Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 116: Pergi ke Bandung Kembali


__ADS_3

Melihat semuanya menyukai hadiah yang dia berikan, Ryzel tersenyum lega dan puas. Tidak sia-sia dia membelikan hadiah tersebut kepada mereka semua.


Di antara mereka, Jean yang begitu senang, bisa dilihat dari wajahnya yang cerah dengan senyum yang sangat lebar.


Setelah semuanya makan malam bersama di waktu yang agak malam, mereka pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.


Keesokan harinya Ryzel berpamitan kepada semua anggota keluarga Laurel. Setelah itu, dia dan Laurel naik taksi yang berbeda dan menuju tujuan yang juga berlainan.


Kini Ryzel pergi menuju ke stasiun yang pernah dia kunjungi, stasiun kereta menuju ke Bandung, yaitu Stasiun Pasar Senen.


Dia memesan tiket kereta yang sama dengan waktu itu pergi ke Bandung, kelas murah atau kelas ekonomi menuju Stasiun Kiaracondong, Bandung.


Ketika Ryzel masuk ke dalam kereta, banyak orang yang meliriknya, seperti sedang memandang orang yang aneh.


Sebenarnya, mereka menatap Ryzel karena tertarik dengan visual wajah Ryzel yang terbilang tampan.


Jarang-jarang ada pria setampan Ryzel naik kereta kelas ini. Biasanya, penampilan yang bersih dan mirip seperti orang kaya ini naik kereta yang lebih mahal dari kelas kereta ini.


Mengabaikan banyak mata yang membidik ke arahnya, Ryzel menemukan tempat duduknya yang sesuai dengan nomor yang ada di karcis kereta.


Begitu Ryzel duduk dan menyimpan satu tasnya ke bagasi yang ada di atas, dia merasakan ada sesuatu yang datang dan duduk ketika dirinya sedang sibuk mengedit video di Jenbooknya.


"Halo, apakah tempat duduk ini adalah milikku?"


Mendengar ada seseorang yang bertanya, Ryzel menoleh untuk melihat siapa orangnya.


Seorang wanita cantik memakai jaket abu-abu sambil membawa tas besar di punggungnya tengah berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ryzel.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Ryzel melepaskan earphone di telinganya dan balik bertanya.


Ryzel tidak mendengar apa yang ditanyakan wanita ini lantaran sedang memakai earphone mendengarkan lagu.


"Anu, itu ...."


Seketika wanita itu lupa sejenak dengan apa yang ingin ditanyakan kepada Ryzel begitu melihat wajah Ryzel untuk pertama kalinya. Pria di depannya terlalu tampan, dia belum pernah melihat pria tampan sedekat ini, terlebih ketampanan orang di depannya mempunyai level ketampanan yang berbeda.


Kepala Ryzel sedikit miring. "Ya? Ada yang ingin ditanyakan?"


Telinga wanita tersebut mendengar suara Ryzel dan dia langsung sadar dari keterkejutannya."Itu, aku ingin bertanya, apakah kursi ini adalah kursiku?"


"Coba kulihat karcisnya," kata Ryzel dengan tenang.


"Ini."


Wanita tersebut memberikan karcis kereta kepada Ryzel tanpa sadar, dia mengikuti perintah yang diucapkan oleh Ryzel.


Setelah melihat kertas karcis tersebut beberapa detik, Ryzel mengangguk dan mengembalikan kertas karcis keretanya. Ryzel menganggukkan kepalanya, tersenyum ramah. "Angkanya sesuai dengan kursi ini. Ini memang kursimu."

__ADS_1


"Oh, terima kasih sudah membantu!" Wanita ini dengan cepat memberi ucapan terima kasih dan berusaha untuk memalingkan matanya dari pesona hebat Ryzel.


"Ya, sama-sama."


Setelahnya, wanita tersebut meletakkan barang bawaan di bagasi yang ada di atas kursi lalu duduk di kursi yang sama dengan Ryzel tanpa berani melihat sosok Ryzel secara terang-terangan.


Ryzel kembali memasang earphone miliknya mendengarkan lagu sambil mengedit video untuk konten video Tiktod.


Saking fokusnya, Ryzel tidak tahu bahwa wanita yang ada di sebelahnya ini beberapa kali mengintipnya untuk melihat wajahnya.


Wanita yang baru saja datang ini bertingkah aneh dengan wajah yang memerah sejak awal kedatangannya sampai kereta berangkat.


Melihat Ryzel yang jatuh ke dalam konsentrasinya mengedit video, wanita ini bingung ingin memulai obrolan dari mana.


Melirik Ryzel diam-diam, wanita ini bergumam dalam hatinya, "Aku ingin berkenalan dengan pria ini, tetapi aku tidak tahu caranya. Aggh! Mengapa aku jadi galau seperti?!"


"Akhirnya, aku selesai mengedit video!" Ryzel mematikan Jenbook sehabis melihat videonya selesai diedit tanpa ada kesalahan, kemudian menutupnya untuk disimpan ke tas.


"Aneh, Sistem tidak memberikan tugas sehabis pergi ke pantai. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi kepadanya," ucap Ryzel di dalam hatinya dengan raut muka yang heran.


Hari ini tidak ada tugas masuk dari Sistem, bahkan Sistem tidak memberi tahu kapan tugas masuk akan dirilis lagi.


Entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan informasi tentang tugas masuk dari Sistem, dia sudah mencoba bertanya beberapa kali hal tersebut, tetapi Sistem tidak mau memberikan informasinya.


Maka dari itu, Ryzel berniat pergi ke Bandung untuk menemui wanita kembar kenalannya. Dia sudah memberi kabar tentang keberangkatannya kepada kedua wanita itu. Jadi, dia sudah ditunggu-tunggu oleh keduanya.


Ryzel berdiri dan menyimpan Jenbook di dalam tas. Mereka tidak tahu bahwa tas Ryzel adalah tas yang memiliki ruang sendiri.


Begitu dia duduk dan mengambil ponsel dari kantong celananya, wanita yang ada di sebelahnya memanggilnya.


"Halo, bolehkah kita berkenalan?" Wanita ini menatap Ryzel dengan pipinya yang memiliki rona merah.


Ryzel merespons dan mengangguk, kemudian dia berinisiatif mengulurkan tangannya ke depan wanita ini.


"Perkenalkan, aku Ryzel."


"Aku Mita, salam kenal!"


"Salam kenal juga."


Setelah saling berjabat tangan, mereka berdua saling menyebut satu sama lain dengan senyuman di wajahnya.


Dengan cepat mereka melepaskan tangan satu sama lain dan bersikap biasa saja.


Ryzel tidak malu ataupun yang lain setelah berkenalan dengan wanita yang bernama Mita ini.


Berbeda sekali dengan Mita, dia merasa sangat malu setelah saling bersentuhan tangan ketika berkenalan.

__ADS_1


"Ryzel? Aku sepertinya pernah mendengar nama itu beberapa akhir ini, tetapi aku tidak ingat di mana aku mendengar nama yang mirip dengan namamu itu," ucap Mita dengan wajah yang masih malu bersamaan dengan ekspresi yang sedikit terkejut.


Sebelumnya, dia pernah mendengar nama yang mirip dengan Ryzel beberapa hari ini. Sayangnya, dia lupa di mana dia mendengar nama tersebut.


Mendengar ini, Ryzel menunjukkan mulutnya yang melengkung tersenyum. Ternyata masih banyak orang yang tak mengenal dirinya.


Menatap wanita yang bingung itu, Ryzel berkata, "Namaku banyak dipakai, tidak heran kalau kamu pernah mendengar nama yang persis dengan namaku."


"Kupikir iya. Um, lupakan saja." Mita tidak mau berpikir hal yang tidak penting, dia ingin fokus mengobrol dengan pria yang duduk bersampingan dengannya.


Kursi yang ada di depan mereka berdua kosong, memang terlihat sepi kereta di sini, tidak terlalu ramai oleh banyak penumpang. Padahal, sekarang tanggal 31 Desember, hari terakhir di tahun ini.


Semestinya, banyak orang yang pulang kampung atau pergi ke rumah lama untuk bertemu keluarga dan teman-teman dalam rangka merayakan tahun baru.


"Apakah kamu ingin ke Bandung juga? Berkunjung ke rumah saudara?" tanya Mita memulai percakapan.


"Aku ke Bandung hanya untuk bertemu teman-teman di Bandung," jawab Ryzel sambil menatap wajah Mita yang terlihat ayu dan manis. "Kalau kamu? Ingin bertemu teman juga?"


Mita dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku ingin bertemu keponakan aku yang sedang liburan di rumah saudara ayahnya."


"Oh, kamu sekarang ingin menyusul mereka maksudnya?"


"Ya, itu benar." Mita menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Ryzel.


"Pasti keponakan kamu itu lucu, sampai-sampai kamu ingin pergi dan menyusul dia," tebak Ryzel dengan analisis asalnya.


Sebuah kurva terbentuk di mulut Mita, kemudian dia membalas, "Benar, keponakan aku baru berumur tiga tahun, masa-masanya anak kecil terlihat sangat lucu."


"Benar, umur tiga memang masa anak kecil sedang lucu-lucunya." Ryzel setuju dengan pernyataan Mita.


Setelah percakapan tersebut, mereka terus mengobrol membahas banyak persoalan tanpa mengganggu orang sekitar.


Mereka sempat mengobrol membahas tentang pekerjaan dan saat itulah Mita ingat dengan Ryzel, ternyata Ryzel yang namanya pernah didengar adalah orang yang sedang dibicarakan oleh orang-orang, termasuk lingkaran temannya.


Sejak saat itu, Mita menjadi canggung mengobrol dengan Ryzel, tetapi Ryzel beri tahu kepada Mita untuk biasa saja kepadanya, jangan anggap dia orang yang berbeda.


Untungnya, Mita ini adalah wanita penurut, dan dia mengikuti apa yang dipinta Ryzel. Dia kembali mengobrol dengan Ryzel dengan asyik.


Mita adalah mahasiswi di universitas yang ada di Jakarta, keluarganya memang ada di Jakarta dan Bandung. Jadi, dia sudah terbiasa untuk pergi Jakarta—Bandung.


Tak lama berselang, kereta yang mereka naiki sudah sampai di Stasiun Kiaracondong. Kebetulan keduanya turun di stasiun yang sama.


Mereka berdua berpisah setelah keluar dari stasiun.


"Sampai jumpa lagi!" Mita melambaikan tangannya sambil berjalan menjauh dari Ryzel.


Ryzel memandang Mita dari kejauhan dan tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Sampai jumpa!"

__ADS_1


Setelah mereka melambaikan tangan satu sama lain, mereka berdua saling memunggungi dan berjalan menjauh menuju ke tujuannya masing-masing.


"Halo, Rina, aku sudah sampai di dekat Museum Konferensi Asia-Afrika."


__ADS_2