
Ryzel menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Amanda. Namun, dia menjadi penasaran dengan teman Amanda ini.
Setelah mobil yang mereka tumpangi terus melaju, tak lama kemudian mereka sampai di tempat di mana teman Amanda tinggal.
Tempat ini adalah sebuah perumahan yang tidak begitu elite, tetapi cukup mahal harga rumah-rumah di sini. Bukan perumahan yang memiliki harga rumah yang mahal sekali.
Saat turun, Ryzel dan Amanda langsung disambut oleh seorang wanita cantik memakai kacamata.
Wanita ini terdiam tak bergerak dan matanya menatap ke arah Ryzel yang berjalan mendekat ke arahnya.
Benar apa yang dikatakan oleh Amanda, temannya ini memang penggemar Ryzel, bisa dilihat dari reaksi pertama kali teman Amanda melihat Ryzel.
“Laurel!“
Melihat temannya yang terpana, Amanda membangunkan temannya dengan suara yang dikeraskan dan itu membuat temannya tersentak kaget.
Sadar dengan dirinya sendiri yang terdiam, teman Amanda yang bernama Laurel menundukkan kepalanya karena malu. Padahal, wajahnya tadi sempat ingin marah, tetapi langsung pudar dan digantikan oleh rasa malu.
Apabila tidak ada Ryzel, Laurel sudah pasti memarahi Amanda habis-habisan karena kesal.
Berhubung asa Ryzel, kekesalannya padam dan digantikan rasa malu yang tak tertahankan.
“Mengapa menunduk seperti itu? Aku sudah membawa kamu teman baru. Ayo kenalan dengannya!“ ucap Amanda yang sambil tersenyum, dia senang mengerjai temannya.
Ryzel tersenyum melihat tingkah laku wanita ini, menggemaskan dan sangat manis.
Maka dari itu, Ryzel yang pertama mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Laurel.
“Halo, aku Ryzel.“
Mendengar suara Ryzel, perasaan malu makin bertambah, asap mengepul dari pipinya yang panas, dia sangat malu.
Akan tetapi, mengingat Ryzel ada di depannya, Laurel setengah mati untuk meringankan malunya. Kesempatan tidak datang dua kali, dia ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk mewujudkan mimpinya.
Berjabat tangan dengan Ryzel, Laurel berkata dengan suara yang kecil, “Aku Laurel, salam kenal, Say—Ryzel!“
Saat Laurel mengucapkan itu, dia hampir saja melontarkan kata yang seharusnya tidak dikeluarkan. Untungnya, dia sempat mengubah kata tersebut.
Amanda hampir terkejut ketika mendengar ucapan temannya, semua orang tahu kata terakhir yang tidak jadi Laurel sebutkan.
“Salam kenal juga,” ucap Ryzel sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Melihat senyuman Ryzel yang sangat berdampak besar bagi hatinya, Laurel menurunkan kepalanya dan tidak berani melihat Ryzel secara langsung.
Melihat tingkah temannya yang benar-benar pengecut dan payah, Amanda segera mengucapkan sebuah kalimat di telinga Laurel.
Alis Ryzel bertaut dan terangkat naik, dia menyaksikan Amanda yang membisikkan sesuatu kepada Laurel. Tampak sangat misterius.
Selepas dibisikkan, Laurel menjadi tidak terlalu pemalu dan dia berani menatap mata Ryzel meski masih tampak malu.
“Ayo kita—”
“Sebentar, aku mendapatkan telepon,” Ryzel memotong ucapan Amanda yang penuh semangat.
Ponsel yang ada di saku celananya berbunyi dan dia harus segera mengangkatnya takut itu adalah panggilan yang sangat penting.
Amanda tidak masalah dengan ini, dia berdiri bersama Laurel menatap Ryzel yang sedikit menjauh dari keduanya.
Tempat mereka berdiri di depan halaman rumah Laurel, lebih tepatnya di trotoar jalan di depan rumah Laurel.
“Halo, Pak Jhony. Selamat pagi ….“
Panggilan yang didapat Ryzel berasal dari perusahaan Indoeat yang ia miliki sahamnya.
Pak Jhony selaku direktur utama menanyakan tentang keberadaannya hari ini dan dia mengundang Ryzel untuk datang ke perusahaan untuk melihat-lihat kantor perusahaan secara langsung.
Setelah beberapa patah kata, panggilan telepon berakhir dan Ryzel harus datang ke sana.
“Anu, sepertinya aku ada urusan penting, apakah kalian berdua ingin ikut denganku untuk pergi,” tanya Ryzel kepada mereka berdua.
Ini tanggung sekali. Ide terlintas di benak Ryzel untuk membawa keduanya pergi ke gedubg kantor utama perusahaan.
Tidak enak hati jika membatalkan jalan bersama mereka berdua. Maka dari itu, dia berpikir untuk mengajak mereka berdua untuk pergi ke sana. Lagi pula, tidak lama perginya, hanya melihat-lihat gedung dan mengobrol sejenak.
Amanda dan Laurel berdiskusi beberapa menit untuk membuat keputusan dari ajakan Ryzel. Pada akhir kesimpulan dari diskusi mereka berdua, mereka menjawab setuju dan bersedia ikut dengannya ke suatu tempat yaitu Menara Indoeat.
Menara Indoeat tidak jauh dan tidak dekat dari tempat di mana mereka bertiga berdiri. Seharusnya, tidak akan terlambat untuk ke sana.
Jam 8 mereka harus ada di sana karena perjanjian pertemuannya jam itu.
Memesan Gokar, mereka bertiga pergi ke Menara Indoeat dengan mobil yang sederhana.
Jaraknya menggunakan terbilang lumayan dekat, tetapi tidak terlalu dekat sekali, butuh waktu 20 menit untuk sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Menara Indoeat ini terbilang tinggi dan besar, terpampang jelas huruf yang bertuliskan Indoeat Tower berwarna biru yang dapat menyala.
Mereka tidak salah tujuan dan benar sampai di tempat yang mereka tuju.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Ryzel mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam.
Terdapat sebuah masalah kecil saat Ryzel dan kedua wanita ini tiba di lobi. Petugas keamanan dan karyawan yang menjadi resepsionis penerima tamu datang ke menara perusahaan menanyakan tentang identitas Ryzel dan kedua wanitanya.
Awalnya, para karyawan di sini tidak percaya bahwa Ryzel diundang untuk datang, sebab tidak ada bukti yang jelas, tidak ada surat.
Namun, Ryzel segera menghubungi langsung Pak Jhony, mereka semua dalam sekejap percaya dengan omongan Ryzel.
Meskipun mereka menahan Ryzel, tetapi pelayanan mereka tetap baik dan ramah, tidak seperti orang yang marah dan kesal. Semuanya damai walau ada permasalahan kecil.
Pada akhirnya, Ryzel dan kedua wanita diantarkan ke kantor paling atas tempat di mana Pak Jhony bekerja.
Ketika bertemu Pak Jhony, Ryzel merasa akrab dengan pria yang berkarisma ini.
Meskipun baru pertama kali bertemu, keduanya mengobrol sangat asyik dan tak canggung.
Wajar, di awal pertemuan, semua orang juga akan mengalami suasana canggung. Yakinlah bahwa di pertengahan obrolan, suasana canggung menghilang digantikan oleh obrolan seru.
Keduanya mengobrol seru yang kebanyakan pembahasannya masih berkaitan dengan perusahaan.
Amanda dan Laurel menyimak obrolan mereka berdua. Makin lama mereka mendengar isi obrolan Ryzel dengan Pak Jhony, mereka makin tercengang dan terkejut.
Pria tampan di sampingnya ini ternyata memiliki identitas lain selain seorang Trapeler dan Streamer, yakni seorang pebisnis sukses yang mampu mempunyai saham di salah satu perusahaan besar di Indonesia.
Berita ini mengejutkan bagi keduanya.
Laurel menjadi paham dengan semuanya dan juga alasan mengapa Ryzel tidak mengambil uang donasi siaran langsung untuk dirinya sendiri. Alasannya karena Ryzel tidak membutuhkan uang, dia sudah memiliki uang banyak dari perusahaan.
“Apakah kedua wanita ini calon istri kamu, Ryzel?“ Pak Jhony bertanya sambil tersenyum bercanda ke arah Ryzel.
Pipi Ryzel digaruk oleh jari telunjuk tangan kanannya, Ryzel menjawab dengan wajah yang kaku, “Anu, bukan, Pak Jhony. Mereka berdua kebetulan bertemu denganku dan kami berkenalan di hari ini.“
“Ternyata kamu cepat berteman, ya.“ Pak Jhony masih tidak melepaskan senyumannya yang terlihat bercanda.
Pertanyaan Pak Jhony membuat kedua wanita cantik ini sangat malu, bahkan keduanya menundukkan kepala dengan serempak.
“Haha, begitulah, Pak.“ Ryzel tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Setelah mengobrol di kantor, Bapak Jhony mengajak mereka bertiga untuk berkeliling gedung, mengenalkan mereka tentang apa saja yang ada di dalam menara besar ini.
"Ini ruang toilet ...."