Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 79: Perpisahan Harem Trial


__ADS_3

“Ryzel, kami bertiga sayang kamu.“


Sebelum Maly menyusul untuk tidur, dia mengucapkan sebuah ucapan manis kepada Ryzel.


Setelahnya, Ryzel mencium pipi mereka bertiga satu per satu sebelum Ryzel pulang penginapannya.


Medan pertempuran sudah mereka berempat bersihkan, tubuh mereka pun sudah bersih dan rapi. Cuma tersisa mencuci seprai kasur saja yang masih belum mereka cuci.


Itu tidak harus mereka yang lakukan, pihak resort akan membersihkannya. Ryzel berniat untuk memberikan uang kepada orang yang membersihkan barang tersebut karena hatinya merasa tidak enak.


Melihat mereka tertidur pulas dengan senyuman di setiap wajah mereka, Ryzel berbalik dan keluar dari kediaman wanita-wanita ini. Tentu saja, tidak lupa untuk Ryzel kunci dan kuncinya ia masukkan ke dalam rumah melalui sebuah lubang. Langkah selanjutnya, Ryzel beri tahu kepada mereka melalui pesan bahwa kunci ada di lantai. Pastinya, kunci itu jatuh.


Berjalan santai ke kediaman vila, Ryzel sempat berpikir tentang Gina. Dia tidak ingin membuka pesan di perjalanan dan memutuskan untuk mempercepat akselerasi dirinya berjalan.


Setibanya di kediaman vila, Ryzel menutup pintu vila dan bergegas ke dalam kamar. Duduk di atas kasur dan mulai menyalakan ponsel.


Gerakan jari Ryzel begitu cepat, ia langsung membuka aplikasi Whatsupp tempat dirinya berkomunikasi dan terhubung secara lebih dekat dengan orang yang kenal dengannya.


Tepat ketika Ryzel membuka aplikasi dan pesan Gina, dia melihat sebuah pesan tiba-tiba masuk dari kolom pesan Gina.


Di momen ini, Ryzel langsung membuka obrolan Gina dan melihat pesan tersebut.


Seiring dirinya membaca pesan, terjadi perubahan ekspresi wajah pada Ryzel. Sebuah perasaan bercampur aduk dalam waktu yang singkat selama dia membaca pesan tersebut.


Pupil mata Ryzel bergetar dan tatapannya perlahan menjadi kosong.


Sebuah informasi yang diberikan oleh orang random tersebut adalah informasi sungguhan dan nyata.


Pesan dari Gina itu bertuliskan seperti ini: “Aku tidak tahu kamu mendapatkan informasi itu dari siapa, tetapi tentang benar atau tidaknya berita itu, aku akan menjawab bahwa berita itu benar. Aku menikah di tanggal 17 kemarin. Maaf, aku baru bisa memberi tahu kamu sekarang. Alasan aku jarang mengirim pesan dan berkabar itu karena tentang pernikahan mendadak ini. Aku dijodohkan oleh keluarga. Maafkan aku Ryzel terlambat memberi tahu tentang hal ini. Pasti kamu terkejut, ya? Maaf, jika aku memberi kamu rasa sakit. Aku sangat senang telah bertemu denganmu. Ini memang jalan kita, takkan pernah bisa bersama. Aku akan tetap mengingat pertemuan kita di Bogor. Aku akan tetap mengingat wajahmu. Aku akan selalu mengingat kebaikan dan kenyamanan yang kamu berikan. Untuk terakhir kalinya aku ketika kata ini, 'aku cinta kamu!'.“


Belum sempat Ryzel balas pesan ini. Foto profil Gina menghilang. Tidak peduli seberapa banyak pesan yang Ryzel kirim itu tidak akan dibalas oleh Gina.


Gina sudah memblokir nomor Whatsupp miliknya dan membuat Ryzel tidak bisa mengirim pesan kepada Gina.


Untuk sementara waktu, Ryzel merasakan sebuah perasaan yang pernah ia alami sebelumnya, sebuah rasa sakit yang berbeda jenis. Rasa sakit ini membuatnya terasa sesak di dada seolah ada yang memukul dadanya begitu hebat.


Ryzel tahu bahwa dia dan Gina hanyalah teman, bahkan yang menolak Gina adalah dirinya sendiri. Namun, entah mengapa hatinya merasa sakit saat tahu Gina dinikahi orang lain.


Tampaknya Ryzel sudah terbawa suasana ketika mereka berdua di Bogor. Itu pertama kali Ryzel berjalan bersama wanita cantik dalam hidupnya, sangat berkesan di ingatan Ryzel.


Selain itu, berita ini juga datang begitu mendadak tanpa adanya ancang-ancang atau aba-aba, pemberitahuan awal, dan apa pun itu. Dikarenakan hal ini juga yang membuat Ryzel merasa sedih.


Ryzel sambil menahan air mata ia berpikiran untuk memeriksa akun Instagrem Gina.


Terdapat beberapa foto unggahan baru di akun Gina dan itu diunggah pada tanggal 18 kemarin atau hari Minggu. Foto-foto ini menampilkan gambar pemandangan Gina dan pasangannya berfoto mesra saat acara pernikahan berlangsung. Semua terlihat bahagia dan senang.


Senyuman yang Gina tunjukkan di unggahan tersebut masih sama dengan senyum Gina yang ditunjukkan ketika mereka berdua pergi ke sempur dan menonton bioskop bersama. Senyuman yang tulus dari hati. Manifestasi kebahagiaan yang dirasakan dalam hati.


“Syukurlah kalau kamu menemukan pasanganmu. Maaf kalau aku sudah mencoba ciuman dari istrimu, Kawan. Juga, sempat menyenggol dan merasakan kekenyalan itu. Aku tidak sengaja, dan ciuman itu kemauan istrimu. Semoga kalian bahagia dan langgeng sampai kiamat datang.“


Ryzel tersenyum dalam ekspresi sedihnya. Agak sedih, tetapi sebagai seorang teman, ia akan tetap mendukung pilihan seorang teman dan ikut bahagia.


Ponsel yang Ryzel genggam diletakkan di atas meja. Ryzel menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan pandangan matanya tetap lurus ke depan ke arah langit-langit ruangan.


Saat detik ini, Ryzel sedang memikirkan tentang ketiga wanita ini.


Akankah dia menangis ketika mereka bertiga menikah dengan pasangannya nanti?


“Aku jadi kepikiran tentang mereka bertiga. Aku menjadi tidak enak dengan suami mereka bertiga nanti saat mereka menikah. Sial! Aku tidak tahu harus bagaimana!“ Ryzel memijat dahinya sambil memikirkan hal tersebut.


Tidak mungkin Ryzel menikahi mereka bertiga sekaligus. Selain itu, dirinya memang tidak ingin berpacaran sesingkat mungkin atau sesegera mungkin.


Kemungkinan, Ryzel tidak akan menikahi mereka bertiga. Cinta belum tumbuh di dalam hatinya untuk mereka bertiga.


Di lain sisi ia merasa bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan kepada wanita-wanita tersebut.


“Kalau mereka bertiga hamil, aku akan menikahi mereka bertiga. Jika tidak, aku tidak akan menikahi mereka. Benar, seperti itu saja,” gumam Ryzel yang duduk dan menundukkan kepalanya.


Hanya solusi itu yang Ryzel pikirkan untuk sekarang ini. Kalau di masa depan ada solusi yang lebih baik yang berhasil ditemukan, Ryzel akan lakukan.


“Aku penasaran dengan orang yang memberi tahu aku tentang informasi Gina menikah. Apakah dia temannya?“ Ryzel bertanya-tanya tanpa mencari tahu dan membuka ponsel.


Ryzel tidak tahu bahwa orang yang memberi tahu kabar tersebut adalah suami dari Gina.

__ADS_1


Keesokan harinya, sebuah tugas masuk yang muncul kembali setelah beberapa hari kemarin tak muncul, semenjak masuk ke Pulau Koh Rong.


Ryzel berdiri dengan menggendong 2 tas di tubuhnya, mata Ryzel menatap sesuatu yang kosong di depannya.


Di depannya terdapat layar tipis yang mencantumkan tugas masuk yang dikeluarkan Sistem.


[Tugas Masuk!]


Tugas: Masuk ke Bandara Tan Son Nhat, Kota Ho Chi Minh.


Waktu: 2 hari.


Syarat: 150.000 Pengikut Tiktod.


Hadiah: Tidak Diketahui.


Hukuman Gagal: Kepala adik kecil Anda menjadi besar seperti bola.


[Tugas secara otomatis diterima!]


Usai Ryzel periksa lokasi tugas masuk ini, ternyata itu ada di negara tetangga, yaitu Vietnam.


Dengan begini, Ryzel harus memberi tahu kabar ini kepada mereka bertiga.


Ryzel keluar dari penginapan kamar setelah memeriksa tidak ada barang yang tertinggal.


Dia berjalan menuju vila Maly, Aruny, dan Putrea.


Ketika posisinya sudah dekat dengan vila Ryzel bisa melihat dari kejauhan terdapat tiga sosok wanita. Wanita ini adalah mereka bertiga yang sudah siap untuk pergi dari pulau ini. Semua tas dan koper sudah mereka persiapkan.


Tanpa berlama lagi, mereka pergi ke tempat kapal laut yang mereka sewa untuk transportasi menuju ke Pelabuhan Sihanoukville.


Di kapal laut yang berukuran sedang ini, Ryzel dan ketiga wanita ini asyik berkumpul di suatu ruangan yang tertutup.


Raut wajah dari ketiga wanita terlihat sangat sedih, mereka menatap Ryzel dengan penuh keengganan.


“Maaf, ini memang terlalu mendadak, tetapi aku tidak bisa membatalkan perjalanan ini. Kalian sudah tahu pekerjaan aku, inilah alasan aku tidak bisa menerima kalian sebagai pacar. Aku belum bisa menetap, masih ada banyak perjalanan yang harus aku lakukan.“ Ryzel melihat wajah mereka bertiga dengan ekspresi yang rumit dan serius.


Mereka bertiga sudah memohon-mohon kepada Ryzel untuk tidak pergi secepat ini. Sayang sekali, Ryzel tidak menentang Sistem. Kalau bisa, dia tidak akan pergi dari mereka bertiga.


Dari sisi tubuh, ketiga wanita ini sangat brutal dan luar bisa nikmat. Sementara itu, dari segi hati, ketiga wanita ini sama-sama perhatian dan sayang kepadanya. Ryzel merasa sedang diperlakukan oleh seorang ibu bertubuh wanita yang seksi.


Mereka bisa saja Ryzel jadikan pacar, tetapi hatinya belum mengizinkan. Pada dasarnya, hati tak pernah bohong, seperti slogan Kecap Bungo.


Setelah kalimat Ryzel keluar, mereka bertiga terdiam untuk beberapa waktu yang lama. Setelahnya, Maly berdiri dan memeluk Ryzel dengan penuh perasaan.


“A–aku tidak bi–bisa memaksa kamu, Ryzel. Aku hanya bisa berharap kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari kami bertiga. Terima kasih atas pengalamannya. Jika kamu ingin ke Kamboja lagi, jangan lupa untuk mengabari kami. Aku sayang kamu.“


Maly mencium bibir Ryzel dengan perasaan dan rasa yang berbeda. Sebuah ciuman perpisahan di antara mereka.


Aruny dan Putrea juga mencium Ryzel. Mereka mengikhlaskan kepergian Ryzel. Beberapa kali mereka berpesan untuk Ryzel selalu mengirim kabar dan media sosial terus aktif.


Ryzel telah dimasukkan ke dalam grup mereka bertiga. Mereka berempat akan terus terhubung walau nanti mereka takkan pernah bertemu lagi.


Mengingat mereka bertiga berasal dari kota yang berbeda. Maly dan kedua temannya belum tentu akan bisa bertemu lagi.


Beberapa saat berlalu, kapal yang mereka naiki sampai di pelabuhan.


Maly dengan cepat memberi kabar kepada supir mobil bahwa mereka sudah sampai di pelabuhan.


Supir sewa mobil ini cepat tanggap. Tak membutuhkan waktu yang lama dia sampai di tempat pelabuhan.


Tak perlu basa-basi lagi, mereka berempat pergi meninggalkan Pulau Koh Rong dan Kota Sihanoukville.


Selama di perjalanan, mereka tertawa dan bercanda ria tak ada keluh serta resah, semuanya baik-baik saja.


Perjalanan ini memakan waktu berjam-jam dan Ryzel membuat kemungkinan, dirinya akan tepat waktu ke Bandara Internasional Phnom Penh. Ryzel sudah memesan tiket pesawat dan keberangkatan di sore hari.


Sampai dari perjalanan pulang dari Pulau Koh Rong kira-kira siang menjelang sore hari.


Waktu masih terkejar oleh Ryzel.


Tak lama berselang, mereka berempat sampai di Kota Phnom Penh.

__ADS_1


Di kota itu mereka makan siang bersama untuk terakhir kalinya sebelum mereka berempat berpisah.


Pada saat itu, ketiga wanita ini sungguh-sungguh memperlakukan Ryzel seperti suaminya sendiri. Ryzel berkeringat, dengan sigap mereka bersihkan, bahkan Maly bersedia untuk menyuapi Ryzel. Namun, itu langsung ditolak oleh Ryzel. Di tempat umum tidak enak memberi pemandangan semacam itu. Sangat tidak sopan.


Ryzel menghargai orang yang single dan belum pernah berpacaran.


Sehabis makan siang, mereka bertiga berkumpul di suatu tempat dekat Monumen Kemerdekaan di Kota Phnom Penh.


Mereka berempat berpelukan satu sama lain sebagai tanda perpisahan.


Maly menatap Ryzel dengan mata sedih dan tak rela, mata itu perlahan menghilang, kemudian digantikan dengan tatapan yang penuh sayang dan cinta. Mereka berdua melakukan ciuman untuk terakhir kalinya.


Setelah itu, kedua wanita lainnya, Aruny dan Putrea melakukan hal yang sama kepada Ryzel.


Walaupun di hati ketiga wanita ini terasa sangat enggan, tidak ada cara lain untuk bertahan dan hanya ada pilihan untuk melepaskan.


Mereka berempat pergi satu per satu ke arah yang telah mereka tuju dan tandai.


Aruny dan Putrea masuk ke dalam taksi yang berbeda, taksi mereka berdua melaju ke arah yang berbeda.


Tersisa Ryzel dan Maly yang belum pergi.


Mereka berdua saling bertatapan mata tanpa berbicara selama beberapa menit. Ryzel secara inisiatif mendekatkan dirinya kepada tubuh Maly dan ia memeluk tubuhnya penuh kelembutan.


“Ryzel!“


Merasakan kehangatan ini membuat Maly tak bisa menahan isak tangis.


Matanya dipenuhi oleh air mata. Dia memeluk Ryzel dengan erat melampiaskan rasa keengganan yang ia rasakan di dalam hatinya.


Keduanya berpelukan selama lebih dari 3 menit dan berciuman selama 1 menit.


Mereka memisahkan diri satu sama lain dan kemudian mereka membalikkan tubuh dan berjalan menjauh.


Ryzel berjalan menuju ke arah timur tempat bandara berada, sedangkan Maly pergi menuju ke arah barat.


Namun, ketika Ryzel melihat ke belakang, Maly masuk ke dalam taksi dan melirik dirinya sebelum masuk ke mobil.


Taksi itu melaju dan Maly benar-benar pergi darinya.


Rasa sakit karena perpisahan tetap dirasakan oleh Ryzel. Padahal, dia sudah mengalami beberapa kali perpisahan semenjak masih kecil.


“Sesuatu yang hilang memang masih bisa menimbulkan rasa sakit. Mereka bukan kebal, tetapi mereka mengabaikan rasa sakit perpisahan yang datang. Aku baru sadar.“


Ryzel melihat unggahan orang yang katanya sudah terbiasa dengan namanya perpisahan atau bahasa trend dan gaulnya “People come and go” yang memiliki arti semua orang itu akan datang dan juga pergi.


Meskipun terbiasa bukan berarti mereka kebal, mereka hanya mengabaikan dan tak menghiraukan rasa sesak, nyeri, dan sakit akibat perpisahan terjadi. Pada dasarnya, mereka merasa efek samping tersebut.


Ryzel menahan pikirannya untuk tidak mengenang kembali masa indah beberapa hari yang lalu dengan Maly di kota ini.


Dirinya terus berjalan menuju bandara dengan hati yang hampa.


Di dalam pesawat, pikiran Ryzel akhirnya diperbolehkan oleh Ryzel untuk mengingat kenangan indah dengan Maly di Kamboja.


Tak terasa air mata mengalir dari kelopak matanya dan jatuh ke baju dan celananya.


Seseorang yang duduk di sebelah Ryzel memperhatikan Ryzel yang menangis.


Sejak Ryzel datang dan duduk di sebelahnya, orang ini memperhatikan gerak-gerik Ryzel. Orang ini tertarik dengan sosok Ryzel.


“Maaf, mengganggu ini tisu buat kamu.“


Ketika Ryzel mengingat sebagian kenangan dengan Maly, tiba-tiba yang mendengar suara wanita di benaknya.


Kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menatap seseorang yang duduk di sebelah kirinya.


Ryzel melihat seorang wanita yang tampak seperti seorang wanita di usia remaja, masih kecil, tengah mengulurkan tangannya untuk memberikan dirinya beberapa lembar tisu.


Tanpa berpikir panjang, Ryzel mengambil tisu dan berkata, “Terima kasih, Gadis Kecil.“


Setelahnya, Ryzel menggunakan tisu ini untuk mengelap wajahnya.


Akan tetapi, Ryzel merasakan sesuatu hawa yang dingin di tubuhnya.

__ADS_1


Sontak Ryzel menoleh ke wanita tadi yang memberikan dirinya tisu.


“Kamu kenapa?“


__ADS_2