Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 103: Provokasi Konyol


__ADS_3

"Hei! Kalian mau ke mana?!"


Memandang kedua teman prianya berlari menjauh, wanita yang banyak tingkah dan teman-temannya memanggil beberapa kali teman prianya, tetapi dua-duanya tidak menoleh satu kali pun dan kabur meninggalkan semua teman wanitanya.


Berikutnya, semua wanita yang sangat mengganggu ini kabur mengikuti jalur teman laki-lakinya lalui sehingga bisa sampai di luar bioskop.


Ketika semua orang melihat para pengganggu kesenangan orang lain pergi dan menghilang dari pandangan mata, mereka juga pergi dari ruang bioskop dan kembali fokus ke kepentingan masing-masing.


Namun, ada seorang pria dan wanita yang terlihat sejoli atau pasangan membicarakan kelompok perusuh tersebut dengan terang-terangan di sebelah Ryzel dan lainnya berjalan keluar dari auditorium.


"Orang-orang itu adalah orang yang sama dengan perusuh di jauh sebelum film diputar, bukan?"


"Iya, Bubye. Aku masih ingat dengan wajah mereka yang sangat ikonik dan selalu membuatku merasa kesal hanya karen melihat wajah mereka."


Saat mendengar keluhan dan ketidaksukaan pasangan ini terhadap rombongan wanita perusuh, Ryzel, Amanda, dan lainnya hanya bisa tertawa diam-diam.


Mereka memang layak ditertawakan oleh orang lain lantaran perbuatannya sendiri.


Begitu mereka semua berjalan di lobby bioskop hendak keluar dari area bioskop, kumpulan orang-orang yang mengganggu datang kepada Ryzel dan keluarga Amanda dengan wajah yang sudah menunjukkan amarah yang melonjak.


Melihat kedatangan mereka, Amanda dan lainnya menjadi sangat waspada karena dilihat dari tampilan mereka yang begitu tidak ramah.


Tante Sinta langsung menggendong Zia di pelukannya sambil menatap kelompok ini dengan tatapan yang sedikit ketakutan.


Sementara itu, Ryzel berdiri di depan Amanda dan lainnya sembari menyaksikan dengan sikap yang santai kelompok orang-orang pengacau.


Orang-orang yang ada di ruang membeli tiket atau lobby bioskop tidak sadar dan tidak tahu bahwa akan terjadi kerusuhan sebentar lagi.


Mereka semua memandang Ryzel dan kelompoknya karena memiliki paras wajah yang enak dipandang.


Saat melihat para kelompok tersebut, orang-orang menganggap kelompok perusuh masih kerabat atau saudara Ryzel.


Di bawah tatapan orang yang terpincut dengan ketampanan Ryzel, kelompok Ryzel dan kelompok perusuh bertemu di dekat pintu masuk bioskop. Kedua belah pihak terlihat seperti sedang mengobrol santai, tetapi lambat-laun wajah dari kelompok yang mendatangi Ryzel tampak sangat tidak ramah.


"Apa maksudmu melototi aku tadi?! Kamu ingin bertarung?!" Salah satu pria yang ada di kelompok perusuh ini mendekati tubuhnya sambil menatap tajam Ryzel.


Suara pria ini terdengar sangat mengancam, mungkin orang lain akan terintimidasi, Ryzel sama sekali tidak merasa diancam.


Wajah tampan Ryzel hanya menunjukkan sebuah senyuman, tanpa sengaja membuat wanita-wanita yang rusuh ini memerah karena tersipu.


Para wanita di kelompok perusuh baru sadar dengan ketampanan Ryzel yang tinggi. Wanita yang sempat menaikkan kakinya di atas sandaran kursi Zia mengintip Ryzel dengan ekspresi yang malu.

__ADS_1


Merasakan ada yang aneh dengan wanita-wanita yang jalan bersamanya, pria lainnya menatap teman wanitanya dengan bingung dan heran.


"Ada apa dengan mereka? Mengapa wajah mereka tidak terlihat marah lagi?" Pria tersebut bergumam di dalam hatinya sembari mengamati keanehan teman-temannya.


Saat ini, Pria yang satunya masih berdiri di depan Ryzel dengan tubuh yang sengaja ditegakkan agar terlihat mendominasi. Wajahnya yang berandalan dan sok preman ini ditunjukkan kepada Ryzel.


Bukannya menakutkan, ini terlihat lucu bagi Ryzel, terlihat dipaksakan sekali. Orang yang belum pernah bertarung sedang menunjukkan betapa hebatnya dia dalam mendominasi lawan.


Melihat respons Ryzel yang diam, pria ini menjadi makin marah, bahkan berani memegang jaket hitam yang Ryzel pakai berniat untuk menarik Ryzel untuk lebih dekat.


Sayangnya, tubuh Ryzel tidak selemah itu, tubuhnya tak bergerak sedikit pun oleh tarikan ini, seolah-olah kaki Ryzel menancap kuat di permukaan lantai.


Tidak peduli seberapa kuat pria tersebut menarik jaket Ryzel, dia tidak akan bisa menggerakkan tubuh Ryzel satu milimeter pun.


Tubuh pria ini tidak lebih besar dari Ryzel, malah dia lebih pendek dari tinggi tubuh Ryzel. Kelihatan sangat aneh.


Orang-orang yang ada di pintu masuk bioskop dan lobby menyaksikan pemandangan ini dengan rasa ingin tahu yang besar. Kerumunan dalam waktu yang singkat terbentuk dan mengelilingi Ryzel serta lainnya yang tengah berkonflik.


"Kenapa diam saja?! Kamu takut?!" Pria tersebut masih termakan oleh emosi amarah yang mendalam.


Pada saat ini, Ryzel masih tersenyum sambil melirik mata pria ini yang hampir copot keluar.


Dada pria ini sudah turun naik, wajahnya memerah hingga memanas, asap mengepul di atas kepalanya saking panasnya, dan kedua lubang hidung kembang kempis sangat menggelikan.


Amarahnya menjadi sangat tidak tertahankan begitu melihat wajah Ryzel yang tenang, tetapi di wajahnya yang tenang tersirat sebuah ejekan kepada dirinya.


Merasa terprovokasi, pria tersebut segera melampiaskan amarahnya dengan cara menyerang Ryzel dengan pukulan.


"Sialan!"


Sebuah pukulan dari tangan kiri terlempar menuju ke wajah Ryzel dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Kerumunan wanita yang sempat melihat gerakan ofensif dari pria ini seketika mengadakan paduan suara yang diisi oleh teriakan yang melengking.


"Aaa!"


Pukulan tersebut tidak bercanda dan benar-benar berniat ingin melukai wajah Ryzel.


Kepalan tangan pria tersebut dengan cepat meluncur ke wajah tampan Ryzel.


Di detik berikutnya, pukulan yang membidik wajah Ryzel berhenti tepat di depan Ryzel, dan hanya menyisakan jarak 1 cm.

__ADS_1


"Ternyata kamu benar-benar serius ingin memukulku."


Raut wajah Ryzel yang tenang dan selalu tersenyum menghilang, kini wajahnya menampilkan ekspresi yang datar.


Suara yang muncul dari mulutnya terdengar sangat dalam terasa ada hal yang menakutkan yang menyelimuti ucapannya.


Mendengar suara ini, pria tersebut tercengang dan menatap sosok Ryzel yang memiliki aura yang berbeda.


Tangan kiri pria tersebut ditahan oleh cengkeraman tangan kanan Ryzel di bagian siku sehingga pukulan tersebut tak bisa maju lagi untuk menyentuh wajah Ryzel.


Tatapan mata Ryzel sangat mematikan, membuat punggung pria tersebut terasa dingin, seolah ada sesuatu yang berbahaya akan datang kepadanya.


Keringat mulai membasahi kening dan punggung belakangnya, perasaan yang mencekam dan menekan dirasakan oleh pria ini begitu jelas.


Ryzel yang ada di depannya tidak lagi terlihat seperti orang biasa saja, rasanya dia sedang berhadapan dengan seorang pelatih seni bela diri yang penuh pengalaman.


Hanya dengan tatapan saja, dia merasa sedang dipelototi oleh harimau yang di ganas.


"A–anu, aku—"


Tepat ketika pria ini hendak meminta maaf dan memohon ampun, satpam bioskop yang sibuk memeriksa orang yang masuk tiba-tiba datang untuk membubarkan kerumunan.


Beberapa satpam dikerahkan untuk peristiwa ini, dan mereka berdua dipisahkan oleh satpam.


Tubuh Ryzel ditahan oleh dua orang satpam, padahal dia hanya berdiri tidak bergerak, apalagi ingin menyerang pria ini.


Berbeda dengan pria yang secara terang-terangan menyerangnya, dia ditahan oleh 1 satpam karena sedari tadi ingin sekali memukul Ryzel lagi.


"Lepaskan aku! Jaga tahan aku! Aku ingin memukul bedebah itu!!" ucap Pria tersebut dengan emosi yang terbakar.


Namun, hal yang tidak terduga terjadi, satpam yang menahan pria tengil ini tidak lagi menahan, dan membiarkan pria tersebut menyerang Ryzel.


"Ya, silakan."


Alih-alih memukul Ryzel, pria ini langsung menginstruksikan satpam yang menahannya untuk kembali menahan tubuhnya lagi.


Tanpa ada rasa malu, pria tersebut berbicara dan menantang Ryzel, "Jangan tahan aku! Pria ini harus aku pukul sampai mati! Hei, jangan dorong aku menjauh!"


Ekspresi datar dan aneh ditunjukkan oleh satpam tersebut, dia membiarkan pria tengil ini menarik tubuhnya seolah dirinya sedang menjauhkan pria tengil tersebut.


"Pfttt!"

__ADS_1


__ADS_2