Sistem Masuk Perjalanan

Sistem Masuk Perjalanan
Bab 132: Hadiah Nenek Risa


__ADS_3

"Tidak apa-apa," ucap Nenek Risa dengan senyum di wajahnya yang berkeriput.


Dalam pandangan Ryzel, senyuman Nenek Risa tampak memiliki sesuatu makna dan tujuan yang terselubung. Tidak tahu apa yang disembunyikan oleh Nenek Risa.


Selain Ryzel yang curiga, Risa dan semua keluarga yang duduk di ruang keluarga di rumah Nenek Risa punya perasaan dan dugaan yang sama.


Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya karena suatu alasan pribadi, ada yang tidak berani, tidak tertarik, dan bingung harus bertanya seperti apa.


Nenek Risa berdiri dari kursinya, berjalan secara perlahan dan hati-hati ke dalam kamar.


"Kalian lebih baik tidur, kalian besok ada urusan, kan? Jangan tidur terlalu malam, tidak baik bagi kesehatan kalian," kata Nenek Risa yang masih berjalan tanpa melihat ke belakang.


"Baik, Nek."


Mereka semua tidak ada yang menentang, perintah Nenek Risa adalah suatu yang mutlak, apalagi itu adalah perintah dan suruhan yang baik.


Saudara, saudari, paman, dan bibi Risa pergi ke kamar masing-masing. Mereka di sini sebenarnya sama seperti Risa, hanya tinggal sementara selama beberapa hari dan nanti akan pergi ke rumah masing-masing.


Mereka di sini hanya sekadar liburan usai tahun baru, menyempatkan waktu untuk bertemu dengan ibu dan nenek mereka.


Rumah Nenek Risa memiliki banyak kamar, ukuran bangunannya terbilang luas, dan memang Nenek Risa ini terlihat seperti orang yang berada. Risa pun termasuk, tetapi dia mandiri dan tidak ingin mengandalkan neneknya.


Omong-omong, kedua orang tua Risa telah tiada, sebuah tragedi menyedihkan, yaitu kecelakaan, seketika merenggut kedua orang tuanya dalam perjalanan menuju ke tempat bisnis.


Risa yang kebetulan tidak ikut dan tinggal dengan neneknya langsung menangis histeris, sangat terpukul atas berita kedua orang tuanya yang tewas karena kecelakaan.


Beruntung sekali Risa punya seorang nenek yang sabar dan bijak. Meskipun neneknya merasa sangat kehilangan, dia tetap teguh dan tabah, bahkan berusaha untuk menghibur cucunya, Risa, supaya tidak terlalu memikirkan kejadian tersebut.


Pantas saja, Nenek Risa disayang oleh semua cucu dan anaknya. Didikan Nenek Risa sangat bagus dan hebat, mampu membuat semua keturunannya menjadi orang yang baik dan sukses.


Semua paman dan bibinya ini punya tingkatan ekonomi yang bagus, mereka bisa dikatakan orang yang mampu, mempunyai uang yang banyak dan cukup untuk makan selama sebulan tanpa pusing.


Semua paman dan bibinya punya mobil pribadi, mereka. Mereka datang ke rumah nenek menggunakan mobil mereka masing-masing.


Memang benar jika kekayaan mereka tidak sebanyak Ryzel.


Jelas sekali kalau Ryzel sudah berada di level yang berbeda dari segi ekonominya.


Ryzel dan Risa berjalan bersama menuju kamar mereka sendiri, kamar mereka berdua memiliki jarak yang dekat, hanya terpisah oleh satu ruangan saja.


Saat berjalan ke kamar masing-masing, keduanya menyempatkan diri untuk mengobrol membahas rencana mereka untuk pergi ke Candi Borobudur.


Meskipun Ryzel tidak tahu akan ada Tugas Masuk dari Sistem, dia telah memutuskan untuk pergi ke Candi Borobudur selagi jaraknya cukup dekat dari rumah Nenek Risa. Sangat disayangkan apabila dia sudah ada di Yogyakarta, tetapi tidak sempat ke situs wisata terkenal tersebut untuk berkunjung.


Dari obrolannya dengan Risa yang singkat, Ryzel menepatkan jam keberangkatan mereka pergi di jam 8 pagi dari rumah.


Selain membahas tentang itu, keduanya sepakat untuk bermain sejenak di kamar Ryzel. Benar, bermain pompa ban dengan durasi 2 jam saja.


Mengingat ini masih jam 10 malam, masih ada waktu untuk mereka tidur walau waktu tidur sedikit dipangkas untuk bermain.


Pada kesempatan kali ini, mereka tidak akan begitu intens karena di rumah Nenek Risa banyak orang, ditakutkan anggota keluarga Risa tahu tentang kegiatan mereka di dalam kamar.


Ketika mereka berdua masuk ke dalam kamar Ryzel sembunyi-sembunyi, tidak ada seorang pun yang tahu dengan gerakan mereka.


Tanpa banyak bicara dan basa-basi, kegiatan panas mereka langsung dimulai dan diawali dengan pemanasan.


Suara mereka dalam melakukan kegiatan itu terdengar sangat kecil, bahkan hampir tidak terdengar sama sekali.


Ryzel dan Risa benar-benar berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi suara yang bising selama kegiatan mereka berlangsung.


Sesuai dengan mereka rencanakan, keduanya memberhentikan kegiatannya setelah 2 jam berlalu. Risa keluar dari kamar Ryzel sambil membawa nampan dan satu gelas kosong.


Hasil pikiran Risa agar kegiatan mereka tidak diketahui oleh orang lain. Kalau pun ada yang melihatnya keluar dari kamar Ryzel, orang tersebut mengira Risa habis memberi Ryzel segelas minuman dan sebagainya.


Di pagi hari selanjutnya, rumah Nenek Risa sibuk dengan persiapan Ryzel dan Risa yang hendak pergi ke Candi Borobudur.

__ADS_1


Ryzel membawa satu tas yang berisikan beberapa barang yang akan digunakan untuk siaran langsung, sedangkan baju dan lainnya tidak Ryzel keluarkan dan dibiarkan tersimpan di dalam tas ajaib. Tentu saja tidak lupa dompet dan beberapa barang kecil yang wajib untuk dibawa saat keluar.


Rencana mereka berdua pergi ke Candi Borobudur jadi dilaksanakan, Sistem kebetulan mendukungnya dengan memberi Tugas Masuk Utama yang mengharuskan dirinya pergi ke Candi Borobudur dalam waktu 24 jam.


Tidak perlu berpikir dan menimbang-nimbang lagi, Ryzel sudah pasti ke sana untuk masuk dan mendapatkan hadiah.


Namun, sebelum itu, Ryzel harus menunggu Risa yang masih merasa dan menyiapkan diri untuk pergi.


Ryzel dan beberapa saudara Risa duduk di ruang keluarga bersama Nenek Risa mengobrol santai sambil menikmati camilan kecil serta teh.


Di tengah-tengah Ryzel mengobrol dengan salah satu paman Risa, tiba-tiba Nenek Risa yang keluar dari kamar perlahan menghampiri Ryzel dan menyerahkan suatu benda ke tangannya.


"Ini?" Ryzel memandang Nenek Risa dengan wajah yang tidak mengerti.


Nenek mengarahkan senyuman di wajahnya, dan dia berkata dengan suara yang lembut dan penuh serius, "Gelang ini adalah gelang yang Nenek simpan sejak lama, peninggalan Kakek semasa yang biasa dia pakai semasa kita masih muda. Nenek memberikan gelang ini agar kamu tetap aman dan sehat selalu di luar sana, lebih-lebih kamu jarang berada di rumah, kan. Maka dari itu, pakai gelang ini dan simpan baik-baik."


Ryzel menurunkan pandangannya ke sesuatu yang ada di telapak tangannya, sebuah gelang yang terbuat dari akar yang ada di laut dalam, biasa disebut gelang Akar Bahar yang sebenarnya adalah terbuat dari hewan laut yang tidak memiliki sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah.


Gelang yang biasanya dikenakan oleh bapak-bapak ini terlihat gagah dan tampan, dan ukurannya pas dengan pergelangan tangannya saat dicoba.


Melihat Ryzel yang memakai gelang peninggalan suaminya dahulu, Nenek Risa tersenyum bahagia sekaligus meneteskan air mata.


Sosok Ryzel menggambarkan suaminya yang memakai gelang yang sama di masa muda, bedanya Ryzel lebih tampan dari suaminya, tetapi itu tidak penting, terpenting dia bisa membayangkan lagi sosok mendiang suaminya di masa muda


Saudari dan saudara Risa yang lainnya memeluk Nenek Risa, memberi selembar tisu untuk menyeka air mata yang jatuh di pipinya yang mengkerut.


Sehabis diberikan sebuah gelang oleh Nenek Risa, orang Ryzel tunggu-tunggu akhirnya datang. Mereka berdua segera berpamitan dengan mereka semua dan pergi menaiki mobil yang Ryzel pesan mengantarkan mereka berdua sampai ke sana.


"Hati-hati di jalan, Nak Izel!" Nenek Risa melambaikan tangannya ke arah mobil yang dinaiki Ryzel dan Risa.


Ryzel yang ada di dalam mobil menoleh keluar dan membalas lambaian tangan Nenek Risa sembari mengangguk beberapa kali.


Nenek Risa bersama keluarga besar Risa memandang mobil yang melaju meninggalkan kawasan tempat rumah Nenek Risa berada.


Melihat neneknya yang selalu memperhatikan Ryzel, Risa merasa iri, dirinya seperti bukan lagi cucunya, melainkan Ryzel yang merupakan cucunya.


Ucapan Risa terdengar di telinga Ryzel, mulut Ryzel berubah bentuk dan ia tersenyum. "Ksabar. Mungkin saja Nenek sedang rindu dengan suaminya. Bukankah Nenek jelas-jelas bilang dirinya melihatku seperti bayangan mendiang Kakek?"


"Benar juga." Pernyataan Ryzel masuk akal, Risa berpikir hal yang sama. "Aku tidak jadi iri lagi."


"Setelah aku pergi, kamu tidak akan merasa tersaingi lagi, dan kamu akan selalu mendapatkan perhatian dari Nenek," ujar Ryzel dengan senyuman dan tangannya diam-diam mengambil tongkat gimbal dari dalam tas.


"Kamu mau pergi?!"


"Ya, aku tidak akan menetap di sini lama-lama. Cepat atau lambat, aku akan pergi dari sini." Ryzel menganggukkan kepalanya sekali membenarkan ucapannya sendiri.


Risa dalam sekejap mengubah ekspresinya dan dia menatap Ryzel dengan tatapan mata yang kecewa.


"Aku ingin kamu tinggal di sini lebih lama, apa itu boleh?"


"Tidak ... tahu. Lihat nanti saja, aku akan memberi tahu kamu kalau aku berencana untuk pergi."


Bahkan Ryzel sendiri tidak bisa menentukan kapan dirinya akan pergi, semuanya tergantung Sistem. Sebenarnya, tujuan dia berwisata ke tempat apa dan di mana itu dikendalikan oleh Sistem.


Tak ada yang bisa Risa lakukan, satu-satunya dia harus menerima kepergian Ryzel meski itu terasa begitu berat.


"Um, baiklah. Kamu jangan diam-diam pergi, jangan seperti pria lain yang hobinya menghilang," Risa berkata dengan mimik wajah yang serius.


Ryzel mengangguk kejam dan melemparkan senyumannya yang menawan tanpa sadar. Hal itu membuat hati Risa yang memiliki suasana sedih menjadi berbunga-bunga.


"Pasti, aku pasti memberi tahumu apabila aku pergi."


Setelah obrolan itu, mereka berdua mengobrol biasa dengan sikap yang gembira. Canda dan tawa beberapa kali muncul di antara mereka.


Pak Sopir taksi hanya bisa terdiam dan mendengarkan semua obrolan mereka tanpa mengganggu keduanya. Ekspresi wajah Bapak Sopir mobil berubah seiring Ryzel dan Risa berbincang dengan intens.

__ADS_1


Tak pernah dia sangka, pelanggannya ternyata seorang pria muda yang sukses. Obrolan Ryzel dan Risa membahas pekerjaan Ryzel yang sebenernya. Ryzel mengungkapkan perihal dari mana pendapatnya berasal ke Risa yang sangat penasaran ingin tahu lebih detail.


Dengan begitu, Sopir yang mengantarkan Ryzel ke Candi Borobudur tak sengaja mendengarkan informasi tersebut.


"Pelan-pelan, Pak Sopir!"


"Maaf-maaf, saya akan melajukan mobil dengan pelan."


Risa merasa kendaraan yang mereka naiki begitu cepat, beberapa kali dia melihat banyak sekali mobil yang mereka lewati atau dahului.


Mendengar kalimat Risa, entah mengapa Ryzel merasa lucu, padahal dia tidak tahu apa yang lucu dari kata-kata yang dikeluarkan Risa tadi.


Setelah beberapa menit di dalam mobil, mereka akhirnya sampai di Candi Borobudur dengan tepat waktu, sesuai dengan perkiraan mereka berdua.


"Terima kasih, Pak."


Ryzel merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, meletakkan lembaran uang tersebut ke tangan supir mobil.


Melihat belasan lembar uang di tangannya, Sopir yang sudah memiliki banyak uban di atas kepalanya terkejut sambil menatap Ryzel dengan ekspresi yang tak percaya.


"In–ini terlalu banyak, Mas," kata Pak Supir dengan intonasi suara yang gagap. "Ambil lagi uangnya, Mas."


"Tidak-tidak, ambil saja, Pak. Itu buat bapak, buat anak-anak di rumah. Bapak punya anak, kan?" Tangan Ryzel menepuk pelan bahu Pak Sopir dan tersenyum begitu ramah, temperamennya telah aktif, selalu aktif.


Bapak Sopir mengangguk dengan cepat. "Aku punya enam anak dan dia cucu."


"Ambil saja, uangnya untuk anak-anak dan cucu bapak yang masih sekolah," kata Ryzel sembari merogoh kembali saku celananya.


"Ini, ambil lagi, tambahan untuk bapaknya. Jangan ditolak, ini sudah jatah Bapak, dan memang sudah takdir aku memberi bapak uang." Ryzel mengepalkan tangan bapak ini yang di dalam telah ia letakkan beberapa lembar uang seratus ribu.


Tanpa banyak bicara lagi, Ryzel izin pergi pada Bapak Sopir dan berjalan bersama Risa yang terkesima menuju pintu masuk area wisata Candi Borobudur.


Meninggalkan Bapak Sopir yang berdiri diam di samping mobil dengan wajah yang terperangah, tidak paham apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Berikutnya, Ryzel dan Risa telah masuk ke dalam area tempat wisata Candi Borobudur.


Di depan mereka, tepatnya di kejauhan, terlihat jelas sekali sebuah bangunan kuno yang sangat indah dan megah. Bangunan yang sangat khas yang bernama candi.


Sebelum pergi dan naik ke atas candi, Ryzel meminta Risa untuk duduk terlebih dahulu di pinggir jalan yang mengarah menuju candi.


Di jalan khusus menuju candi terasa begitu asri dan sejuk karena banyak pepohonan yang tumbuh dengan besar di deretan bahu jalan.


Tujuan Ryzel meminta Risa duduk di sana adalah dia ingin menerima hadiah Tugas Masuk Sistem.


Ryzel duduk di sebelah Risa, kemudian dia memejamkan matanya dengan kepala tertunduk.


Orang-orang tidak memperhatikan Ryzel, mereka terus berjalan menuju ke candi yang ada di depan.


Sementara itu, Risa melirik Ryzel sejenak lalu mengambil ponsel untuk memeriksa jam dan pesan. Risa ingin memanggil Ryzel, tetapi dia tidak mau melakukan itu karena menurutnya akan mengganggu Ryzel.


Menurut artikel yang pernah Risa baca di internet, pria juga punya waktu untuk sendiri dan menjadi pendiam. Dengan asumsi yang demikian, Risa enggan untuk mengganggu Ryzel.


[Ding! Terdeteksi Anda telah berada di Candi Borobudur! Selamat Anda telah mendapatkan kemampuan menggambar anime wanita seksi level 7 dan 10 Miliar Dinar Kuwait!]


[Selamat Anda mendapatkan Jackpot!]


"Aku gacor?!"


Melihat hadiah yang ditampilkan Sistem, hati Ryzel menjadi terkejut.


Pada kesempatan ini, dia berhasil mendapatkan hadiah Tugas Masuk yang sangat bagus.


Abaikan hadiah yang pertama, dan lihat hadiah kedua yang memiliki nilai yang sangat besar.


10 Miliar Dinar Kuwait setara dengan 486 triliun sekian rupiah.

__ADS_1


Dalam satu kedipan mata, Ryzel menjadi seorang triliuner termuda di Indonesia.


__ADS_2