
Ketiga burung elang berdiri di atas dek kapal untuk berjemur dan melihat pemandangan di lautan.
Di hadapan mereka sudah disediakan beberapa piring ikan bakar yang dimasak oleh para chef di kapal ini dari ikan-ikan yang mereka bertiga tangkap.
Tidak tahu bahwa burung elang ini dapat memburu ikan di lautan yang luas.
Ryzel kira burung elang hanya bisa menangkap mangsa di daratan saja. Pengetahuan baru baginya.
Ada banyak ikan yang mereka tangkap, sisanya yang terbilang cukup banyak disimpan kru untuk makan mereka semua.
Dengan begini, pasokan makanan untuk beberapa hari menjadi bertambah.
Meskipun mereka takkan kekurangan bahan makanan untuk dimasak karena Ryzel meminta mereka untuk berbelanja banyak, tetapi ikan-ikan yang dipanen oleh ketiga burung elang membuat mereka makin terjamin takkan kelaparan.
"Makanlah. Makanan ini yang kalian suka, kan?"
Burung-burung elang yang ada di atas kapal mengangguk sebagai tanggapan pertanyaan Ryzel.
Berikutnya, mereka bertiga segera melahap ikan bakar yang sudah dibuatkan oleh chef kru kapal.
Selain daging, burung elang menyukai ikan untuk makanannya.
Akan tetapi, ketiga burung ini lebih suka makanan yang sudah diolah. Mirip seperti manusia yang lebih suka makanan sudah dimasak hingga matang.
Kriuk! Kriuk! Kriuk!
Bunyi garing dari ikan bakar dan tulang ikan bisa didengar oleh semua orang, membuat semua orang menjadi lapar.
Sayangnya, ini masih sore dan belum masuk waktu makan malam, makanan juga belum disajikan dan masih dimasak oleh para chef. Jadi, mereka harus menunggu makan malam datang sambil menyaksikan ketiga burung elang sedang makan ikan bakar begitu nikmat.
Raffy sangat menyukai burung elang, dia melihat ketiganya dari jarak yang dekat sambil berjongkok.
Sebagai anak kecil, Raffy termasuk anak kecil yang berani, tak takut dengan elang yang besarnya hampir sama dengan dia.
"Bang Ryzel, apakah burung-burung ini punya abang?" tanya Raffy dengan rasa ingin tahu.
Soomin menatap Ryzel dan ingin mendengar jawaban Ryzel.
Pertanyaan Raffy sudah mewakili dirinya yang juga ingin menanyakan hal yang sama.
Apa yang dikatakan Raffy masih bisa diketahui oleh Soomin karena dia memiliki beberapa teman orang Indonesia. Sedikit tahu bahasa Indonesia.
Ryzel menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian berjongkok tepat di depan ketiga burung elang yang sibuk memakan ikan bakar.
Melirik Raffy di sampingnya, Ryzel menjawab, "Burung-burung ini bukan milik abang, tetapi mereka bertiga selalu mengikuti abang setiap kali pergi ke mana saja."
"Apakah burung elang ini menyukai Abang Ryzel?"
"Entah." Ryzel mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja seperti itu. Pada intinya, abang sama sekali tidak memelihara mereka. Raffy harus tahu, burung-burung ini termasuk burung yang langka dan memiliki jumlah yang sedikit."
Meskipun Raffy tak mengerti apa yang diucapkan oleh Ryzel sepenuhnya, secara kasar dia masih tahu apa yang dimaksud Ryzel.
"Jadi, burung elang ini ingin dirawat oleh Abang Ryzel?"
"Entahlah. Abang sendiri tidak tahu."
Hal ini membuat Raffy bingung. Dia bertanya-tanya mengapa burung-burung elang ini datang dari jauh untuk menemui Ryzel.
Tiba-tiba Soomin ikut berjongkok di belakang Ryzel sambil mencubit baju Ryzel agar tidak jatuh karena goncangan di kapal laut.
Dia ingin melihat burung elang lebih dekat.
"Bolehkah aku memotret mereka?" tanya Soomin kepada Ryzel untuk meminta izin.
Ryzel menengok pada Soomin dan mengangguk, dan dia menjawab, "Silakan, tetapi jangan terlalu dekat."
"Oke!"
Soomin perlahan bergerak dan melangkah sambil berjongkok ke depan burung elang untuk mengambil gambar yang bagus. Ternyata dia berjongkok tepat di depan Ryzel.
Namun, sebelum dia berhasil menangkap gambar, Soomin dikejutkan dengan Burung Leang Harpy yang berjalan mendekatinya.
Sontak, Soomin melompat mundur untuk menjauh dari Burung Elang Harpy, tetapi dia lupa bahwa di belakangnya ada Ryzel yang masih berjongkok.
Bugh!
Tubuh Soomin mendorong Ryzel yang berjongkok ke belakang hingga terjatuh lantaran kehilangan keseimbangan.
Mereka berdua jatuh bersama di atas lantai kapal.
Pada saat ini, sosok Soomin terbaring tepat di atas tubuh Ryzel.
Melihat ini, para kru di kapal berpura-pura tak melihat apa pun dan mereka memalingkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
Sementara itu, Raffy menoleh mereka berdua sesaat dan kembali menyaksikan burung elang makan tanpa memedulikan mereka berdua.
Ryzel terkejut melihat Soomin terbaring di atas tubuhnya dengan santai. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Soomin dan memindahkannya ke samping.
Dengan kekuatannya, mengangkat tubuh Soomin bukanlah apa-apa. Otot perutnya kuat untuk bangkit dari keadaan tidur sambil mengangkat tubuh Soomin.
"Ma–maaf. Aku kaget burung elang tadi tiba-tiba mendekati aku ingin mematuk."
Soomin berdiri di depan Ryzel dan menundukkan tubuhnya 90 derajat untuk meminta maaf.
"Tidak apa-apa." Ryzel tersenyum dan menaikkan tubuh Soomin untuk tidak membungkuk kepadanya. "Aku yang seharusnya meminta maaf karena tak sengaja memegang sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku pegang."
"Tak masalah, tadi itu hanya kecelakaan," kata Soomin dengan wajah yang merah.
Jujur saja, dia sangat malu ketika Ryzel memegang dadanya karena terjatuh dan tak sengaja. Perasaan barusan masih bisa dia ingat di kepalanya, perasaan yang aneh, tetapi dia menyukainya.
Melihat reaksi Soomin, Ryzel merasa ada sesuatu yang salah dengan wanita ini.
Lantas, Ryzel segera melihat jendela status untuk memeriksa kembali kemampuannya.
Selanjutnya, pupil mata Ryzel menyusut cepat, dan dia bergumam dalam hati, 'Bodoh, aku lupa mematikan kemampuan tangan ajaib!'
Tangan Ajaib adalah kemampuan yang beberapa hari yang lalu ia dapatkan, memiliki efek berbahaya bagi wanita yang disentuhnya, hati wanita yang disentuhnya saat kemampuan ini aktif akan luluh dan kemungkinan besar wanita tersebut menyukainya.
Setelah peristiwa itu, di malam harinya, Ryzel dan Soomin berada di kamar yang sama tengah duduk di atas kasur saling memandang satu sama lain.
"Anu, aku ingin bilang sesuatu kepadamu."
Setelah kata-kata itu keluar dari mulut Soomin, firasat buruk muncul di hatinya.
"Ya ... mau bilang apa?" tanya Ryzel dengan butiran keringat di dahinya.
Melihat respons Ryzel, Soomin segera mengambil napas dalam-dalam lalu berkata dengan suara yang lantang, "Aku menyukaimu! Aku ingin membuat anak denganmu!"
"Apa kamu bilang?!" Ryzel terperanjat hampir melompat dari atas kasur.
"Aku ingin membuat anak denganmu!"
Soomin berkata dengan terus terang sembari menatap Ryzel dengan mata yang tegas.
Untuk sementara waktu, Ryzel terdiam seraya menatap Soomin di hadapannya.
Ryzel tenggelam di pikirannya, dia merenung untuk menimbang keputusan yang akan diambil olehnya.
"Tidak!" jawab Soomin dengan kejam.
'Sial,' kata Ryzel di dalam hatinya.
Selanjutnya, di dalam kamar utama kapal Pinisi, mereka berdua tidur bersama sambil melakukan hal yang membuat semua orang gerah.
Kegiatan mereka begitu intens hingga Soomin berkali-kali meminta ampun dalam bahasa Korea Selatan.
Sayang sekali, Soomin telah memilih lawan yang salah. Ryzel adalah pria penakluk wanita cantik dan seksi, dia berpengalaman.
Kegiatan mereka tidak berlangsung lama, hanya 3 jam lamanya dan diakhiri dengan keluarnya cairan kental berwarna putih susu di dalam lubang Soomin.
Tenang, Ryzel takkan membuat perut Soomin membengkak.
Setelah kegiatan yang melelahkan itu selesai mereka lakukan. Keduanya, tertidur bersama saling berpelukan.
Mereka berdua tidak tahu bahwa suara jeritan Soomin terdengar hingga ke kamar para kru. Ada banyak kamar di kapal Pinisi ini dan pasti ada kamar untuk kru yang bekerja di sini.
Suara itu didengar oleh kru yang sedang beristirahat dan cukup mengganggu mereka.
Untungnya, mereka memaklumi ini karena mereka menganggap Ryzel dan Soomin adalah pasangan.
Keesokan harinya di pagi buta, tepatnya di jam 5 pagi yang masih remang-remang, kapal Pinisi sudah tiba di destinasi selanjutnya, yaitu Pulau Padar.
Sosok Ryzel dan yang lainnya terlihat sedang mendaki sebuah bukti di suatu pulau, langit masih gelap, ada sedikit cahaya oranye dari matahari yang akan terbit.
Di pulau tersebut tidak hanya ada Ryzel dan orang dari kapal Pinisi miliknya, tetapi ada beberapa orang luar negeri yang juga sampai di Pulau Padar dan juga mendaki untuk melihat pemandangan di atas bukit.
Ryzel menuntun Raffy yang bersikeras ingin mendaki sendiri meskipun medan pendakian ini cukup melelahkan karena ada banyak sekali anak tangga. Sebagai orang dewasa yang baik, Ryzel memberi Raffy kesempatan untuk mendaki sesuai keinginannya sambil diawasi secara langsung olehnya.
Pendakian ini memakan waktu puluhan menit, langit yang gelap menyembunyikan cahaya matahari mulai menghilang dan didominasi oleh cahaya matahari yang indah.
"Luar biasa cantik!"
Ryzel dan yang lainnya berdiri di atas bukit Pulau Padar melihat sebuah pemandangan menakjubkan berupa tiga pantai di satu pulau yang memiliki warna pasir yang berbeda.
Pemandangan alam yang benar-benar terasa seperti sedang berada di dunia lain. Pemandangan ini terlalu indah untuk dilihat.
Segera, Ryzel dan lainnya mengambil gambar dari atas bukit dengan latar belakang tiga pantai di Pulau Padar.
__ADS_1
Raffy langsung kegirangan melihat keindahan alam ini, dia melompat-lompat sambil berseru senang.
Di sana, mereka semua mengambil beberapa gambar dan video untuk mengabadikan keindahan alam ini.
Ryzel masih belum bisa siaran langsung karena ingin menenangkan diri tanpa menyentuh pekerjaannya untuk beberapa hari.
Akan tetapi, dia akan tetap mendokumentasikan perjalanannya menuju Pulau Komodo dan suatu saat akan dia jadikan beberapa video untuk diunggah akun Tiktod sebagai konten video pendek.
"Aku sangat bahagia bisa melihat pemandangan ini bersamamu, Ryzel."
Di sekarang ini, Soomin memeluk Ryzel dari belakang sambil melihat pemandangan Pulau Padar di kejauhan.
Ryzel memegang tangan Soomin dan tersenyum. "Kamu menyukai pemandangan alam ini?"
"Ya, aku juga menyukaimu."
Mendengar ucapan Soomin, Ryzel menghembuskan napas dan berkata, "Aku juga menyukaimu."
Mata Soomin membesar dan dia bertanya dengan cepat, "Sungguh? Bukankah kamu bilang belum bisa menerimaku sebagai wanitamu."
"Memang, tetapi aku tidak bilang bahwa aku tidak menyukaimu. Suka dan cinta adalah sesuatu yang berbeda. Aku menyukaimu," jawab Ryzel dengan suara yang penuh kelembutan yang tak bisa ditolak.
Pada dasarnya, Soomin memang agak bodoh, dan dia kesulitan dalam memahami kalimat yang dikatakan oleh Ryzel.
Meskipun dia merasa ada yang salah, tetapi dia senang Ryzel menyukainya walau tidak bisa menjadikan dirinya wanita seumur hidup.
Di saat mereka mengobrol banyak orang-orang yang memandang mereka dengan tatapan iri.
Bukan iri kepada Ryzel, melainkan iri kepada Soomin yang mendapatkan pria setampan Ryzel.
Sedari awal kedatangan Ryzel ke Pulau Padar, para turis luar negeri, khusunya wanita, mereka sudah melirik Ryzel dan mencuri pandangan ke Ryzel.
Mereka bisa melihat sesuatu yang spesial pada Ryzel lantaran temperamen yang ditampilkan oleh Ryzel tanpa sengaja. Hal itu membuat wanita tertarik pada Ryzel.
Di sana mereka tidak lama, hanya beberapa jam di sana untuk menikmati keindahan alam dan kembali menuruni bukit untuk kembali ke kapal.
Kyak!
Suara siulan dari burung elang terdengar di atas bukit, semua orang yang mendengar ini segera mendongak ke atas untuk melihat sesuatu yang terbang di atasnya.
Mereka melihat tiga burung elang terbang berputar membuat lingkaran yang cukup lebar.
"Burung elang!! Tiga burung elang!"
"Apakah ada populasi burung elang di sini?!"
"Tunggu, apa itu Burung Harpy!"
"..."
Dalam sekejap semua orang berdiskusi mengomentari tentang burung elang yang terbang di atas mereka semua.
Kehadiran burung elang membuat pengunjung pulau menjadi senang. Mereka jarang sekali melihat burung elang, bahkan mungkin ini pertama kalinya mereka bertemu burung elang secara langsung.
Tidak lama berselang, tepat di bawah pandangan mereka semua, ketiga burung elang yang berbeda ukuran terbang menukik untuk mendarat di tanah.
Sorot mata mereka mengikuti ke mana burung-burung elang itu turun, dan mereka melihat semua burung mendarat tepat di depan Ryzel yang sedang berdiri santai di tangga sebelum menuruni tangga.
Ryzel tersenyum melihat kedatangan tiga burung elang ini, mereka tadinya ada di kapal dan tidak mau ikut, sekarang mereka ada di sini untuk menjemputnya.
Dengan gegas, Raffy menaiki tangga lagi untuk menghampiri tiga burung elang tersebut, Raffy sangat suka dengan Burung Elang.
"Kalian lapar?" tanya Ryzel dalam bahasa Indonesia.
Ketiga burung elang menggerakkan kepalanya ke bawah dan ke atas beberapa kali sebagai respons dari pertanyaan Ryzel.
Melihat ini, Ryzel membelai kepala mereka dengan lembut seraya berkata, "Tunggu aku di kapal, aku akan membuat kalian ikan bakar."
Kyak!
Ketiga burung elang ini menciak keras sambil melebarkan sayapnya menunjukkan mereka sangat senang.
Setelahnya, mereka terbang kembali ke kapal untuk menunggu Ryzel turun dari Pulau Padar.
Fenomena tadi menjadi kejutan bagi para pengunjung yang datang ke Pulau Padar. Semua orang memandang Ryzel dengan pandangan yang berbeda, para wanita yang menyukai Ryzel menjadi lebih mengagumi Ryzel lantaran dekat dengan hewan liar, mereka menganggap Ryzel sebagai pria yang kuat penuh kejutan.
Ryzel dan orang-orang yang berasal dari kapalnya terus menuruni tangga hingga akhirnya berhasil kembali ke atas kapal.
Setibanya di sana, mereka beristirahat sejenak, kemudian nahkoda mulai melajukan kapal untuk pergi ke tempat selanjutnya.
Tepat saat kapal mereka melaju selama beberapa menit di lautan, mereka mendadak diperlihatkan sebuah fenomena yang langka yang terjadi di lautan.
"Bang Ryzel, ikan apa itu?!"
__ADS_1