
Ryzel menatap burung-burung besar ini bertengger di pagar balkonnya dengan bingung.
Bagaimana mereka bisa tahu lokasi dirinya ada di hotel ini?
Memandang ketiganya sambil merenung, Ryzel tidak bisa menemukan caranya mereka bisa tahu dia pergi dan ada di hotel ini. Sebelumnya, dia sama sekali tidak memberi tahu tentang kepergiannya kepada burung-burung elang ini.
Ryzel tahu bahwa ucapannya dapat dimengerti, tetapi dia benar-benar tidak mengobrol tentang kepergiannya kepada ketiga burung elang di depannya.
Ini terasa sangat aneh.
Jika melihat di internet, jarak antara Jakarta dan Sukabumi terhitung sangat jauh. Tidak mungkin mereka bisa mengendus bau tubuhnya dari jarak ratusan kilometer dan kemudian datang ke tempat dirinya berada.
Oleh sebab itu, sampai saat ini Ryzel masih memikirkan bagaimana mereka bisa mengetahui dirinya ada di sini.
Begitu memikirkan ini, Ryzel segera menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran yang membingungkan tersebut.
Dia menyerah dengan persoalan tersebut. Mungkin suatu hari nanti dia akan mengetahui alasannya mereka bisa menemukannya di sini.
Berdiri di depan ketiganya, Ryzel mengamati sejenak sosok ketiganya yang kini mereka terlihat sedang kelelahan, karena dada mereka yang kembang-kempis, seperti orang yang kelelahan.
Ryzel segera bertanya, "Kalian ingin makan? Tampaknya kalian kelelahan."
Mengerti apa yang dikatakan Ryzel, mereka bertiga menggerakkan kepalanya ke bawah dan ke atas hampir bersamaan.
Melihat jawaban mereka, Ryzel tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Ternyata mereka jauh-jauh ke sini hanya ingin meminta makanan padanya. Padahal, jauh di depan sana ada laut. Mereka bisa memangsa ikan-ikan di laut untuk lauk makanannya hari ini.
Tanpa berlama-lama lagi, Ryzel menggunakan interkom untuk memesan beberapa porsi steak daging ayam yang dimasak setengah matang ke kamarnya.
Tak lama berselang, pesanannya sampai ke kamar dibawa oleh troli makanan.
Ryzel langsung mengambil makanan-makanan ini dan membawanya ke balkon kamar.
Total 5 piring steak daging setengah matang yang disediakan untuk ketiga burung elang ini.
Untungnya, Ryzel sudah meminta petugas lobby hotel untuk memotong dagingnya. Ini bertujuan agar mereka makan dengan mudah.
Akan tetapi, setelah Ryzel menunggu lama, mereka bertiga tidak langsung makan makanannya.
Ketiganya menatap Ryzel secara bersamaan seolah sedang menunggu sesuatu darinya.
__ADS_1
Bingung dengan tingkah laku ketiga burung ini, Ryzel mencoba untuk bertanya, "Ada apa? Mengapa kalian tidak segera makan?"
Tuk! Tuk!
Sebagai jawabannya, mereka bertiga mematuk piring dan mengambil potongan daging lalu dijatuhkan lagi.
Ryzel bingung dengan tanggapan mereka dan mencoba untuk memahami apa arti dari gerakan yang ditunjukkan oleh mereka.
"Piring? Mengambil daging?" Ryzel terdiam merenung sesaat memikirkan ini.
Lebih dari 1 menit berlalu, wajah Ryzel menjadi cerah dengan mata yang melebar. Tampaknya dia tahu makna dari gerakan burung-burung besar ini.
"Tunggu sebentar," kata Ryzel yang berdiri ingin pergi ke kamar. "Jangan ke mana-mana, aku akan cepat kembali."
Setelah kata-kata itu keluar, Ryzel masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu benda, yakni sarung tangan kain yang tidak pernah dia pakai.
Dia selalu membawa sarung tangan, tetapi tidak pernah digunakan, padahal selalu dia bawa di dalam tasnya.
Sarung tangannya dia kenakan selagi berjalan menuju balkon.
Saat di balkon, Ryzel tanpa berkata-kata lagi langsung mengambil potongan daging dan diberikan kepada Burung Elang Jawa.
Namun, hal itu tidak boleh dilakukan tanpa pengaman, paling tidak dia harus memakai sarung tangan untuk melindungi tangannya dari patuk keras burung elang.
Menggigit daging yang Ryzel ambil, burung elang ini langsung menelannya utuh-utuh.
Ryzel melakukan hal yang sama kepada kedua burung elang lainnya, dan reaksi mereka pun serupa dengan Burung Elang Jawa.
Hampir setengah jam lamanya Ryzel memberi makan ketiga burung elang ini sampai dagingnya habis di piring tanpa sisa.
Usai makan, mereka bertiga kembali hinggap di tiang pagar beberapa saat sebelum akhirnya pergi meninggalkan Ryzel di balkon kamar.
Sudah menjadi kebiasaan mereka bertiga. Sehabis makan pasti akan pergi, sama sekali mereka tidak mencuci piring dan membereskan tempat makannya.
Burung-burung elang ini terbang ke atas hotel. Ryzel pikir mereka pergi ke arah Gunung Salak yang ada di belakang.
Apabila mereka terbang ke depan, artinya mereka pergi ke laut. Di sana tidak ada apa-apa untuk dikunjungi, tak ada tempat singgah dan mereka tinggal untuk sementara, kecuali tujuan mereka ke laut untuk mencari maka.
Menumpukkan piring bekas makan mereka bertiga, Ryzel masuk ke dalam dan meletakkan piring-piring ini di meja, kemudian dia menelepon orang hotel untuk mengambil piring-piringnya.
Setelah dia menelepon karyawan hotel, teleponnya tiba-tiba berbunyi sekali lagi, tetapi kini dia yang ditelepon. Orang yang meneleponnya adalah Laurel.
__ADS_1
Begitu diangkat, dia diberi tahu bahwa mereka berempat sudah ada di restoran hotel, dan Ryzel ditanyakan apakah dia mau berkunjung ke sini atau tidak.
Tentu saja, Ryzel menjawab mau. Kebetulan dia juga merasa lapar selepas melihat para burung elang makan daging ayam steak yang dia pesan.
Ketika mereka makan, terdengar sangat mendamaikan dan membuat telinga merasa nyaman.
Setelah mendapatkan telepon ini, Ryzel keluar dari kamar bersama satu pria yang mengambil 5 piring kotor dari kamarnya.
Setibanya di restoran yang dijanjikan, keempat wanita cantik khas Indonesia sedang duduk di spot restoran yang cukup bagus.
Kedatangan Ryzel ke restoran membuat banyak orang yang penasaran dengan Ryzel dan selalu menatapnya secara blak-blakan.
Sosoknya memang begitu menarik perhatian banyak orang sehingga dia selalu menjadi objek yang dipandang oleh orang-orang.
Mengetahui kedatangan Ryzel, mereka berempat tersenyum senang dan menyambut Ryzel dan membiarkannya duduk di bangku yang sudah disediakan oleh mereka.
Tidak lama Ryzel duduk, makanan yang telah dipesan oleh mereka berempat datang dan disajikan di atas meja.
Di telepon sebelumnya, Ryzel dipesankan makanan sesuai dengan makanan yang diinginkan Ryzel.
Jadi, sekarang Ryzel langsung makan tanpa menunggu makanan datang lagi dari dapur restoran.
Ryzel dan lainnya menyantap makanan di depannya dengan lahap dan santai. Mereka menikmati hidangan yang mereka pesan.
Entah mengapa kalau makanan ikan di Indonesia memiliki rasa yang sangat enak. Mungkin saja karena lidahnya khas lidah orang dalam negeri sehingga terasa sangat cocok dengan makanan dalam negeri juga.
Usai menghabiskan banyak makanan, Ryzel diajak oleh keempatnya untuk ke belakang hotel, tepatnya ke kolam renang yang ada di hotel ini untuk menyaksikan matahari terbenam.
"Bagaimana hari ini, Ryzel? Kamu suka dengan pemandangannya?" Duduk di kursi pantai yang panjang, Laurel bertanya kepada Ryzel yang berbaring di kursi sebelahnya.
Ryzel mengangguk dan menjawab sambil mengangkat segelas jus di tangannya, "Untuk sekarang aku merasa puas. Aku merasa senang melihat pemandangan di sini."
"Ekhem! Apakah kamu suka pemandangan melihat kita, Ryzel?" tanya Naura yang tiba-tiba ikut bergabung dengan obrolan.
Ekspresi Ryzel membeku sesaat dan dia menoleh ke samping untuk melihat Naura. Tanda tanya muncul di kepalanya.
Apa yang dimaksud oleh Naura?
"Anu, Ryzel. Bolehkah kamu nanti ke kamarku? Aku sepertinya butuh bantuan kamu," kata Laurel dengan wajah yang memerah.
Melihat wanita-wanita ini, Ryzel merasa ada yang salah dan dia terdiam, tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1