Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 57: Bermain Piano


__ADS_3

“Terima kasih atas pujiannya. Aku tidak sebagus itu.“


Wanita ini memakai bahasa Kamboja untuk membalas ucapan Ryzel.


Wajah wanita ini tampak merah setelah dipuji oleh Ryzel. Dipuji oleh pria tampan memang membuat semua wanita malu dan tersipu. Hatinya menjadi tenang dan berdetak kencang.


Dalam pandangan wanita ini, wajah Ryzel sangat tampan, jauh lebih tampan dari pria yang ia temui sebelumnya.


Jadi, pujian Ryzel adalah suatu kebanggaan baginya. Kapan lagi dipuji oleh pria tampan karena bakat.


“Permainan piano milikmu sudah bagus, hanya perlu sedikit ditingkatkan agar lebih bagus,” ucap Ryzel dalam bahasa Kamboja sambil tersenyum ramah.


Senyuman Ryzel membuat jantungnya menjadi lebih cepat memompa, ini sangat indah. “Terima kasih~ ….“


Ryzel melihat wajah dari wanita ini cukup cantik, sangat terlihat seperti wanita Asia Tenggara yang cantik dan mengandung kelembutan serta manis dalam senyumannya dengan kulit putih.


Entah mengapa, Ryzel melihat wanita Kamboja jarang yang menguncir dan mengikat rambutnya, dibiarkan tergerai begitu saja, tetapi tampak rapi dan cantik.


Namun, ada suatu hal yang membuat Ryzel salah fokus dalam penglihatannya, yakni pakaian yang dikenakan wanita di depannya yang terlihat sangat seksi karena hanya memakai gaun yang sangat melekat pada tubuh dan bagian bawah gaun hanya menutupi setengah paha kakinya.


Mata Ryzel bisa melihat dengan jelas bulatan besar yang tercetak dari bajunya. Hampir sebesar milik Haimi. Lebih besar dari yang dimiliki Gina.


“Bolehkah kita berkenalan?“ Tanpa menunggu Ryzel bertanya, wanita ini meminta berkenalan lebih dahulu kepada Ryzel.


Tanggapan Ryzel tentunya mengangguk dan setuju. Tidak ada salahnya berkenalan dengan seorang wanita, lebih lagi wanita cantik.


Tangan wanita ini menjulur ke arah Ryzel dan berkata menyebutkan nama miliknya, “Namaku Maly Sopheary. Aku berasal dari Battambang.“


“Perkenalkan, namaku Ryzel Dicky. Nama belakangnya jangan kamu ingat dan sebut, panggil saja Ryzel. Aku berasal dari Jakarta, Indonesia.“ Ryzel memegang lembut tangan wanita ini dan sedikit menggoyangkannya.


“Ternyata kamu orang Indonesia, aku kira kamu juga berasal dari sini. Pasalnya, berbahasa Kamboja milikmu sangat bagus.“ Maly terkejut begitu mendengar tempat Ryzel berasal.


Awalnya, ia kira Ryzel berasal dari negara yang sama, yaitu Kamboja, hanya beda tempat.


“Terima kasih, aku juga masih belajar lagi.“ Ryzel tersenyum dan agak mengangguk. “Bolehkah aku memainkan pianonya?“


Ryzel memiliki keinginan untuk mencoba piano, sebab ia sudah memiliki kemampuan yang sangat berhubungan dengan piano.


Apakah kemampuannya sehebat itu? Maka dari itu, Ryzel ingin membuktikan kehebatan kemampuan yang diberikan oleh Sistem.

__ADS_1


“Tentu saja, piano ini memang diperuntukkan bagi siapa saja atau orang yang menginap di hotel ini yang bisa memainkan piano. Kamu bisa bermain piano?“


“Bisa, tetapi tidak sehebat para pianis profesional.“


“Bolehkah kamu memainkannya? Aku ingin mendengarkan permainan piano kamu,” Maly bertanya sekaligus memberikan permintaan kepada Ryzel.


“Kamu mau mendengarnya? Baiklah, akan aku coba.“


Setelah mengatakan itu, Ryzel berjalan mendatangi piano, kemudian ia duduk di atas kursi dan bersikap untuk memainkan piano.


Jari-jemari Ryzel bergerak-gerak, ia sedang membiasakan tubuhnya. Ini merupakan pertama kali dirinya berada di depan alat musik piano, ia masih terasa asing.


Berikutnya, secara perlahan jari telunjuk Ryzel menekan tombol piano atau tuts piano, terdengar sangat kaku.


Wajah Maly tampak aneh ketika mendengar permainan piano awal Ryzel, ini jauh dari ekspektasinya.


Tepat ketika Maly hendak kecewa, permainan piano Ryzel berubah, ia menakan tuts piano dengan lincah dan cakap.


Memainkan sebuah lagu terkenal yang diciptakan oleh orang Jepang, nadanya sedih sekaligus menenangkan.


Dalam sekejap wajah Maly langsung berubah, ekspresinya terkejut dan perlahan menjadi tenang, tubuhnya terbawa oleh alunan piano yang lembut dan sedih.


Ryzel yang memainkan piano pun ikut merasakan ketenangan dalam lagu yang ia mainkan dan ada sedikit rasa sedih yang ia rasakan.


Banyak pengunjung hotel yang habis sarapan berdiri di lobi untuk menyaksikan Ryzel bermain piano.


Usai menekan tuts terakhir, tepukan tangan orang-orang terdengar di lobi hotel.


Tubuh Ryzel sedikit membungkuk sambil mengucapkan terima kasih atas apresiasi orang-orang terhadap kemampuannya.


Maly tersenyum setelah mendengarkan lagu yang dimainkan oleh Ryzel, ia memandang Ryzel dengan wajah yang senang.


Ternyata kemampuan Ryzel dalam bermain piano jauh lebih baik ketimbang kemampuannya.


Maly menjadi lebih kagum kepada Ryzel karena pria ini tidak sombong di depannya.


“Luar biasa! Kemampuan pianonya sangat hebat!“ Maly memberikan jempol tangan kepada Ryzel.


“Terima kasih, Maly. Kemampuan milikmu juga bagus.“

__ADS_1


“Tidak, jauh sekali.“ Maly menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. “Bisakah kamu mengajari aku dalam bermain piano? Agar aku bisa bermain lebih baik lagi?“


“Mengajarimu? Sekarang?“


“Umm, ya. Aku baru sampai di hotel kemarin sore, hari ini aku ingin istirahat sebentar sebelum pergi ke tempat wisata besok. Jadi, aku ada waktu untuk hari ini.“ Maly mengangguk, ia memiliki waktu luang sekarang.


Ryzel tak langsung menjawab, ia merenung untuk beberapa saat, tengah bertanya dengan Sistem, apakah hari ini ada tugas masuk atau tidak. Untungnya, Sistem menjawab tidak ada. Tugas masuk akan diperbarui nanti malam.


“Boleh, tetapi kamu harus izin dahulu kepada pemilik hotel untuk meminjam sebentar pianonya,” kata Ryzel kepada Maly. Ia berpikir untuk meminta izin sebelum melakukan sesi pengajaran.


“Emm, oke. Bolehkah kamu ikut aku meminta izin ke resepsionis?“ Maly tampak malu saat meminta pertolongan kepada Ryzel.


“Oke, aku akan menemanimu.“ Ryzel tidak merasa keberatan.


Setelahnya, keduanya berjalan beriringan menuju resepsionis hotel. Ryzel membantu Maly berbicara kepada petugas resepsionis dan pemilik hotel.


Dikarenakan Ryzel pintar berbicara dan memiliki kemampuan negosiasi, Maly dan Ryzel diperbolehkan untuk memakai piano yang ada di lobi, asalkan jika ada kerugian atau kerusakan, mereka berdua harus ganti rugi yang setimpal.


Tida masalah dengan ini, memang seharusnya seperti itu, Ryzel akan bertanggung jawab atas kerusakan pada piano, Maly juga.


Sesudah mendapatkan izin, mereka berdua kembali ke lobi dan duduk di satu tempat duduk, kemudian mulai mengajarkan Maly bermain piano.


Pertama-tama, Ryzel mengajari tentang tuts dan kunci dasar, dilanjutkan dengan memberi tahu tentang posisi lengan yang benar dalam menekan tuts dan juga mengatur posisi lengan.


Setelah semuanya lancar dan bagus, Ryzel melatih Maly untuk memainkan lagu sederhana yang memiliki pola nada yang sederhana, ditujukan untuk belajar membaca not balok.


Baru dari situ, Ryzel meminta Maly untuk memainkan sebuah lagu yang singkat dan sederhana berulang kali.


Meskipun sulit, Maly cukup bagus dalam mengikuti ajaran Ryzel. Alhasil, kemampuannya dalam menekan tuts tidak begitu kaku, ia sudah hapal kunci dasar piano.


Selama pembelajaran itu, Maly mulai merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.


Dikarenakan duduk bersampingan dengan Ryzel dan tubuhnya sedikit menyentuh tubuh Ryzel, ia bisa merasakan wangi maskulin dari tubuh Ryzel. Terlalu memabukkan, rasanya ingin jatuh ke dalam pelukan Ryzel.


“Sudah waktunya makan siang, mau makan siang bersama?“ Ryzel menawarkan untuk makan siang bersama kepada Maly.


Maly mengangguk setuju dengan tawaran Ryzel. “Boleh.“


“Baiklah, ayo kita ke tempat makan!“ ajak Ryzel sambil berjalan lebih dahulu ke arah restoran dalam hotel.

__ADS_1


Melihat ini, Maly langsung bergerak dan mengikuti Ryzel dari belakang. Tampak seperti kucing.


__ADS_2