
Dengan seruan yang mencolok dari Raffy, semua orang melihat ke suatu arah di laut yang ditunjuk oleh Raffy.
Begitu mereka mengarahkan pandangannya ke lautan, mereka langsung bisa melihat beberapa ikan lumba-lumba yang berenang mengikuti kapal mereka di samping kanan kapal.
Ikan lumba-lumba itu berenang dengan ciri khasnya yang timbul di permukaan dan sesekali melompat dari dalam air. Pemandangan ini sangat menakjubkan untuk dilihat.
Bukan ikan, tepatnya mamalia.
Semua orang yang ada di Pulau Padar bagian selatan dapat melihat lumba-lumba yang berenang bersama kapal Pinisi Ryzel, dan mereka menunjukkan wajah yang terkejut sekaligus senang.
Kapal Pinisi Ryzel terus bergerak dengan pengawal lumba-lumba menuju ke tempat selanjutnya.
Ryzel dan yang lainnya berdiri di dek kapal bagian kanan untuk bisa melihat segerombolan lumba-lumba mengikuti kapal mereka.
"Makhluk yang menggemaskan." Soomin menopang dagunya dengan tangannya dan bersandar di pagar kapal. Dia menikmati pemandangan lumba-lumba.
"Sangat lucu, ada adik lumba-lumba di sana," ucap Raffy menunjuk ke anak lumba-lumba berukuran lebih kecil dari lumba-lumba lainnya. "Apakah adik lumba-lumba itu punya kakak?"
Melihat tatapan Raffy ke arahnya, Ryzel mengangkat kedua bahunya dan berkata, "Tidak. Tidak ada lumba-lumba kecil lainnya di sana."
"Oh, aku mengerti. Mengapa lumba-lumba tidak hidup di sungai seperti ikan lele? Apa mereka bermusuhan?" tanya Raffy dengan pertanyaan yang banyak dengan rasa ingin tahu yang besar.
Mendengar pertanyaan Raffy, diusahakan untuk Ryzel jawab. Apabila ada anak kecil yang suka penasaran dan selalu bertanya, ada baiknya untuk dijawab diberi pengetahuan akan pertanyaannya.
Kebanyakan orang tua di zaman sekarang tidak memedulikan anaknya yang bertanya seolah sangat mengganggu.
Tidak sedikit yang malah memarahi anaknya yang bawel karena sering bertanya tentang sesuatu yang tak dia ketahui, bahkan ada yang sampai memukul agar anaknya diam.
Hal inilah membuat perkembangan anak menjadi melenceng dan membentuk sifat anak yang tak berbeda dengan orang tuanya yang ringan tangan dan mulut saat dirinya dewasa.
Ryzel mendapatkan pengetahuan ini dari media sosial yang ia simpan begitu saja bagai memulung pengetahuan di jalan. Dia mengaplikasikan ilmu tersebut kepada dirinya sendiri dengan Raffy sebagai percobaannya.
Hasilnya, Raffy yang mudah menangis telah berubah menjadi anak kecil yang tangguh, tidak ingin dicap sebagai pria lemah sehingga saat mendaki ke bukit di Pulau Padar dia tidak ingin digendong atau dibantu.
Bersabarlah kepada anak kecil karena mereka bukan orang lain, melainkan penerus kita ke depannya.
Beberapa menit berselang dan mereka masih fokus menyaksikan tingkah imut lumba-lumba, tetapi Ryzel yang memandang lumba-lumba ini merasa ada yang dengan hewan lucu di depannya.
Terasa seperti ada sesuatu yang harus ditolong. Pasalnya, gerombolan lumba-lumba ini sering kali mengeluarkan suaranya sesekali menengok ke atas kapal laut untuk melihat Ryzel dan lainnya.
Tak lama saat Ryzel merasa ada yang salah dengan para lumba-lumba ini, kapal mereka sudah sampai di tempat wisata selanjutnya, yakni Pantai Pink yang masih berada di daerah Pulau Padar.
Kapal Ryzel hanya berpindah saja agar bisa lebih dekat dengan pantai tersebut.
Ketika kapal Pinisi yang besar itu agak menepi ke pantai, kawanan lumba-lumba masih mengikuti kapal dan ikut berhenti begitu kapal Pinisi berhenti.
Pemandangan ini membuat para pengunjung yang sedang menikmati keindahan Pantai Pink kaget dengan panorama lumba-lumba di laut.
"Bang Ryzel, aku ikut turun dari kapal bersamamu!" Raffy memegang tangan Ryzel dan berkata dengan wajah yang memohon.
Ryzel yang hendak turun lebih dahulu untuk bertemu lumba-lumba dan ke pantai segera memberhentikan kakinya, kemudian dia menoleh ke belakang untuk melihat Raffy.
Tanggapan Ryzel terhadap permintaan Raffy adalah persetujuan, lumba-lumba yang mereka lihat tampak baik dan sepatutnya aman.
Kemudian dia mengambil tubuh Raffy yang ringan dan turun ke laut yang tidak begitu dalam dengan hati-hati.
Dengan pakaian yang sederhana, kaos abu-abu dan celana pendek, Ryzel membawa Raffy yang memakai pakaian dengan gaya yang sama dengan Ryzel sembari turun dari kapal.
__ADS_1
Di detik berikutnya, lumba-lumba yang berenang mengitari kapal bergerak bersama menuju ke arah Ryzel.
Para kru yang masih di atas kapal segera berwaspada dan mengambil sebuah tongkat panjang untuk menjaga Ryzel dari erangan para lumba-lumba.
Di bawah tatapan semua kru dan Soomin, semua lumba-lumba tersebut berkumpul mengerumuni Ryzel di tengah-tengah mereka.
Raffy tersenyum lebar di atas bahu Ryzel, dia sangat senang bisa melihat lumba-lumba dari dekat.
Melirik semua lumba-lumba berkumpul di sekelilingnya, Ryzel tertegun sejenak dan kemudian mencoba untuk menyentuh salah satu kepala mereka yang menonjol.
"Halo," Ryzel menyapa semua lumba-lumba dalam bahasa Indonesia dan senyuman, tangannya mengelus salah satu kepala lumba-lumba.
Ciyat!!
Kururu!
Berikutnya, lumba-lumba yang berkumpul di sekitar Ryzel mengeluarkan suara siulan unik yang terdengar menyenangkan seolah mereka menyapa kembali Ryzel dengan sahutan kegembiraan.
Semua orang terkejut melihat pemandangan ini, entah para pengunjung di Pantai Pink atau kru kapal, semuanya memandang Ryzel dengan sorot mata yang tak percaya.
"Bang Ryzel, lihat lumba-lumba kecil itu, aku melihat ada sesuatu yang tersangkut di tubuhnya," celetuk Raffy sambil mengulurkan tangan menunjuk ke satu lumba-lumba kecil berada.
Mendengar ini, Ryzel segera mengalihkan perhatiannya ke lumba-lumba kecil yang terjepit di kerumunan lumba-lumba besar.
Benar apa yang dikatakan Raffy, lumba-lumba kecil ini memiliki keanehan di tubuhnya.
Dengan Afinitas Binatang yang dia punya, Ryzel bisa memerintahkan mereka untuk melakukan sesuatu.
"Aku minta kalian untuk minggir terlebih dahulu, aku ingin melihat lumba-lumba kecil ini," kata Ryzel dengan wajah yang ramah. Temperamen positif yang dia miliki dikeluarkan untuk memaksimalkan efek dari kemampuan Afinitas Binatang miliknya.
"Itu kelihatan seperti plastik," kata Raffy sembari melihat lumba-lumba kecil di depan Ryzel.
Ryzel mengangguk dan sedikit membungkuk untuk mengambil lumba-lumba ini dari air laut.
Lumba-lumba besar yang ada di sebelah lumba-lumba kecil ini tidak melakukan apa-apa hanya bersiul terdengar memberi tahu akan sesuatu kepada Ryzel.
Saat Ryzel membungkuk, Raffy memegang kepala Ryzel dengan erat supaya tidak jatuh.
"Sampah plastik ini mengikat tubuh lumba-lumba ini." Ryzel melihat terdapat sampah plastik yang melilit tubuh lumba-lumba kecil ini. "Tunggu sebentar, aku akan melepaskannya."
Dengan cekatan, Ryzel melepaskan plastik yang ada di tubuh lumba-lumba. Kulitnya yang licin membuat plastik yang melilit tubuhnya tak sulit untuk dilepaskan.
Namun, Ryzel tiba-tiba menurunkan lumba-lumba ke dalam air dan dia mendongak untuk melihat ke kru yang masih bersiaga.
"Aku minta gunting atau pisau, plastiknya tak mudah dilepas."
Setelah mengatakan itu, semua kru bergerak, salah satu dari mereka mengambil senjata tajam dan beberapa kru mulai bergerak dan turun ke bawah untuk melihat lumba-lumba dari dekat.
Berikutnya, Soomin mendatangi Ryzel di bawah untuk mengantarkan gunting yang diberikan oleh kru.
"Ini guntingnya, Sayang."
"Terima kasih."
Ryzel menerima gunting dari Soomin dan dia menatap Soomin sambil tersenyum.
Setelah mendapatkan gunting, Ryzel menurunkan Raffy dari tubuhnya, kemudian dia membungkuk untuk menggunting plastik yang tersangkut di tubuh lumba-lumba.
__ADS_1
Plastik itu berhasil Ryzel lepas dan lumba-lumba kecil telah bebas.
Melihat ini, lumba-lumba besar yang menemani lumba-lumba kecil mengeluarkan suara dengan intonasi suara yang terkesan gembira.
Lumba-lumba yang lainnya mulai berkumpul lagi dan memunculkan kepalanya sambil mengeluarkan suara siulan yang berbeda.
Semua orang yang melihat ini menjadi terhibur, senyuman terbentuk di wajah mereka.
Beberapa dari mereka bahkan merekam untuk mengabadikan momen langka ini.
Dengan peristiwa tersebut, Ryzel dan lainnya bisa bermain bersama dengan lumba-lumba liar ini tanpa khawatir.
Pasalnya, Ryzel benar-benar dipandang sebagai ahli dalam berkomunikasi dengan para lumba-lumba.
Apa pun yang dikatakan Ryzel, lumba-lumba yang tidak terlatih ini mengikuti perkataannya.
Di Pantai Pink menjadi ramai, banyak pengunjung yang berdatangan ke bibir pantai untuk melihat kawanan lumba-lumba lucu.
"Haha, geli!"
Raffy saat ini sedang asyik bermain dengan lumba-lumba kecil yang sudah ditolong oleh Ryzel.
Mereka berdua sedang bersenang-senang bermain air bersama.
Untungnya, di pantai ini tidak terlalu dalam dan juga tidak terlalu dangkal. Raffy bisa berjalan di laut dekat pantai meski ketinggian air melebihi perutnya.
Tidak hanya Raffy, Ryzel dan Soomin menyentuh beberapa lumba-lumba yang ramah kepada mereka, kru kapal Ryzel dan beberapa orang pun bisa berfoto bersama serta menyentuh lumba-lumba dengan bebas.
Namun, Ryzel tetap mengawasi mereka agar tidak berbuat jahat kepada lumba-lumba.
Tidak lama kemudian, semua lumba-lumba akhirnya menjauh dari pantai, mereka semua memandang sejenak ke arah Ryzel dan manusia lainnya seraya mengeluarkan siulan yang ramai.
Selanjutnya, mereka kembali berenang dan resmi meninggalkan Ryzel dan yang lainnya dengan siulan perpisahan.
Semua orang ada yang tersenyum dan ada yang merasa sedih usai kawanan lumba-lumba pergi untuk kembali ke wilayahnya.
Raffy bahkan sampai menangis, Ryzel memeluk Raffy dan menenangkannya, dibantu juga oleh Soomin.
Pada saat ini, di tengah hari yang terik, mereka semua kembali ke kapal Pinisi untuk makan siang bersama. Mereka menunda kegiatan berenang mereka untuk makan siang terlebih dahulu.
Peristiwa menolong lumba-lumba tadi memakan waktu 2 jam, lebih banyak bersenang-senang dengan lumba-lumba karena pemandangan lumba-lumba berinteraksi dengan manusia di laut lepas sangat jarang.
Makan siang tidak berlangsung lama, lebih dari 1 jam berlalu, mereka semua bergegas ke pantai lagi untuk berenang dan menikmati pemandangan pantai.
"Laut di sini sangat jernih, pasirnya pink sama dengan warna punyaku. Di sini ada kura-kura kecil, kiyowo!!"
Soomin, Ryzel, dan Raffy asyik bermain air di Pantai Pink, dan tiba-tiba Soomin bergumam dengan ucapan yang ambigu.
"Apa yang kamu bilang?" Ryzel menoleh dan bertanya dengan wajah yang heran.
Sontak Soomin menutup mulutnya dan menggelengkan kepala.
Ryzel terus berusaha memastikan ucapan Soomin yang barusan. "Pink seperti punyamu? Maksudnya?"
"Itu, maksudnya adalah aku punya ...."
Tatapan Soomin tiba-tiba berubah dan dia memeluk Ryzel seraya berkata, "Aku ingin melakukan kegiatan itu di malam ini, apakah boleh?"
__ADS_1