Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 184: Wanita yang Hebat


__ADS_3

Di dalam kamar hotel yang mewah, berdiri di depan wanita cantik yang sedikit kurus dan kotor, Ryzel menatap kedua matanya yang terasa sedih menunggu jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan.


Pertanyaan Ryzel tidak langsung dijawab karena dia merasa takut dengan penampilan Ryzel yang mendominasi.


Bersandar di tembok, wanita itu menghindari tatapan kontak mata dengan Ryzel dan mencoba untuk menjawab.


Sorot mata wanita itu bisa dirasakan oleh Ryzel, terasa berbeda dan terasa berat.


"Aku sebenarnya bukan seorang lacur seperti apa yang kamu lihat di pertema kali pertemuan," ucap wanita itu dengan kedua kaki yang menutup tampak malu.


Pupil mata Ryzel bergetar mendengar jawaban wanita tersebut dan dia melangkah mundur dengan wajah yang terkejut.


Tak heran jika wanita ini terlihat berbeda, ternyata dia bukan seorang wanita yang bekerja sebagai lacur atau kupu-kupu malam.


Namun, ini yang membuat Ryzel heran dan bertanya-tanya.


"Mengapa kamu tidak bilang dari awal? Lalu, mengapa kamu menerima penawaran dariku untuk melakukan itu? Jadi, apa yang kamu inginkan?"


Beberapa pertanyaan keluar dari Ryzel yang sedikit tercengang.


Mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Ryzel, wanita itu perlahan mendongak dan menatap mata Ryzel secara langsung dan berhubungan kontak mata.


Wajahnya tidak lagi dingin, wanita itu menampilkan ekspresi yang penuh kesedihan dan rasa kecewa.


Tatapan lemah dari wanita itu membuat Ryzel bergidik sedikit, perasaan sedih masuk ke dalam hati Ryzel sehingga dirinya bisa merasakan kesuraman yang besar.


Ada sesuatu yang tidak beres dari hidup wanita ini.


"Aku terpaksa menerima tawaranmu dan mendadak menjadi seorang lacur karena satu alasan, yaitu aku butuh uang untuk merawat nenek dan kedua adikku.


"Pekerjaanku telah hilang karena perusahaan yang merekrut dan mempekerjakan aku telah gulung tikar. Secara otomatis membuat aku kehilangan semua pendapatan. Selama tiga bulan aku mencari pekerjaan, aku sama sekali mendapatkan kesempatan untuk bekerja normal. Aku sampai-sampai mengutang untuk menutupi pengeluaran selama beberapa bulan itu.


"Akan tetapi, utang bukan solusi yang baik. Aku sekarang harus benar-benar mendapatkan pekerjaan dan uang sebelum bulan ini berakhir. Mereka akan datang dengan ancaman kepadaku dan keluargaku untuk menagih utang, aku benar-benar butuh uang sekarang ... aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan uang selain bekerja sebagai seorang lacur ... aku menyerah ... aku lelah ... aku—"


Kalimat wanita ini belum selesai diucapkan dan sebuah pelukan terjun ke tubuhnya dengan perasaan hangat yang tak terlukiskan.


Air mata yang dibendung itu pun pecah, tangisan amarah dan kecewa terdengar di dalam kamar.


Ryzel tidak tahan melihat wanita yang sedih, rasanya ingin sekali ia peluk dan tenangkan, memberikan solusi agar tidak kembali sedih.


Memeluk wanita ini, Ryzel membiarkan wanita yang ternyata lebih kurus dari yang ia duga menangis di dalam pelukannya. Tak peduli dengan air mata yang membasahi pakaian atasnya, pakaian bisa dibeli kapan saja.


Tangisan berangsur-angsur mereda setelah usapan lembut di kepalanya terasa sangat nyaman dan hangat.


Hari wanita itu yang telah menahan beban berat perlahan kembali normal dan menerima kenyamanan yang diberikan dari tindakan Ryzel.


Terlihat bahwa wanita tersebut memeluk Ryzel dan merilekskan tubuhnya pada tubuh Ryzel.


Topangan, dia butuh topangan dari seorang pria.


"Aku bertanya kepadamu sekali lagi. Apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Ryzel kepada wanita ini yang masih memendamkan kepalanya di dadanya.


Dengan suara sedikit terisak, wanita itu menjawab tanpa melihat langsung Ryzel, "Aku ingin menjadi lacur untukmu malam ini. Aku sangat butuh uang ...."


"Baiklah, tenangkan dirimu dahulu. Kita akan mulai kalau kamu sudah siap." Ryzel tersenyum dan menyentuh kepala wanita ini dengan lembut.


"Um ...."


Belaian tangan kanan Ryzel sangat-sangat menenangkan jiwa dan hati wanita itu. Tidak ada yang lebih terasa nyaman dari pelukan nenek dan Ryzel menurutnya.


Dengan ucapan Ryzel, wanita itu mencoba menenangkan dirinya dengan cepat, membuang ketakutan, dan membulatkan tekadnya untuk melayani Ryzel di malam hari ini.


Butuh waktu beberapa menit untuk wanita tersebut tidak menangis lagi dan menjadi tenang.


Setelah melihat kondisi wanita ini yang jauh menjadi lebih baik, Ryzel mulai bertanya kembali dengan kegiatan mereka malam hari ini.


"Kamu yakin untuk melakukan ini?" Ryzel berdiri di depan wanita tersebut yang duduk di atas tempat tidur.


Mata wanita itu bergerak memberanikan diri untuk melihat wajah Ryzel, dia mengangguk dan seraya menjawab, "Aku sudah yakin dengan pilihanku sendiri."


"Oke."


Ryzel mengangguk dengan kejam sambil merogoh sakunya.


Sebuah dompet tebal yang berisikan banyak sekali uang dari beberapa mata uang negara diambil oleh Ryzel, kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar uang 100 Bolivar Venezuela dan menyerahkannya kepada wanita tersebut.


Dengan wajah yang bingung, wanita itu bertanya, "Ini untuk apa?"


Alih-alih menjawab, Ryzel melontarkan pertanyaan, "Siapa namamu?"


"Alaina," jawab wanita itu dengan spontan. "Uang ini untuk apa?"

__ADS_1


Wanita yang bernama Alaina ini bertanya lagi kepada Ryzel dan ingin tahu maksud dari uang yang diberikan Ryzel kepadanya.


Ryzel tersenyum lembut memandang Alaina yang kebingungan. "Untukmu, bukankah kamu membutuhkan uang. Lima ribu bolivar aku beri supaya kamu bisa menafkahi nenek dan kedua adikmu."


"Namun, ini ...." Menurunkan wajahnya ke kertas lembar yang banyak di tangan, Alaina memandang uang ini dengan rumit.


"Kurang banyak? Sebentar, aku ambilkan lagi." Ryzel mengambil lagi uang sekitar lima ribu bolivar lagi dan hendak diberikan kepada Alaina.


Dengan cepat Alaina menggelengkan kepalanya dan mengembalikan uang yang dia pegang ke Ryzel.


"Tidak-tidak, aku belum menjalankan tugasku. Aku harus melayani kamu terlebih dahulu."


"Itu tak perlu, ambil uangnya dan terima saja."


Ryzel menahan uang yang ingin dikembalikan oleh Alaina sembari menggelengkan kepalanya.


Akan tetapi, Alaina tidak mau mendengar dan dia keras kepala.


"Aku tidak mau mengambil ini sebelum aku melayani kamu sesuai dengan perjanjian di awal," ucap Alaina yang berdiri dan berwajah serius.


Tubuh Ryzel sedikit mundur agar tidak terlalu dekat dengan Alaina. Wanita ini memiliki sifat keras kepala.


Sayangnya, Ryzel juga memiliki sifat keras kepala, dan dia berbalik selepas meletakkan 10 ribu bolivar di atas tempat tidur.


"Ambil saja, aku tidak perlu melakukan itu denganmu," kata Ryzel yang berjalan ke pintu kamar sambil melambaikan tangan kirinya.


Mata Alaina memancarkan rasa bingung, di dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.


Berikutnya, bola mata Alaina yang bergetar memandang Ryzel yang sudah keluar dan hendak menutup pintu menjadi tegas.


Tubuh Alaina yang kurus itu sekejap memiliki kekuatan yang besar untuk bergerak cepat, kemudian tangannya memegang kenop pintu.


Sebelum Ryzel menoleh untuk melihat apa yang dilakukan Alaina, tubuhnya ditabrak oleh Alaina dengan pelukan yang sangat erat.


"Kumohon, biarkan aku melayani kamu. Aku merasa tidak berguna dan tak bertanggung jawab atas uang yang kamu kasih, aku ingin diriku kembali berguna. Setidaknya, itu untukmu," lirih Alaina dengan sedikit tangisan di ucapannya.


Kalimat Alaina membuat hati Ryzel kembali merasa sedih.


Keputusan langsung dipertimbangkan oleh Ryzel selama beberapa detik.


"Aku tidak perlu pelayananmu. Ambillah uang itu, anggap itu adalah bayaran dari perjuangan kamu selama beberapa bulan ini."


Sifat keras kepalanya yang membuat Ryzel memilih untuk terus berjalan meski ada koala besar yang menempel di tubuhnya.


Melihat Alaina tidak menyerah, hati Ryzel yang keras perlahan melunak.


Sebelum Ryzel masuk ke lift, dia berhenti berjalan dan berkata kepada Alaina, "Ambil semua barang bawaan kamu di kamar, termasuk uangnya. Aku menunggumu di sini."


"Apakah kamu berubah pikiran dan mengizinkan aku berguna untukmu?" tanya Alaina yang dengan wajah yang penuh harap.


Ryzel tidak menjawab pertanyaan Alaina. "Kembali ke kamar dan bawa barang yang ketinggalan di sana sekaligus uang di atas kasur."


Tilikan mata Ryzel membuat Alaina berlama di sini dan segera berlari ke kamar.


Tidak butuh waktu lama untuk Ryzel menunggu, Alaina kembali dengan tas kecilnya yang usang dan puluhan uang kertas lembar di tangannya.


"Pegang dan masukkan uang itu ke dalam tas. Kamu ikut aku sekarang."


Setelah mengatakan itu, Ryzel masuk ke dalam lift, diikuti oleh Alaina yang sudah banyak diisi kebingungan dari Ryzel.


Mereka Check-out dari hotel meski hanya beberapa menit di sana, Ryzel terus berjalan keluar tanpa peduli dengan uang yang sudah dia bayar untuk kamar yang dipesan.


Alaina terus berjalan beriringan di jalan bersama Ryzel sejauh 2 kilometer tanpa berbicara sedikit pun.


Namun, di perjalanan mereka berdua Ryzel sempat membelikannya beberapa pakaian yang tidak terlalu mahal dan murah. Toko yang buka bukan toko bermerek mahal, tetapi Alaina menghargai ini meski tidak tahu maksud dari Ryzel membelikannya pakaian tersebut.


Lebih dari 45 menit mereka berjalan, mereka berdua tiba di depan sebuah gerbang dari rumah mewah.


Alaina belum sempat bertanya, dan gerbang besar di depannya mulai bergerak, membukakan gerbang untuk Ryzel serta dirinya.


"Selamat datang, Tuan!"


Beberapa penjaga mansion memberikan sikap hormat kepada Ryzel hampir bersamaan.


Melihat pemandangan ini di depannya, membuat Alaina terpana beberapa saat sebelum dibawa oleh Ryzel ke dalam bangunan besar nan mewah di dalam gerbang.


Setelah masuk ke dalam bangunan mansion yang luas dan megah, Ryzel meminta untuk beberapa pelayan untuk memberikan makanan kepada Alaina.


Dengan kecanggungan yang ia rasakan dan tidak paham apa yang terjadi sebenarnya, Alaina mengikuti permintaan Ryzel untuk makan jika belum makan malam.


Alaina belum makan malam, dia berangkat di sore hari bermodalkan roti untuk makan.

__ADS_1


Makanan-makanan yang ada di depannya dilahap dengan nafsu makan yang cukup besar.


Ryzel tersenyum melihat Alaina yang memakan masakan para pelayan ini.


Melihat bahwa masih ada waktu sebelum pergi tidur, Ryzel mengajak Alaina pergi ke lantai 3 untuk berendam di kolam renang sambil berbincang santai dengannya.


Pelayan sudah menaruh beberapa camilan kecil dan minuman sedikit beralkohol di tepi kolam renang pribadi di lantai 3 mansion. Tidak lupa juga handuk serta kain untuk wanita dan bisa dibawa berendam.


Mereka berdua di sana berdiri sambil bertatapan dengan pakaian yang masih utuh tanpa ada yang dilepas sedikit pun.


"Kamu sudah menyimpan uang itu?" tanya Ryzel kepada Alaina di depannya.


"Um, iya," jawab Alaina yang kikuk.


Sekarang Alaina masih terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Pelanggan pertamanya ternyata adalah seorang pria muda sukses dan kaya, memiliki sebuah mansion yang diidamkannya saat melewati daerah tempat mansion ini berada.


Mansion Ryzel terkenal di sekitar Kota Caracas, banyak sekali orang yang mengagumi mansion besar ini dan bercita-cita tinggal di dalamnya.


Hal itu juga diinginkan oleh Alaina, kini keinginan tersebut tercapai dalam sekejap.


"Kalau begitu, temani aku berendam beberapa saat sambil berbincang."


Ryzel menatap Alaina sejenak, kemudian membuka pakaian atasnya di depan Alaina seolah itu bukan masalah.


Tubuh Ryzel yang dibungkus oleh otot indah dengan pahatan yang sempurna terpampang jelas di dalam penglihatan Alaina.


Wajah tampan dengan tubuh yang seksi menambah rasa malu pada diri Alaina sendiri sehingga dia tidak bisa memandangnya terlalu lama.


Alain memalingkan wajahnya ke pemandangan keren yang ada di luar mansion.


Setelah Ryzel membuka pakaian atasnya, dia juga melepas bagian bawah, kecuali celana pendek yang digunakan untuk bersantai.


Celana pendek itu masih bisa tercetak sesuatu yang panjang dan besar sedikit melengkung.


Semua orang tahu apa yang ada di dalam sana.


Masuk perlahan ke dalam kolam, Ryzel bersandar di tepi kolam dengan wajah yang rileks dan tenang.


Air di dalam kolam tidak dingin, melainkan hangat, cocok di malam yang dingin ini.


Alaina masuk ke dalam ruangan ganti baju untuk membuka semua pakaiannya dan mengenakan kain putih untuk menutupi tubuhnya.


Ketika Alaina datang dengan tubuh yang diselimuti kain putih, mata Ryzel membesar sekilas.


Tubuh yang terlihat kurus tersebut menyimpan harta karun yang luar biasa, dua bola Mutiara yang besar dan berkilau.


Ryzel merasakan dua bola itu saat Alaina memeluknya dan bergelantungan di tubuhnya, tetapi Ryzel tidak menyangka ternyata akan sebesar itu.


Di bawah pandangannya, Alaina yang berwajah merah masuk ke dalam kolam air hangat berbentuk bulat, dan berendam di samping Ryzel.


Mata Ryzel terfokus pada wajah dan tubuh Alaina, tubuhnya memang kurus, lebih kurus dari wanita anggota Harem Ryzel.


Sudah jelas diakibatkan karena kemiskinan yang melanda Alaina.


Mencari uang saja susah, makan pun harus dikurangi dan dihemat, itu juga kalau ada.


"Makan camilan ini," ucap Ryzel mengambil camilan donat mewah dan menyerahkannya kepada Alaina.


Akan tetapi, Alaina tidak bisa mengambil karena kain putih di tubuhnya akan terlepas jika tak dipegang.


Saking besarnya, kain yang diberikan pelayan mansion itu kekecilan.


Ryzel sadar dengan ini dan dia berkata, "Lihat aku dan buka mulutnya."


Ucapan Ryzel seakan tak bisa diabaikan, Alaina menoleh melihat wajah Ryzel dan membuka mulutnya.


Dengan wajah yang merah merang, Alaina mengigit donat yang disuapi Ryzel.


"Kamu harus banyak makan. Tubuhmu terlalu ramping, aku takut kamu akan sakit nantinya."


Suara Ryzel terdengar sangat perhatian, hati Alaina seketika meleleh mendengar kalimat Ryzel yang ternyata khawatir dengan dirinya.


"Aku usahakan," balas Alaina yang menundukkan kepalanya lagi.


Ryzel menyuapi Alaina lagi sampai donat yang digigit habis dan juga memberinya minuman.


Pada saat ini, Alaina merasa sangat senang sekaligus bahagia. Pertama kalinya dalam hidupnya, dia diperlakukan hangat oleh seorang pria, terlebih pria yang peduli dengannya adalah pria yang bernilai tinggi.


"Bisakah kamu menceritakan tentang keluargamu?"

__ADS_1


__ADS_2