaikan Laurel. Selain itu juga, Ryzel merasa tidak enak kepada Laurel yang telah memberikan kesuciannya kepadanya.


Setelah sarapan, Laurel dan Ryzel pergi ke mall sesuai dengan rencana mereka yang telah dibicarakan saat sarapan sebelumnya.


Mereka berdua naik mobil taksi untuk ke sana, tidak memakai mobil pribadi milik Laurel.


Mall yang mereka tuju adalah mall yang ada di daerah Jakarta Selatan, terbilang dekat dengan rumah Laurel.


Sesampainya di sana, mereka tidak langsung masuk ke dalam mall melainkan duduk di taman untuk mengobrol sambil menunggu toko-toko di mall buka sepenuhnya.


"Hari ini Amanda kerja?" Ryzel duduk di sebelah Laurel dan bertanya.

__ADS_1


Mereka berdua duduk di kursi panjang taman sambil memandang pohon-pohon yang ada di depan mereka.


__ADS_2