Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 27: Makan Bersama Wanita Kembar


__ADS_3

Mereka bertiga pergi ke tempat makan tidak jauh dari Gedung Konferensi Asia-Afrika, sebuah rumah makan yang menjual mie bakso yang cukup terkenal.


Selama di perjalanan, Rina ini mengobrol dengan Ryzel, ia sempat berkata mie yamien di sana sangat enak, menjadi langganannya jika mereka berdua kebetulan lewat jalan ini.


Bahkan Rina menunjukkan ulasan rumah makan ini yang tercantum di gugel, memang bagus ulasannya, lebih dari 4,5 bintang yang diberikan oleh orang mengenai rumah makan ini.


Selain enak, harga makanan di sini terjangkau dan murah untuk mereka sebagai seorang mahasiswi yang di mana pasti mereka harus menghemat uang agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Berbeda dengan Rani, ia lebih menyukai nasi goreng yang masuk ke dalam menu makanan yang bisa dipesan.


Memang cukup enak nasi goreng di sana, selera Rani cocok dan kompatibel dengan nasi gorengnya.


Begitu mendengar penjelasan pendapat Rina mengenai seputaran rumah makan tersebut, Ryzel menjadi penasaran dan ingin cepat sampai.


Tak sampai 10 menit mereka berjalan, mereka akhirnya sampai di rumah makan yang dibicarakan oleh Rina penuh semangat sebelumnya.


Ternyata jaraknya memang sangat dekat, sekitar 500 meter dari Museum Konferensi Asia-Afrika, lokasinya ada di sekitaran sisi Jalan Asia Afrika.


Tidak perlu lama lagi, mereka bertiga mencari tempat duduk lalu memesan makanan yang disukainya.


Rina memesan mie yamien, Rani nasi gorengnya, dan Ryzel memesan kedua makanan yang dipesan oleh kedua wanita yang kembar ini.


Melihat porsi yang ada di dalam gambar kertas menu, Ryzel berpikir ini kurang puas bagi perutnya, perlu 2 porsi makanan atau lebih untuk mengenyangkan dirinya.


“Bagaimana rasanya? Enak, kan?“ Rina bertanya sambil memiringkan kepalanya.


Ryzel mengangguk setuju dengan pendapat Rina yang sebelumnya. Mie yamien dan nasi goreng di sini terbilang cukup enak, tetapi bukan makanan yang bisa membuat Ryzel membelalakkan matanya karena rasa makanan yang sangat enak.


Tingkatannya cukup lezat 2 makanan ini, tetapi sayangnya porsinya tampak sedikit, tidak seperti nasi goreng yang jualan di gerobak malam hari, porsi makanannya seperti porsi orang yang sedang mukbang.


Melihat porsi yang sedikit, Ryzel memesan lagi makanannya, total makanan yang ia makan di sore hari ini adalah 4 porsi.


“Ngomong-ngomong, kamu baru saja ke sini, kan?“ Rina yang memberhentikan makannya dan menatap Ryzel sambil memegang botol minum.


“Benar,” ucap Ryzel sambil menggulung mie yamien yang tersisa dengan sumpitnya seperti sedang makan pasta. “Ada apa?“


“Aku ingin bertanya tentang di mana kamu ingin bermalam, mau menginap di mana? Hotel?“

__ADS_1


“Mungkin, apa kamu tahu di mana hotel yang bagus?“


“Hotel Savoy, hotel tersebut terkenal di sini, sebab dahulu para pejabat yang ikut menghadiri konferensi menginap di hotel itu,” usul Rina dan fokus mengobrol dengan Ryzel, ia sampai lupa dirinya ingin minum. “Mau kami antarkan habis makan dari sini?“


“Boleh, kalau kalian tidak keberatan.“ Ryzel tidak masalah dengan mereka berdua. “Apa kalian juga menginap di sebuah hotel atau langsung pulang ke rumah?“


“Kami akan pulang ke asrama nanti malam, kami berdua ingin melihat alun-alun kota.“


“Alun-alun? Tempat yang kita lewati tadi?“ Ryzel ingat mereka datang ke sini melewati tempat yang ramai oleh orang-orang. Ia sempat bertanya tentang tempat tersebut, Rina bilang itu Alun-alun Kota Bandung.


Rina mengangguk, kemudian menyesap minumannya, Rani masih sibuk makan sambil bermain ponsel, tampak tidak tertarik dengan pembicaraan Ryzel dan saudarinya. “Kamu mau ikut kami berdua ke sana?“


“Boleh saja, tetapi aku harus memesan kamar di hotel dahulu.“


“Pesan saja lewat aplikasi, bisa, kok. Lebih praktis dan efisien, tidak perlu langsung pergi ke hotel,” Rina menyarankan kepada Ryzel.


“Baiklah. Aku akan memesannya sekarang.“


Setelah menghabiskan mie yamien, Ryzel menunda makannya untuk memesan kamar di Hotel Savoy.


Harga yang tercantum di aplikasi cukup terjangkau, mengingat hotel tersebut memiliki standar bintang 4 yang terbilang mewah.


Setelah memesan kamar hotel, Ryzel melanjutkan lagi makannya dan menghabiskan 2 makanan yang telah ia pesan.


Ketika Ryzel makan, ia tidak sadar pipi Rina dan Rani yang memerah bukanlah penampilan normalnya.


Wanita kembar ini menahan untuk tidak tersipu begitu Ryzel berbicara, sebab suara Ryzel sangat-sangat menggoda, rasanya mereka ingin mendengar suara Ryzel sebelum tidur.


Sangat nyaman di dengar dan membuat jantung berdebar-debar.


Suara dan wajah Ryzel memang sinkron, sama-sama tampan dan indah untuk dinikmati.


Meskipun Rani bermain ponsel, ia dari awal mengirim pesan ke salah satu temannya yang dekat dengan dia dan saudarinya, Rani memberi tahu tentang Ryzel yang sedang bersama mereka.


Teman Rani menjadi ingin tahu tentang Ryzel, lantaran Rani bilang bahwa pria yang bersamanya saat ini adalah pria tampan.


Tidak ada wanita yang tahan dengan pria tampan, mereka pasti ingin mendekat dan mendapatkan, bagai semut yang mengerumuni gula.

__ADS_1


Namun, temannya tidak bisa ke alun-alun kota, sebab ia ada tugas yang masih digarap olehnya.


Usai makan di rumah makan mie bakso, mereka melihat langit yang sudah menjadi gelap, mereka terlalu lama di sini karena mengobrol, selama 2 jam mereka duduk dan makan di rumah makan.


Keduanya berterima kasih kepada Ryzel karena sudah membayar makanan yang mereka berdua pesan.


Ryzel membayar makanan Rina dan Rani sebagai rasa terima kasih atas kebaikan yang mereka lakukan kepadanya.


Keluar dari rumah makan di malam hari, jalan di Bandung ini tampak ramai oleh para pengunjung, banyak orang yang lalu-lalang di jalan ini, terutama di jalan di mana mereka lalui sekarang.


Banyak anak muda yang sepantaran dengan Ryzel sibuk bermain dan bertemu teman-temannya, tawa canda mereka mencerminkan betapa asyiknya hidup di masa muda.


Selain itu, banyak orang tua dan anaknya berjalan dengan tujuan masing-masing.


Begitu Ryzel serta wanita kembar lewat di antara anak muda yang sedang menongkrong bersama lingkaran pertemanannya, mereka terdiam dan semua pandangannya terpaku pada sosok Ryzel.


Terlebih wanita-wanita yang sempat melihat Ryzel, mata mereka menyala dengan lampu hijau, seperti predator melihat mangsanya.


Ryzel mengabaikan mereka dan terus menelusuri jalan bersama Rina dan Rani.


Tak lama kemudian, mereka sampai di alun-alun, sangat sulit untuk mereka sampai sebab trotoar dan jalur pejalan kaki penuh oleh orang-orang.


Dari luar saja sudah tampak jelas di dalam alun-alun penuh oleh orang-orang yang duduk bersantai di atas rumput hijau sintetis.


Ragu dengan ini, Ryzel memutuskan untuk pergi ke hotel terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam alun-alun yang ramai.


Rina dan Rani setuju dengan Ryzel, mereka ikut Ryzel ke hotel, tetapi hanya sampai lobi dan menunggu Ryzel turun kembali dari kamar hotel.


Sebetulnya, apabila Ryzel mau mengajak mereka ke kamar, keduanya pasti mau, tetapi Ryzel tidak memiliki pikiran seperti itu, sekali perjaka tetap perjaka.


Setelah keluar dari hotel dengan membawa tas peralatan siaran langsung, mereka bertiga meluncur ke alun-alun lagi, tidak jauh, hotel ada di bagian timur dari alun-alun, berjalan selama beberapa menit pun akan tiba di sana.


“Sayang, kita mau ke hotel lagi nanti?“


Tepat ketika Ryzel, Rina, dan Rani duduk di tempat kosong di lapangan alun-alun, mereka bertiga mendengar suara wanita dari pasangan yang ada di sebelahnya.


Seketika Rina dan Rani wajahnya memerah, kalimat yang terucap langsung bisa dipahami oleh wanita kembar ini. Mereka tidak berani menatap Ryzel.

__ADS_1


Ryzel tidak malu sama sekali. Alih-alih tersipu dan canggung, alis mata Ryzel bertaut begitu mendengar suara wanita tersebut dengan jelas.


Tampak ada yang salah dengan reaksi Ryzel.


__ADS_2